Showing posts with label Pelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pelajaran. Show all posts

Wednesday, December 18, 2013

Laporan Praktikum Fisika Ayunan Sederhana

Laporan Praktikum Fisika Ayunan Sederhana



Tujuan : Menentukan Percepatan Gravitasi Bumi di suatu tempat



Dasar Teori :


Bandul adalah benda yang terikat pada sebuah tali dan dapat berayun secara bebas dan periodik yang menjadi dasar kerja dari sebuah jam dinding kuno yang mempunyai ayunan. Dalam bidang fisika, prinsip ini pertama kali ditemukan pada tahun 1602 oleh Galileo Galilei, bahwa perioda (lama gerak osilasi satu ayunan, T) dipengaruhi oleh panjang tali dan percepatan gravitasi mengikuti rumus:


Di mana adalah panjang tali dan adalah percepatan gravitasi.

Periode berayun menjadi lebih panjang ketika amplitodo θ0 (lebar ayunan) bertambah.



Gerak Harmonik Sederhana (GHS) adalah gerak periodik dengan lintasan yang ditempuh selalu sama (tetap). Gerak Harmonik Sederhana mempunyai persamaan gerak dalam bentuk sinusoidal dan digunakan untuk menganalisis suatu gerak periodik tertentu. Gerak periodik adalah gerak berulang atau berosilasi melalui titik setimbang dalam interval waktu tetap. Gerak Harmonik Sederhana dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu :

· Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Linier, misalnya penghisap dalam silinder gas, gerak osilasi air raksa / air dalam pipa U, gerak horizontal / vertikal dari pegas, dan sebagainya.

· Gerak Harmonik Sederhana (GHS) Angular, misalnya gerak bandul/ bandul fisis, osilasi ayunan torsi, dan sebagainya.

Beberapa Contoh Gerak Harmonik:

· Gerak harmonik pada bandul: Sebuah bandul adalah massa (m) yang digantungkan pada salah satu ujung tali dengan panjang l dan membuat simpangan dengan sudut kecil. Gaya yang menyebabkan bandul ke posisi kesetimbangan dinamakan gaya pemulih yaitu dan panjang busur adalah Kesetimbangan gayanya. Bila amplitudo getaran tidak kecil namun tidak harmonik sederhana sehingga periode mengalami ketergantungan pada amplitudo dan dinyatakan dalam amplitudo sudut.


· Gerak harmonik pada

pegas: Sistem pegas adalah sebuah pegas dengan konstanta pegas (k) dan diberi massa pada ujungnya dan diberi simpangan sehingga membentuk gerak harmonik. Gaya yang berpengaruh pada sistem pegas adalah gaya Hooke.


· Gerak Harmonik Teredam

Secara umum gerak osilasi sebenarnya teredam. Energi mekanik terdisipasi (berkurang) karena adanya gaya gesek. Maka jika dibiarkan, osilasi akan berhenti, yang artinya GHS-nya teredam. Gaya gesekan biasanya dinyatakan sebagai arah berlawanan dan b adalah konstanta menyatakan besarnya redaman. dimana = amplitudo dan = frekuensi angular pada GHS teredam.

Gerak harmonik pada bandul


Bandul sederhana terdiri atas benda bermassa m yang diikat dengan seutas tali ringan yang panjangnya l (massa tali diabaikan). Jika bandul berayun, tali akan membentuk sudut sebesar α terhadap arah vertical. Jika sudut α terlalu kecil, gerak bandul tersebut akan memenuhi persamaan gerak harmonic sederhana seperti gerak massa pada pegas.


C. Alat dan Bahan

1. Neraca ohaus

2. Penyangga statif

3. Busur

4. Tali rafia

5. Stopwatch

6. Beban (kelereng)

7. Kain pembungkus

8. Tali kenur

9. Penggaris

D. Langkah kerja

Percobaan 1: simpangan tetap, panjang tali berubah-ubah

1. Timbang masa beban tersebut menggunakan neraca ohaus

2. Bungkus beban dengan kain.

3 .Gantungkan beban di ujung tali yang telah terpasang di penyangga statif

4. Siapkan stopwatch, kemudian tarik bandul dengan sudut 150 terhadap posisi vertikal, lepaskan bandul, bersamaan dengan ini hidupkan stopwatch. Biarkan ayunan bandul sampai 10 ayunan bolak balik setelah ayunan Bolak balik. Setelah ayunan ke sepuluh matikan stopwatch, dan catat waktu tersebut.

5. Catat waktu yang di butuhkan setiap 10 ayunan bolak bali tersebut.

6. Lakukan langkah di atas sampai 3 kali.

7. Ulangi langkah 3-6 dengan panjang tali 40 cm dan 30 cm.

8. Dari data waktu ayunan tersebut maka dapat di tentukan periode dan frekuensi ayunan sehingga dengan menggunakan rumus yang tersedia akan di peroleh percepatan gravitasi bumi.




Percobaan 2: Panjang tali tetap, simpangan berubah-ubah.




1. Timbang masa beban tersebut menggunakan neraca ohaus

2. Bungkus beban dengan kain.

3 .Gantungkan beban di ujung tali yang telah terpasang di penyangga statif, dengan panjang tali 40 cm.

4. Siapkan stopwatch, kemudian tarik bandul dengan sudut 2000 terhadap posisi vertikal, lepaskan bandul, bersamaan dengan ini hidupkan stopwatch. Biarkan ayunan bandul sampai 10 ayunan bolak balik setelah ayunan Bolak balik. Setelah ayunan ke sepuluh matikan stopwatch, dan catat waktu tersebut.

5. Catat waktu yang di butuhkan setiap 10 ayunan bolak bali tersebut.

6. Lakukan langkah di atas sampai 3 kali.

7. Ulangi langkah 3-6 dengan panjang tali 1500 dan 1000.

8. Dari data waktu ayunan tersebut maka dapat di tentukan periode dan frekuensi ayunan sehingga dengan menggunakan rumus yang tersedia akan di peroleh percepatan gravitasi bumi.




E. Hasil dan Pembahasan
1. Hasil pengukuran:

Percobaan 1: simpangan tetap, panjang tali berubah-ubah

1. Sudut tali sewaktu di ayun = 150

2. Banyaknya ayunan bandul (n) = 10 ayunan

3. Massa beban = 0.000634 kg





Panjang Tali (L)
Waktu (t) sekon
Perioda(T) T=t/n
T2
(sekon)2




50 cm
14.58
1.458
2.125
9.279

14.17
1.417
2.007
9.825

13.86
1.386
1.920
10.270



40 cm
13.09
1.309
1.713
9.209

12.82
1.282
1.643
9.601

12.60
1.260
1.587
9.94



30 cm
10.66
1.066
1.136
10.415

12.73
1.273
1.620
7.305

12.82
1.282
1.643
7.201

Percepatan gravitasi (g) rata-rata
9.227












Percobaan 2: Panjang tali tetap, simpangan berubah-ubah.


Sudut / simpangan
Waktu (t) sekon
Perioda(T) T=t/n
T2
(sekon)2




200
13.09
1.309
1.713
9.209

1.99
1.399
1.957
8.060

13.86
1.386
1.920
8.216



150
13.09
1.309
1.713
9.209

12.82
1.282
1.643
9.601

12.60
1.260
1.587
9.94



100
13.54
1.354
1.833
8.606

13.63
1.363
1.857
8.493

13.54
1.354
1.833
8.606

Percepatan gravitasi (g) rata-rata
8.882


2. Pembahasan




F. Kesimpulan

Dari percobaan yang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa periode di pengaruhi oleh panjang tali dan tidak di pengaruhi massa benda. Pada panjang tali yang sama semakin banyak ayunan waktu yang di perlukan juga semakin lama dan percepatan gravitasinya tergantung pada periode dan panjang tali. Gerakan harmonis juga akan membentuk waktu yang tetap dengan gerakan bolak balik karena di lakukan di dalam ruangan gerakan harmonis akan udah untuk diamatiselain itu, gerakannya pun akan konstan.


DAFTAR PUSTAKA




· http://id.wikipedia.org/wiki/Gerak_harmonik_sederhana

· http://www.dquark-albani.co.cc/2010/03/osilasi-sistem-osilasi-harmonis-

suatu.html

· http://www.gurumuda.com/pendulum-sederhana-bandul

· Ruwanto, Bambang. 2007. Fisika 2 SMA/MA kelas XI. Jakarta : Yudhistira
http://elshanovitasari.blogspot.com/2013/03/laporan-fisika-ayunan-bandul-sederhana.html

http://praktikum-laporan.blogspot.com/2013/08/ayunan-bandul-sederhana.html

Wednesday, December 4, 2013

Jenis Jenis Pantun Anak beserta Contohnya

Jenis Jenis Pantun Anak beserta Contohnya

Ayam kinantan terbang mengekas,
hinggap di ranting bilang-bilang,
Melihat bunda pulang lekas,
hatiku besar bukan kepalang.

Berangan besar di dalam padi,
rumpun buluh dibuat pagar.
Jangan syak di dalam hati,
maklum pantun saya belajar.

Beringin di tepi kolam
buaya besarang di bawahnya
hati ingin hendak belajar
orang tua sayang melepaskannya

Cempedak diluar pagar,
tarik galah tolong jolokkan.
Saya budak baru belajar,
kalau salah tolong tunjukkan

Dimana pada takkan luluh,
padi basah tidak ditampi.
Di mana hati takkan rusuh,
bunda hilang bada berbini.

Elang berkulit tengah hari,
Cenderawasih mengirai kapak.
Alangkah sakitnya berbapa tiri,
awak menangis disangkanya gelak.

Elok rupanya kumbang janti,
dibawa itik pulang petang.
Tidak berkata besar hati,
melihat ibu sudah datang.

Hiu beli belanak beli
udang di manggung beli pula.
Adik benci kakak pun benci,
orang di kampung benci pula.

Jawi hitam tidak bertanduk
memakan rumput di atas munggu.
Lihatlah ayam tak berinduk,
demikian hidip anak piatu.

kayu jati bertimbal jalan.
turun angin patahlah dahan.
ibu mati bapa berjalan,
kemana untuk diserahaka.

kayu rusak ambil petanak,
masuklah pauh diperam serang.
baju tidak celana tidak
kakak jauh di rantau orang.

Lurus jalan ke payakumbuh
kayu jati bertimbal jalan
Di mana hati takkan rusuh
ibu mati bapa berjalan

Manis sungguh tebu seberang,
dari akar sampai ke pucuk,
Manis sungguh mulut orang,
kita menangis jadi terpujuk

merpati terbang ke jalan,
ikan belanak makan karang.
Bunda mati,bapak berjalan,
melarat anak tinggal seorang

Orang bandung memintal kapas,
anak cina berkancing tulang.
Ayah kandung pulanglah lekas,
anak anda rindu bukan kepalang.

Orang padang pergi ke pauh
sampai di Pauh membeli lokan.
Bunda kandung berjalan jauh,
tergemang anak tertinggalkan.

Padi pulut di dalam bendang
banyak rumput dari jerami.
Mulut kita disuapi pisang,
ekor dikait dengan duri.

pecah canggkit,cawan pinggan,
emas derai dalam geleta.
Sejak anak bunda tinggalkan,
gila berurai air mata.

Ramai orang berorak-sorak,
menepuk gendang dengan rebana.
Alang besarnya hati awak,
mendapat baju dengan celana.

Rumpun buluh dibuat pagar,
cempedak dikerat-kerati.
Maklumlah pantun saya belajar,
saya budak belum mengerti.

Sayang pisang tiada berjantung,
bunga keluar dari kelopak.
Penat sangat ibu mendukung,
adik tak juga mau gelak.

Selem pada berlari-lari
mengejar musang dengan kera.
Daripada tinggal dengan bunda tiri,
baiklah hidup sebatang kara.

Tanamlah banyam sambil duduk
lihatlah ayam bertinduk.
Tanam di dekat pinggir paya,
begitu macam untung saya.

Tengah rembang panas teduh,
peluh di badan habis bertitik.
Ayuhai saudara jangan bergaduh,
lihadah bunda sudah berbalik.

sumber : http://artikelampuh.blogspot.com/2013/08/pantun-anak-anak.html

Tuesday, November 19, 2013

Laporan Difraksi Cahaya Pada Kisi

Laporan Difraksi Cahaya Pada Kisi




A. TUJUAN PERCOBAAN

Memahami asas kerja kisi.
Menentukan panjang gelombang garis spektrum yang dihasilkan difraksi kisi.

B. DASAR TEORI

Seberkas cahaya sejajar yang mengenai celah sempit yang berada di depan layar, maka pada layar tidak terdapat bagian yang terang dengan luas yang sama dengan luas celahnya, melainkan terdapat terang utama yang kiri kanannya dikelilingi garis/pita gelap dan terang secara berselang-seling. Peristiwa ini disebut difraksi. Suatu alat optik yang terdiri dari banyak sekali celah sempit pada jarak yang sama disebut kisi.

Apabila sebuah sinar tegak lurus mengenai sebuah kisi maka akan timbul difraksi. Difraksi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu difraksi Fresnel dan difraksi Fraunhoffer. Disebut difraksi Fresnel jika jarak layar kisi relatif dekat dan disebut difraksi Fraunhoffer jika jarak layar kisi relatif jauh. Difraksi Fraunhoffer dapat juga terjadi walaupun layar tidak jauh letaknya, dengan cara meletakkan sebuah lensa positif dibelakang kisi dan layar diletakkan pada titik api lensa tersebut.

Jika jarak antara dua celah yang beraturan (konstanta kisi) d dan sinar yang digunakan adalah monokromatis dengan panjang gelombang maka disuatu tempay pada layar akan terang apabila dipenuhi persamaan :

Dengan m = 1,2,3,… adalah tingkat atau orde difraksi dan adalah sudut deviasi sinar yang dialami setelah melewati kisi.

Ruas kiri persamaan (8.1) tidak lain adalah selisih panjang jalan yang dilalui oleh sinar dari celah berurutan. Persamaan di atas dapat ditulis

Apabila sinar yang digunakan polikromatis maka terjadilah garis spektrum yang letaknya satu sama lain berdampingandengan warna yang bermacam-macam tergantung pada panjang gelombangnya.

Dengan menggunakan metode triangulasi maka besarnya dapat diperoleh dengan mengukur jarak kisi ke layar dan jarak antara garis spektrum dan terang utama. Apabila jarak antara kisi telah diketahui maka dapat ditentukan pula,


C. DATA PERCOBAAN

Jarak kisi ke layar a = 31 cm

Lebar celah kisi 1 d1 = 1/1000 cm

Lebar celah kisi 2 d2 = 1/3000 cm

Lebar celah kisi 3 d3 = 1/6000 cm

Panjang gelombang warna merah dari tabel λm = (7,01 ± 0,11) x 10-5 cm

Panjang gelombang warna hijau dari table λh = (5,34 ± 0,08) x 10-5 cm

Posisi warna (x) merah dan hijau bagian kiri dan kanan terhadap terang utama pada orde ke-m disajikan dalam table berikut dengan x dalam satuan cm.
Warna Orde Kisi 1 Kisi 2 Kisi 3
ke-m x kiri x kanan x kiri x kanan x kiri x kanan
1 2 2 6.1 6 13.4 13.1
Merah 2 4 3.9 13.6 13.4 24.2 24
3 6.1 6 19.6 19.6 * *
1 1.6 1.6 5.5 5.4 10.9 10.6
Hijau 2 3.4 3.2 10.5 10.4 21.5 21.2
3 5.7 5.6 16 15.9 * *

D. ANALISIS DATA

Menentukan Panjang Gelombang Spektrum Warna Merah dan Hijau

Secara teoritis nilai λ warna tertentu akan sama untuk setiap kisi dan setiap orde baik untuk spektrum sebelah kiri dan setiap orde baik untuk spektrum sebelah kiri atau kanan. Dengan menggunkan pers. (8-4) , maka nilai dapat dihitung untuk masing-masing data pada tiap sel tabel di atas dan selanjutnya disajikan dalam tabel berikut :
kisi

Ori

entasi
m Merah Hijau
ke λ δλ = λ – (δλ)2 Λ δλ = λ - (δλ)2
(cm) (cm) (cm2) (cm) (cm) (cm2)
1 0.06213 -0.00791 6.3E-05 0.04967 -0.014 0.0002
kiri 2 0.06251 -0.00752 5.7E-05 0.05302 -0.010 0.00011
3 0.06424 -0.00579 3.4E-05 0.05989 -0.003 1.4E-05
1 1 0.06213 -0.00791 6.3E-05 0.04967 -0.014 0.0002
kann 2 0.06093 -0.00911 8.3E-05 0.0166 -0.047 0.00221
3 0.06315 -0.00688 4.7E-05 0.0588 -0.004 2.4E-05
1 0.06418 -0.00586 3.4E-05 0.05766 -0.006 3.6E-05
kiri 2 0.07665 0.006619 4.4E-05 0.05722 -0.006 4.2E-05
3 0.07979 0.009758 9.5E-05 0.06196 -0.001 2.9E-06
2 1 0.06309 -0.00695 4.8E-05 0.05658 -0.007 5E-05
kann 2 0.07535 0.005314 2.8E-05 0.05722 -0.006 4.2E-05
3 0.07979 0.009758 9.5E-05 0.06149 -0.002 4.7E-06
1 0.07542 0.005389 2.9E-05 0.0597 -0.003 1.6E-05
kiri 2 0.07931 0.009275 8.6E-05 0.06759 0.003 1.5E-05
3 0 0 0 0 0 0
3 1 0.07348 0.003443 1.2E-05 0.05788 -0.005 3.3E-05
kann 2 0.07841 0.008374 7E-05 0.06635 0.002 7.2E-06
3 0 0 0 0 0 0
∑ 1.12057 -1.4E-17 0.00089 0.89129 -0.127 0.00301
0.07004 0.06366
S 0.00221 0.01521

Jadi panjang gelombang spektrum warna merah adalah λm = (0,07004 ± 0,00221) cm.
Sedangkan panjang gelombang spectrum warna hijau λh = (0,06366 ± 0,01521) cm.
Jika dibandingkan dengan panjang gelombang berdasarkan tabel (teoritis) maka besarnya penyimpangan dapat dihitung dengan menggunakan rumus %

E. PEMBAHASAN HASIL PERCOBAAN

Dari data yang diperoleh pada saat percobaan dilakukan λ adalah:

Panjang gelombang warna merah sebesar λm = (0,07004 ± 0,00221) cm dengan persentase ralat sebesar 9,981 x 10-6 %.
Panjang gelombang warna hijau sebesar λh = (0,06366 ± 0,01521) cm dengan persentase ralat sebesar 1,191 x 10-5 %.

F. KESIMPULAN

Panjang gelombang spektrum warna merah lebih besar dari pada spektrum warna hijau.
Pada setiap orde panjang gelombang lebih kecil karena orde berbanding terbalik dengan panjang gelombang sesuai dengan persamaan

G. JAWABAN PERTANYAAN

Difraksi kisi terjadi ketika cahaya mengenai celah sempit pada kisi, jika cahaya monokromatis dilewatkan pada kisi akan terjadi difraksi yang menghasilkan bagian gelap dan terang tapi jika cahaya polikromatis dilewatkan pada kisi maka akan timbul spectrum warna.
Apabila menggunakan cahaya monokromatis akan terjadi tempat terang pada layar yang dipengaruhi oleh persamaan sin θ = m λ/d. pada percobaan kali ini tidak menggunakan monokromatis karena cahaya monokromatis ahnya mempunyai satu spektrum sehingga cahaya dapat terurai.
Pada prisma cahaya monokromatis yang uraikan terdiri dari kumpulan spektrum cahaya monokromatis (1 kesatuan), sedangkan pada kisi cahaya polikromatis diuaraikan oleh celah-celah kecil yang terdiri dari beberapa spektrum.
Warna merah pada spektrum difraksi kisi terletak pada posisi terjauh karena panjang gelombangnya paling besar.
Manfaat spektrum warna bagi ilmu pengetahuan dan industri adalah terapi (radiasi), diafragma pada kamera, dan fotolistrik.

sumber : http://poohdandan.wordpress.com/2010/07/29/laporan-praktikum-difraksi-kisi/

Laporan Praktikum Jembatan Wheatstone

 Laporan Praktikum Jembatan Wheatstone

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Rangkaian-rangkaian jembatan dipakai secara luas untuk pengukuran nilai-nilai komponen seperti tahanan, induktansi atau kapasitansi, dan parameter rangkaian lainnya yang diturunkan secara langsung dari nilai-nilai komponen, seperti frekuensi, sudut fasadan temperatur. Karena rangkaian jembatan hanya membandingkan nilai komponen yang tidak diketahui dengan komponen yang besarnya diketahui secara tepat, ketelitian pengukurannya tentu saja bisa tinggi sekali. Pada percobaan kami kali ini, kami akan membahas salah satu rangkaian jembatan tersebut.
Pada rangkaian dasar arus searah, kita menggenal rangkaian jembatan Wheatstone. Jembatan wheatstone adalah sebuah rangkaian untuk menentukan nilai hambatan yang belum diketahui,Hambatan dapat diukur apabila galvanometer menunjukkan nilai 0 atau kosong.Metode jembatan Wheatstone dapat di gunakan untuk mengukur hambatan listrik dengan teliti.

Tujuan Praktikum
Menentukan nilai hambatan sebuah resistor dengan rangkaian jembatan wheatstone.

Landasan Teori
Jembatan Wheatstone merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menentukan hambatan suatu penghantar dengan teliti. Percobaan ini dilakukan dengan mengacu pada hukum Ohm dan hukum Kirchoff I.
HUKUM OHM : KUAT ARUS (I) DALAM SEBATANG KAWAT BERBANDING LURUS DENGAN TEGANGAN (V) DAN BERBANDING TEBALIK DENGAN HAMBATAN (R).
Persamaan hukum Ohm diatas dapat ditulis :
I=VR .......................(1)
HUKUM KIRCHOFF I: JIKA PADA SUATU TITIK BERTEMU BEBERAPA PENGHANTAR BERARUS, MAKA JUMLAH KUAT ARUS YANG MASUK SAMA DENGAN JUMLAH ARUS YANG KELUAR.
Atau I = 0 dimana arus masuk ditandai positif dan arus keluar ditandai negatif. Adapun rangkaian Jembatan Wheatstone dapat dijelaskan dengan gambar sebagai berikut :

Gambar. 1.1 Rangkaian Jembatan Wheatstone
Dengan mengatur besar dari R4 sedemikian rupa sehingga yang lewat galvanometer menjadi nol (jarum galvanometer menjadi nol), maka dalam keadaan demikian ini dikatakan rangkaian Jembatan Wheatstone dalam keadaan setimbang, jadi pada cabang BC tidak ada arus. Apabila keadaan itu telah tercapai, menurut hukum Ohm beda tegangan antara titik – titik B dan C = nol. Selanjutnya dapat dikatakan :
Karena i1 = i2 dan i3 = i4 maka :
Atau :
Andai kata R2 itu adalah tahanan yang diukur maka menurut persamaan di atas Apabila R3 dan R4 diganti kawat lurus dengan panjang L1 dan L2 yang homogen seperti gambar berikut maka :

Gambar. 1.2 Cara pengukuran rangkaian jembatan wheatstone

Rp : Rx = l2 : l1 sehingga Rx=R1R2 R3
Keterangan :
G = Galvanometer.
L2 dan L1 = Panjang kawat besi yang mempunyai penampang pada sepanjang kawat.
Rx = Hambatan Standart.
Rp = hambatan yang diukur besarnya.


BAB II
METODOLOGI PRAKTIKUM

Alat dan Bahan
Alat dan dahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Galvano meter
Mistar
Jumper
Resistor
Nikelin
Catu daya
Gamabar Rangkaian

Gambar. 2.1 Rangkaian Jembatan Wheatstone

Prosedur Kerja
Langkah – langkah yang digunakan saat praktikum adalah :
Hubungkan rangkaian seperti tersebut di atas. Sumber daya dalam keadaan off.
Beritahu dahulu asisten atau pembimbing yang bertugas sebelum saklar dipindahkan
ke posisi on.
Geserkan kontak geser sepanjang kawat geser sedemikian rupa, sehingga saklar pada
galvanometer menunjukkan angka nol.
Catat tempat kedudukan kontak geser tersebut untuk menentukan l1 dan l2.
Ulangi percobaan tersebut di atas sebanyak empat kali lagi dengan merubah besar l1
sesuai dengan petunjuk asisten atau pembimbing yang bertugas.

Metode Analisa Data
Rumusan nilai Rx dapat diketahui dengan persamaan berikut sebagai berikut :
Rp x l2 = l1 x Rx
Rx= Rp x L1 / L2
Keterangan:
Rx = hambatan geser
Rp = hambatan yang diketahui nilainya
L1 = panjang penghantar 1
L2 = panjang penghantar 2

BAB III
ANALISA HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

Data Hasil Percobaan
No V Sumber R1 (Ω) L1 (Cm) L2 (Cm) Rp pengukuran (Ω) Rp Teori ( Ω ) Error( % )
1 10 Volt 1K5 75 5 20060 22500 12.16
2 1k5 60 20 4310 4500 4.4
3 1k5 50 30 2430 2500 2.88
4 1k5 40 40 1525 1500 1.63
5 1k5 15 65 323 346.15 7.16


3.3 Pembahasan
Masih mengenaipenentuan besarnya tahanan suatu rangkaian. Kali ini kita jakan menghitung nilai hambatan sebuah resistor yang belum diketahui besarnya nilai dari hambatan resistortersebut. Untuk percobaan kita kali ini kita menggunakan jembatan wheatstone untuk menentukan besarnya hambatan. Jembatan wheatstone itu sendiri adalah suatu susunan rangkaian listrik yang digunakan untuk mengukur suatu tahanan yang tidak diketahui harganya (besarnya).
Rangkaian jembatan wheatstone yang kami gunakan pada percobaan ini adalah sebagai berikut :

Gambar. 3.1 Rangkaian Jembatan Wheatstone
Untuk Rp atau dibaca dengan Reistorpotensio merupakan tahanan (resistor) yang nilainya dapat diubah-ubah. Dengan mengatur besarnya potensio makakita dapat menyetimbangkan rangkaian jembatan wheatstone tersebut.
Dengan menggunakan rangkaian ini kami dapat menentukan besarnya hambatan pada resistor potensio. Pada saat rangkaian tersebut mempunyai beda potensial sama dengan nol volt atau bisa dikatakan rangkaian tersebut dalam keadaan setimbang, artinya tidak ada arus yang melalui galvanometer. Kondisi ini terjadi bila tegangan dari titik C ke A sama dengan tegangan dari titik D ke A; atau dengan mendasarkan terminalnya, jika tegangan dari titik C ke B sama dengan tegangan dari titik D ke B. jadi jembatan adalah setimbang jika :
I1 Rp = I2 L1.....................(1)
Jika arus galvanometer adalah nol, kondisi-kondisi berikut juga dipenuhi :
I1 = I3 = VRp+Rx............(2)
danI2 = I4 = VL1+L2 ..............(3)
Dengan menhubungkan persamaan (1), (2), (3) dan menyederhanakannya, maka
diperoleh
RpRp+Rx = L1.L1 + L2............(4)
atau
Rp x L2 = L1 x RX
Dalam pengukuran, cara mengetahui kapan arus itu sama dengan nol, kita tidak perlu lagi menggunakan alat yang berlebihan (voltmeter dan amperemeter), cukup dengan satu galvanometer untuk melihat apakah ada arus listrik yang melalui rangkaian. Setelah melihat pengukuran galvanometer barulah kita bisa memasukkan persamaan Rp x l2 = L1 x RX yang kemudian dengan perbandingan tersebut kita dapat menentukan besarnya Rp dengan aljabar sederhana
Rp = Rx × L1/ L2
Perhatikan percobaan kami. Dalam percobaan kami, kami mencoba untuk mengukur kesesuaian antara teori (persamaan di atas) dengan praktek aslinya. Apakah teori dengan praktek itu sesuai atau tadak? Untuk l sendiri kita menggunakan kawat berbahan nikelin pada data percobaan pertama untuk L1 = 75 cm dan L2 = 5 cm didapatkan Rp sebesar 20,096kΩ, namun bagaimana dengan hasil Rp teori? Rp teori kita hitung dangamn persamaan di atas. Rx sebesar 1,5 kΩ kita kali dengan L1 sebesar 75 cm kemudian kita bagi dengan L2 yaitu sebesar 5 cm. Dan hasilnya menunjukkan Rp teori sebesar 22,5 kΩ. Untuk mengetahui apakah Rp teori dengan Rp praktek sesuai atau tidak maka kita coba untuk menghitung Error persennya (E%) jika melebihi 30% maka dapat dikatakan bahwa
praktikum ini gagal. E% ini dapat kita hitung dengan persamaan :

Error( % ) = (Rp perhitungan-Rp pengukuran)/(R pengukuran) X 100
Error( % ) = (22.5-20.06)/20.06 X 100
= 12.16 %

Untuk percobaan di atas kita hitung dan hasilnya adalah 12.16% artinya praktek. Praktek ini sedikit menyimpang dengan teori yang sebenarnya.Hal ini dipengaruhi oleh beberapa sebab seperti waktu kami menghitung R potensio masih ada arus yangmengalir pada galvanometer, penyebab lainnya adalah Rx yang tidak dapat mengimbangi beban dari R potensio yang menyebabkan hasil Rp praktek berbeda jauh hasil Rp teori.Jika kita kaji lebih dalam lagi kita ketahui bahwa R potensio berbanding lurus dengan Rx dan L1, berbanding terbalik dengan L2. Hal ini membuktikan bahwa kita dapat menyimpulkan kalau semakin panjang L1 semakin besar pula nilai R potensio, begitu jugadengan sebaliknya semakin besar L2 maka semakin kecil Rp.


BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam praktihum yang telah kami lakukan dapat disimpulkan beberapa hal :
Jika galvanometer menunjukkan angka nol, maka tidak ada arus yang mengalir melalui galvanometer.
Ketika galvanometer menunjukkan angka nol, maka tegangan pada ujung-ujung galvanometer adalah sama.
Galvanometer adalah alat yang digunakan untuk mendeteksi atau mengukur arus listrik pada suatu rangkaian.
Besarnya R potensio dipengaruhi oleh L1 , L2, dan Rx.
Semakin panjang L1 maka semakin besar pula hambatan R potensio.
Semakin panjang L2 maka semakin kecil hambatan R potensio.
R potensio adalah suatu tahanan yang dapat diubah-ubah nilainya.
Dengan mengatur R potensio kita dapat menyetimbangkan jembatan wheatstone.

3.2 Perhitungan

Untuk Menghitung nilai Rpotensio agar rangkaian jembatan wheatstone setimbang gunakan rumus Rp= RX.L1/L2

Rp = RX . L1 / L2
= 1500 X 75 / 5
= 22.5K
Error (%) = 22.5 – 20.06 / 22.5 .100
= 12.16 %
Rp = RX . L1 / L2
= 1500 X 60 / 20
= 4.5K
Error (%) = 4.5 – 4.31 / 4.31 .100
= 4.4 %
Rp = RX . L1 / L2
= 1500 X 50 / 30
= 2.5K
Error (%) = 2.5 – 2.43 / 2.43 .100
= 2.8 %
Rp = RX . L1 / L2
= 1500 X 40 / 40
= 1.5K
Error (%) = 1.5 – 1.525 / 1.525 .100
= 1.63%
Rp = RX . L1 / L2
= 1500 X 15 / 65
= 346.15 ohm
Error (%) = 346.15 – 323 / 323 .100
= 7.16 %

sumber : http://rohmandniaer.blogspot.com/2012/04/praktikum-jembatan-wheatstone.html

Saturday, November 16, 2013

Laporan Praktikum Watak Lampu Pijar

Laporan Praktikum Watak Lampu Pijar






Lampu pijar adalah sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui penyaluran arus listrik melalui filamen yang kemudian memanas dan menghasilkan cahaya.[1] Kaca yang menyelubungi filamen panas tersebut menghalangi udara untuk berhubungan dengannya sehingga filamen tidak akan langsung rusak akibat teroksidasi.[2]

Lampu pijar dipasarkan dalam berbagai macam bentuk[3] dan tersedia untuk tegangan (voltase) kerja yang bervariasi dari mulai 1,25 volt[4] hingga 300 volt.[5] Energi listrik yang diperlukan lampu pijar untuk menghasilkan cahaya yang terang lebih besar dibandingkan dengan sumber cahaya buatan lainnya seperti lampu pendar dan diode cahaya, maka secara bertahap pada beberapa negara peredaran lampu pijar mulai dibatasi.[6][7]



Di samping memanfaatkan cahaya yang dihasilkan, beberapa penggunaan lampu pijar lebih memanfaatkan panas yang dihasilkan, contohnya adalah pemanas kandang ayam, [8] dan pemanas inframerah dalam proses pemanasan di bidang industri.




Pengembangan lampu pijar sudah dimulai pada awal abad XIX.[2][9][10][11] Sejarah lampu pijar dapat dikatakan telah dimulai dengan ditemukannya tumpukan volta oleh Alessandro Volta.[10] Pada tahun 1802, Sir Humphry Davy menunjukkan bahwa arus listrik dapat memanaskan seuntai logam tipis hingga menyala putih[2]. Lalu, pada tahun 1820, Warren De la Rue merancang sebuah lampu dengan cara menempatkan sebuah kumparan logam mulia platina di dalam sebuah tabung lalu mengalirkan arus listrik melaluinya.[9] Hanya saja, harga logam platina yang sangat tinggi menghalangi pendayagunaan penemuan ini lebih lanjut.[9][11] Elemen karbon juga sempat digunakan, namun karbon dengan cepat dapat teroksidasi di udara; oleh karena itu, jawabannya adalah dengan menempatkan elemen dalam vakum.[2]

Pada tahun 1870-an, seorang penemu bernama Thomas Alva Edison dari Menlo Park, negara bagian New Jersey, Amerika Serikat, mulai ikut serta dalam usaha merancang lampu pijar.[2][9] Dengan menggunakan elemen platina, Edison mendapatkan paten pertamanya pada bulan April 1879.[2] Rancangan ini relatif tidak praktis namun Edison tetap berusaha mencari elemen lain yang dapat dipanaskan secara ekonomis dan efisien.[2] Pada tahun yang sama, Sir Joseph Wilson Swan juga menciptakan lampu pijar yang dapat bertahan selama 13,5 jam.[11] Sebagian besar filamen lampu pijar yang diciptakan pada saat itu putus dalam waktu yang sangat singkat sehingga tidak berarti secara komersial.[2] Untuk menyelesaikan masalah ini, Edison kembali mencoba menggunakan untaian karbon yang ditempatkan dalam bola lampu hampa udara hingga pada tanggal 19 Oktober 1879 dia berhasil menyalakan lampu yang mampu bertahan selama 40 jam.[2]

Konstruksi[sunting | sunting sumber]




Komponen utama dari lampu pijar adalah bola lampu yang terbuat dari kaca, filamen yang terbuat dari wolfram, dasar lampu yang terdiri dari filamen, bola lampu, gas pengisi, dan kaki lampu.[12]

Incandescent light bulb.svg

Bola lampu

Gas bertekanan rendah (argon, neon, nitrogen)

Filamen wolfram

Kawat penghubung ke kaki tengah

Kawat penghubung ke ulir

Kawat penyangga

Kaca penyangga

Kontak listrik di ulir

Sekrup ulir

Isolator

Kontak listrik di kaki tengah

Bola lampu[sunting | sunting sumber]

Selubung gelas yang menutup rapat filamen suatu lampu pijar disebut dengan bola lampu. Macam-macam bentuk bola lampu antara lain adalah bentuk bola, bentuk jamur, bentuk lilin, dan bentuk lustre.[13] Warna bola lampu antara lain yaitu bening, warna susu atau buram, dan warna merah, hijau, biru, atau kuning.[13]

Gas pengisi[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya bagian dalam bola lampu pijar dibuat hampa udara namun belakangan diisi dengan gas mulia bertekanan rendah seperti argon, neon, kripton, dan xenon atau gas yang bersifat tidak reaktif seperti nitrogen sehingga filamen tidak teroksidasi.[1] Konstruksi lampu halogen juga menggunakan prinsip yang sama dengan lampu pijar biasa[1], perbedaannya terletak pada gas halogen yang digunakan untuk mengisi bola lampu.

Kaki lampu[sunting | sunting sumber]

Dua jenis kaki lampu adalah kaki lampu berulir dan kaki lampu bayonet yang dapat dibedakan dengan kode huruf E (Edison) dan B (Bayonet), diikuti dengan angka yang menunjukkan diameter kaki lampu dalam milimeter seperti E27 dan E14.[12]

Operasi[sunting | sunting sumber]




Pada dasarnya filamen pada sebuah lampu pijar adalah sebuah resistor.[1] Saat dialiri arus listrik, filamen tersebut menjadi sangat panas, berkisar antara 2800 derajat Kelvin hingga maksimum 3700 derajat Kelvin.[14]. Ini menyebabkan warna cahaya yang dipancarkan oleh lampu pijar biasanya berwarna kuning kemerahan.[15] Pada temperatur yang sangat tinggi itulah filamen mulai menghasilkan cahaya pada panjang gelombang yang kasatmata.[1] Hal ini sejalan dengan teori radiasi benda hitam.[16]

Indeks renderasi warna menyatakan apakah warna obyek tampak alami apabila diberi cahaya lampu tersebut dan diberi nilai antara 0 sampai 100.[12] Angka 100 artinya warna benda yang disinari akan terlihat sesuai dengan warna aslinya. Indeks renderasi warna lampu pijar mendekati 100.[12][17]







Foto yang sangat diperbesar dari filamen lampu pijar 200 Watt.

Lampu putus[sunting | sunting sumber]

Karena temperatur kerja filamen lampu pijar yang sangat tinggi, lambat laun akan terjadi penguapan pada filamen.[1] Variasi pada resistansi sepanjang filamen akan menciptakan titik-titik panas pada posisi dengan nilai resistansi tertinggi.[18]. Pada titik-titik panas tersebut filamen wolfram akan menguap lebih cepat yang mengakibatkan ketebalan filamen akan semakin tidak merata dan nilai resistansi akan meningkat secara lokal; ini akan menyebabkan filamen pada titik tersebut meleleh atau menjadi lemah lalu putus.[1] Variasi diameter sebesar 1% akan menyebabkan penurunan umur lampu pijar hingga 25%.[19]

Selain menyebabkan putusnya lampu, penguapan filamen wolfram juga menyebabkan penghitaman lampu. Elemen wolfram yang menguap pada lampu pijar akan mengendap pada dinding kaca bola lampu dan membentuk efek hitam. [20] Lampu halogen menghambat proses ini dengan proses siklus halogen.[20]

Efisiensi[sunting | sunting sumber]




Efisiensi lampu atau dengan kata lain disebut dengan efikasi luminus[12] adalah nilai yang menunjukkan besar efisiensi pengalihan energi listrik ke cahaya dan dinyatakan dalam satuan lumen per Watt. Kurang lebih 90% daya yang digunakan oleh lampu pijar dilepaskan sebagai radiasi panas dan hanya 10% yang dipancarkan dalam radiasi cahaya kasat mata.[21]

Pada tegangan 120 volt, nilai keluaran cahaya lampu pijar 100W biasanya adalah 1.750 lumen, maka efisiensinya adalah 17,5 lumen per Watt.[22] Sementara itu pada tegangan 230 volt seperti yang digunakan di Indonesia, nilai keluaran bolam 100W adalah 1.380 lumen[23] atau setara dengan 13,8 lumen per Watt. Nilai ini sangatlah rendah bila dibandingkan dengan nilai keluaran sumber cahaya putih "ideal" yaitu 242,5 lumen per Watt, atau 683 lumen per Watt untuk cahaya pada panjang gelombang hijau-kuning di mana mata manusia sangatlah peka.[1] Efisiensi yang sangat rendah ini disebabkan karena pada temperatur kerja, filamen wolfram meradiasikan sejumlah besar radiasi inframerah.

Pada tabel di bawah ini terdaftar tingkat efisiensi pencahayaan beberapa jenis lampu pijar biasa bertegangan 120 volt[22] dan beberapa sumber cahaya ideal.

Jenis Efisiensi lampu lumen/Watt

Lampu pijar 40 Watt 1.9% 12.6[22]

Lampu pijar 60 Watt 2.1% 14.5[22]

Lampu pijar 100 Watt 2.6% 17.5[22]

Radiator benda hitam 4000 K ideal 7.0% 47.5[24]

Radiator benda hitam 7000 K ideal 14% 95[24]

Sumber cahaya monokromatis 555 nm (hijau) ideal 100% 683[1][25]

Karena efisiensi lampu pijar yang sangat rendah, beberapa pemerintah negara mulai membatasi peredaran lampu pijar. Contoh negara-negara yang mulai membatasinya adalah Australia[26], Amerika Serikat[7], Brasil[7], Inggris Raya[7], Irlandia[7], Kanada[7], Kuba[7], Selandia Baru[7], Swiss[7], Uni Eropa[7] dan Venezuela[7].

Referensi[sunting | sunting sumber]




^ a b c d e f g h i (en)Klipstein, Donald L. (2006). "The Great Internet Light Bulb Book, Part I". Diakses 2010-04-10.

^ a b c d e f g h i (en)Gale Cengage; Stacey L. Blachford (2006). ""Light Bulb." How Products are Made". eNotes.com. Diakses 2010-04-23.

^ (en)"buylighting.com: Incandescent Light Bulbs". Diakses 2010-04-23.

^ (en)"Round MES Type (E10) : Small Bulbs & Lamps : Maplin". Diakses 2010-04-23.

^ (en)"GE 16317 50A19 at eLightBulbs.com". Diakses 2010-04-23.

^ (en) "LED Efficiency Comparison" (dalam bahasa Inggris). EcoLEDLighting.com. Diakses 2010-05-02. Unknown parameter |filetype= ignored (help)

^ a b c d e f g h i j k (en)Derbyshire, David (7 January 2009). "Revolt! Robbed of their right to buy traditional light bulbs, millions are clearing shelves of last supplies". The Daily Mail. Diakses 2010-04-10. Untuk daftar negara lihat pada bagian "What Happens Overseas?"

^ Edlyn, Edith; Surisdiarto; dan M. Halim Natsir (2008). "PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG AFKIRAN KACANG SHANGHAI SEBAGAI PENGGANTI JAGUNG DALAM PAKAN TERHADAP PENAMPILAN AYAM PEDAGING" (PDF). Laboratorium Lapang Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. Diakses pada 10 April 2010.

^ a b c d (Inggris) Bellis, Mary. "The History of Incandescent Lightbulb" (dalam bahasa English). About.com. Diakses 2010-04-23.

^ a b (Inggris) Covington, Edward (2010-02-22). ""Early Incandescent Lamp"" (dalam bahasa English). Diakses 2010-04-23.

^ a b c (Inggris) "The History of the light bulb". National Science Foundation: Interactive Nano-Visualization in Science and Engineering Education. Diakses 2010-04-23.

^ a b c d e SNI 03-6575-2001 Tata Cara Perancangan Sistem Pencahayaan Buatan Pada Bangunan Gedung, Badan Standardisasi Nasional, 2001

^ a b SNI 04-1704-1989 Persyaratan keamanan lampu berfilamen tungsten untuk penerangan rumah tangga dan penerangan umum yang sejenis, Badan Standardisasi Nasional, 2006

^ (en)Eng; Glenn Elert (1999). "Temperature of an Incandescent Light Bulb". Diakses 2010-04-10. Unknown parameter |First= ignored (|first= suggested) (help)

^ (en)Sutton, Ed. "Basic Color Temperature: Illustrated Photography". Diakses 2010-04-23.

^ (en)Elert, Glenn (2010). "Blackbody Radiation - The Physics Hypertextbook". Diakses 2010-04-10.

^ Gunawan, Tanto (2008). "Optimalisasi sistem tata cahaya buatan studi kasus: ruang rawat inap RS. Spesialis Husada Utama Surabaya". Universitas Kristen Petra. Diakses 2010-04-10.

^ Kane, Raymond; Sell, Heinz. Revolution in Lamps: A Chronicle of 50 Years of Progress (dalam bahasa Inggris) (ed. 2nd). The Fairmont Press, Inc. ISBN 0-88173-378-4. Text " year 2001" ignored (help)

^ Incandescent Lamps, Publication Number TP-110, Nela Park, Cleveland, OH: General Electric Company, 1964

^ a b "Buku Informasi Otomotif Perbaikan Kendaraan Ringan: Sistem Lampu Depan". Badan Pelatihan Nasional. 2002. Diakses 2010-04-10.

^ "LHE, Hematkah?" (PDF). Lembaga Penelitian dan Kajian Teknik Aplikatif Universitas Gadjah Mada. 2009. Diakses 2010-04-10..

^ a b c d e (en)Keefe, T.J. (2007). "The Nature of Light". Diakses 2007-11-05.

^ (de)"Standardlampen matt". Diakses 2010-04-10.

^ a b (de)Anteil sichtbarer Strahlung eines schwarzen Strahlers - Proporsi spektrum cahaya kasat mata dari radiasi benda hitam.

^ Lihat (en)fungsi luminositas.



^ (en)"Phase-out of inefficient incandescent light bulbs". Department of the Environment, Water, Heritage and the Arts. Diakses 2010-04-10.

http://id.wikipedia.org/wiki/Lampu_pijar

Monday, November 11, 2013

Contoh teks Pidato Memerangi Korupsi

Contoh teks Pidato Memerangi Korupsi

Assalamualaikum wr.wb. Selamat pagi semuanya . Sebagai awalan , marilah kita panjatkan puji syukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah SWT sehingga pada saat ini kita masih diberi kesehatan untuk tetap dapat beraktivitas .




Shalawat dan salam kita sanjungkan ke haribaan junjungan besar kita , nabi agung , nabi mulia , nabi Muhammad Saw . Dialah sebagai seorang pendobrak dekadensi moral manusia . Melalui jerih payah , pengorbanan , dan perjuangan beliaulah , kita dapat terbebas dari kekufuran , kejahiliyahan dan kehinaan . Demikian halnya , semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan untuk keluarganya , para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman . Atas jerih payah , pengorbanan dan keikhlasan merekalah , cahaya Islam dapat terbit di belahan timur bumi ini , Indonesia , tanpa KKN , tanpa pemaksaan dan tanpa penjajahan .




Saya ucapkan terima kasih kepada Ibu Nur setiati yang telah memberikan kesempatan sehingga saya dapat menyampaikan pidato hukum berjudul ' Negara Melawan Hukum ' .




Kata korupsi memang sudah tidak asing lagi bagi kita . Secara harfiah arti kata korupsi adalah mengambil atau mencuri hak yang bukan miliknya dengan memanfaatkan jabatan dan secara sembunyi - sembunyi . Banyak kasus korupsi yang terjadi di negara kita . Salah satunya , yaitu pada saat ini kasus korupsi yang gencar diberitakan di media adalah kasus penggelapan pajak oleh oknum pegawai pajak koruptor yang kita kenal dengan julukan si mafia pajak , Gayus Tambunan .




Para hadirin yang saya hormati , kenapa di negara kita ini para koruptor Mental , keimanan dan kurang tegasnya sanksi yang akan di terima menjadi beberapa alasan untuk saat ini , bukti kurang tegas nya hukum tentang koruptor ini




Bagaimana agar situasi tersebut tidak memburuk dan para koruptor di tindak sebagaimana mestinya ? Penjara khusus koruptor , penjara khusus koruptor ini adalah penjara yang tidak memberikan fasilitas dan di jaga oleh orang yang bermental tinggi sehingga tidak mudah terperngaruh ucapan para koruptor




Peran pemerintah tentang korupsi yang terjadi di negara kita seharusnya lebih memastikan semua para koruptor di tahan dengan tindakan yang semesinya pemerintah juga harus lebih di meningkatkan penjagaan agar tidak terjadi praktik - praktik korup lagi . beberapa siswa di beberapa daerah di negara kita menyampaikan usul - usul dari seperti pemiskinan terhadap para koruptor dan pemberian KTP khusus koruptor dan penegasan kembali terhadap para koruptor




Hadirin yang saya hormati , negara kita tidak membutuhkan orang yang hanya memiliki kepintaran saja melainkan orang yang memiliki kejujuran dan jika kepribadian yang besar sehingga tidak mudah terpengaruh orang lain seharusnya kita mementingkan kualitas bukan kuantitas terlalu banyak orang yang pintar tetapi hanya segelintir orang yang memiliki kejujuran




Generasi anak bangsa negara yang baik harus lah di didik dengan baik dan tidak terlalu mementingkan iQ tetapi emotional dan spiritual yang tinggi sehingga tidak lahir koruptor - koruptor di masa yang akan datang




Aksi untuk melawan korupsi harus di tangani dengan serius karena kita semua mengharapkan korupsi akan terkikis lenyap dari negara kita . untuk itu kita harus bersama - sama melawan korupsi bagi siswa belajar di tingkatkan sikap di perbaharui agar menjadi generasi yang lebih baik dari sekarang

sumber : http://www.lokerseni.web.id/2012/01/contoh-teks-pidato-tentang-korupsi.html

Friday, November 8, 2013

Laporan Praktikum Daya Tekan Akar

Laporan Praktikum Daya Tekan Akar

A. Tujuan
Untuk mengamati adanya daya tekan akar pada tumbuhan.
B. Landasan Teori
Air dan garam mineral diambil dari tumbuhan dari dalam tanah. Air dan mineral dari tanah masuk ke dalam tubuh tumbuhan melalui dua jalan, yaitu melalui rambut akar dan ujung akar. Cara transportasi air dan mineral di luar xilem (berkas pembuluh) ada 2 macam, yaitu simplas dan apoplas.
Transportasi simplas adalah bergeraknya air tanah dan zat terlarut melalui bagian hidup dari sel tumbuhan, misalnya sitoplasma dan vakuola dari satu sel ke sel lain. Pada sistem ini perpindahan terjadi secara osmosis dan transporaktif. Transportasi apoplas adalah menyusupnya air tanah secara difusi bebas atau transpor pasif melalui semua bagian tak hidup dari tumbuhan. Transportasi apoplas tidak dapat masuk ke xilem karena adanya pita kaspari pada endodermis. Apoplas dapat terjadi di semua bagian daun kecuali endodermis.
Di dalam xilem, air dan mineral yang mengendap di dalamnya akan bergerak ke atas dalam elemen pembuluh dan trakeid. Kemudian air dan mineral akan didistribusikan ke jaringan-jaringan yang membutuhkan, misalnya pada daun.
Potensi air di atmosfer umunya lebih rendah daripada potensi air dalam tanah. Perbedaan potensi air ini menimbulkan daya dorong terhadap translokasi air dari larutan tanah, melewati tanaman ke atmosfer.. Penyerapan air berkaitan dengan metabolisme dan faktor lain yang berpengaruh pada metabolisme sebagai pengaruh tidak langsung. Rendahnya suhu, kurangnya oksigen dan senyawa toksik akan menekan penyerapan air, karena akan mengganggu metabolisme. Demikian halnya aliran air antara vakuola dan sitoplasma dikendalikan oleh perbedaan potensi air. Faktor yang mempengaruhi penyerapan air yaitu: faktor lingkungan seperti ketersediaan air, aerasi, konsentrasi larutan tanah, suhu dan faktor tanaman seperti laju transpirasi tanaman, sistem perakaran, metabolism
Tekanan akar dan daya kapileritas masih terlalu lemah dalam upaya transport air melewati xylem ke bagian atas tanaman, terutama pada tanaman dengan ketinggian yang cukup (hampir mencapai 100 m). Tekanan akar maksimum yaitu 2 atm, yang artinya hanya mampu menaikkan air sampai ketinggian 21 m.
C. Alat dan Bahan
Read More >>
1. Alat :
a. Manometer
b. Pipa karet
c. Jarum suntik
d. Statip
e. Pisau/ silet
f. Gelas ukur
2. Bahan :
a. Tanaman pacar cina dalam pot
b. Vaseline
c. Air
d. Safranin

D. Langkah Kerja:
1. Menyediakan alat dan bahan.
2. Memotong tanaman pacar cina (Impatiens balsamina) yang segar dalam pot ± 5cm diatas permukaan tanah sesuai dengan ukuran pipa karet. Bila batang terlalu besar sesuaikan saja dengan ukuran pipa.
3. Memasukan air ke dalam pipa karet pada manometer
4. Memasukan batang tanaman (Impatiens balsamina) kedalam pipa yang telah di isis air tadi
5. Memasukan safranin ke dalam manometer dengan menggunakan jarum suntik melalui bagian bawah alat tersebut. Usahakan jangan ada gelembung di dalam manometer, bila ada gelembung ulangi kembali dengan memasukan sapranin ke dalam manometer.
6. Menghubungkan atau menggabungkan manometer pada pipa karet yang telah di isi batang tanaman pacar cina dengan terlebih dahulu mengurangi volume air yang ada pada pipet karet tersebut.
7. Mengoleskan Vaseline antara hubungan pipa karet dengan manometer agar tidak bocor.
8. Menempatkan manometer pada kondisi luar lingkungan.
9. Mencatat perpindahan kenaikan safranin dan waktu yang dibutuhkan untuk naik ke ujung manometer.
E. Hasil Pengamatan:


Gambar Keseluruhan






F. Pembahasan
Pada praktikukm ini digunakan tanaman pacar air (Impatiens balsamia) merupakan tanaman yang dijadikan sebagai tanaman sampel. Tanaman sampel dipotong bagian batangnya. Pemotongan tanaman sampel ini bertujuan untuk membuktikan terjadinya tekanan akar serta besarnya kenaikan larutan (larutan safranin) akibat dari tekanan akar. Faktor yang mempengaruhi tekanan akar adalah perbedaan potensial air dalam tumbuhan dan air yaitu potensial air yang tinggi di dalam tanah.Tumbuhan menyerap air dan mineral yang terdapat di dalam tanah melalui akar, untuk menaikkan air dari permukaan tanah diperlukan suatu tekanan pada akar. Tekanan pada akar terjadi jika transpirasi rendah, artinya kelembaban padatanah cukup tinggi. Pada saat kelembapan tanah kurang maka laju transpirasi akan meningkat, tekanan akar tidak terjadi maka air yang ada akan naik karena adanya daya isap daun.
Kenaikan air dari tanah juga dipengaruhi oleh transpirasi karena transpirasi sebagian besar terjadi di daun melalui stomata, transpirasi bermanfaat bagi tumbuhan karena dapat menyebabkan terbentuknya daya isap daun, mempercepatpengangkutan unsur hara melalui xilem dan membantu penyerapan air dan unsur hara oleh akar. Tekanan akar tidak dapat diamati jika kondisi lingkungannya kekurangan air atau pada saat transpirasi rendah. Pada saat ini yang berperan adalah daya isap daun, jadi air bergerak karena terjadinya transpirasi. Akar merupakan komponen pokok dari tanaman, baik dalam hal fungsi maupun dalam jumlah besarnya. Biasanya dapat mencapai kira-kira 1/3 berat kering seluruh tubuh tanaman. Kecepatan ekstraksi air dari suatu tanah merupakan fungsi darikonsentrasi akar, karena berkurangnya menurut kedalaman daerah akar. Air sangat penting bagi tumbuhan sehingga gerakan air melalui tanah yang disebu tperkolasi, tumbuhan karena dapat menyebabkan terbentuknya daya isap daun, mempercepatpengangkutan unsur hara melalui xilem dan membantu penyerapan air dan unsur hara oleh akar.
Tekanan akar tidak dapat diamati jika kondisi lingkungannya kekurangan air atau pada saat transpirasi rendah. Pada saat ini yang berperan adalah daya isap daun, jadi air bergerak karena terjadinya transpirasi. Akar merupakan komponen pokok dari tanaman, baik dalam hal fungsi maupun dalamjumlah besarnya. Biasanya dapat mencapai kira-kira 1/3 berat kering seluruhtubuh tanaman. Kecepatan ekstraksi air dari suatu tanah merupakan fungsi darikonsentrasi akar, karena berkurangnya menurut kedalaman daerah akar. Air sangat penting bagi tumbuhan sehingga gerakan air melalui tanah yang disebut perkolasi. Hubungan antara tekanan akar dan daya hisap daun adalah sangat eratkarena faktor-faktor itu tidak dapat berdiri sendiri dalam memindahkan zat haraatau air tanah menuju ke daun untuk difotosintesis. Akar berperan dalam memperluas bidang penyerapan tumbuhan terhadap air dan zat hara. Jika tumbuhan tidak mempunyai akar maka tumbuhan itu hanya dapat menyerap zat-zat yang diperlukannya dari sekitarnya saja. Sebaliknya jika tumbuhan tidak mempunyai daun, maka penyerapan dan pengantaran zat hara dari tanah menuju ke daun tidak optimal (tidak cepat) karena daya tekan akar saja tidak cukup untuk melawan besarnya gradien gravitasi bumi.
Untuk mengetahui adanya tekanan pada akar maka dapat dilakukan suatu pengamatan dengan menggunakan tanaman yang mempunyai batang transparan sehingga besarnya pergerakan air tanaman dan kenaikkan larutan dapat terlihat jelas.
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan bisa di ketahui adanya tekanan akar yaitu tekanan yang terjadi pada xylem sebagai hasil proses aktif. Dalam praktikum kali ini ternyata telah terjadi daya tekan akar yang pada percobaan di tandai dengan adanya kenaikan cairan pada manometer. Besarnya tekanan akar pada setiap tumbuhan berbeda-beda tergantung dari besar kecilnya serta tinggi rendahnya batang. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil percobaan kami yakni batang pacar air yang digunakan relative kecil sehingga daya tekan akar yang dihasilkanpun kecil juga .
Hal ini menunjukan adanya hubungna antara daya gerak akar dengan pengangkuatan air. Pengangkutan air pada tumbuhan meliputi 2 cara yaitu pengangkutan air dan garam mineral diluar pembuluh xilem (ekstravaskuler) dan pengangkutan air melalui pembuluh xilem (intravaskuler).
1. Transfortasi ekstravaskuler
Proses pengangkutan ekstravaskuler sebagai berikut, air bergerak secara horizontal yaitu dari pemukaan akar menuju ke sel epidermis (rambut akar) kemudian bergerak diantara sel-sel korteks. Untuk sampai ke stele air harus melewati sitoplasma sel-sel endodermis.
2. Transportasi Intravaskuler
Merupakan pengangkutan air dan garam mineral dari akar menuju bagian atas tumbuhan (daun ) melalui xilem. Urutannya Xilem akar, xilem batang, xilem tangkai daun, xilem tulang daun. Selanjutnya dari xilem tulang daun masuk ke sel-sel mesofil daun untuk di gunakan dalam fotosintesis. Proses transportasi air melalui xilem bersifat apopplastik karena sel-se xilem bersifat sel mati.
Teori kapilaritas menyatakan Pembuluh xylem dapat dipandang sebagai pembuluh kapiler, sehingga air dapat naik kedalamnya sebagai akibat dari adhesi antara dinding xylem dengan molekul-molekul air. Akan tetapi sebenarnya, peranan ini tidak begitu berarti. Adhesi merupakan daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis. Teori ini menyatakan bahwa air dapat bergerak karena adanya kerjasama dengan dinding xile, hal ini jelas adanya hubungan antara pergerakan air melalui molekul yang berbeda.
G. Kesimpulan
Dari praktikum tersebut bahwa daya tekan akar pada tumbuhan memang terjadi. Hal ini di buktikan dengan memotong bagian atas tumbuhan dan hanya bagian batang sampai akar yang digunakan. Naiknya cairan pada manometer menjadi indikator bahwa akar sangat berperan dalam proses transpirasi air. Tekanan akar tidak dapat diamati jika kondisi lingkungannya kekurangan air atau pada saat transpirasi rendah. Pada saat ini yang berperan adalah daya isap daun, jadi air bergerak karena terjadinya transpirasi.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2002). Tekanan pada akar. [online]. Tersedia di: http://id.scribd.com/doc/13235928/daya-tekan-akar. [15januari 2013]

Ardi. (2012). Huungan daya tekan akar dan daya hisap daun. [online]. Tersedia : http://ardi-33.blogspot.com/?zx=f57fda43c17ee70f. [15 januari 2013].

Laporan Praktikum Daya Isap Daun

Laporan Praktikum Daya Isap Daun

I. TUJUAN
Mengetahui naiknya udara Bahasa Dari Akar Ke daun .
II . Landasan Teori
* Menurut Esti ( 2012 ) Daya hisap daun adalah timbulnya tarikan terhadap udara Yang ADA FUNDS sel - sel di bawahnya Dan tarikan Suami Akan diteruskan molekul demi molekul , Menuju kebawah sampaike seluruh kolom udara FUNDS xilem sehingga menyebabkan air tertarik Ke Atas Bahasa Dari Akar Menuju Ke daun . Faktor Yang mempengaruhi Daya hisap daunadalah terjadinya transpirasi udara Akan mengalir masuk Bahasa Dari korteks Akar , menghasilkan suatu tekanan positif Yang memaksa cairannaik Ke xilem . Dorongan getah xilem Ke arah Atas inisial disebut tekanan Akar . Faktor Yang mempengaruhi tekanan Akar adalah perbedaan potensial udara Dalam, Tumbuhan Dan udara yaitu potensial udara Yang Tinggi, di Dalam, tanah.Tumbuhan menyerap udara dan mineral Yang terdapat di Dalam, Tanah melalui Akar , untuk menaikkan air permukaan Bahasa Dari Tanah diperlukan suatutekanan padaakar . Tekanan FUNDS Akar terjadi Severe transpirasi rendah , artinya kelembaban FUNDS Tanah CUKUP Tinggi. FUNDS SAAT kelembapan Tanah kurang Maka Laju transpirasi Akan MENINGKAT , tekanan Akar tidak terjadi Maka udara Yang ADA Akan Naik KARENA adanya dayaisap daun . Untuk mengetahui adanya tekanan FUNDS Akar Dan Daya hisap padadaun makadapat dilakukan suatu pengamatan Artikel Baru menggunakan Tanaman Yang mempunyai batang transparan sehingga besarnya pergerakan udara Tanaman Dan kenaikkan larutan dapat terlihat jelas
Besarnya FUNDS masing - masing batang BAIK BAGIAN Atas maupunbagian Bawah yangartinya Tanaman pacar air dapat menghisap larutan hinggamencapai seluruh BAGIAN Tanaman BAIK melalui tekanan Akar maupun Daya hisapdaun . Hal inisial menunjukkan bahwa padatanaman pacar air tekanan Akar Dan dayahisap daun memiliki pengaruh Yang sama Besar Dalam, penyerapan udara

III . ALAT DAN BAHAN
1 . Tumbuhan pacar air 2 buah
2 . Larutan eosin atau Kl ( dapat diganti Artikel Baru ilalang )
3 . Tabung reaksi
4 . udara

IV . CARA KERJA
1 . Menyiapkan Tabung reaksi A dan B.
2 . Meletakkan Tanaman pacar air FUNDS Tabung reaksi A Yang Berisi larutan eosin atau Kl ( atau ilalang )
3 . Meletakkan pacar air Yang telah dibuang daunnya FUNDS Tabung reaksi B Yang Berisi larutan eosin atau Kl ( atau ilalang )
4 . Menunggu sekitar 45 menit , kemudian mengamati kedua perangkat Percobaan nihil
5 . Lalu perhatikan manakah udara Yang lebih CEPAT Naik, di Tabung A atau B Tabung , Dan menganalisis mengapa demikian .

V. HASIL PENGAMATAN
tidak

Tabung

REVENUES
1

Tanaman Pacar udara ( ADA daunnya )

Berkurang 1 cm
2

Tanaman Pacar udara ( tidak ADA daunnya )

Berkurang 0,5 cm
Bahasa Dari HASIL Percobaan didapati Tumbuhan udara berubah menjadi merah Warna ( Warna ilalang ) , Warna merah terlihat FUNDS batang daun Dan .
VI . PEMBAHASAN
Bahasa Dari Percobaan Yang telah dilakukan membuktikan bahwa BANYAK daun mempengaruhi Daya hisap Tumbuhan , ITU ditunjukan FUNDS :
FUNDS Tabung A , udara lebih CEPAT Naik daripada FUNDS Tabung B. Hal inisial KARENA Tanaman Dalam, Tabung A Masih terdapat BANYAK daun sehingga menyebabkan semakin banyaknya udara Yang diperlukan Dalam, proses penelaahan transpirasi Dan menyebabkan Daya isap daun Besar .
Sedangkan Dalam, Tabung B Berisi Tanaman Yang sudah tidak mempunyai daun sehingga tidak membutuhkan BANYAK udara untuk transpirasi sehingga Daya isap daun Kecil .

VII . KESIMPULAN
Bahasa Dari usaha atau kegiatan Yang telah dilakukan dapat ditarik kesimpulan Maka :
1 . Air Naik Bahasa Dari Akar Ke daun , KARENA Tumbuhan memiliki Daya hisap daun .
2 . Daya isap daun berhubungan Artikel Baru proses penelaahan transpirasi .
3 . Salah Satu faktor Yang mempengaruhi Daya isap daun adalah daun Number .
Semakin BANYAK daun Maka Daya isap semakin Besar , sebaliknya semakin : sedikit daun Maka Daya isap daun semakin Kecil

sumber : http://gurusemesta.blogspot.com/2012/12/daya-hisap-daun.html

Thursday, October 31, 2013

Laporan Praktikum Kimia Uji Protein

Laporan Praktikum Kimia Uji Protein

Tujuan :
  • Mengetahui adanya Ikatan peptida Dalam, protein Artikel Baru Tes biuret .
  • Mengetahui adanya inti benzena Artikel Baru Uji Xanthoproteat .
  • Mengetahui adanya Ikatan Belerang ( S ) Artikel Baru Uji timbal asetat .
Dasar Teori :

Asam amino merupakan satuan pembangun protein Yang dihubungkan melalui Ikatan peptida FUNDS setiap ujungnya . Protein tersusun Bahasa Dari atom C , H , O , N Dan , kadang - kadang Serta P Dan S. Bahasa Dari keseluruhan asam amino Yang terdapat di alam hanya 20 asam amino Yang Yang Biasa dijumpai FUNDS protein .
FUNDS berbagai Uji kualitatif dilakukan terhadap beberapa Yang Macam protein , semuanya mengacu FUNDS reaksi Yang terjadi ANTARA pereaksi Dan Komponen protein , yaitu asam amino tentunya . Beberapa asam amino mempunyai reaksi Yang Spesifik FUNDS gugus R - nya , sehingga bahasa Dari reaksi nihil dapat diketahui Komponen asam amino protein suatu .
Prinsip Bahasa Dari Uji millon adalah pembentukan garam merkuri Bahasa Dari tirosin Yang ternitrasi . Tirosin merupakan asam amino Yang mempunyai molekul fenol FUNDS gugus R - nya , Yang Akan membentuk garam merkuri Artikel Baru pereaksi millon . Bahasa Dari HASIL Percobaan , diketahui bahwa protein albumin Dan kasein mengandung tirosin sebagai salat asam amino penyusunnya , sedangkan gelatin Dan pepton tidak . Fenol Dalam, Hal inisial digunakan sebagai Bahan Percobaan KARENA tirosin memiliki molekul fenol FUNDS gugus R - nya . Di Sini , Uji terhadap fenol negatif , walaupun secara Teori tidak . Alasan Yang mungkin untuk Hal inisial adalah kesalahan praktikan Dalam, BEKERJA .
FUNDS Uji Hopkins cole , Uji positif ditunjukkan Oleh albumin , gelatin , kasein , pepton Dan , Artikel Baru ditunjukkan Oleh adanya cincin berwarna ungu . Uji inisial Spesifik untuk protein Yang mengandung Triptofan . Triptofan Akan berkondensasi Artikel Baru aldehid Bila ADA asam kuaat sehngga membentuk cincin berwarna ungu .
Protein Yang mengandng sedikitnya Satu gugus karboksil Dan gugus asam amino prabayar bebas Akan bereaksi Artikel Baru ninhidrin membentuk persenyawaan berwarna . Uji inisial bersifat UMUM * Semua asam amino untuk , Dan menjadi Ditempatkan penentuan kuantitatif asam amino . FUNDS Uji inisial , hanya kasein Yang menunjukkan Uji negatif terhadap ninhidrin . Hal inisial disebabkan KARENA FUNDS kasein tidak mengandung sedikitnya Satu gugus karboksil Dan amino Yang Terbuka .
Dan sistein metionin merupakan asam amino Yang mengandung atom S FUNDS molekulnya .. Reaksi Pb - asetat Artikel Baru asam -asam amino nihil Akan membentuk endapan berwarna kelabu , yaitu garam PbS . Penambahan NaOH Dalam, Hal inisial adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga Ikatan Yang menghubungkan atom S dapat terputus Oleh Pb - asetat membentuk PbS . Bahasa Dari * Semua Bahan Yang diuji , hanya albumin Yang membentuk endapan PbS , sehingga dapat disimpulkan albumin mengandung sistein ataupun metionin .
Inti benzena dapat ternitrasi Oleh asam nitrat Pekat menghasilkan turunan nitrobenzena . Fenilalanin , tirosin , Dan Triptofan Yang mengandung inti benzena FUNDS molekulnya JUGA mengalami reaksi Artikel Baru HNO3 Pekat . Untuk perbandingan , dapat ditunjukkan Oleh fenol Yang bereaksi membentuk nitrobenzena . HASIL Uji menunjukkan bahwa bahasa Dari * Semua Bahan , hanya kasein Yang tidak mengandung asam amino Yang mempunyai inti benzena FUNDS molekulnya . Tetapi Hal inisial Patut dipertanyakan , KARENA Bahasa Dari data Data Yang diperoleh FUNDS Uji millon Dan Uji Hopkins cole , kasein mengandung tirosin Dan triptofan . Salah Satu alasan Yang mungkin adalah KARENA kesalahan Koperasi Karyawan Bhakti Samudera praktikan Dalam, mengamati Warna Yang terbentuk selama reaksi .
FUNDS Uji biuret , protein * Semua Yang diujikan memberikan HASIL positif . Biuret bereaksi membentuk senyawa Artikel Baru Artikel Baru Kompleks Cu gugus - CO dan- NH FUNDS asam amino protein Dalam, . Fenol tidak bereaksi Artikel Baru biuret KARENA tidak mempunyai gugus - CO dan- NH FUNDS molekulnya .
Protein Yang tercampur Oleh senyawa Logam Kendaraan bermotor Akan terdenaturasi . Hal inisial terjadi FUNDS albumin Yang terkoagulasi Penghasilan kena pajak ditambahkan AgNO3 Dan Pb - asetat . Senyawa - senyawa Logam nihil Akan memutuskan Jembatan garam Dan berikatan Artikel Baru protein membentuk endapan Logam proteinat . Protein JUGA mengendap Bila terdapat garam - garam Anorganik Artikel Baru Yang Tinggi, Dalam, konsentrasi larutan protein . Berbeda Artikel Baru Logam Kendaraan bermotor , garam - garam Anorganik mengendapkan protein KARENA kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi Artikel Baru protein untuk mengikat air . FUNDS Percobaan , endapan Yang direaksikan Artikel Baru pereaksi millon memberikan Warna merah Muda , Dan filtrat Yang direaksikan Artikel Baru biuret berwarna biru Muda . Hal inisial berarti ADA sebagian protein mengendap Yang Penghasilan kena pajak ditambahkan garam .
FUNDS Uji koagulasi , endapan albumin Yang terjadi Penghasilan kena pajak penambahan asam asetat , Bila direaksikan Artikel Baru pereaksi millon memberikan HASIL positif . Hal inisial menunjukkan bahwa endapan nihil Masih bersifat sebagai protein , hanya Saja telah terjadi perrubahan Struktur tersier ataupun kwartener , sehingga protein nihil mengendap . Perubahan Struktur tesier albumin inisial tidak dapat diubah Dilaporkan Ke bentuk semula , Suami Bisa dilihat Bahasa Dari tidak larutnya endapan albumin ITU Dalam, udara .
FUNDS Uji pengendapan Oleh Alkohol , hanya Tabung - Tabung Yang mengandung asam ( pH rendah ber - ) Yang menunjukkan pengendapan protein . FUNDS protein , asam amino Ujung C Yang Terbuka dapat bereaksi Artikel Baru Alkohol Dalam, suasana asam membentuk senyawa ester protein . Pembentukan ester inisial ditunjukkan Oleh adanya endapan Yang terbentuk .
Protein Akan terdenaturasi atau mengendap Bila berada FUNDS Titik isolistriknya , yaitu pH dimana Number Muatan positif sama Artikel Baru Number Muatan negatifnya . FUNDS Uji denaturasi , protein Yang dilarutkan Dalam, penyangga asetat pH 4,7 menunjukkan adanya endapan . Protein Yang dilarutkan Dalam, HCl maupun NaOH , keduanya tidak menunjukkan adanya pengendapan , namun Penghasilan kena pajak ditambahkan penyangga asetat Artikel Baru Volume berlebih , protein pun mengendap Hal inisial menunjukkan bahwa protein albumin mengendap FUNDS Titik isolistriknya , yaitu sekitar pH 4,7 .
Macam - Macam Kerusakan Protein
Denaturasi protein dapat dilakukan Artikel Baru berbagai Cara yaitu pana , pH , Bahan KIMIA Dan sebagainya . Denaturasi diartikan suatu proses penelaahan dipecahnya Ikatan hidrogen Interaksi hidrofobik , Ikatan garam , terbukanya lipatan atau menang molekul . Ada doa denaturasi yaitu pengembangan Rantai polipeptida Dan pemecahan protein menjadi Unit Yang lebih Kecil Tanpa disertai pengembangan molekul Ikatan ( Winarno , 2004) .

* Menurut Graman Dan Sherington ( 1992 ) , koagulasi dapat ditimbulkan dengan berbagai macam cara:
1. Dengan pemanasan
2. Dengan asam
3. Dengan enzim – enzim
4. Dengan perlakuan mekanis
5. Penambahan garam
Alat Dan Bahan :
Alat Dan Bahan
Gelas KIMIA Agar-agar
Pipet Tetes Gelatin
Tabung reaksi Kapas
Penjepit Tabung Larutan Tembaga ( II ) asetat 1 % ( CuSO4 )
Kaki 3 Dan kasa Larutan Natrium hidroksida 6 M ( NaOH )
Spatula Kaca Larutan Natrium hidroksida 3 M ( NaOH )
Gelas Ukur Larutan timbal ( II ) asetat { Pb ( CH3COO ) 2 }
Larutan susu CH3COOH 3 M
Cara Kerja :

Uji biuret

Severe positif ( + ) Akan berwarna ungu .

Masukkan 1 ml putih Telur Ke Dalam, Tabung reaksi . Tambahkan ± 2-3 tetes CuSO4 . Kemudian masukkan 1 ml NaOH 0,1 M. amati perubahan Yang terjadi .
Ulangi Cara Koperasi Karyawan Bhakti Samudera nihil menggunakan susu , gelatin , agar-agar , Dan Kapas . Bila ADA Yang tidak larut Penghasilan kena pajak ditambahkan NaOH , panaskan PT KARYA CIPTA PUTRA beberapa menit hingga * Semua Larut, Lalu dinginkan .

tes Xanthoproteat

Untuk mendeteksi ADA tidaknya inti benzena .
Severe positif ( + ) berwarna kuning jingga .

Masukkan 1 ml putih Telur Ke Dalam, Tabung reaksi . Tambahkan 2 tetes HNO3 Pekat , panaskan selama ± 2 menit . Kemudian dinginkan Penghasilan kena pajak Dingin masukkan NaOH 6 M tetes demi tetes hingga berlebih . Amati perubahan Yang terjadi .
Ulangi Cara Koperasi Karyawan Bhakti Samudera nihil Artikel Baru menggunakan susu , gelatin , agar-agar , Dan Kapas .

Uji timbal asetat

Untuk Menguji ADA tidaknya Ikatan Belerang ( S ) .
Severe positif ( + ) Akan berwarna kehitaman .

Masukkan 1 ml putih Telur Ke Dalam, Tabung reaksi . Tambahkan 0,5 ml NaOH 6 M Dan panaskan ± 2 menit . Kemudian dinginkan Penghasilan kena pajak ITU masukkan 2 ml CH3COOH 3 M. tutup Tabung reaksi Artikel Baru Kertas SARING Yang sudah dibasahi Artikel Baru Pb ( CH3COO ) 2 . Panaskan ± 2 menit . Amati perubahan Yang terjadi .
Ulangi langkah Koperasi Karyawan Bhakti Samudera nihil menggunakan susu , gelatin , agar-agar , Dan Kapas .

HASIL Pengamatan :
Bahan Uji Biuret Uji Xanthoproteat Uji timbal asetat
Putih Telur Ungu ( + ) Oranye ( + ) Tidak hitam ( - )
Susu Ungu ( + ) Oranye ( + ) Hitam ( + )
Gelatin Ungu ( + ) Kuning ( + ) Hitam ( + )
Agar -agar Ungu ( + ) Oranye ( + ) Hitam ( + )
Kapas Biru ( - ) Putih bening ( - ) Hitam ( + )

Pembahasan data eksperimen : 

Dalam percobaan dilakukan uji terhadap protein dengan berbagai macam cara yaitu: uji pengendapan dengan alcohol, uji denaturasi dan uji sulfur. Dalam percobaan ini, digunakan beberapa larutan yaitu albumin, susu bubuk, susu cair, putih telur, kuning telur dan ikan.

Percobaan pertama dengan menggunakan uji pengendapan dengan alkohol, di dapat kesimpulan bahwa pada tabung 1 diperoleh untuk masing-masing larutan protein memiliki endapan berwarna putih, sedangkan larutannya sama seperti larutan induknya. Pengendapan ini dapat terjadi dikarenakan dengan penambahan alcohol pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air (Blogspot, 2007). Sedangkan pada tabung 2, untuk masing-masing larutan protein tidak terdapat endapan, hal ini dikarenakan dengan penambahan larutan NaOH akan menaikkan titik isoelektriknya dengan demikian akan menjadikan protein tidak kalah bersaing dengan protein terhadap air.
Dan pada tabung 3 diperoleh bahwa terdapat endapan putih yang lebih sedikit dari pada tabung 1, hal ini dikarenakan buffer asetat merupakan asam lemah, dengan demikian proses mengubah konstanta dielektrika dari air berkurang. Dengan demikian penurunan titik isoelektriknya juga tidak signifikan, oleh karena itu kelarutan protein juga akan berkurang, sehingga terbentuk endapan putih.
Selanjutnya untuk percobaan denaturasi protein, Pada tabung 1 diperoleh bahwa untuk setiap larutan protein terdapatnya gumpalan-gumpalan bahkan endapan berwarna putih. Penggumpalan ini terjadi setelah dilakukannya pemanasan. Proses pemanasan dapat menyebabkan rusaknya struktur protein. Protein sangat peka terhadap lingkungan apalagi dengan adanya perubahan suhu, hal ini menyebabkan larutan menjadi keruh dan adanya gumpalan-gumpalan dari protein yang terdenaturasi. Denaturasi protein dapat diakibatkan bukan hanya oleh adanya pemanasan, tetapi juga pH, dan juga pelarut organiknya.
Pemanasan akan membuat protein terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit (Ophart, 2003). Setelah pemanasan protein tersebut ditambah dengan larutan buffer asetat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa larutan setelah dipanaskan terbentuk endapan berwarna putih, dan larutannya berwarna seperti warna induknya.
Pada tabung 2, untuk masing-masing protein tidak terdapat endapan setelah pemanasan, namun setelah ditambah buffer asetat maka terbentuk endapan berwarna putih. Sama halnya untuk tabung 3, pada penambahan buffer asetat kemudian dipanaskan akan terbentuk endapan berwarna putih. Namun, pada percobaan ini kuning telur tidak menunjukkan perubahan yang signifikan setelah pemanasan baik pada tabung 1 tabung 2 ataupun tabung 3, endapan yang terbentuk hampir tidak ada. Hal ini dikarenakan larutan protein yang dibuat oleh praktikan terlalu encer (kurang 20%).
Dalam percobaan yang terakhir, digunakan uji sulfur terhadap protein. Sampel yang digunakan yaitu albumin. Uji belerang ini memberikan hasil positif terhadap protein yang mengandung asam amino yang memiliki gugus belerang, seperti sistein, sistin, dan metionin. Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa terbentuknya endapan putih dan warna larutan kuning. Hal ini menunjukkan bahwa, endapan putih tersebut merupakan endapan Barium dengan sulfur dan larutan tersebut menunjukkan adanya kandungan sulfur dalam protein.

Jawaban pertanyaan : 
Ø uji pengendapan dengan pada alkohol
1. apakah kelarutan albumin dalam air terjadi pada titik isoelektriknya ?
jawab: ya, kelarutan albumin dalam air terjadi pada titik isoelektriknya yang ditandai dengan endapan berwarna putih.

Ø uji denaturasi
2. sifat fisik apakah dari protein yang mempengaruhi kelarutan protein dalam percobaan ?
jawab: sifatnya sangat peka terhadap lingkungan, apabila konfirmasi molekul protein berubah, misalnya oleh perubahan suhu, pH atau karena terjadinya suatu reaksi dengan senyawa lain, maka keaktifan biokimianya berkurang. Hal ini dinamakan dengan denaturasi.
3. metode lain yang dapat digunakan pada denaturasi protein ?
jawab: yaitu metode pemanasan, metode kromatografi dan metode pemurnian enzim.
4. Perubahan apa yang berhubungan dengan denaturasi protein?
Jawab: perubahan suhu, pH, dan pelarut organik.


Ø uji sulfur
1. mengapa protein memberikan uji positif pada sulfur?
Jawab: karena protein dengan sulfur menghasilkan endapan putih dan larutan kuning sehingga protein memberikan uji positif terhadap uji sulfur. Karena dalam protein juga terdapat asam amino sistein yang memiliki gugus tiol yang mengandung unsur S (sulfur).
2. unsur-unsur apa yang bisa dalam protein tetapi tidak ada dalam lipid dan karbohidrat?
Jawab : unsur P (phosphor), nitrogen, dan sulfur.

Kesimpulan :

Ikatan peptida bereaksi Artikel Baru larutan biuret berwarna ungu Akan . Sedangkan Yang tidak berwarna ungu berarti mengandung glikosida .
Inti benzena bereaksi Artikel Baru larutan Xanthoproteat Akan berwarna kuning jingga .
Ikatan S bereaksi Artikel Baru larutan timbal asetat Akan berwarna hitam FUNDS Kertas SARING .

sumber :

http://ilovejels.blogspot.com/2012/04/praktikum-uji-protein.html
http://ruanglingkupgurukimia.blogspot.com/2012/05/praktikum-reaksi-uji-protein.html

Tuesday, October 29, 2013

Klasifikasi Hewan dan Tumbuhan

Klasifikasi Hewan dan Tumbuhan



Klasifikasi adalah pengelompokan aneka JENIS HEWAN atau Tumbuhan Ke Dalam, nama kelompok tertentu . Pengelompokan inisial disusun secara runtut Sesuai Artikel Baru tingkatannya ( hierarkinya ) , yaitu MULAI bahasa Dari Yang lebih Kecil tingkatannya hingga tingkatan Ke Yang lebih Besar . Ilmu Yang mempelajari Prinsip Dan Cara klasifikasi makhluk Hidup disebut taksonomi atau sistematik .

Prinsip Dan Cara mengelompokkan makhluk Hidup * Menurut Ilmu taksonomi adalah Artikel Baru membentuk takson . Takson adalah nama kelompok makhluk Hidup Yang anggotanya memiliki BANYAK persamaan ciri . Takson dibentuk Artikel Baru jalan mencandra OBJEK atau makhluk Hidup Yang diteliti Artikel Baru MENCARI persamaan ciri maupun perbedaan Yang dapat diamati .
Tujuan Dan MANFAAT klasifikasi

Tujuan bahasa Dari klasifikasi makhluk Hidup Adalah:

mengelompokkan makhluk Hidup berdasarkan persamaan ciri - ciri Yang dimiliki
mendeskripsikan ciri - ciri suatu makhluk JENIS Hidup untuk membedakannya Artikel Baru makhluk Hidup Bahasa Dari JENIS Yang Lain
mengetahui hubungan kekerabatan antarmakhluk Hidup
memberi NAMA makhluk Hidup Yang belum diketahui Namanya

Berdasarkan tujuan nihil , SISTEM klasifikasi makhluk Hidup memiliki MANFAAT seperti berikut .

Memudahkan kitd Dalam, mempelajari makhluk Hidup Yang Ulasan Sangat beraneka ragam .
Mengetahui hubungan kekerabatan ANTARA makhluk Hidup Satu Artikel Baru Yang berbaring .

Macam klasifikasi makhluk Hidup

Ada bermacam SISTEM klasifikasi makhluk Hidup . Penggunakan Sistem klasifikasi inisial Berkembang MULAI bahasa Dari Yang Sederhana hingga berdasar SISTEM Yang lebih modern.

1 . Penggunakan Sistem artifisial / Buatan

Penggunakan Sistem Yang mengelompokkan makhluk Hidup berdasarkan persamaan ciri Yang ditetapkan Oleh Peneliti SENDIRI , misalnya , ukuran , bentuk , Dan habitat makhluk Hidup . Penganut SISTEM inisial di antaranya Aristoteles Dan Theophratus ( 370 SM ) .

2 . Telkomnika alam / Alami

Penggunakan Sistem Yang mengelompokkan makhluk Hidup berdasarkan persamaan ciri Struktur tubuh eksternal ( Morfologi ) Dan Struktur tubuh internal yang ( anatomi ) secara Alamiah . Penganut SISTEM Suami , di antaranya , Carolus Linnaeus ( Abad Ke - 18 ) . Linnaeus berpendapat bahwa setiap tipe makhluk Hidup mempunyai bentuk Yang berbeda . Oleh KARENA ITU , Severe sejumlah makhluk Hidup memiliki sejumlah ciri Yang sama , berarti makhluk Hidup nihil sama spesiesnya . Artikel Baru Cara inisial , Linnaeus dapat Mengenal 10.000 JENIS Tanaman Dan 4.000 JENIS HEWAN .

3 . Penggunakan Sistem modern ( filogenetik )

Penggunakan Sistem klasifikasi makhluk Hidup berdasarkan FUNDS hubungan kekerabatan secara evolusioner . Beberapa parameter Yang digunakan Dalam, klasifikasi inisial adalah sebagai berikut :

Persamaan Struktur tubuh dapat diketahui secara eksternal Dan intern
Menggunakan biokimia perbandingan . Misalnya , HEWAN Limulus Polyphemus , PT KARYA CIPTA PUTRA dimasukkan Ke Dalam, golongan rajungan ( kepiting ) KARENA bentuknya seperti rajungan , tetapi Penghasilan kena pajak dianalisis darahnya secara biokimia , Terbukti bahwa HEWAN inisial lebih Dekat Artikel Baru DELTA - DELTA ( Spider ) . Berdasarkan Bukti Suami , Limulus dimasukkan Ke Dalam, golongan DELTA - DELTA .
Berdasarkan Genetika modern. Gen dipergunakan JUGA untuk melakukan klasifikasi makhluk Hidup . Adanya persamaan gen menunjukkan adanya kekerabatan .

Langkah - langkah klasifikasi

Langkah - langkah klasifikasi nihil adalah sebagai berikut :

1 . mengidentifikasi OBJEK berdasar ciri - ciri Struktur tubuh makhluk Hidup , misalnya , HEWAN atau Tumbuhan Yang sama JENIS atau spesiesnya
2 . Penghasilan kena pajak nama kelompok spesies terbentuk , dapat dibentuk nama kelompok - nama kelompok Lain Bahasa Dari Urutan tingkatan klasifikasi sebagai berikut .

Dua atau lebih spesies Artikel Baru ciri - ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson genus .
Beberapa genus Yang memiliki ciri - ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson Famili .
Beberapa Famili Artikel Baru ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson ordo .
Beberapa ordo Artikel Baru ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson Kelas B .
Beberapa Kelas B Artikel Baru ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson filum ( untuk HEWAN ) atau divisio ( untuk Tumbuhan ) .

Artikel Baru Cara nihil terbentuklah Urutan hierarki atau tingkatan klasifikasi makhluk Hidup . Urutan klasifikasi tingkatan Bahasa Dari Yang terbesarnya hingga terkecil adalah sebagai berikut :

1 . Kerajaan ( kerajaan )
2 . divisio atau filum
3 . Kelas B ( classis )
4 . ordo ( Bangsa )
5 . Famili ( suku yang )
6 . genus ( marga )
7 . spesies ( JENIS )
tingkatan klasifikasi Macam klasifikasi makhluk Hidup

Contoh klasifikasi Harimau

Mengingat keperluannya , kadang - kadang di ANTARA doa tingkatan terdapat sub - sub , seperti Subkingdom , subfilum , subordo , Dan subspesies . Demikian pula di Bawah nama kelompok spesies Masih ditempatkan nama kelompok varietas Dan di Bawah varietas terdapat ketegangan . Semakin Ke Atas Urutan tingkatan klasifikasi , hubungan kekerabatan makhluk Hidup semakin JAUH , sedangkan semakin Ke Bawah hubungan kekerabatannya semakin Dekat .

sumber : http://biologimediacentre.com/macam-klasifikasi-makhluk-hidup/

Saturday, October 26, 2013

Laporan Praktikum Uji selulosa

Laporan Praktikum Uji selulosa


OLEH : Sinta Erythrina


Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan kombinasi selulosa kayu dan selulosa mikrobial dalam aplikasi pembuatan kertas menggunakan mesin pembuat kertas. Selain itu, penelitian ini memiliki tujuan spesifik yaitu :


1. Mengetahui prosentase optimal untuk kombinasi selulosa mikrobial dan selulosa kayu pada mesin pembuat kertas sehingga dapat diaplikasikan pada industri kertas


2. Tujuan khusus lainnya dari peneitian ini adalah mengetahui besarnya peranan selulosa mikrobial dalam mengurangi penggunaan selulosa kayu.




C. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup dari penelitian ini adalah :


a. Karakterisasi selulosa mikrobial dan selulosa kayu yang digunakan sebagai bahan baku


b. Pembuatan kertas menggunakan bahan baku berupa kombinasi antara selulosa kayu dan selulosa mikrobial


c. Pengujian karakteristik kertas yang dihasilkan.




IV. TINJAUAN PUSTAKA


A. Selulosa


Selulosa merupakan bagian karbohidrat terbesar pada tumbuhan, hampir 50% dari keseluruhan tumbuhan. Selulosa merupakan bagian terpenting dari dinidng sel tumbuhan. Dalam tanaman, selulosa ini ditemui dalam bentuk untaian yang berdiameter 2-20 nm dan panjang 100-40000 nm yang disebut dengan mikrofibril. Serat alami yang paling murni adalah serat kapas, yang terdiri atas 98% selulosa. Selulosa merupakan β-1,4 poli glukosa, dengan berat molekul yang sangat besar. Unit ulangan dari polimer berikatan dengan ikatan glikosida, inilah yang menyebabkan strukturnya linier. Struktur yang teratur ini membentuk ikatan hidrogen secara intra dan intermolekul (Nopianto 2009).


Derajat polimerisasi dari selulosa merupakan panjang dari rantai selulosa tersebut. Derajat polimerisasi ini dapat dihitung dengan cara membagi bobot molekul selulosa dengan bobot molekul glukosa sebagai monomernya (Fengel dan Wegerner 1984). Karakteristik selulosa terkait erat dengan derajat polimerisasinya. Penurunan bobot molekul dari selulosa secara signifikan akan mengurangi kekuatan serat tersebut (Smook 1994).






Gambar 1. Struktur Selulosa


(Wening 2009)




Terdapat dua struktur pada selulosa, yaitu struktur yang teratur yang biasa disebut dengan kristalin, dan struktur anorf yang idak teratur (Sjostrom 1981). Struktur kristalin dari selulosa sangat rapat dan sulit dipenetrasi oleh pelarut atau reaktan, sebaliknya pada struktur amorf penetrasi sangat mudah terjadi (Smook 1994).




B. Selulosa Mikrobial (Nata de Coco)


Menurut Suryani et al. (2000), selulosa mikrobial merupakan selulosa yang diproduksi oleh mikroorganisme terutama genus Acetobacter. Selulosa mikrobial memiliki tingkat kemurnian yang lebih unggul dibanding selulosa kayu, antara lain sifanyan yang sangat hidrofilik, sifat fisik mekanik yang tinggi baik dalam keadaan basah maupun kering, berbentuk anyaman halus yang unik dan kuat serta diproduksi dari berbagai macam substrat yang murah. Sifat-sifat unggul ini membuat selulosa mikrobial cocok digunakan sebagai diafragma speaker serta sebagai bahan baku pembuatan kertas.


Derajat polimerisasi selulosa mikrobial cenderung meningkat seiring pertumbuhan dari mikroorganisme tersebut, sedangkan pada selulosa kayu derajat polimerisasi cenderung konstan. Dalam hal visual, perbedaan antara selulosa mikrobial dan selulosa kayu adalah warnanya yang putih seta teksturnya yang lunak dan lentur. Sedangkan selulosa kayu berwarna sesuai dengan pigmen tumbuhan asalnya, serta bertekstur kaku dan kering (Figini 1982).


Mengacu pada Thiman dan Kenneth (1955), Acetobacter xylinum dapat mengubah 19% gula menjadi selulosa. Bentuk dari selulosa mikrobial ini seperti benang-benang berlendir ayng kemudian bergabung membentuk sebuah lapisan yang tebal atau pelikel.


Sintesis selulosa mikrobial ini merupakan pengaruh dari fungsi oksigen, bukan nitrogen. Sedangkan laju sintesis selulosa ini terkait erat dengan konsentrasi sel pada pertumbuhan kultur dalam zona permukaan yang diberi aerasi. Selama pertumbuhan, selulosa akan terangkat ke atas oleh gas CO2 sebagai hasil metabolism mikroorganisme (Scramm dan Hestrin 1954). Substrat yang sering digunakan sebagai sumber gula adalah air kelapa. Pemanfaatan air kelapa sebagai substrat ini akan terpenuhi, mengingat Indonesia merupakan daerah yang memiliki banyak pohon kelapa.




C. Kertas


Kertas merupakan lembaran serbasama dari jalinan selulosa, dengan bantuan zat pengikat dibuat dalam berbagai bentuk dan dengan tujuan penggunaan yang banyak, misalnya kertas tulis, kertas cetak dam kertas bungkus (Achmadi et al. 1995). Menurut Lavigne (1991), kertas merupakan lembaran homogeny yang dibuat dari serat-serat selulosa ditambah dengan pengikat, sehingga salaing mengikat dan saling menjalin, kertas digunakan untuk berbagai macam kebutuhan misalnya menulis, industri rumah tangga, dan lain-lain.


Kertas biasanya dibuat dari selulosa kayu yang telah melewati tahap delignifikasi (penghilangan lignin), penambahan zat aditif serta pengeringan. Kertas yang dihasilkan akan memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan perlakuan yang diterimanya (Neimo 1999).


Produk kertas yang berasal dari bahan non-kayu seperti nata de coco juga telah dikembangkan. Meski demikian, kertas tersebut lebih berorientasi sebagai kertas saring khusus atau lebih dikenal sebagai membran filtrasi (Prasetia, 2005). Berbeda halnya dengan kertas dari selulosa kayu, pembuatan kertas dari selulosa mikrobial tidak melalui tahap delignifikasi karena tidak mengandung lignin. Berdasarkan penelitian Prasetia (2005) dan Irawan (2005), pembuatan kertas berorientasi membran hanya melalui proses pemurnian dan pengeringan sebelum dihancurkan menjadi bubuk untuk diproses lebih lanjut.


Sifat penting dari kertas adalah sifat fisiknya yang mencakup ketahanan tarik, ketahanan sobek, daya serap air, maupun ketahanan gesek. Menurut Anderson dan Ketola (1999), sifat-sifat fisik ini bergantung pada formasi dan ikatan antar serat yang terdapat di dalam kertas tersebut. Selain kedua faktor tersebut kekuatan dari masing-masing serat penyusunnya, ikatan antar serat, jumlah ikatan tersebut, serta sebaran ikatan antar serat dalam material tersebut ikut mempengaruhi kekuatan aktual dari material kertas.


Departemen Perindustrian (1982) menggolongkan kertas menjadi tiga bagian, yaitu kertas budaya, kertas industri dan kertas lain. Kertas budaya terdiri atas kertas koran, kertas cetak, kertas tulis, dan kertas untuk keperluan bisnis. Sedangkan kertas industri, terdiri atas kertas pengemas, kertas kraft, kertas rokok, karton, dan kertas pembungkus. Kertas lain adalah kertas yang tidak termasuk ke dalam golongan tersebut, misalnya kertas tisu.




D. Mesin Pembuat Kertas


Pada industri kertas, mesin pembuat kertas merupakan rangkaian dari mesin-mesin yang bekerja secara simultan. Bagian-bagian mesin terdiri atas penyemprot aliran pulp, meja pencetak (pembuat lapisan kertas), pengempa, pengering, calender dan penggulung (Smook 1994).


Bagian penyemprot menerima aliran pulp kemudian menyemprotkannya ke permukaan meja pencetak. Setelah itu lapisan kertas akan masuk bagian pengempa untuk dikurangi kadar airnya. Agar kertas benar-benar kering, maka lapisan kertas tadi akan masuk ke dalam bagian pengering dan selanjutnya masuk ke bagian calendar untuk mengatur gramatur kertas. Setelah selesai lembaran kertas akan digulung pada bagian penggulung (Smook 1994). Pada saat ini, mesin-mesin pembuat kertas menjadi lebih rumit dan begitu panjang prosesnya. Industri terus menerus berusaha untuk meningkatkan efisiensi mesin dan produktivitasnya.




E. Teknologi Pembuatan Kertas dan Zat Aditif


Pada pembuatan kertas, terdapat beberapa proses utama yaitu pembuatan pulp, pengempaan dan pengeringan. Menurut Young (1980) dalam Casey (1980), proses pembuatan kertas meliputi pendisintegrasian pulp, pencampuran pulp dengan larutan untuk membentuk kekompakan serat, pembentukan lembaran, perlakuan couching, pemberian tekanan dan pengeringan.


Sifat kertas dapat diperbaiki dengan penambahan zat-zat lain seperti pigmen, pengikat, pengikat tambahan dan pewarna. Pigmen merupakan bahan utama dalam pembuatan lapisan warna, yaitu clay, kalsium karbonat (CaCO3), titanium dioxide, calcine clay, satin white dan lain-lain. Pigmen ini berfungsi untuk mengisi pori-pori permukaan kertas sehingga permukaan menjadi rata. Sedangkan untuk pengikat digunakan lateks atau bio lateks, kemudian untuk pengikat tambahan yang digunakan adalah tapioka, pati termodifikasi, PVA dan CMC. Fungsi dari pengikat dan pengikat tambahan adalah mengikat semua partikel pigmen pada saat aplikasi coating pada base paper (Erythrina 2010).


Pada panelitian ini akan digunakan tiga zat tambahan yaitu tapioka, kaolin dan alum. Tapioka merupakan bahan pada tahap sizing, yaitu untuk menutup pori-pori kertas yang tidak terisi serat sehingga tidak mudah dipenetrasi oleh air. Sizing sendiri terbagi menjadi dua, yaitu internal sizing serta eksternal sizing. Pada internal sizing, tapioka langsung dicanpurkan ke dalam buburan pulp, sedangkan untuk eksternal sizing, tapioka bergabung bersama bahan pelapis dan pewarna. Selain untuk sizing, tapioka juga digunakan untuk menggabungkan lapisan-lapisan kertas dan manjamin ikatan antar lapisan kertas. Tapioka yang dilarutkan akan disemprotkan pada pertemuan antara setiap lapisan kertas, seperti prinsip penggunaan lam perekat (Erythrina 2010). Pemakaian tapioka pada pembuatan kertas berkisar antara 1-5% dari berat pulp kering oven, serta tergantung pada jenis dan prosentase bahan penolong lainnya. Pemakaian ekonomis tapioka berkisar antara 2-3% (Casey 1980).


Kaolin merupakan mineral alam yang terdiri atas SiO2, Al2O3, Fe2O3, TiO2, dan H2O, warnanya putih serta bertekstur halus, licin dan liat. Tujuan penambhaan kaolin adalah meingkatkan opasitas cetak, meningkatkan derajat putih, memperbaiki kehalusan permukaan kertasdan memperbaiki sifat cetak. Namun penambahan kaolin ini dapat menurunkan kekuatan kertas karena ikatan antar serat ikut turun. Pemakaian kaolin pada kertas secara optimal adalah 4-15% (Casey 1980).


Bahan tambahan lain yang digunakan dalam pembuatan kertas adalah alum. Alum (K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O) merupakan retention aid yang paling sering digunakan dalam pembuatan kertas. Alum berfungsi untuk meningkatkan ikatan antara serat dan bahan tambahan lain dengan mengubah gaya tolak menolak diantara serat dan bahan tambahan menjadi tarik menarik. Dengan menggunakan alm, efisiensi penggunaan bahan tambahan pada kertas menjadi meningkat (Casey 1980).




F. Analisis Konversi Biomassa


Merujuk pada Setiawan (1999), analisis biomassa adalah suatu analisis yang dilakukan untuk mengetahui kebutuhan biomassa di suastu wilayah yang erat kaitannya dengan kelestarian hutan. Hasil hutan Indonesia telah dimanfaatkan untuk berbagai industri, misalnya saja industri kayu lapis, meubeul, dan industri kertas. Fungsi penting hutan bag lingkungan pun sangat besar, karena hutan adalah penyerap karbon dioksida dalam siklus fotosintesisnya. Berkurangnya jumlah poho yang ada di hutan-hutan dunia, menyebabkan kadar CO2 di udara meningkat dan memberikan efek rumah kaca dan pemanasan global. Menurut Houghton (1990) ada beberapa upaya yang bisa mengurangi efek rumah kaca, yaitu menghentikan atau mengurangi pembukaan hutan, melakukan reboisasi serta mengurangi bahan bakar fosil dan kayu yang berasal dari hutan.




V. METODOLOGI


A. Bahan dan Alat


1. Bahan


Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembaran nata de coco, NaOH, tapioka, alum, kaolin, aquades dan selulosa kayu.




2. Alat


Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah niagara beater, oven, gelas ukur, timbangan, mesin pencetak kertas, mistar ukur, kain saring, gunting, paper tensile strength tester, tearing tester, bursting tester dan COBB tester.










B. Metode Penelitian


1. Purifikasi Selulosa Mikrobial (Krystynowicz, Bieclecki, Turkiwiez, Kalinowska 2005)


Selulosa mikrobial diukur kadar airnya terlebih dahulu, setelah itu dimurnikan dengan pemasakan selama 20 menit menggunakan larutan NaOH 1% (b/v) pada 600C.




2. Pembuatan Pulp Kombinasi Selulosa Mikrobial dan Selulosa Kayu (Modifikasi Casey 1980 dan Smook 1994)


Pembuatan pulp kombinasi antara selulosa mikrobial dan selulosa kayu pada prinsipnya adalah menguraikan serat-serat yanga ada. Selulosa mikrobial dan selulosa kayu kemudian dimasukkan ke dalam Niagara beater untuk dibuat pulp dalam keadaan terpisah, setelah itu masing-maisng pulp disaring dengan kain. Kemudian dihitung kadar airnya dan ditentukan rendemen serat yang diperoleh. Sejumlah bobot dari kedua pulp diambil sesuai dengan perlakuan dan dihomogenisasi dengan pengadukan.




3. Pembentukan Lembaran (Modifikasi Casey 1980)


Pembentukan lembaran diawali dengan penimbangan pulp, penguraian serat, penambahan alum 2%, kaolin 5%, dan tapioka 2,5% sesuai dengan perlakuan pada kombinasi pulp. Setelah itu buburan ini dicetak menggunakan mesin pencetak kertas dan dikeringkan.
























Selulosa mikrobial


Purifikasi


NaOH 1%, 600C, 20 menit


Penguraian serat


Perhitungan rendemen dan kadar air pulp


Pencampuran dengan serat selulosa mikrobial


Selulosa kayu


(0%, 25%, 50%, 75%)


Tapioka dan kaolin


Pembentukan lembaran


Pengujian fisik kertas


Kertas


Pengeringan




Gambar 2. Diagram alir pembuatan kertas




4. Pengujian Karakteristik Sifat Kertas


Pengujian yang dilakukan terhadap kertas yang dihasilkan adalah :


a. Kadar Air (SNI 08-7070-2005)


Wadah yang digunakan dalam menghitung kadar air adalah cawan porselin. Cawan porselin dikeringkan di dlaam oven bersuhu 1050C selama 2 jam kemudian dikeringkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang. Kemudian serpih bahan contoh diambil 2-3 gram, dikeringkan dalam oven bersuhu 1050C selama 2 jam dengan wadah cawan porselin tadi. Setelah itu ditimbang, didinginkan dalam desikator selama 15 menit, dipanaskan kembali dalam oven bersuhu 1050C selama 15 menit, didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan ditimbang kembali sampai bobotnya tetap. Kadar air dihitung dengan rumus :




Keterangan : A = berat awal bahan contoh (g)


B = berat akhir bahan contoh (g)


KA = kadar air (%)




b. Rendemen Pulp selulosa mikrobial (Hardiyanti 2010)


Pulp yang telah diturunkan kadar airnya kemudian ditimbang (a gram) dan diambil sebanyak (b gram), kemudian dimasukkan ke dalam oven bersuhu 1050C hingga diperoleh berat yang konstan (c gram). Jika d gram adalah berat serpih kering oven maka rendemen hasil proses dihitung dengan persamaan berikut :






c. Gramatur (SNI 14-0439-1989)


Gramatur adalah nilai yang menunjukkan bobot kertas per satuan luas kertas (g/m2). Sebelum menimbang bobot kertas, terlebih dahulu disiapkan kertas dengan ukuran 10cm x 10cm. Pengambilan contoh dan penimbangan dilakukan pada kondisi standar. Setelah ditimbang menggunakan neraca analitik, dihitung gramaturnya dengan persamaan berikut :






d. Ketahanan Tarik (SNI 14-4737-1998)


Ketahanan tarik adalah daya tahan maksimum jalur pulp, kertas, atau karton terhadap gaya tarik yang bekerja pada kedua ujung jalur tersebut samai putus, diukur pada kondisi standar.


Contoh uji lembar kertas yang berukuran panjang 200 mm dan lebar 15 mm dengan tepi sejajar, masing-masing untuk arah silang mesin dan searah mesin dijepit pada kedua ujungnya dengan jarak 100 mm pada tensile tester yang dimulai dari ujung atas dan terpasang merata dan tidak mellintir. Pengunci batang penjepit dilepaskan sehigga lembaran kertas terrenggang bebas. Motor dijalankan untuk mengayunkan bandul hingga berhenti bersama putusnya lembaran contoh uji. Katehanan tarik dapat langsung dibaca pada alat dan dinyatakan dalam kgf atau kN/m (1 kgf per 15 mm = 0,6538 kN/m). Indeks tarik dapat dihitung dengan rumus:




Ketahanan tarik (kPa) = T x 0,6538


Indeks tarik = Ketahanan tarik


Gramatur


Keterangan : T = skala terbaca (kgf)


0,6538 = faktor konversi




e. Ketahanan Sobek (SNI 14-0436-1989)


Ketahanan sobek adalah gaya yang diperlukan untuk menyobek selembar kertas yang dinyatakan dalam gram gaya (gf) atau mili Newton (mN) dan diukur dalam kondisi standar.


Contoh uji yang panjangnya 76 ± 2 mm dan lebarnya 63 ± 0,15 mm dipasang diantara kedua penjepit teraring terster pada kondisi vertikal searah dengan lebar contoh uji. Penyobekan awal dilakukan dengan menggunakan pisau yang tersedia pada alat tersebut selebar 20 mm sehingga contoh uji yang belum tersobek 43 mm. Penahan bandul ditekan sehingga bandul mengayun bebas serta menyobek contoh uji. Bandul berhenti setelah contoh uji putus dan nilai ketahanan sobek dapat dibaca pada skala penguji. Indeks sobek dapat dihitung dengan rumus:


Ketahanan sobek (mN) = S x 9,087


Indeks sobek = Ketahanan sobek


Gramatur


Keterangan : S = skala terbaca (gf)


9,087 = faktor konversi








f. Daya Serap Air (Metode COBB- SNI 0499-2008)


Daya serap air (Cobbx) adalah jumlah gram air yang diserap oleh satu meter persegi lembaran kertas atau karton dalam waktu penyerapan selama x detik, diukur pada kondisi standar.


Setiap lembar contoh uji ditimbang dengan ketelitian ± 0,001 g. Lembar contoh uji ditempatkan di atas bantalan karet yang kering pada pelat logam. Gelang logam (kering) ditempatkan di atas permukaan lembar contoh uji dan pasang penjepitnya (sekrup dan batangan logam). Sebanyak 100 mL ± 5 mL air 23 °C ± 1 °C air dituangkan ke dalam gelang dengan cepat atau setinggi 10 mm ± 1 mm. Bersamaan dengan itu dijalankan alat pencatat waktu. Pergunakan air yang baru untuk setiap pengujian. Lakukan pengujian dengan waktu tertentu misalnya 30 detik, 60 detik, dan seterusnya sesuai Tabel 1. Air dituangkan dari dalam gelang dengan cepat dan hati-hati setelah dicapai waktu kontak.




Tabel 1. Waktu pengujian Metode Cobb


Waktu pengujian


(detik)


Simbol


Waktu kontak


(detik)


Waktu penyerapan


(detik)


30


60


120


300


1800


Cobb30


Cobb60


Cobb120


Cobb300


Cobb1800


20 ± 1


45 ± 1


105 ± 2


285 ± 2


1755 – 1815


30 ± 1


60 ± 2


120 ± 2


300 ± 2


15 ± 2 setelah waktu kontak




Alat penjepit (sekrup dan batangan logam) dilepaskan dengan cepat dan pada waktu melepas alat penjepit, gelang ditekan ke bawah dengan satu tangan. Gelang dilepaskan dengan cepat dan lembaran contoh uji ditempatkan pada lembaran kertas penyerap kering dengan permukaan yang basah di bagian atas. Pada akhir waktu penyerapan yang ditentukan, lembar kertas penyerap kedua diletakkan pada bagian atas contoh uji dan kelebihan air dihilangkan dengan menggerakkan logam penggiling dengan tangan ke depan dan ke belakang tanpa menambah tekanan pada logam penggiling. Lembaran contoh uji dilipat dengan permukaan yang basah di bagian dalam dan selanjutnya ditimbang. Daya serap air (Cobbx) dihitung menurut persamaan sebagai berikut :




Cobbx = (a – b) x F


C


Keterangan: a = massa tiap lembar contoh uji sesudah dibasahi (g);


b = massa tiap lembar contoh uji sebelum dibasahi (g);


c = luas daerah uji (cm2)


F = faktor konversi terhadap satuan luas daerah uji;


Cobbx = daya serap air yang terjadi (g/m2).




5. Analisis Konversi Biomassa (Hardiyanti 2010)


Analisa konversi biomassa ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peranan penggunaan selulosa mikrobial dalam penghematan hutan sebagai bahan baku kertas. Peranan ini dihubungkan dengan penyerapan CO2 yang meningkat jika penghematan hutan bisa dicapai. Analisis ini diawali dengan menghitung jumlah serat selulosa mikrobial per ha. Prosentase serat yang diperoleh berdasarkan rendemen hasil penelitian ini. Kemudian dihitung banyaknya pulp yang dapat dihasilkan. Setelah itu dibandingkan pulp dari kayu yang umum digunakan dalam industri pulp di Indonesia yaitu Acacia mangium.


Jumlah kayu Acacia mangium yang dibutuhkan dapat dihitung dengan membagi jumlah pulp kayu dengan rendemen pulp kayu. Setelah jumlah kayu diketahui maka dapat diketahui luasan Acacia mangium yang dapat dihemat per tahun dengan terlebih dahulu mengetahui riap dan berat jenis kayu. Setelah dilakukan analisis biomassa maka dilanjutkan dengan analisis penyerapan CO2. Analisis ini dilakukan dengan menghitung jumlah CO2 dari perkiraan luas hutan yang dapat dihemat. Perhitungannya didsarkan pada jumlah pulp mikrobial yang digunakan untuk mensubstitusi pulp kayu. Meskipun dalam pembuatan kertas ini masih digunakan pulp kayu, namun jumlahnya tidak 100%, sehingga jumlah kayu yang dibutuhkan tetap dapat dihemat dengan penggunaan selulosa mikrobial.






6. Rancangan Percobaan


Rancangan Percobaan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap tunggal satu faktor. Faktor tersebut adalah penambahan tapioka 2,5%, alum 2%, kaolin 5% (i) serta substitusi selulosa kayu (j) sebanyak 0%, 25%, 50% dan 75%. Model rancangan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yijk = µ + Ai + Bj + (AB)ij + εijk
Di mana :
Yijk = Hasil pengamatan akibat percobaan pada faktor A ke-i, faktor B ke-j dan ulangan ke-k
µ = Nilai rata-rata umum
Ai = Pengaruh metode penambahan tapioka, alum, kaolin dengan taraf i
Bj = Pengaruh penambahan selulosa kayu taraf ke-j
(AB)ij = Pengaruh interaksi kedua faktor
εijk = Pengaruh unit ke-k dalam kombinasi perlakuan (ij).
Tabel 2. Taraf dan kode perlakuan
Bahan Aditif
(Alum 2%, tapioka 2,5%, kaolin 5%)
Ulangan
Selulosa Kayu
0%
25%
50%
75%
U1
A1
A2
A3
A4
U2
B1
B2
B3
B4


VI. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN


A. Waktu Penelitian


Penelitian ini direncanakan akan dilakukan pada bulan Februari dan berakhir pada bulan April selama 2,5 bulan. Jadwal rencana kegiatan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.








B. Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Teknologi Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan di Jl. Veteran No.5, Gunug Batu, Bogor.




VII. ANGGARAN BIAYA PENELITIAN


Biaya penelitian diperkirakan meliputi biaya pemakaian laboratorium, alat penelitian dan analisis, bahan utama penelitian, bahan kimia penelitian, studi literatur, fotocopy, transportasi, dan biaya-biaya lain yang tidak terduga. Rincian perkiraan penggunaan dana adalah sebagai berikut :
DAFTAR PUSTAKA




Achmadi, Suminar S., et al. 1995. Kamus Kimia Terapan: Pulp dan Kertas. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Andersson, Tuijia dan Hannu Ketola. 1999. Dry-strength Additives. Di dalam: Leo Neimo (ed). Paper Chemistry. Jyvaskyla: TAPPI Press.


Anonim. 2010. Kertas dan Penebangan Hutan. http://kaumbiasa.com/kertas-dan-penebangan-hutan.php [ 5Februari 2011].


Casey J.P. 1980. Pulp and Paper: Chemistry and Chemical Technology vol.1, 3rd ed. New York: Interscience Publisher Inc.


Czaja W. Krstynowicz, S. Bielecki, R.M Brown Jr. 2006. Microbial cellulose-The natural power to heal wounds. Biomaterial 27 :145-151.


Dermici Ali, Jeff M. Catchmark, dan Kuan Chen Cheng. 2009. Enhanced production of bacterial cellulose by using a biofilm reactor and its material property analysis. Journal of Biological Engineering 3: 3-12.


Erythrina Sinta. 2010. Mempelajari Teknologi Proses Produksi di PT. Indah Kiat Pulp and Paper, Serang, Banten [laporan praktek lapang]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.


Fengel D, Wgener G. 1984. Kayu: Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-reaksi. Diterjemahkan oleh Gajah Mada University Press. Yogyakarta.


Figini, M.M. 1982. Cellulose and Other Natural Polymer System, pp. 243-271. New York: Plenum.


Hardiyanti Siti Sartika. 2010. Kajian Penggunaan Selulosa Mikrobial Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kertas [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.


Iguchi M, S. Yamanaka dan A. Budhiono. 2000. Bacterial cellulose a masterpiece of nature arts. J Mater sci 35 : 261-270.


Irawan, Ferry. Kinetika Hidrolisis Selulosa Asetat Mikrobial [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian IPB.


J Shah, Brown Jr. 2005. Toward electronic paper displays made from microbial cellulose, Appl. Microbiol. Biotechnol 66 : 352-355.


Krystynowicz A, Bieclecki S, Turkiwiez M, Kalinowska H. 2005. Bacterial Cellulose. Polysaccharide and polyamides in the food industry (2005): 31-85.


Lavigne, J. R. 1991. Pulp and Paper Dictionary. A Pulp and Paper Book. California.


Neimo Leo, Oy Fapet. 1999. Papermaking Chemistry. Helsinki, Finlandia.


Nopianto Eko. 2009. Selulosa. http://eckonopianto.blogspot.com/2009/04/ selulosa.html [6 Februari 2011].


Prasetia, Winanda Yoga. 2005. Pembuatan Membran Selulosa Asetat Mikrobial dengan Variasi Konsentrasi Polimer dan Lama Penguapan Pelarut (Aseton) [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian IPB.


Setiawan I. 1999. Manajemen Hutan sebagai Upaya Pengurangan Gas Rumah Kaca [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.


Sjostrom E. 1995. Kimia Kayu. Dasar-dasar dan Penggunaan. Yogytakarta: Gajah Mada University Press.


SNI 0499-2008. Kertas dan Karton- Cara Uji Daya Serap Air- Metode Cobb. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 08-7070-2005. Cara Uji Kadar Air. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 14-0436-1989. Cara Uji Ketahanan Sobek Kertas dan Karton. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 14-0439-1989. Cara Uji Gramatur dan Densitas Kertas dan Karton. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 14-4737-1998. Cara Uji Ketahanan Tarik Kertas dan Karton. Badan Standarisasi Nasional.


Smook Gary A. 1994. Handbook for Pulp & Paper Technologists Second Ed. Kanada: Friesen Printers.


Stephens JA, Westland A.N. Neogi. 1990. Method using bacterial cellulose as a dietary fiber component. US Patent 4960763.


Suryani Ani, Darwis Aziz, Syamsu Khaswar, Yarni Desi. 2000. Proses Produksi dan Pemurnian Selulosa Mikrobial untuk Membran Mikrofiltrasi. IND Paten 0 000 619 S.


Syafii W. 2000. Sifat Pulp Daun Kayu Lebar dengan Proses Organosolv. Jurnal Teknologi Industri Pertanian 10 (2): 54-55.


Thiman and V Kenneth. 1955. The Live of Bacteria. Mac Milan Co. New York. Uzair dan Sugiharto. 1989. Pembuatan Pulp Rayon dari Kayu Acacia mangium. Berita Selulosa XXV (2): 31-35.


Wening Sukmawati. 2009. Polimer Alam. http://gurumuda.com/bse/polimer-alam [6 Februari 2011].


Young J.H. 1980. Fiber Preparation and Approach Flow. Vol. IV, 3rd ed. New York: J. Willey and Sons Inc.

sumber : http://erythrinaszone.blogspot.com/2011/03/kajian-penggunaan-selulosa-mikrobial.html