Showing posts with label Pendidikan dan Politik. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan dan Politik. Show all posts

Wednesday, July 30, 2014

Cara Menghitung Koefisien Gini

Cara Menghitung Koefisien Gini



Koefisien Gini adalah ukuran ketimpangan distribusi. Ukuran ini pertama kali dikembangkan oleh statistisi dan ahli sosiologi Italia bernama Corrado Gini dan dipublikasikan pada tahun 1912 dalam makalahnya berjudul “Variability and Mutability” (dalam bahasa Italia: Variabilit√† e mutabilit√†).
Koefisien Gini dinyatakan dalam bentuk rasio yang nilainya antara 0 dan 1. Nilai 0 menunjukkan pemerataan yang sempurna di mana semua nilai sama sedangkan nilai 1 menunjukkan ketimpangan yang paling tinggi yaitu satu orang menguasai semuanya sedangkan yang lainnya nihil. Menurut definisinya, koefisien gini adalah perbandingan luas daerah antara kurva lorenz dan garis lurus 45 derajat terhadap luas daerah di bawah garis 45 derajat tersebut.


Pada gambar, Kurva Lorenz memetakan kumulatif pendapatan pada sumbu vertikal dengan kumulatif penduduk pada sumbu horisontal. Pada contoh, 40 persen penduduk menguasai sekitar 20 persen total pendapatan. Koefisien gini diperoleh dengan membagi luas daerah A dengan (A+B).
Jika setiap individu memiliki pendapatan yang sama, maka kurva distribusi pendapatan akan tepat jatuh pada garis lurus 45 derajat pada gambar, dan koefisien gini bernilai 0. Sebaliknya jika seorang individu menguasai seluruh pendapatan, dikatakan terjadi ketimpangan sempurna (maksimum) sehingga kurva distribusi pendapatan akan jatuh pada titik (0,0), (0,100) dan (100,100), dan angka koefisien gini bernilai 1.
Koefisien Gini dihitung sbb:


(karena A+B = 0,5)
Atau untuk fungsi probabilitas diskret f(y) dengan yi; i dari 1 sampai n, adalah titik-titik diurutkan dari kecil ke besar (increasing):


di mana


Pada praktek, fungsi L(x) maupun f(y) tidak diketahui, hanya ada titik koordinat dalam interval. Sehingga koefisien gini dihitung menggunakan rumus:


di mana:
Xk = kumulatif proporsi populasi
Yk = kumulatif proporsi income/pendapatan
Yk diurutkan dari kecil ke besar
Nilai G1 di sini adalah perkiraan dari nilai G.

sumber : http://faharuddin.wordpress.com/2012/01/13/koefisien-gini/

Saturday, July 12, 2014

Membaca Lanjut

Membaca Lanjut

sumber : http://putrybulan17.blogspot.com/2013/04/keterampilan-membaca.html



Membaca lanjut adalah ketrampilan membaca yang baru dapat di lakukan bila si pembaca telah dapat membaca teknik atau membaca permulaan sebab membaca teknik menjadi dasar membaca lanjut.
Sasaran membaca lanjut:
1.    Pembaca memahami isi bacaan.
2.    Pembaca dapat membaca cepat dengan kecepatan tinggi.
3.    Pembaca dapat membaca tanpa suara, tanpa menggerakkan bibir, tanpa alat bantu jari atau pensil, tanpa mengeja dalam hati.
► Pengajaran membaca lanjut / membaca dalam hati di SD meliputi:
a.       Membaca dalam hati
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membaca dalam hati:
1.      Bacaan dilaksanakan tanpa komat-kamit.
2.      Bacaan dilaksanakan tanpa menggerakkan kapala.
3.      Jangan memikirkan bacaan terlalu lama.
4.      Pemahaman isi bacaan dilakukan dalam hati
5.      Pembaca berkonsentrasi penuh.
b.      Membaca bahasa
Tujuan membaca bahasa adalah agar para siswa semakin bertambah pengetahuannya tenyang seluk-beluk bahasa Indonesia. Tujuan tersebut dapat diperinci menjadi :
1.      Bertambah wawasan tentang bahasa Indonesia.
2.      Pengetahuan yang menyangkut kata bentukan (morfologi).
3.      Pengetahuan yang menyangkut kalimat bahasa Indonesia.
4.      Pengetahuan yang menyangkut tata tulis bahasa Indonesia.
5.      Dapat menganalisis bahasa Indonesia.

c.       Membaca pustaka
Membaca pustaka adalah kegiatan membaca yang dilakukan dengan maksud untuk memperkaya siswa tentang pengetahuan yang berkaitan dengan materi-materi pelajaran disekolah.
d.      Membaca cepat
Tujuannya adalah agar siswa dalam waktu relatif singkat dapat membaca secara lancar dan dapat memahami isinya secara cepat dan cermat.
Hal – hal yang memnghambat kegiatan membaca cepat antara lain :
1.      Membaca dengan vokalisasi.
2.      Membaca semi vokalisasi.
3.      Membaca dengan menggunakan alat.
4.      Membaca dengan mulut yang bergerak.
5.      Membaca dengan menggerakkan kepala.
6.      Membaca kata demi kata.
7.      Membaca regresif.
e.       Membaca indah
Membaca indah atau membaca estetika sering pula disebut membaca emosional. Tujuan membaca indah adalah memperoleh nilai-nilai estetika lewat nada, irama, intonasi, dan gerak-garik mimik, serta gerakan badan. Bahan membaca indah adalah karya satra, dapat berupa puisi, prosa dan drama.
► Perbedaan membaca permulaan / teknik dengan membaca lanjut:
Membaca Permulaan
Membaca Lanjut
Diberikan di kelas I dan II SD berupa ketrampilan melafalkan huruf.
Diberikan di kelas III ke atas setelah anak didik memiliki kemampuan membaca permulaan.
Organ kita yang aktif adalah mata, mulut, telinga, dan otak.
Organ yang aktif adalah mata dan otak.
Membaca permulaan dapat dilakukan untuk kepentingan orang lain yang menyimak
Membaca lanjut hanya untuk kepentingan sendiri.
 

Strategi Metakognitif

Strategi Metakognitif


Strategi pembelajaran sangat amat bervariasi menurut Brown. Paling tidak dia mengatakan ada 4 strategi (strategi metakognitif, stategi kognitif, strategi socioafektif dan strategi komunikasi). menurut hipni.blogspot.com, strategi pembelajaran bisa diartikan sebagai sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Strategi pembelajaran erat kaitannya dengan hasil akhir pada suatu proses pembelajaran. Mengapa? Karena dengan menggunakan strategi yang tepat anda bisa menyampaikan rentetan materi dengan perhatian dari para siswa anda. Strategi pembelajaran sangatlah dibutuhkan dewasa ini. Ada banyak faktor dimana strategi amat sangat dibutuhkan diantaranya; (1) motivasi yang berkembang dikelas; (2) latar belakang siswa; (3) kemampuan siswa dalam menginterpretasikan pelajaran; (4) kompleksitas kebutuhan dan; (5) kompleksitas budaya yang dibawa.

Pada kesempatan kali ini saya kan mebagi strategi metakognitif untuk kita diskusikan bersama

Apa itu strategi metakognitif?

Menurut Brown (2007: 142), metakognitif adalah suatu istilah yang digunakan dalam proses pemrosesan informasi untuk menunjukan fungsi “eksekutif”, adalah strategi yang melibatkan perencanaan belajar, pemikiran tentang proses pembelajaran yang sedang berlangsung, pemantauan produksi dan pemahaman seseorang, dan evaluasi pembelajaran setelah aktivitas selesasi. Dalam arti kata lain bisa kita garis bawahi dari pernyataan Brown adalah adanya susatu proses feed back terhadap suatu aktivitas yang akan, sedang, dan telah dilangsungkan. Bisa kita anggap bahwa strategi metakognitif adalah sesuatu yang memerlukan perencanaan matang untuk menuju evaluasi yang memuaskan.

Prinsip Strategi Metakognitif Menurut Brown (2007: 144-145)

Perencanaan awal

Membuat tinjauan terhadap aktivitas yang akan dilaksanakan. Dari sisi sebagai berikut; (1) motivasi yang berkembang dikelas; (2) latar belakang siswa; (3) kemampuan siswa dalam menginterpretasikan pelajaran; (4) kompleksitas kebutuhan dan; (5) kompleksitas budaya yang dibawa.

Perhatian Fokus

Pengabaian segala bentuk masalah yang tidak relevan untuk tertuju pada masalah yang dihadapkan.

Perhatian Selektif

Memutuskan untuk memberi perhatian pada aspek-aspek yang berperan.

Manajemen Diri

Memahami dan mengatur kondisi-kondisi tertentu yang berkaitan dengan pembelajar

Perencanaan Fungsional

Merencanakan dan melatih komponen-komponen linguistik yang dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas mendatang.

Pemantauan Diri

Mengoreksi diri sendiri dari sisi linguistik dalam penyampaian instruksi untuk mendapatkan aktivitas optimal

Produksi Tertunda

Pengoptimalan pada keberhasilan setiap langkah-langkah aktivitas sebelum menuju ke tujuan selanjutnya

Evaluasi Diri

Penilaian terhadap hasil yang telah dicapai

sumber : http://blogfefti.wordpress.com/2012/05/03/strategi-metakognitif/

Pembelajaran dan Materi Menyimak SD

Pembelajaran dan Materi Menyimak SD

Oleh

I Wayan Jatiyasa



Abstrak



Pengajaran bahasa adalah mengajarkan untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa yaitu untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Agar siswa dapat memahami bahasa lisan dengan baik, diperlukan latihan menyimak yang berkelanjutan mengingat menyimak merupakan salah suatu keterampilan berbahasa yang tidak kalah penting dengan keterampilan yang lain. Namun, cenderung guru belum memahami hakikat dan belum menemukan teknik yang variatif dalam kegiatan belajar mengajar sehingga pembelajaran dirasakan siswa tidak menarik. Oleh karena itu, artikel sederhana ini bertujuan untuk memaparkan hakikat dan mendeskripsikan teknik guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak di Sekolah Dasar. Menyimak pada hakikatnya merupakan proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang hendak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran. Untuk meningkatkan keterampilan menyimak dan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran di Sekolah Dasar, maka dapat digunakan beberapa cara/teknik yaitu sebagai berikut; (1) teknik ulang-ucap (menirukan), (2) teknik informasi beranting, (3) teknik satu mulut satu kelas, (4) teknik satu rekaman satu kelas, (5) teknik group cloze, (6) teknik parafrase, (7) teknik simak libat cakap, dan (8) teknik simak bebas libat cakap.



Kata Kunci: guru, keterampilan menyimak, teknik, dan Sekolah Dasar.





I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan merupakan pilar sekaligus “rahim” dalam mencetak insan-insan yang cerdas dan kompetitif di era globalisasi ini. Keberadaan sekolah-sekolah yang didukung oleh tenaga pengajar profesional dan berdedikasi tinggi menjadi prasyarat untuk meningkatkan sumber daya manusia. Ditambah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta komunikasi sehingga lebih memudahkan terjadinya transformasi informasi guna mendukung kualitas pengajaran dalam dunia pendidikan.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi (Arnyana, 2007: 3). Untuk menjadi seorang guru yang profesional, seseorang harus memiliki satu perangkat pengetahuan yang akan menunjang tugasnya sebagai guru. Terkait hal tersebut guru hendaknya memahami karakter pelajaran dan karakteristik siswa sesuai dengan jenjang pendidikannya. Pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, pengajaran bahasa sangatlah penting, mengingat kegiatan berbahasa sangat dominan dilakukan dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di masyarakat.

Pengajaran bahasa pada hakikatnya adalah mengajarkan untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, pengajaran bahasa adalah untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi, baik secara lisan maupun secara tertulis. Namun untuk mampu berkomunikasi dengan baik, siswa harus memiliki keterampilan berbahasa.

H. G Tarigan dan Djago Tarigan dalam Astawan (2008: 112) menyatakan, keterampilan berbahasa meliputi empat aspek, yaitu (1) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Keempat keterampilan tersebut masing-masing berbeda dalam proses, namun merupakan satu kesatuan yang utuh. Hal ini karena keempat aspek tersebut tidak bisa terpisahkan dengan yang lainnya. Oleh karena itu dalam pengajaran bahasa, siswa diajarkan tentang menyimak terlebih dahulu, setelah itu barulah berbicara, membaca, dan menulis.

Mengingat menyimak merupakan suatu keterampilan, maka perlu dilakukan latihan-latihan secara terus-menerus kepada siswa. Dalam proses belajar mengajar, kegiatan menyimak sering diabaikan oleh guru karena guru cenderung beranggapan bahwa tanpa diajarkan pun keterampilan menyimak dapat dilakukan oleh siswa. Namun kenyataannya kontradiktif terhadap aplikasi di lapangan, yaitu kemampuan siswa dalam menyimak materi pelajaran tertentu masih kurang. Hal ini terjadi karena beberapa kemungkinan, diantaranya yaitu; guru tidak mengetahui hakikat keterampilan menyimak, atau guru belum menemukan teknik yang baik dalam pengajaran menyimak. Selain itu tidak ada upaya guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran menyimak siswa terhadap materi pelajaran sehingga menyebabkan prestasi belajar siswa menjadi kurang.

Menyikapi fenomena tersebut dipandang perlu penulis menyajikan hal tersebut dalam bentuk tulisan. Dari tulisan ini diharapkan dapat memberi sumbangan terutama bagi guru dalam memvariasi teknik pengajaran menyimak.



1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat penulis rumuskan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut.

1.2.1 Bagaimana hakikat menyimak?

1.2.2 Bagaimana teknik guru dalam mengajarkan keterampilan meyimak di Sekolah Dasar?



1.3 Tujuan Penulisan

Sebuah karya ilmiah pada umumnya dilandasi oleh suatu tujuan yang jelas, begitu juga dengan tulisan ini. Adapun tujuan penulisan dalam tulisan ini adalah sebagai berikut.

1.3.1 Untuk memaparkan hakikat menyimak.

1.3.2 Untuk mendeskripsikan teknik guru dalam mengajarkan keterampilan menyimak di Sekolah Dasar.



1.4 Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang diperoleh dari tulisan ini adalah sebagai berikut.

1.4.1 Bagi Lembaga Pendidikan, yaitu untuk menambah khazanah karya tulis dalam bidang pendidikan dan memberikan sumbangan berupa pandangan terhadap pengajaran keterampilan menyimak di Sekolah Dasar.

1.4.2 Bagi pengajar (guru), yaitu sebagai acuan dalam mengajarkan keterampilan menyimak di Sekolah Dasar dan memotivasi guru dalam melakukan kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas.

1.4.3 Bagi penulis sendiri yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, yaitu untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan kualitas mengajar terutama dalam menyimak.

1.4.4 Bagi peneliti lain, yaitu sebagai motivasi untuk melakukan penelitian yang sejenis.





II. PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Menyimak

Sebelum mendeskripsikan teknik pengajaran menyimak di Sekolah Dasar, dipandang perlu untuk memaparkan terlebih dahulu tentang hakikat menyimak.



2.1.1 Pengertian Menyimak

Terkadang orang beranggapan bahwa menyimak dengan mendengar memiliki pengertian yang sama sehingga persepsi yang demikian pada akhirnya dalam aplikasinya di lapangan tidak sesuai dengan harapkan dalam proses belajar mengajar. Kesalahan tersebut menjadikan guru berpikir sederhana dalam mengajarkan kegiatan menyimak.

Menyimak adalah proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi. Dalam proses menyimak, diawali dengan kegiatan mendengarkan bahan simakan oleh siswa (penyimak), selanjutnya bahan simakan dipahami berdasarkan tingkat pemahaman siswa yang dimaksud, kemudian dalam proses pemahaman tersebut terjadi proses evaluasi – menghubungkan antara topik yang disimak dengan pengalaman dan/atau pengetahuan yang dimiliki siswa. Setelah proses tersebut selesai, barulah siswa memberikan respon terhadap isi bahan yang disimaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa menyimak merupakan kegiatan yang disengaja melalui proses mendengar untuk memahami bunyi-bunyi bahasa, sedangkan mendengar adalah kegiatan yang dilakukan hanya sekedar tahu tetapi tidak memahami bunyi-bunyi bahasa yang disimak.



2.1.2 Tujuan Menyimak

Secara umum tujuan menyimak ada dua macam, yaitu tujuan bersifat khusus dan tujuan bersifat umum. Adapun tujuan yang bersifat khusus adalah untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang hendak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran. Namun tujuan yang bersifat umum tersebut dapat dipecah-pecah menjadi beberapa bagian sesuai dengan aspek tertentu yang ditekankan. Adapun tujuan menyimak menurut klasifikasinya adalah sebagai berikut.

1) Mendapatkan fakta

Mendapatkan fakta dapat dilakukan melalui penelitian, riset, eksperimen, dan membaca. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menyimak melalui radio, tape recorder, TV, dan percakapan.

2) Menganalisis fakta

Fakta atau informasi yang telah terkumpul dianalisis. Kaitannya harus jelas pada unsur-unsur yang ada, sebab akibat yang terkandung di dalamnya. Apa yang disampaikan penyimak harus dikaitkan dengan pengetahuan dan pengalaman penyimak dalam bidang yang sesuai.

3) Mendapatkan inspirasi

Dapat dilakukan dalam pertemuan ilmiah atau jamuan makan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ilham. Penyimak tidak memerlukan fakta baru. Mereka yang datang diharapkan untuk dapat memberikan masukan atau jalan keluar berkaitan dengan masalah yang dihadapi.

4) Menghibur diri

Para penyimak yang datang untuk menghadiri pertunjukkan sandiwara, musik untuk menghibur diri. Mereka itu umumnya adalah orang yang sudah jenuh atau lelah sehingga perlu menyegarkan fisik, mental agar kondisinya pulih kembali.



2.1.3 Jenis-jenis Menyimak

Jenis menyimak dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu: (1) menyimak ekstensif, dan (2) menyimak intensif.

1) Menyimak Ekstensif

Menyimak ekstensif merupakan kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang umum dan bebas terhadap suatu bahasa. Dalam prosesnya di sekolah tidak perlu langsung di bawah bimbingan guru. Pelaksanaannya tidak terlalu dituntut untuk memahami isi bahan simakan. Bahan simakan perlu dipahami secara sepintas, umum, garis besarnya saja atau butir-butir yang penting saja.

Jenis menyimak ekstensif dapat dibagi empat, yaitu sebagai berikut.

a. Menyimak sekunder

Menyimak sekunder adalah sejenis mendengar secara kebetulan, maksudnya menyimak dilakukan sambil mengerjakan sesuatu.

b. Menyimak estetik

Dalam menyimak estetik penyimak duduk terpaku menikmati suatu pertunjukkan misalnya, lakon drama, cerita, puisi, baik secara langsung maupun melalui radio. Secara imajinatif penyimak ikut mengalami, merasakan karakter dari setiap pelaku.

c. Menyimak pasif

Menyimak pasif merupakan penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya penyimak pada saat belajar dengan teliti. Misalnya, seseorang mendengarkan bahasa daerah, setelah itu dalam kurun waktu dua atau tiga tahun berikutnya orang itu sudah dapat berbahasa daerah tersebut.

d. Menyimak sosial

Menyimak ini berlangsung dalam situasi sosial, misalnya orang mengobrol, bercengkrama mengenai hal-hal menarik perhatian semua orang dan saling menyimak satu dengan yang lainnya, untuk merespon yang pantas, mengikuti bagian-bagian yang menarik dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan atau dikatakan orang.



2) Menyimak Intensif

Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, penuh konsentrasi untuk menangkap makna yang dikehendaki. Menyimak intensif ini memiliki ciri-ciri yang harus diperhatikan, yakni: (a) menyimak intensif adalah menyimak pemahaman, (b) menyimak intensif memerlukan konsentrasi tinggi, (c) menyimak intensif ialah memahami bahasa formal, (d) menyimak intensif diakhiri dengan reproduksi bahan simakan.

Adapun yang tergolong menyimak intensif ada lima, yaitu sebagai berikut.

a. Menyimak kritis

Menyimak dengan cara ini bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan. Penyimak menilai gagasan, ide, dan informasi dari pembicara.
Menyimak konsentratif

Menyimak konsentratif merupakan kegiatan untuk menelaah pembicaraan/hal yang disimaknya. Hal ini diperlukan konsentrasi penuh dari penyimak agar ide dari pembicara dapat diterima dengan baik.
Menyimak kreatif

Menyimak kreatif mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang. Penyimak dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi dengan baik karena ia berimajinasi dan berapresiasi terhadap puisi itu.
Menyimak interogatif

Menyimak interogatif merupakan kegiatan menyimak yang menuntut konsentrasi dan selektivitas, pemusatan perhatian karena penyimak akan mengajukan pertanyaan setelah selesai menyimak.
Menyimak eksploratori

Menyimak eksploratori atau menyimak penyelidikan adalah sejenis menyimak dengan tujuan menemukan;

1) hal-hal baru yang menarik,

2) informasi tambahan mengenai suatu topik,

3) isu, pergunjingan atau buah bibir yang menarik.



2.2 Teknik Pengajaran Menyimak di Sekolah Dasar

Teknik atau cara pengajaran menyimak di Sekolah Dasar dapat dilakukan secara variatif untuk menghindari kesan yang monoton terhadap strategi mengajar guru di Sekolah Dasar. Selain itu, melalui penggunaan teknik menyimak yang beragam menjadikan pembelajaran lebih menarik bagi siswa. Adapun beberapa teknik menyimak yang dapat digunakan guru dalam proses belajar mengajar di Sekolah Dasar, di antaranya adalah sebagai berikut.



1. Teknik Ulang-Ucap (Menirukan)

Teknik ini biasa digunakan guru pada siswa yang belajar bahasa permulaan, baik belajar bahasa ibu maupun bahasa asing. Teknik ini digunakan untuk memperkenalkan bunyi bahasa dengan dengan pengucapan atau lafal yang tepat dan jelas oleh guru.

Dengan teknik ini, pertama-tama guru mengucapkan kata-kata yang sederhana, seperti “mata”, misalnya, kemudian guru memperjelas kata tersebut dengan cara mendemonstrasikannya; guru menggunakan jari tangannya untuk menunjuk salah satu bagian wajahnya, yaitu mata. Langkah kedua, guru mengucapkan kata “mata” dengan jelas dan keras, siswa diminta menyimaknya dengan baik, kemudian menirukan apa yang diucapkan guru. Langkah ketiga, guru memberikan latihan ekstensif dengan mengulang kata-kata yang sudah dikenalkan, kemudian menambah kosa kata serta mengenalkan struktur kalimat kepada siswa sampai siswa dapat mengucapkan kata-kata dengan tepat, dan akhirnya menggunakan kata itu dalam struktur yang sederhana.



2. Teknik Informasi Beranting

Guru memberi informasi kepada salah seorang siswa kemudian informasi tersebut disampaikan kepada siswa di dekatnya; begitu seterusnya, informasi disampaikan secara beranting. Siswa yang menerima informasi terakhir, mengucapkan keras-keras informasi tersebut di hadapan teman-temannya. Dengan demikian, kita tahu apakah informasi itu tetap sama dengan sumber pertama atau tidak. Jika tetap sama, berarti daya simak siswa sudah cukup baik, akan tetapi, bila informasi pertama berubah setelah beranting, ini berarti daya simak siswa masih kurang.

Contoh:

Informasi: Andi membeli mie bersama Rani tadi pagi.




3. Teknik Satu Mulut Satu Kelas

Guru membacakan sebuah wacana yang dapat berupa artikel atau cerita di hadapan siswa, dan siswa diminta menyimak baik-baik. Sebelum siswa menyimak, guru memberi penjelasan tentang apa-apa yang pernah disimak. Setelah guru selesai membacakan, guru dapat meminta siswa, misalnya:

a. menceritakan kembali isi materi yang disimaknya;

b. menyebutkan urutan ide pokok dari apa yang disimak;

c. menyebutkan tokoh atau pelaku cerita dari apa yang disimaknya;

d. menemukan makna yang tersurat dari apa yang disimaknya;

e. menemukan makna yang tersirat dari apa yang disimaknya;

f. menemukan ciri-ciri atau gaya bahasa yang digunakan dalam wacana yang dibacakan;

g. menilai isi dari apa yang disimaknya.

Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru kepada siswa tentu saja harus disesuaikan dengan tujuan yang telah dirumuskan.

Dalam penggunaan teknik ini, guru dituntut untuk dapat membaca dengan baik sesuai dengan jenis wacana yang dibacanya. Oleh karena itu, guru perlu menyiapkan benar-benar bahan bacaan dan cara membacanya, jangan sampai siswa mengalami kesulitan memahami isi yang disimaknya hanya karena pembacaan yang kurang siap.



4. Teknik Satu Rekaman Satu Kelas

Guru terlebih dahulu menyiapkan rekaman melalui kaset (tape recorder), CD, ataupun laptop yang berisi ceramah, pembacaan puisi, pidato, cerita/dongeng, drama, dan sebagainya. Kemudian guru memberi petunjuk-petunjuk sebelum kaset di putar tentang hal-hal yang perlu disimak. Setelah itu guru memutar rekaman yang telah disiapkan sebelumnya (dongeng, misalnya). Siswa diminta menyimak baik-baik. Rekaman dapat diputar ulang bila siswa belum dapat mengikuti tentang apa yang diputar. Kemudian siswa diberikan tugas menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk menguji pemahamannya terhadap rekaman yang disimaknya, seperti:

a. apa tema dari dongeng yang anak-anak simak?

b. siapa yang menjadi tokoh dalam dongeng tersebut?

c. bagaimana watak dari tokoh tersebut?

d. sebutkan amanat yang terdapat dalam dongeng tersebut!

e. dan lain-lain.



5. Teknik Group Cloze

Dalam penggunaan teknik ini, guru membacakan sebuah wacana sekali, siswa diminta menyimak baik-baik. Kemudian, guru membacakan lagi wacana tersebut dengan cara membaca paragraf awal penuh, sedangkan paragraf berikutnya ada beberapa kata atau kelompok kata yang dihilangkan. Setelah itu, tugas siswa adalah memikirkan konteks wacana dan mengisi tempat yang kosong dengan kata-kata atau peristilahan atau kelompok kata yang asli dari wacana yang dibacakan sebelumnya.



6. Teknik Parafrase

Dalam penggunaan teknik ini, guru terlebih dahulu menyiapkan sebuah puisi untuk disimak oleh siswa. Setelah itu, guru membacakan puisi yang telah disiapkan dengan jelas. Kemudian setelah siswa selesai menyimak, siswa secara bergiliran disuruh menceritakan kembali isi puisi yang telah disimaknya dengan kata-kata sendiri.

Dalam menerapkan teknik ini, guru harus menyesuaikan dengan perkembangan kebahasaan siswa, agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan sesuai tujuan.



7. Teknik Simak Libat Cakap

Sesuai dengan nama teknik ini, penyimak terlibat dalam pembicaraan. Dalam pelaksanaan teknik ini guru dapat menugaskan siswa mengadakan wawancara, misalnya dengan guru wali, guru pengajar bahasa Bali, budayawan. Sebelum mengadakan wawancara, siswa diminta menyiapkan apa yang perlu ditanyakan kepada orang yang diwawancarai. Tugas selanjutnya siswa menyusun hasil wawancara yang kemudian diserahkan kepada guru untuk teliti.



8. Teknik Simak Bebas Libat Cakap

Teknik ini senada dengan teknik simak libat cakap yang mementingkan keterlibatan penyimak dalam pembicaraan. Penyimak di sini hanya berlaku sebagai pemerhati yang penuh minat, tekun menyimak apa yang disampaikan oleh pembicara sehingga penyimak dapat memahami isi pembicaraan, tujuan pembicaraan, menganalisis apa yang dibicarakan, serta akhirnya menilai isi pembicaraan.



III. PENUTUP

3.1 Simpulan

Berdasarkan pemaparan dalam pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Pada hakikatnya menyimak merupakan proses mendengarkan dengan penuh pemahaman, apresiasi dan evaluasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi, serta memahami makna komunikasi yang hendak disampaikan oleh si pembicara melalui ujaran.

2. Cara/teknik yang dapat digunakan guru dalam memvariasi pengajaran menyimak di Sekolah Dasar adalah (1) teknik ulang-ucap (menirukan), (2) teknik informasi beranting, (3) teknik satu mulut satu kelas, (4) teknik satu rekaman satu kelas, (5) teknik group cloze, (6) teknik parafrase, (7) teknik simak libat cakap, dan (8) teknik simak bebas libat cakap.



3.2 Saran

Dalam pengajaran menyimak, guru diharapkan memahami hakikat menyimak dan dengan tekun mencobakan teknik-teknik menyimak dalam kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar sehingga diperoleh hasil belajar yang maksimal.






DAFTAR PUSTAKA



Ahsin, Amir. 1981. Pengajaran Menyimak. Jakarta: LP3G.



Edu, Mbah Brata. 2010. “Keterampilan Menyimak”. Terdapat dalam http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2010/04/keterampilan-menyimak.html. Diakses 7 Mei 2012.



Sudjana, Nana dan Rivai, Ahmad. 2010. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.



Suhendar, M. E dan Supinah, Pien. 1992. Bahasa Indonesia (Keterampilan Berbahasa). Seri Mata Kuliah MKDU. Bandung: CV. Pionir Jaya.



Suyanto dan Jihad, Asep. 2009. Betapa Mudah Menulis Karya Ilmiah. Yogyakarta: Eduka.



Jatiyasa, I Wayan. 2011. Keterampilan Menyimak dan Berbicara Bahasa Bali. Sebuah materi kuliah pada Prodi Bahasa dan Sastra Agama Hindu (tidak dipublikasikan). Amlapura: STKIP Agama Hindu.



Tarigan, H. G. 1985. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: CV. Angkasa.



Yumarti, A. 1988. Beberapa Teknik Pengajaran Menyimak. Dalam majalah Pembinaan Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Bharatara Karya Aksara.