Thursday, October 31, 2013

Laporan Praktikum Kimia Uji Protein

Laporan Praktikum Kimia Uji Protein

Tujuan :
  • Mengetahui adanya Ikatan peptida Dalam, protein Artikel Baru Tes biuret .
  • Mengetahui adanya inti benzena Artikel Baru Uji Xanthoproteat .
  • Mengetahui adanya Ikatan Belerang ( S ) Artikel Baru Uji timbal asetat .
Dasar Teori :

Asam amino merupakan satuan pembangun protein Yang dihubungkan melalui Ikatan peptida FUNDS setiap ujungnya . Protein tersusun Bahasa Dari atom C , H , O , N Dan , kadang - kadang Serta P Dan S. Bahasa Dari keseluruhan asam amino Yang terdapat di alam hanya 20 asam amino Yang Yang Biasa dijumpai FUNDS protein .
FUNDS berbagai Uji kualitatif dilakukan terhadap beberapa Yang Macam protein , semuanya mengacu FUNDS reaksi Yang terjadi ANTARA pereaksi Dan Komponen protein , yaitu asam amino tentunya . Beberapa asam amino mempunyai reaksi Yang Spesifik FUNDS gugus R - nya , sehingga bahasa Dari reaksi nihil dapat diketahui Komponen asam amino protein suatu .
Prinsip Bahasa Dari Uji millon adalah pembentukan garam merkuri Bahasa Dari tirosin Yang ternitrasi . Tirosin merupakan asam amino Yang mempunyai molekul fenol FUNDS gugus R - nya , Yang Akan membentuk garam merkuri Artikel Baru pereaksi millon . Bahasa Dari HASIL Percobaan , diketahui bahwa protein albumin Dan kasein mengandung tirosin sebagai salat asam amino penyusunnya , sedangkan gelatin Dan pepton tidak . Fenol Dalam, Hal inisial digunakan sebagai Bahan Percobaan KARENA tirosin memiliki molekul fenol FUNDS gugus R - nya . Di Sini , Uji terhadap fenol negatif , walaupun secara Teori tidak . Alasan Yang mungkin untuk Hal inisial adalah kesalahan praktikan Dalam, BEKERJA .
FUNDS Uji Hopkins cole , Uji positif ditunjukkan Oleh albumin , gelatin , kasein , pepton Dan , Artikel Baru ditunjukkan Oleh adanya cincin berwarna ungu . Uji inisial Spesifik untuk protein Yang mengandung Triptofan . Triptofan Akan berkondensasi Artikel Baru aldehid Bila ADA asam kuaat sehngga membentuk cincin berwarna ungu .
Protein Yang mengandng sedikitnya Satu gugus karboksil Dan gugus asam amino prabayar bebas Akan bereaksi Artikel Baru ninhidrin membentuk persenyawaan berwarna . Uji inisial bersifat UMUM * Semua asam amino untuk , Dan menjadi Ditempatkan penentuan kuantitatif asam amino . FUNDS Uji inisial , hanya kasein Yang menunjukkan Uji negatif terhadap ninhidrin . Hal inisial disebabkan KARENA FUNDS kasein tidak mengandung sedikitnya Satu gugus karboksil Dan amino Yang Terbuka .
Dan sistein metionin merupakan asam amino Yang mengandung atom S FUNDS molekulnya .. Reaksi Pb - asetat Artikel Baru asam -asam amino nihil Akan membentuk endapan berwarna kelabu , yaitu garam PbS . Penambahan NaOH Dalam, Hal inisial adalah untuk mendenaturasikan protein sehingga Ikatan Yang menghubungkan atom S dapat terputus Oleh Pb - asetat membentuk PbS . Bahasa Dari * Semua Bahan Yang diuji , hanya albumin Yang membentuk endapan PbS , sehingga dapat disimpulkan albumin mengandung sistein ataupun metionin .
Inti benzena dapat ternitrasi Oleh asam nitrat Pekat menghasilkan turunan nitrobenzena . Fenilalanin , tirosin , Dan Triptofan Yang mengandung inti benzena FUNDS molekulnya JUGA mengalami reaksi Artikel Baru HNO3 Pekat . Untuk perbandingan , dapat ditunjukkan Oleh fenol Yang bereaksi membentuk nitrobenzena . HASIL Uji menunjukkan bahwa bahasa Dari * Semua Bahan , hanya kasein Yang tidak mengandung asam amino Yang mempunyai inti benzena FUNDS molekulnya . Tetapi Hal inisial Patut dipertanyakan , KARENA Bahasa Dari data Data Yang diperoleh FUNDS Uji millon Dan Uji Hopkins cole , kasein mengandung tirosin Dan triptofan . Salah Satu alasan Yang mungkin adalah KARENA kesalahan Koperasi Karyawan Bhakti Samudera praktikan Dalam, mengamati Warna Yang terbentuk selama reaksi .
FUNDS Uji biuret , protein * Semua Yang diujikan memberikan HASIL positif . Biuret bereaksi membentuk senyawa Artikel Baru Artikel Baru Kompleks Cu gugus - CO dan- NH FUNDS asam amino protein Dalam, . Fenol tidak bereaksi Artikel Baru biuret KARENA tidak mempunyai gugus - CO dan- NH FUNDS molekulnya .
Protein Yang tercampur Oleh senyawa Logam Kendaraan bermotor Akan terdenaturasi . Hal inisial terjadi FUNDS albumin Yang terkoagulasi Penghasilan kena pajak ditambahkan AgNO3 Dan Pb - asetat . Senyawa - senyawa Logam nihil Akan memutuskan Jembatan garam Dan berikatan Artikel Baru protein membentuk endapan Logam proteinat . Protein JUGA mengendap Bila terdapat garam - garam Anorganik Artikel Baru Yang Tinggi, Dalam, konsentrasi larutan protein . Berbeda Artikel Baru Logam Kendaraan bermotor , garam - garam Anorganik mengendapkan protein KARENA kemampuan ion garam terhidrasi sehingga berkompetisi Artikel Baru protein untuk mengikat air . FUNDS Percobaan , endapan Yang direaksikan Artikel Baru pereaksi millon memberikan Warna merah Muda , Dan filtrat Yang direaksikan Artikel Baru biuret berwarna biru Muda . Hal inisial berarti ADA sebagian protein mengendap Yang Penghasilan kena pajak ditambahkan garam .
FUNDS Uji koagulasi , endapan albumin Yang terjadi Penghasilan kena pajak penambahan asam asetat , Bila direaksikan Artikel Baru pereaksi millon memberikan HASIL positif . Hal inisial menunjukkan bahwa endapan nihil Masih bersifat sebagai protein , hanya Saja telah terjadi perrubahan Struktur tersier ataupun kwartener , sehingga protein nihil mengendap . Perubahan Struktur tesier albumin inisial tidak dapat diubah Dilaporkan Ke bentuk semula , Suami Bisa dilihat Bahasa Dari tidak larutnya endapan albumin ITU Dalam, udara .
FUNDS Uji pengendapan Oleh Alkohol , hanya Tabung - Tabung Yang mengandung asam ( pH rendah ber - ) Yang menunjukkan pengendapan protein . FUNDS protein , asam amino Ujung C Yang Terbuka dapat bereaksi Artikel Baru Alkohol Dalam, suasana asam membentuk senyawa ester protein . Pembentukan ester inisial ditunjukkan Oleh adanya endapan Yang terbentuk .
Protein Akan terdenaturasi atau mengendap Bila berada FUNDS Titik isolistriknya , yaitu pH dimana Number Muatan positif sama Artikel Baru Number Muatan negatifnya . FUNDS Uji denaturasi , protein Yang dilarutkan Dalam, penyangga asetat pH 4,7 menunjukkan adanya endapan . Protein Yang dilarutkan Dalam, HCl maupun NaOH , keduanya tidak menunjukkan adanya pengendapan , namun Penghasilan kena pajak ditambahkan penyangga asetat Artikel Baru Volume berlebih , protein pun mengendap Hal inisial menunjukkan bahwa protein albumin mengendap FUNDS Titik isolistriknya , yaitu sekitar pH 4,7 .
Macam - Macam Kerusakan Protein
Denaturasi protein dapat dilakukan Artikel Baru berbagai Cara yaitu pana , pH , Bahan KIMIA Dan sebagainya . Denaturasi diartikan suatu proses penelaahan dipecahnya Ikatan hidrogen Interaksi hidrofobik , Ikatan garam , terbukanya lipatan atau menang molekul . Ada doa denaturasi yaitu pengembangan Rantai polipeptida Dan pemecahan protein menjadi Unit Yang lebih Kecil Tanpa disertai pengembangan molekul Ikatan ( Winarno , 2004) .

* Menurut Graman Dan Sherington ( 1992 ) , koagulasi dapat ditimbulkan dengan berbagai macam cara:
1. Dengan pemanasan
2. Dengan asam
3. Dengan enzim – enzim
4. Dengan perlakuan mekanis
5. Penambahan garam
Alat Dan Bahan :
Alat Dan Bahan
Gelas KIMIA Agar-agar
Pipet Tetes Gelatin
Tabung reaksi Kapas
Penjepit Tabung Larutan Tembaga ( II ) asetat 1 % ( CuSO4 )
Kaki 3 Dan kasa Larutan Natrium hidroksida 6 M ( NaOH )
Spatula Kaca Larutan Natrium hidroksida 3 M ( NaOH )
Gelas Ukur Larutan timbal ( II ) asetat { Pb ( CH3COO ) 2 }
Larutan susu CH3COOH 3 M
Cara Kerja :

Uji biuret

Severe positif ( + ) Akan berwarna ungu .

Masukkan 1 ml putih Telur Ke Dalam, Tabung reaksi . Tambahkan ± 2-3 tetes CuSO4 . Kemudian masukkan 1 ml NaOH 0,1 M. amati perubahan Yang terjadi .
Ulangi Cara Koperasi Karyawan Bhakti Samudera nihil menggunakan susu , gelatin , agar-agar , Dan Kapas . Bila ADA Yang tidak larut Penghasilan kena pajak ditambahkan NaOH , panaskan PT KARYA CIPTA PUTRA beberapa menit hingga * Semua Larut, Lalu dinginkan .

tes Xanthoproteat

Untuk mendeteksi ADA tidaknya inti benzena .
Severe positif ( + ) berwarna kuning jingga .

Masukkan 1 ml putih Telur Ke Dalam, Tabung reaksi . Tambahkan 2 tetes HNO3 Pekat , panaskan selama ± 2 menit . Kemudian dinginkan Penghasilan kena pajak Dingin masukkan NaOH 6 M tetes demi tetes hingga berlebih . Amati perubahan Yang terjadi .
Ulangi Cara Koperasi Karyawan Bhakti Samudera nihil Artikel Baru menggunakan susu , gelatin , agar-agar , Dan Kapas .

Uji timbal asetat

Untuk Menguji ADA tidaknya Ikatan Belerang ( S ) .
Severe positif ( + ) Akan berwarna kehitaman .

Masukkan 1 ml putih Telur Ke Dalam, Tabung reaksi . Tambahkan 0,5 ml NaOH 6 M Dan panaskan ± 2 menit . Kemudian dinginkan Penghasilan kena pajak ITU masukkan 2 ml CH3COOH 3 M. tutup Tabung reaksi Artikel Baru Kertas SARING Yang sudah dibasahi Artikel Baru Pb ( CH3COO ) 2 . Panaskan ± 2 menit . Amati perubahan Yang terjadi .
Ulangi langkah Koperasi Karyawan Bhakti Samudera nihil menggunakan susu , gelatin , agar-agar , Dan Kapas .

HASIL Pengamatan :
Bahan Uji Biuret Uji Xanthoproteat Uji timbal asetat
Putih Telur Ungu ( + ) Oranye ( + ) Tidak hitam ( - )
Susu Ungu ( + ) Oranye ( + ) Hitam ( + )
Gelatin Ungu ( + ) Kuning ( + ) Hitam ( + )
Agar -agar Ungu ( + ) Oranye ( + ) Hitam ( + )
Kapas Biru ( - ) Putih bening ( - ) Hitam ( + )

Pembahasan data eksperimen : 

Dalam percobaan dilakukan uji terhadap protein dengan berbagai macam cara yaitu: uji pengendapan dengan alcohol, uji denaturasi dan uji sulfur. Dalam percobaan ini, digunakan beberapa larutan yaitu albumin, susu bubuk, susu cair, putih telur, kuning telur dan ikan.

Percobaan pertama dengan menggunakan uji pengendapan dengan alkohol, di dapat kesimpulan bahwa pada tabung 1 diperoleh untuk masing-masing larutan protein memiliki endapan berwarna putih, sedangkan larutannya sama seperti larutan induknya. Pengendapan ini dapat terjadi dikarenakan dengan penambahan alcohol pelarut organik akan mengubah (mengurangi) konstanta dielektrika dari air, sehingga kelarutan protein berkurang, dan juga karena alkohol akan berkompetisi dengan protein terhadap air (Blogspot, 2007). Sedangkan pada tabung 2, untuk masing-masing larutan protein tidak terdapat endapan, hal ini dikarenakan dengan penambahan larutan NaOH akan menaikkan titik isoelektriknya dengan demikian akan menjadikan protein tidak kalah bersaing dengan protein terhadap air.
Dan pada tabung 3 diperoleh bahwa terdapat endapan putih yang lebih sedikit dari pada tabung 1, hal ini dikarenakan buffer asetat merupakan asam lemah, dengan demikian proses mengubah konstanta dielektrika dari air berkurang. Dengan demikian penurunan titik isoelektriknya juga tidak signifikan, oleh karena itu kelarutan protein juga akan berkurang, sehingga terbentuk endapan putih.
Selanjutnya untuk percobaan denaturasi protein, Pada tabung 1 diperoleh bahwa untuk setiap larutan protein terdapatnya gumpalan-gumpalan bahkan endapan berwarna putih. Penggumpalan ini terjadi setelah dilakukannya pemanasan. Proses pemanasan dapat menyebabkan rusaknya struktur protein. Protein sangat peka terhadap lingkungan apalagi dengan adanya perubahan suhu, hal ini menyebabkan larutan menjadi keruh dan adanya gumpalan-gumpalan dari protein yang terdenaturasi. Denaturasi protein dapat diakibatkan bukan hanya oleh adanya pemanasan, tetapi juga pH, dan juga pelarut organiknya.
Pemanasan akan membuat protein terdenaturasi sehingga kemampuan mengikat airnya menurun. Hal ini terjadi karena energi panas akan mengakibatkan terputusnya interaksi non-kovalen yang ada pada struktur alami protein tapi tidak memutuskan ikatan kovalennya yang berupa ikatan peptida. Proses ini biasanya berlangsung pada kisaran suhu yang sempit (Ophart, 2003). Setelah pemanasan protein tersebut ditambah dengan larutan buffer asetat. Hasil percobaan menunjukkan bahwa larutan setelah dipanaskan terbentuk endapan berwarna putih, dan larutannya berwarna seperti warna induknya.
Pada tabung 2, untuk masing-masing protein tidak terdapat endapan setelah pemanasan, namun setelah ditambah buffer asetat maka terbentuk endapan berwarna putih. Sama halnya untuk tabung 3, pada penambahan buffer asetat kemudian dipanaskan akan terbentuk endapan berwarna putih. Namun, pada percobaan ini kuning telur tidak menunjukkan perubahan yang signifikan setelah pemanasan baik pada tabung 1 tabung 2 ataupun tabung 3, endapan yang terbentuk hampir tidak ada. Hal ini dikarenakan larutan protein yang dibuat oleh praktikan terlalu encer (kurang 20%).
Dalam percobaan yang terakhir, digunakan uji sulfur terhadap protein. Sampel yang digunakan yaitu albumin. Uji belerang ini memberikan hasil positif terhadap protein yang mengandung asam amino yang memiliki gugus belerang, seperti sistein, sistin, dan metionin. Dari hasil percobaan menunjukkan bahwa terbentuknya endapan putih dan warna larutan kuning. Hal ini menunjukkan bahwa, endapan putih tersebut merupakan endapan Barium dengan sulfur dan larutan tersebut menunjukkan adanya kandungan sulfur dalam protein.

Jawaban pertanyaan : 
Ø uji pengendapan dengan pada alkohol
1. apakah kelarutan albumin dalam air terjadi pada titik isoelektriknya ?
jawab: ya, kelarutan albumin dalam air terjadi pada titik isoelektriknya yang ditandai dengan endapan berwarna putih.

Ø uji denaturasi
2. sifat fisik apakah dari protein yang mempengaruhi kelarutan protein dalam percobaan ?
jawab: sifatnya sangat peka terhadap lingkungan, apabila konfirmasi molekul protein berubah, misalnya oleh perubahan suhu, pH atau karena terjadinya suatu reaksi dengan senyawa lain, maka keaktifan biokimianya berkurang. Hal ini dinamakan dengan denaturasi.
3. metode lain yang dapat digunakan pada denaturasi protein ?
jawab: yaitu metode pemanasan, metode kromatografi dan metode pemurnian enzim.
4. Perubahan apa yang berhubungan dengan denaturasi protein?
Jawab: perubahan suhu, pH, dan pelarut organik.


Ø uji sulfur
1. mengapa protein memberikan uji positif pada sulfur?
Jawab: karena protein dengan sulfur menghasilkan endapan putih dan larutan kuning sehingga protein memberikan uji positif terhadap uji sulfur. Karena dalam protein juga terdapat asam amino sistein yang memiliki gugus tiol yang mengandung unsur S (sulfur).
2. unsur-unsur apa yang bisa dalam protein tetapi tidak ada dalam lipid dan karbohidrat?
Jawab : unsur P (phosphor), nitrogen, dan sulfur.

Kesimpulan :

Ikatan peptida bereaksi Artikel Baru larutan biuret berwarna ungu Akan . Sedangkan Yang tidak berwarna ungu berarti mengandung glikosida .
Inti benzena bereaksi Artikel Baru larutan Xanthoproteat Akan berwarna kuning jingga .
Ikatan S bereaksi Artikel Baru larutan timbal asetat Akan berwarna hitam FUNDS Kertas SARING .

sumber :

http://ilovejels.blogspot.com/2012/04/praktikum-uji-protein.html
http://ruanglingkupgurukimia.blogspot.com/2012/05/praktikum-reaksi-uji-protein.html

Tuesday, October 29, 2013

Klasifikasi Hewan dan Tumbuhan

Klasifikasi Hewan dan Tumbuhan



Klasifikasi adalah pengelompokan aneka JENIS HEWAN atau Tumbuhan Ke Dalam, nama kelompok tertentu . Pengelompokan inisial disusun secara runtut Sesuai Artikel Baru tingkatannya ( hierarkinya ) , yaitu MULAI bahasa Dari Yang lebih Kecil tingkatannya hingga tingkatan Ke Yang lebih Besar . Ilmu Yang mempelajari Prinsip Dan Cara klasifikasi makhluk Hidup disebut taksonomi atau sistematik .

Prinsip Dan Cara mengelompokkan makhluk Hidup * Menurut Ilmu taksonomi adalah Artikel Baru membentuk takson . Takson adalah nama kelompok makhluk Hidup Yang anggotanya memiliki BANYAK persamaan ciri . Takson dibentuk Artikel Baru jalan mencandra OBJEK atau makhluk Hidup Yang diteliti Artikel Baru MENCARI persamaan ciri maupun perbedaan Yang dapat diamati .
Tujuan Dan MANFAAT klasifikasi

Tujuan bahasa Dari klasifikasi makhluk Hidup Adalah:

mengelompokkan makhluk Hidup berdasarkan persamaan ciri - ciri Yang dimiliki
mendeskripsikan ciri - ciri suatu makhluk JENIS Hidup untuk membedakannya Artikel Baru makhluk Hidup Bahasa Dari JENIS Yang Lain
mengetahui hubungan kekerabatan antarmakhluk Hidup
memberi NAMA makhluk Hidup Yang belum diketahui Namanya

Berdasarkan tujuan nihil , SISTEM klasifikasi makhluk Hidup memiliki MANFAAT seperti berikut .

Memudahkan kitd Dalam, mempelajari makhluk Hidup Yang Ulasan Sangat beraneka ragam .
Mengetahui hubungan kekerabatan ANTARA makhluk Hidup Satu Artikel Baru Yang berbaring .

Macam klasifikasi makhluk Hidup

Ada bermacam SISTEM klasifikasi makhluk Hidup . Penggunakan Sistem klasifikasi inisial Berkembang MULAI bahasa Dari Yang Sederhana hingga berdasar SISTEM Yang lebih modern.

1 . Penggunakan Sistem artifisial / Buatan

Penggunakan Sistem Yang mengelompokkan makhluk Hidup berdasarkan persamaan ciri Yang ditetapkan Oleh Peneliti SENDIRI , misalnya , ukuran , bentuk , Dan habitat makhluk Hidup . Penganut SISTEM inisial di antaranya Aristoteles Dan Theophratus ( 370 SM ) .

2 . Telkomnika alam / Alami

Penggunakan Sistem Yang mengelompokkan makhluk Hidup berdasarkan persamaan ciri Struktur tubuh eksternal ( Morfologi ) Dan Struktur tubuh internal yang ( anatomi ) secara Alamiah . Penganut SISTEM Suami , di antaranya , Carolus Linnaeus ( Abad Ke - 18 ) . Linnaeus berpendapat bahwa setiap tipe makhluk Hidup mempunyai bentuk Yang berbeda . Oleh KARENA ITU , Severe sejumlah makhluk Hidup memiliki sejumlah ciri Yang sama , berarti makhluk Hidup nihil sama spesiesnya . Artikel Baru Cara inisial , Linnaeus dapat Mengenal 10.000 JENIS Tanaman Dan 4.000 JENIS HEWAN .

3 . Penggunakan Sistem modern ( filogenetik )

Penggunakan Sistem klasifikasi makhluk Hidup berdasarkan FUNDS hubungan kekerabatan secara evolusioner . Beberapa parameter Yang digunakan Dalam, klasifikasi inisial adalah sebagai berikut :

Persamaan Struktur tubuh dapat diketahui secara eksternal Dan intern
Menggunakan biokimia perbandingan . Misalnya , HEWAN Limulus Polyphemus , PT KARYA CIPTA PUTRA dimasukkan Ke Dalam, golongan rajungan ( kepiting ) KARENA bentuknya seperti rajungan , tetapi Penghasilan kena pajak dianalisis darahnya secara biokimia , Terbukti bahwa HEWAN inisial lebih Dekat Artikel Baru DELTA - DELTA ( Spider ) . Berdasarkan Bukti Suami , Limulus dimasukkan Ke Dalam, golongan DELTA - DELTA .
Berdasarkan Genetika modern. Gen dipergunakan JUGA untuk melakukan klasifikasi makhluk Hidup . Adanya persamaan gen menunjukkan adanya kekerabatan .

Langkah - langkah klasifikasi

Langkah - langkah klasifikasi nihil adalah sebagai berikut :

1 . mengidentifikasi OBJEK berdasar ciri - ciri Struktur tubuh makhluk Hidup , misalnya , HEWAN atau Tumbuhan Yang sama JENIS atau spesiesnya
2 . Penghasilan kena pajak nama kelompok spesies terbentuk , dapat dibentuk nama kelompok - nama kelompok Lain Bahasa Dari Urutan tingkatan klasifikasi sebagai berikut .

Dua atau lebih spesies Artikel Baru ciri - ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson genus .
Beberapa genus Yang memiliki ciri - ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson Famili .
Beberapa Famili Artikel Baru ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson ordo .
Beberapa ordo Artikel Baru ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson Kelas B .
Beberapa Kelas B Artikel Baru ciri tertentu dikelompokkan untuk membentuk takson filum ( untuk HEWAN ) atau divisio ( untuk Tumbuhan ) .

Artikel Baru Cara nihil terbentuklah Urutan hierarki atau tingkatan klasifikasi makhluk Hidup . Urutan klasifikasi tingkatan Bahasa Dari Yang terbesarnya hingga terkecil adalah sebagai berikut :

1 . Kerajaan ( kerajaan )
2 . divisio atau filum
3 . Kelas B ( classis )
4 . ordo ( Bangsa )
5 . Famili ( suku yang )
6 . genus ( marga )
7 . spesies ( JENIS )
tingkatan klasifikasi Macam klasifikasi makhluk Hidup

Contoh klasifikasi Harimau

Mengingat keperluannya , kadang - kadang di ANTARA doa tingkatan terdapat sub - sub , seperti Subkingdom , subfilum , subordo , Dan subspesies . Demikian pula di Bawah nama kelompok spesies Masih ditempatkan nama kelompok varietas Dan di Bawah varietas terdapat ketegangan . Semakin Ke Atas Urutan tingkatan klasifikasi , hubungan kekerabatan makhluk Hidup semakin JAUH , sedangkan semakin Ke Bawah hubungan kekerabatannya semakin Dekat .

sumber : http://biologimediacentre.com/macam-klasifikasi-makhluk-hidup/

Saturday, October 26, 2013

Laporan Praktikum Uji selulosa

Laporan Praktikum Uji selulosa


OLEH : Sinta Erythrina


Tujuan Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan kombinasi selulosa kayu dan selulosa mikrobial dalam aplikasi pembuatan kertas menggunakan mesin pembuat kertas. Selain itu, penelitian ini memiliki tujuan spesifik yaitu :


1. Mengetahui prosentase optimal untuk kombinasi selulosa mikrobial dan selulosa kayu pada mesin pembuat kertas sehingga dapat diaplikasikan pada industri kertas


2. Tujuan khusus lainnya dari peneitian ini adalah mengetahui besarnya peranan selulosa mikrobial dalam mengurangi penggunaan selulosa kayu.




C. Ruang Lingkup Penelitian


Ruang lingkup dari penelitian ini adalah :


a. Karakterisasi selulosa mikrobial dan selulosa kayu yang digunakan sebagai bahan baku


b. Pembuatan kertas menggunakan bahan baku berupa kombinasi antara selulosa kayu dan selulosa mikrobial


c. Pengujian karakteristik kertas yang dihasilkan.




IV. TINJAUAN PUSTAKA


A. Selulosa


Selulosa merupakan bagian karbohidrat terbesar pada tumbuhan, hampir 50% dari keseluruhan tumbuhan. Selulosa merupakan bagian terpenting dari dinidng sel tumbuhan. Dalam tanaman, selulosa ini ditemui dalam bentuk untaian yang berdiameter 2-20 nm dan panjang 100-40000 nm yang disebut dengan mikrofibril. Serat alami yang paling murni adalah serat kapas, yang terdiri atas 98% selulosa. Selulosa merupakan β-1,4 poli glukosa, dengan berat molekul yang sangat besar. Unit ulangan dari polimer berikatan dengan ikatan glikosida, inilah yang menyebabkan strukturnya linier. Struktur yang teratur ini membentuk ikatan hidrogen secara intra dan intermolekul (Nopianto 2009).


Derajat polimerisasi dari selulosa merupakan panjang dari rantai selulosa tersebut. Derajat polimerisasi ini dapat dihitung dengan cara membagi bobot molekul selulosa dengan bobot molekul glukosa sebagai monomernya (Fengel dan Wegerner 1984). Karakteristik selulosa terkait erat dengan derajat polimerisasinya. Penurunan bobot molekul dari selulosa secara signifikan akan mengurangi kekuatan serat tersebut (Smook 1994).






Gambar 1. Struktur Selulosa


(Wening 2009)




Terdapat dua struktur pada selulosa, yaitu struktur yang teratur yang biasa disebut dengan kristalin, dan struktur anorf yang idak teratur (Sjostrom 1981). Struktur kristalin dari selulosa sangat rapat dan sulit dipenetrasi oleh pelarut atau reaktan, sebaliknya pada struktur amorf penetrasi sangat mudah terjadi (Smook 1994).




B. Selulosa Mikrobial (Nata de Coco)


Menurut Suryani et al. (2000), selulosa mikrobial merupakan selulosa yang diproduksi oleh mikroorganisme terutama genus Acetobacter. Selulosa mikrobial memiliki tingkat kemurnian yang lebih unggul dibanding selulosa kayu, antara lain sifanyan yang sangat hidrofilik, sifat fisik mekanik yang tinggi baik dalam keadaan basah maupun kering, berbentuk anyaman halus yang unik dan kuat serta diproduksi dari berbagai macam substrat yang murah. Sifat-sifat unggul ini membuat selulosa mikrobial cocok digunakan sebagai diafragma speaker serta sebagai bahan baku pembuatan kertas.


Derajat polimerisasi selulosa mikrobial cenderung meningkat seiring pertumbuhan dari mikroorganisme tersebut, sedangkan pada selulosa kayu derajat polimerisasi cenderung konstan. Dalam hal visual, perbedaan antara selulosa mikrobial dan selulosa kayu adalah warnanya yang putih seta teksturnya yang lunak dan lentur. Sedangkan selulosa kayu berwarna sesuai dengan pigmen tumbuhan asalnya, serta bertekstur kaku dan kering (Figini 1982).


Mengacu pada Thiman dan Kenneth (1955), Acetobacter xylinum dapat mengubah 19% gula menjadi selulosa. Bentuk dari selulosa mikrobial ini seperti benang-benang berlendir ayng kemudian bergabung membentuk sebuah lapisan yang tebal atau pelikel.


Sintesis selulosa mikrobial ini merupakan pengaruh dari fungsi oksigen, bukan nitrogen. Sedangkan laju sintesis selulosa ini terkait erat dengan konsentrasi sel pada pertumbuhan kultur dalam zona permukaan yang diberi aerasi. Selama pertumbuhan, selulosa akan terangkat ke atas oleh gas CO2 sebagai hasil metabolism mikroorganisme (Scramm dan Hestrin 1954). Substrat yang sering digunakan sebagai sumber gula adalah air kelapa. Pemanfaatan air kelapa sebagai substrat ini akan terpenuhi, mengingat Indonesia merupakan daerah yang memiliki banyak pohon kelapa.




C. Kertas


Kertas merupakan lembaran serbasama dari jalinan selulosa, dengan bantuan zat pengikat dibuat dalam berbagai bentuk dan dengan tujuan penggunaan yang banyak, misalnya kertas tulis, kertas cetak dam kertas bungkus (Achmadi et al. 1995). Menurut Lavigne (1991), kertas merupakan lembaran homogeny yang dibuat dari serat-serat selulosa ditambah dengan pengikat, sehingga salaing mengikat dan saling menjalin, kertas digunakan untuk berbagai macam kebutuhan misalnya menulis, industri rumah tangga, dan lain-lain.


Kertas biasanya dibuat dari selulosa kayu yang telah melewati tahap delignifikasi (penghilangan lignin), penambahan zat aditif serta pengeringan. Kertas yang dihasilkan akan memiliki karakteristik yang berbeda sesuai dengan perlakuan yang diterimanya (Neimo 1999).


Produk kertas yang berasal dari bahan non-kayu seperti nata de coco juga telah dikembangkan. Meski demikian, kertas tersebut lebih berorientasi sebagai kertas saring khusus atau lebih dikenal sebagai membran filtrasi (Prasetia, 2005). Berbeda halnya dengan kertas dari selulosa kayu, pembuatan kertas dari selulosa mikrobial tidak melalui tahap delignifikasi karena tidak mengandung lignin. Berdasarkan penelitian Prasetia (2005) dan Irawan (2005), pembuatan kertas berorientasi membran hanya melalui proses pemurnian dan pengeringan sebelum dihancurkan menjadi bubuk untuk diproses lebih lanjut.


Sifat penting dari kertas adalah sifat fisiknya yang mencakup ketahanan tarik, ketahanan sobek, daya serap air, maupun ketahanan gesek. Menurut Anderson dan Ketola (1999), sifat-sifat fisik ini bergantung pada formasi dan ikatan antar serat yang terdapat di dalam kertas tersebut. Selain kedua faktor tersebut kekuatan dari masing-masing serat penyusunnya, ikatan antar serat, jumlah ikatan tersebut, serta sebaran ikatan antar serat dalam material tersebut ikut mempengaruhi kekuatan aktual dari material kertas.


Departemen Perindustrian (1982) menggolongkan kertas menjadi tiga bagian, yaitu kertas budaya, kertas industri dan kertas lain. Kertas budaya terdiri atas kertas koran, kertas cetak, kertas tulis, dan kertas untuk keperluan bisnis. Sedangkan kertas industri, terdiri atas kertas pengemas, kertas kraft, kertas rokok, karton, dan kertas pembungkus. Kertas lain adalah kertas yang tidak termasuk ke dalam golongan tersebut, misalnya kertas tisu.




D. Mesin Pembuat Kertas


Pada industri kertas, mesin pembuat kertas merupakan rangkaian dari mesin-mesin yang bekerja secara simultan. Bagian-bagian mesin terdiri atas penyemprot aliran pulp, meja pencetak (pembuat lapisan kertas), pengempa, pengering, calender dan penggulung (Smook 1994).


Bagian penyemprot menerima aliran pulp kemudian menyemprotkannya ke permukaan meja pencetak. Setelah itu lapisan kertas akan masuk bagian pengempa untuk dikurangi kadar airnya. Agar kertas benar-benar kering, maka lapisan kertas tadi akan masuk ke dalam bagian pengering dan selanjutnya masuk ke bagian calendar untuk mengatur gramatur kertas. Setelah selesai lembaran kertas akan digulung pada bagian penggulung (Smook 1994). Pada saat ini, mesin-mesin pembuat kertas menjadi lebih rumit dan begitu panjang prosesnya. Industri terus menerus berusaha untuk meningkatkan efisiensi mesin dan produktivitasnya.




E. Teknologi Pembuatan Kertas dan Zat Aditif


Pada pembuatan kertas, terdapat beberapa proses utama yaitu pembuatan pulp, pengempaan dan pengeringan. Menurut Young (1980) dalam Casey (1980), proses pembuatan kertas meliputi pendisintegrasian pulp, pencampuran pulp dengan larutan untuk membentuk kekompakan serat, pembentukan lembaran, perlakuan couching, pemberian tekanan dan pengeringan.


Sifat kertas dapat diperbaiki dengan penambahan zat-zat lain seperti pigmen, pengikat, pengikat tambahan dan pewarna. Pigmen merupakan bahan utama dalam pembuatan lapisan warna, yaitu clay, kalsium karbonat (CaCO3), titanium dioxide, calcine clay, satin white dan lain-lain. Pigmen ini berfungsi untuk mengisi pori-pori permukaan kertas sehingga permukaan menjadi rata. Sedangkan untuk pengikat digunakan lateks atau bio lateks, kemudian untuk pengikat tambahan yang digunakan adalah tapioka, pati termodifikasi, PVA dan CMC. Fungsi dari pengikat dan pengikat tambahan adalah mengikat semua partikel pigmen pada saat aplikasi coating pada base paper (Erythrina 2010).


Pada panelitian ini akan digunakan tiga zat tambahan yaitu tapioka, kaolin dan alum. Tapioka merupakan bahan pada tahap sizing, yaitu untuk menutup pori-pori kertas yang tidak terisi serat sehingga tidak mudah dipenetrasi oleh air. Sizing sendiri terbagi menjadi dua, yaitu internal sizing serta eksternal sizing. Pada internal sizing, tapioka langsung dicanpurkan ke dalam buburan pulp, sedangkan untuk eksternal sizing, tapioka bergabung bersama bahan pelapis dan pewarna. Selain untuk sizing, tapioka juga digunakan untuk menggabungkan lapisan-lapisan kertas dan manjamin ikatan antar lapisan kertas. Tapioka yang dilarutkan akan disemprotkan pada pertemuan antara setiap lapisan kertas, seperti prinsip penggunaan lam perekat (Erythrina 2010). Pemakaian tapioka pada pembuatan kertas berkisar antara 1-5% dari berat pulp kering oven, serta tergantung pada jenis dan prosentase bahan penolong lainnya. Pemakaian ekonomis tapioka berkisar antara 2-3% (Casey 1980).


Kaolin merupakan mineral alam yang terdiri atas SiO2, Al2O3, Fe2O3, TiO2, dan H2O, warnanya putih serta bertekstur halus, licin dan liat. Tujuan penambhaan kaolin adalah meingkatkan opasitas cetak, meningkatkan derajat putih, memperbaiki kehalusan permukaan kertasdan memperbaiki sifat cetak. Namun penambahan kaolin ini dapat menurunkan kekuatan kertas karena ikatan antar serat ikut turun. Pemakaian kaolin pada kertas secara optimal adalah 4-15% (Casey 1980).


Bahan tambahan lain yang digunakan dalam pembuatan kertas adalah alum. Alum (K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O) merupakan retention aid yang paling sering digunakan dalam pembuatan kertas. Alum berfungsi untuk meningkatkan ikatan antara serat dan bahan tambahan lain dengan mengubah gaya tolak menolak diantara serat dan bahan tambahan menjadi tarik menarik. Dengan menggunakan alm, efisiensi penggunaan bahan tambahan pada kertas menjadi meningkat (Casey 1980).




F. Analisis Konversi Biomassa


Merujuk pada Setiawan (1999), analisis biomassa adalah suatu analisis yang dilakukan untuk mengetahui kebutuhan biomassa di suastu wilayah yang erat kaitannya dengan kelestarian hutan. Hasil hutan Indonesia telah dimanfaatkan untuk berbagai industri, misalnya saja industri kayu lapis, meubeul, dan industri kertas. Fungsi penting hutan bag lingkungan pun sangat besar, karena hutan adalah penyerap karbon dioksida dalam siklus fotosintesisnya. Berkurangnya jumlah poho yang ada di hutan-hutan dunia, menyebabkan kadar CO2 di udara meningkat dan memberikan efek rumah kaca dan pemanasan global. Menurut Houghton (1990) ada beberapa upaya yang bisa mengurangi efek rumah kaca, yaitu menghentikan atau mengurangi pembukaan hutan, melakukan reboisasi serta mengurangi bahan bakar fosil dan kayu yang berasal dari hutan.




V. METODOLOGI


A. Bahan dan Alat


1. Bahan


Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembaran nata de coco, NaOH, tapioka, alum, kaolin, aquades dan selulosa kayu.




2. Alat


Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah niagara beater, oven, gelas ukur, timbangan, mesin pencetak kertas, mistar ukur, kain saring, gunting, paper tensile strength tester, tearing tester, bursting tester dan COBB tester.










B. Metode Penelitian


1. Purifikasi Selulosa Mikrobial (Krystynowicz, Bieclecki, Turkiwiez, Kalinowska 2005)


Selulosa mikrobial diukur kadar airnya terlebih dahulu, setelah itu dimurnikan dengan pemasakan selama 20 menit menggunakan larutan NaOH 1% (b/v) pada 600C.




2. Pembuatan Pulp Kombinasi Selulosa Mikrobial dan Selulosa Kayu (Modifikasi Casey 1980 dan Smook 1994)


Pembuatan pulp kombinasi antara selulosa mikrobial dan selulosa kayu pada prinsipnya adalah menguraikan serat-serat yanga ada. Selulosa mikrobial dan selulosa kayu kemudian dimasukkan ke dalam Niagara beater untuk dibuat pulp dalam keadaan terpisah, setelah itu masing-maisng pulp disaring dengan kain. Kemudian dihitung kadar airnya dan ditentukan rendemen serat yang diperoleh. Sejumlah bobot dari kedua pulp diambil sesuai dengan perlakuan dan dihomogenisasi dengan pengadukan.




3. Pembentukan Lembaran (Modifikasi Casey 1980)


Pembentukan lembaran diawali dengan penimbangan pulp, penguraian serat, penambahan alum 2%, kaolin 5%, dan tapioka 2,5% sesuai dengan perlakuan pada kombinasi pulp. Setelah itu buburan ini dicetak menggunakan mesin pencetak kertas dan dikeringkan.
























Selulosa mikrobial


Purifikasi


NaOH 1%, 600C, 20 menit


Penguraian serat


Perhitungan rendemen dan kadar air pulp


Pencampuran dengan serat selulosa mikrobial


Selulosa kayu


(0%, 25%, 50%, 75%)


Tapioka dan kaolin


Pembentukan lembaran


Pengujian fisik kertas


Kertas


Pengeringan




Gambar 2. Diagram alir pembuatan kertas




4. Pengujian Karakteristik Sifat Kertas


Pengujian yang dilakukan terhadap kertas yang dihasilkan adalah :


a. Kadar Air (SNI 08-7070-2005)


Wadah yang digunakan dalam menghitung kadar air adalah cawan porselin. Cawan porselin dikeringkan di dlaam oven bersuhu 1050C selama 2 jam kemudian dikeringkan dalam desikator selama 30 menit dan ditimbang. Kemudian serpih bahan contoh diambil 2-3 gram, dikeringkan dalam oven bersuhu 1050C selama 2 jam dengan wadah cawan porselin tadi. Setelah itu ditimbang, didinginkan dalam desikator selama 15 menit, dipanaskan kembali dalam oven bersuhu 1050C selama 15 menit, didinginkan dalam desikator selama 15 menit dan ditimbang kembali sampai bobotnya tetap. Kadar air dihitung dengan rumus :




Keterangan : A = berat awal bahan contoh (g)


B = berat akhir bahan contoh (g)


KA = kadar air (%)




b. Rendemen Pulp selulosa mikrobial (Hardiyanti 2010)


Pulp yang telah diturunkan kadar airnya kemudian ditimbang (a gram) dan diambil sebanyak (b gram), kemudian dimasukkan ke dalam oven bersuhu 1050C hingga diperoleh berat yang konstan (c gram). Jika d gram adalah berat serpih kering oven maka rendemen hasil proses dihitung dengan persamaan berikut :






c. Gramatur (SNI 14-0439-1989)


Gramatur adalah nilai yang menunjukkan bobot kertas per satuan luas kertas (g/m2). Sebelum menimbang bobot kertas, terlebih dahulu disiapkan kertas dengan ukuran 10cm x 10cm. Pengambilan contoh dan penimbangan dilakukan pada kondisi standar. Setelah ditimbang menggunakan neraca analitik, dihitung gramaturnya dengan persamaan berikut :






d. Ketahanan Tarik (SNI 14-4737-1998)


Ketahanan tarik adalah daya tahan maksimum jalur pulp, kertas, atau karton terhadap gaya tarik yang bekerja pada kedua ujung jalur tersebut samai putus, diukur pada kondisi standar.


Contoh uji lembar kertas yang berukuran panjang 200 mm dan lebar 15 mm dengan tepi sejajar, masing-masing untuk arah silang mesin dan searah mesin dijepit pada kedua ujungnya dengan jarak 100 mm pada tensile tester yang dimulai dari ujung atas dan terpasang merata dan tidak mellintir. Pengunci batang penjepit dilepaskan sehigga lembaran kertas terrenggang bebas. Motor dijalankan untuk mengayunkan bandul hingga berhenti bersama putusnya lembaran contoh uji. Katehanan tarik dapat langsung dibaca pada alat dan dinyatakan dalam kgf atau kN/m (1 kgf per 15 mm = 0,6538 kN/m). Indeks tarik dapat dihitung dengan rumus:




Ketahanan tarik (kPa) = T x 0,6538


Indeks tarik = Ketahanan tarik


Gramatur


Keterangan : T = skala terbaca (kgf)


0,6538 = faktor konversi




e. Ketahanan Sobek (SNI 14-0436-1989)


Ketahanan sobek adalah gaya yang diperlukan untuk menyobek selembar kertas yang dinyatakan dalam gram gaya (gf) atau mili Newton (mN) dan diukur dalam kondisi standar.


Contoh uji yang panjangnya 76 ± 2 mm dan lebarnya 63 ± 0,15 mm dipasang diantara kedua penjepit teraring terster pada kondisi vertikal searah dengan lebar contoh uji. Penyobekan awal dilakukan dengan menggunakan pisau yang tersedia pada alat tersebut selebar 20 mm sehingga contoh uji yang belum tersobek 43 mm. Penahan bandul ditekan sehingga bandul mengayun bebas serta menyobek contoh uji. Bandul berhenti setelah contoh uji putus dan nilai ketahanan sobek dapat dibaca pada skala penguji. Indeks sobek dapat dihitung dengan rumus:


Ketahanan sobek (mN) = S x 9,087


Indeks sobek = Ketahanan sobek


Gramatur


Keterangan : S = skala terbaca (gf)


9,087 = faktor konversi








f. Daya Serap Air (Metode COBB- SNI 0499-2008)


Daya serap air (Cobbx) adalah jumlah gram air yang diserap oleh satu meter persegi lembaran kertas atau karton dalam waktu penyerapan selama x detik, diukur pada kondisi standar.


Setiap lembar contoh uji ditimbang dengan ketelitian ± 0,001 g. Lembar contoh uji ditempatkan di atas bantalan karet yang kering pada pelat logam. Gelang logam (kering) ditempatkan di atas permukaan lembar contoh uji dan pasang penjepitnya (sekrup dan batangan logam). Sebanyak 100 mL ± 5 mL air 23 °C ± 1 °C air dituangkan ke dalam gelang dengan cepat atau setinggi 10 mm ± 1 mm. Bersamaan dengan itu dijalankan alat pencatat waktu. Pergunakan air yang baru untuk setiap pengujian. Lakukan pengujian dengan waktu tertentu misalnya 30 detik, 60 detik, dan seterusnya sesuai Tabel 1. Air dituangkan dari dalam gelang dengan cepat dan hati-hati setelah dicapai waktu kontak.




Tabel 1. Waktu pengujian Metode Cobb


Waktu pengujian


(detik)


Simbol


Waktu kontak


(detik)


Waktu penyerapan


(detik)


30


60


120


300


1800


Cobb30


Cobb60


Cobb120


Cobb300


Cobb1800


20 ± 1


45 ± 1


105 ± 2


285 ± 2


1755 – 1815


30 ± 1


60 ± 2


120 ± 2


300 ± 2


15 ± 2 setelah waktu kontak




Alat penjepit (sekrup dan batangan logam) dilepaskan dengan cepat dan pada waktu melepas alat penjepit, gelang ditekan ke bawah dengan satu tangan. Gelang dilepaskan dengan cepat dan lembaran contoh uji ditempatkan pada lembaran kertas penyerap kering dengan permukaan yang basah di bagian atas. Pada akhir waktu penyerapan yang ditentukan, lembar kertas penyerap kedua diletakkan pada bagian atas contoh uji dan kelebihan air dihilangkan dengan menggerakkan logam penggiling dengan tangan ke depan dan ke belakang tanpa menambah tekanan pada logam penggiling. Lembaran contoh uji dilipat dengan permukaan yang basah di bagian dalam dan selanjutnya ditimbang. Daya serap air (Cobbx) dihitung menurut persamaan sebagai berikut :




Cobbx = (a – b) x F


C


Keterangan: a = massa tiap lembar contoh uji sesudah dibasahi (g);


b = massa tiap lembar contoh uji sebelum dibasahi (g);


c = luas daerah uji (cm2)


F = faktor konversi terhadap satuan luas daerah uji;


Cobbx = daya serap air yang terjadi (g/m2).




5. Analisis Konversi Biomassa (Hardiyanti 2010)


Analisa konversi biomassa ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar peranan penggunaan selulosa mikrobial dalam penghematan hutan sebagai bahan baku kertas. Peranan ini dihubungkan dengan penyerapan CO2 yang meningkat jika penghematan hutan bisa dicapai. Analisis ini diawali dengan menghitung jumlah serat selulosa mikrobial per ha. Prosentase serat yang diperoleh berdasarkan rendemen hasil penelitian ini. Kemudian dihitung banyaknya pulp yang dapat dihasilkan. Setelah itu dibandingkan pulp dari kayu yang umum digunakan dalam industri pulp di Indonesia yaitu Acacia mangium.


Jumlah kayu Acacia mangium yang dibutuhkan dapat dihitung dengan membagi jumlah pulp kayu dengan rendemen pulp kayu. Setelah jumlah kayu diketahui maka dapat diketahui luasan Acacia mangium yang dapat dihemat per tahun dengan terlebih dahulu mengetahui riap dan berat jenis kayu. Setelah dilakukan analisis biomassa maka dilanjutkan dengan analisis penyerapan CO2. Analisis ini dilakukan dengan menghitung jumlah CO2 dari perkiraan luas hutan yang dapat dihemat. Perhitungannya didsarkan pada jumlah pulp mikrobial yang digunakan untuk mensubstitusi pulp kayu. Meskipun dalam pembuatan kertas ini masih digunakan pulp kayu, namun jumlahnya tidak 100%, sehingga jumlah kayu yang dibutuhkan tetap dapat dihemat dengan penggunaan selulosa mikrobial.






6. Rancangan Percobaan


Rancangan Percobaan penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini adalah rancangan acak lengkap tunggal satu faktor. Faktor tersebut adalah penambahan tapioka 2,5%, alum 2%, kaolin 5% (i) serta substitusi selulosa kayu (j) sebanyak 0%, 25%, 50% dan 75%. Model rancangan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yijk = µ + Ai + Bj + (AB)ij + εijk
Di mana :
Yijk = Hasil pengamatan akibat percobaan pada faktor A ke-i, faktor B ke-j dan ulangan ke-k
µ = Nilai rata-rata umum
Ai = Pengaruh metode penambahan tapioka, alum, kaolin dengan taraf i
Bj = Pengaruh penambahan selulosa kayu taraf ke-j
(AB)ij = Pengaruh interaksi kedua faktor
εijk = Pengaruh unit ke-k dalam kombinasi perlakuan (ij).
Tabel 2. Taraf dan kode perlakuan
Bahan Aditif
(Alum 2%, tapioka 2,5%, kaolin 5%)
Ulangan
Selulosa Kayu
0%
25%
50%
75%
U1
A1
A2
A3
A4
U2
B1
B2
B3
B4


VI. WAKTU DAN TEMPAT PENELITIAN


A. Waktu Penelitian


Penelitian ini direncanakan akan dilakukan pada bulan Februari dan berakhir pada bulan April selama 2,5 bulan. Jadwal rencana kegiatan penelitian dapat dilihat pada Tabel 2.








B. Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilakukan di Laboratorium Teknologi Serat, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan di Jl. Veteran No.5, Gunug Batu, Bogor.




VII. ANGGARAN BIAYA PENELITIAN


Biaya penelitian diperkirakan meliputi biaya pemakaian laboratorium, alat penelitian dan analisis, bahan utama penelitian, bahan kimia penelitian, studi literatur, fotocopy, transportasi, dan biaya-biaya lain yang tidak terduga. Rincian perkiraan penggunaan dana adalah sebagai berikut :
DAFTAR PUSTAKA




Achmadi, Suminar S., et al. 1995. Kamus Kimia Terapan: Pulp dan Kertas. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.


Andersson, Tuijia dan Hannu Ketola. 1999. Dry-strength Additives. Di dalam: Leo Neimo (ed). Paper Chemistry. Jyvaskyla: TAPPI Press.


Anonim. 2010. Kertas dan Penebangan Hutan. http://kaumbiasa.com/kertas-dan-penebangan-hutan.php [ 5Februari 2011].


Casey J.P. 1980. Pulp and Paper: Chemistry and Chemical Technology vol.1, 3rd ed. New York: Interscience Publisher Inc.


Czaja W. Krstynowicz, S. Bielecki, R.M Brown Jr. 2006. Microbial cellulose-The natural power to heal wounds. Biomaterial 27 :145-151.


Dermici Ali, Jeff M. Catchmark, dan Kuan Chen Cheng. 2009. Enhanced production of bacterial cellulose by using a biofilm reactor and its material property analysis. Journal of Biological Engineering 3: 3-12.


Erythrina Sinta. 2010. Mempelajari Teknologi Proses Produksi di PT. Indah Kiat Pulp and Paper, Serang, Banten [laporan praktek lapang]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.


Fengel D, Wgener G. 1984. Kayu: Kimia, Ultrastruktur, Reaksi-reaksi. Diterjemahkan oleh Gajah Mada University Press. Yogyakarta.


Figini, M.M. 1982. Cellulose and Other Natural Polymer System, pp. 243-271. New York: Plenum.


Hardiyanti Siti Sartika. 2010. Kajian Penggunaan Selulosa Mikrobial Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kertas [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.


Iguchi M, S. Yamanaka dan A. Budhiono. 2000. Bacterial cellulose a masterpiece of nature arts. J Mater sci 35 : 261-270.


Irawan, Ferry. Kinetika Hidrolisis Selulosa Asetat Mikrobial [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian IPB.


J Shah, Brown Jr. 2005. Toward electronic paper displays made from microbial cellulose, Appl. Microbiol. Biotechnol 66 : 352-355.


Krystynowicz A, Bieclecki S, Turkiwiez M, Kalinowska H. 2005. Bacterial Cellulose. Polysaccharide and polyamides in the food industry (2005): 31-85.


Lavigne, J. R. 1991. Pulp and Paper Dictionary. A Pulp and Paper Book. California.


Neimo Leo, Oy Fapet. 1999. Papermaking Chemistry. Helsinki, Finlandia.


Nopianto Eko. 2009. Selulosa. http://eckonopianto.blogspot.com/2009/04/ selulosa.html [6 Februari 2011].


Prasetia, Winanda Yoga. 2005. Pembuatan Membran Selulosa Asetat Mikrobial dengan Variasi Konsentrasi Polimer dan Lama Penguapan Pelarut (Aseton) [Skripsi]. Fakultas Teknologi Pertanian IPB.


Setiawan I. 1999. Manajemen Hutan sebagai Upaya Pengurangan Gas Rumah Kaca [skripsi]. Bogor: Institut Pertanian Bogor.


Sjostrom E. 1995. Kimia Kayu. Dasar-dasar dan Penggunaan. Yogytakarta: Gajah Mada University Press.


SNI 0499-2008. Kertas dan Karton- Cara Uji Daya Serap Air- Metode Cobb. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 08-7070-2005. Cara Uji Kadar Air. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 14-0436-1989. Cara Uji Ketahanan Sobek Kertas dan Karton. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 14-0439-1989. Cara Uji Gramatur dan Densitas Kertas dan Karton. Badan Standarisasi Nasional.


SNI 14-4737-1998. Cara Uji Ketahanan Tarik Kertas dan Karton. Badan Standarisasi Nasional.


Smook Gary A. 1994. Handbook for Pulp & Paper Technologists Second Ed. Kanada: Friesen Printers.


Stephens JA, Westland A.N. Neogi. 1990. Method using bacterial cellulose as a dietary fiber component. US Patent 4960763.


Suryani Ani, Darwis Aziz, Syamsu Khaswar, Yarni Desi. 2000. Proses Produksi dan Pemurnian Selulosa Mikrobial untuk Membran Mikrofiltrasi. IND Paten 0 000 619 S.


Syafii W. 2000. Sifat Pulp Daun Kayu Lebar dengan Proses Organosolv. Jurnal Teknologi Industri Pertanian 10 (2): 54-55.


Thiman and V Kenneth. 1955. The Live of Bacteria. Mac Milan Co. New York. Uzair dan Sugiharto. 1989. Pembuatan Pulp Rayon dari Kayu Acacia mangium. Berita Selulosa XXV (2): 31-35.


Wening Sukmawati. 2009. Polimer Alam. http://gurumuda.com/bse/polimer-alam [6 Februari 2011].


Young J.H. 1980. Fiber Preparation and Approach Flow. Vol. IV, 3rd ed. New York: J. Willey and Sons Inc.

sumber : http://erythrinaszone.blogspot.com/2011/03/kajian-penggunaan-selulosa-mikrobial.html

Laporan Praktikum Oksidasi Aldehid

Laporan Praktikum Oksidasi Aldehid


I. Tujuan

Mempelajari dan memperkenalkan salah satu metode identifikasi senyawa berdasarkan perbedaan gugus fungsi.
Memberi pemahaman identifikasi secara kimia senyawa golongan aldehid dan keton.II. Dasar Teori


Salah satu gugus fungsi yang kita yaitu aldehid. Aldehid adalah suatu senyawa yang mengandung sebuah gugus karbonil yang terikat pada sebuah atau dua buah atom hidrogen. Nama IUPEC dari aldehida diturunkan dari alkana dengan mengganti akhiran “ana“ dengan “al“. Nama umumnya didasarkan nama asam karboksilat ditambahkan dengan akhiran dehida (Petrucci, 1987).
Aldehid dinamakan menurut nama asam yang mempunyai jumlah atom C sama pada nama alkana yang mempunyai jumlah atom sama. Pembuatan aldehida adalah sebagai berikut: oksidasi alkohol primer, reduksi klorida asam, dari glikol, hidroformilasi alkana, reaksi Stephens dan untuk pembuatan aldehida aromatik (Fessenden, 1997).
Salah satu reaksi untuk pembuatan aldehid adalah oksidasi dari alkohol primer. Kebanyakan oksidator tak dapat dipakai karena akan mengoksidasi aldehidnya menjadi asam karboksilat. Oksidasi khrompiridin komplek seperti piridinium khlor kromat adalah oksidator yang dapat merubah alkohol primer menjadi aldehid tanpa merubahnya menjadi asam karboksilat (Petrucci, 1987).
Keton adalah suatu senyawa organik yang mempunyai sebuah gugus karbonil terikat pada dua gugus alkil, dua gugus alkil, atau sebuah alkil. Keton juga dapat dikatakan senyawa organik yang karbon karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lainnya. Keton tidak mengandung atom hidrogen yang terikat pada gugus karbonil (Wilbraham, 1992).
Pembuatan keton ynag paling umum adalah oksidasi dari alkohol sekunder. Hampir semua oksidator dapat dipakai. Pereaksi yang khas antara lain khromium oksida (CrO3), phiridinium khlor kromat, natrium bikhromat (Na2Cr2O7) dan kalium permanganat (KMnO4) (Respati, 1986).
Reaksi-reaksi pada aldehida dan keton adalah reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Reaksi oksidasi untuk membedakan aldehida dan keton. Aldehid mudah sekali dioksidasi, sedangkan keton tahan terhadap oksidator. Aldehida dapat dioksidasi dengan oksidator yang sangat lemah. Sedangkan reaksi reduksi terbagi menjadi tiga bagian yaitu reduksi menjadi alkohol, reduksi menjadi hidrokarbon dan reduksi pinakol (Wilbraham, 1992).
Sifat-sifat fisik aldehid dan keton, karena aldehid dan keton tidak mengandung hidrogen yang terikat pada oksigen, maka tidak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada alkohol. Sebaliknya aldehid dan keton adalah polar dan dapat membentuk gaya tarik menarik elektrostatik yang relatif kuat antara molekulnya, bagian positif dari sebuah molekul akan tertarik pada bagian negatif dari yang lain (Fessenden, 1997).

A. Iodoform
Iodoform merupakan salah satu haloform yang terbentuk kristal berwarna
kuning, dan sedikit larut dalam air. Secara umum haloform dibuat dari suatu senyawa metil keton / metil aldehida atau dari senyawa yang bila teroksidasi menghasilkan senyawa tersebut. Metil keton menghasilkan endapan kuning iodoform jika direaksikan dengan iodine dalam larutan NaOH.


R-C-CH3+ 3 I2+ 4NaOH èR-C-ONa + 3 NaI + 3 H2O + CHI3
Metil keton Iodoform kuning


Untuk pembahasan ini, diasumsikan bahwa pereaksi yang kita gunakan adalah larutan iodin dan natrium hidroksida. Tahap pertama melibatkan substitusi ketiga atom hidrogen dalam gugus metil dengan atom-atom iodin. Keberadaan ion-ion hidroksida cukup penting untuk berlangsungnya reaksi ion-ion ini terlibat dalam mekanisme reaksi.
Pada tahap kedua, ikatan antara C I3 dan ikatan lainnya pada molekul terputus menghasilkan triiodometana (iodoform) dan garam dari sebuah asam.

B. Tes Benedict
Tes benedict memberikan hasil positif bila terbentuk endapan merah bata. Aldehida alifatik dioksidasi menjadi asam karboksilat dengan pereaksi benedict( kompleks ion Cu(II) sitrat dalam larutan basa). Ion Cu(II) direduksi menjadi Cu2O(endapan berwarna merah bata). Aldehida aromatik dan keton tidak bereaksi dengan pereaksi benedict.


R-CHO + 2Cu2+ + 5 OH à R-COO- + Cu2O + 3 H2O
Biru merah bata

III. Alat dan Bahan

a. Tes Iodoform.
Alat :
· Gelas Beaker
· Batang Pengaduk
· Kertas Saring
· Penanggas Air
· Timbangan Analitik
Bahan :
· KI
· NaOCl
· Aseton
· Alkohol

b. Tes Benedict.
Alat :
· Pipet Tetes
· Tabung Reaksi
· Gelas Beaker
· Penanggas Air
Bahan :
· Formaldehida
· Aseton
· Benzaldehida
· Pereaksi Benedict

IV. Cara Kerja
A. Tes Iodoform


B. Tes Benedict


V. Hasil Pengamatan
a. Tes Iodoform

Berat kertas saring : 0,44 gram.
Berat kertas saring + kristal : 0,6 gram.
Berat kristal yang dihasilkan : 0,16 gram.

b. Tes Benedict


No
Larutan Campuran
Perubahan

Tidak dipanaskan
Dipanaskan

1
Aseton + Pereaksi
Benedict
Homogen, warna biru
2 fase, bagian atas aseton bagian bawah pereaksi benedict

2
Formaldehid + Pereaksi Benedict
Homogen, warna hijau muda
Homogen, warna biru

3
Benzaldehid + Pereaksi Benedict
Homogen, warna biru
Homogen, warna biru

VI. Pembahasan

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat didefinisikan aldehida adaLah senyawa orgnaik yang karbon-karbonilnya (karbon yang terikat pada oksigen) selalu berikatan dengan paling sedikit satu hidrogen, rumus struktur aldehida ialah RCHO. Sedangkan keton adalah senyawa oprgnaik yang senyawa karbon-karbonilya dihubungkan dengan dua karbon lain, rumus struktur keton ialah RCOR.
Aldehida dan keton dalam air bercampur sempurna. Keduanya juga dapat dikenali dengan memperhatikan namanya yaitu berakhiran –al untuk aldehida dan berakhiran –on untuk keton. Aldehida dan keton juga mempunyai bau khas. Aldehid berbau merangsang dan keton berbau harum.

Percobaan pertama adalah tes iodoform, reaksi iodoform yaitu suatu reaksi yang spesifik terhadap senyawa yang mengandung gugus metil keton. Gugus metil dari suatu metil keton diiodinasi dalam suasana basa sampai terbentuk Iodoform padat berwarna kuning
Gugus metil keton yang dipakai dalam percobaan ini adalah aseton, yang akan direaksikan dengan iodium suasana basa menghasilkan Iodoform. Dan selanjutnya dilakukan proses rekristalisasi.
Dalam percobaan ini dilakukan pengenceran aseton dengan air. Hal ini dikarenakan pada daerah tropis aseton mudah menguap. Dengan adanya penambahan air dapat mencegah penguapan aseton.
NaOCl berfungsi sebagai suasana basa. Dalam percobaan ini, setelah iodoform habis bereaksi harus segera ditambahkan sejumlah air karena bila iodoform telah habis bereaksi berarti sudah terbentuk kristal iodoform. Tujuan penambahan air sesegera mungkin adalah untuk menyempurnakan reaksi agar kristal yang dihasilkan bagus.
Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan adalah penambahan NaOCl yang terlalu sedikit dan berlebih. Penambahan NaOCl harus tepat karena jika terlalu sedikit, suasananya menjadi kurang basa dan akibatnya kristal yang terbentuk sedikit. Sedangkan jika terlalu banyak atau berlebih iodoform dapat larut dalam NaOCl.
Rekristalisasi adalah pemurnian zat padat dimana dalam keadaan panas larut dalam suatu pelarut tertentu, tetapi dalam keadaan dingin atau pada suhu kamar, zat atau kristalnya akan terjadi. Cara rekristalisasi dengan memanaskan pelarut tertentu yang sesuai (dalam hal ini alkohol panas). Alkohol ± 50 ml dipanaskan di atas hot plate dengan diberi corong yang sudah disumbat dengan kertas saring. Dimasukkan kristal iodoform yang sudah disaring tersebutke dalam erlenmeyer, yang kemudian dilarutkan ke dalam alkohol panas.
Alkohol dipanaskan di atas hot plate bukan di atas api bebas karena alkohol sifatnya mudah terbakar maka menggunakan erlenmeyer yang ditutupdengan corong dan ditutup dengan kertas saring untuk menghindari terjadinya penguapan alkohol.
alkohol panas tersebut dimasukkan ke dalam erlenmeyer lain yang sudah berisi kristal iodoform, penambahannya dilakukan sedikit demi sedikitsampai kristal iodoformnya tepat larut. Jika alkohol ditambahkan berlebih maka kristal iodoform yang larut saat panas nantinya akan sulit mengendap atau mengkristal kembali.
Setelah itu dinginkan, lalu menambahkan air dan segera disaringdengan corong. Hasil kristalnya yang terbentuk dikeringkan, setelah kering hasilnya ditimbang. Diperoleh berat kristal iodoform sebesar 0,16 gram.

Selanjutnya adalah tes benedict, pada percobaan ini bertujuan untuk mengetahui reaksi pada aldehid dan keton dengan direaksikan dengana benedict. Larutan yang akan di uji dengan benedict adalah formaldehid, aseton dan benzaldehid.
Langkah pertama yang dilakukan adalah menyiapkan 3 buah tabung reaksi masing-masing diisi dengan 10 tetes formaldehid, aseton dan benzaldehid. kemudian pada masing-masing tabung ditambahkan 2 ml pereaksi benedict. Kemudian ditempatkan dalam penangas air yang bertujuan untuk mempercepat terjadinya reaksi. Hasil yang diperoleh adalah negatif, karena dari ketiga hasil reaksi tersebut tidak membentuk endapan merah bata. Kemungkinan yang terjadi adalah karena faktor kesalahan praktikan. seperti kurangnya pemanasan dan kurang teliti. Menurut teori, larutan yang membentuk endapan merah bata adalah campuran formaldehid dengan pereaksi benedict dengan persamaan reaksi sebagai berikut :

O O






|| ||
H – C – H + 2Cu+ + OH- à H – C – OH + CuO2 ↓ Merah bata + 3H2OVII. Kesimpulan


Formaldehid (aldehida) bereaksi dengan reagen Benedict membentuk endapan merah bata Cu2O
Aseton dan benzaldehida (keton) tidak bereaksi dengan benedict
Berat kristal iodoform yang diperoleh sebesar 0,16 gram


VIII. Daftar Pustaka
Fesenden, J Ralp, dan Joan s. Fessenden. 2006. Kimia Organik Jilid1.
Terjemahan Aloysius Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Siti Nurbayti, M.Si.2011. Penuntun Praktikum Kimia Organik I.Jakarta:UIN Syarif
Hidayatullah.
http://blog-rye.blogspot.com/


IX. Pertanyaan1. Sebutkan fungsi aseton dan NaOCl dalam kristalisasi iodoform ?

Fungsi aseton :
· Untuk menghasilkan kristal iodoform.
· Sebagai gugus metil yang dapat menghasilkan kristal iodoform.
Fungsi NaOCl :
· Sebagai suasana basa dalam reaksi iodoform.
· Sebagai oksidator, yang akan bereaksi dengan I2 membentuk NaOI ,kemudian akan terurai menjadi NaI dan Onasen yang memiliki sifat sebagai oksidator yang mengubah asetan menjadi triiodoaseton.
· Sebagai nukleofil yang menyerang atom karbonil sehingga membentuk keton yang terhalogenasi dan ion CI3 yang tidak stabil yang segeramembentuk CHI3 (iodoform).
2. Sebutkan komponen dari reagent benedict ?
· Natrium sitrat.
· Natrium karbonat.
· Kupri sulfat.
· Air suling.
3. Jelaskan cara lain untuk melakukan identifikasi terhadap senyawa aldehida dan dan keton ?
a. Uji Tollens
Mencuci satu tabung reaksi dengan sabun dan sikat, dan cuci dengan air suling. Memasukkan 2ml larutan 5% perak nitrat kemudian menambahkan 2 tetes larutan 5% natrium hidroksida dan campur dengan baik. Kemudian menambahkan tetes demi tetes sambil dikocok larutan 2% amonium hidroksida hanya secukupnya untuk melarutkan endapan.
Menyiapkan empat tabung reaksi yang berisi reagen tollens. Kemudiam menguji benzaldehid, aseton, sikloheksanon, dan formalin 2 tetes ke satu tabung 1 senyawa. Kemudian dikocok beberapa menit. Jika tidak bereaksi dipanaskan (35-50)oC selama 5 menit. Selanjutnya melakukan pengamatan.
b. Uji Fehling dan Benedict
Menyiapka 4 tabung reaksi kemudian masing-masing ditambahkan 5 mL reagen benedict atau 5 ml reagen Fehling yang baru dibuat . masing-masing tabung reaksi menambahkan beberapa tetes bahan yaitu formaldehid, n-heptaldehid, aseton dan sikloheksanon. Kemudian 4 tabung dimasukkan kedalam air mendidih kemudian mengamati periubahannya setelah 10-15 menit.
c. Adisi bisulfit
Memasukkan 5 ml larutan jenuh natrium bisulfit ke dalam erlenmeyer 50 mL dan mendinginkan larutan didalam air es. Kemudian menambahkan 2,5 mL aseton tetes demi setetes sambil dikocok. Setelah 5 menit menambahkan 10 ml etanol untuk memulai penghabluran. Kemudian disaring kemudian di tetesi HCl dan diamati apa yang terjadi.
d. Pengujian dengan Fenilhidrasin
Memasukkan 5 ml fenil hidrasil kedalam 2 tabung reaksi kemudian menambahkan 10 tetes pada tabung pertama benzal dehid pada tabung ke-2sikloheksanon. Kemudian menutup dengan goncangan dengan kuat selama 1-2 menit hingga menghablur. Selanjutnya menyaring fenil hidrazon yang menghablur dengan sedikit air dingin.dan menghablurkan kembali dengan sedikit metanol atau etanol dan di diaman hingga keering. Kemudian mengukur titik lelehnya
e. Reaksi Haloform
Memasukkan 5 tetes aseton ke dalam 3 ml larutan 5% natrium hidroksida, kemudian menambahkan larutan iodium sambil menggoncangnya sampai warna iodium tidak hilang lagi. Kemudian menunggu iodoform yang berwarna kuning mengendap dan mencium bau dan mencatat baunya.
f. Kondensasi Aldol
Mereaksikan 4 ml larutan 1% NaOH dengan 0,5 ml asetaldehid. Kemudian memasukkan ke dala ttabung reaksi, menggoncang dengan baik dicatat baunya (dari asetaldehid yang tidak bereaksi). Kemudian mendidihkan campuran selama 3 menit dan dicatat baunya.

sumber : http://prakkimor5.blogspot.com/2012/11/identifikasi-aldehida-dan-keton.html

Pendekatan Geografi dan contohnya

Pendekatan Geografi dan contohnya


Pendekatan geografi dapat diartikan sebagai suatu. metode atau cara (analisis) untuk memahami berbagai gejala dan fenomena geosfer. khususnya interaksi antara manusia terhadap lingkungannya . setiap disiplin ilmu memiliki cara pandang yang berbeda terhadap suatu kejadian. Fenomena atau kejadian yang sama dapat dilihat dari berbagai sudut pandang.


Seorang ahli kedokteran melihat dari kontek kesehatan yaitu banjir akan mengakibatkan tingkat kesehatan penduduk akan menurun, ketersediaan air bersih akan berkurang, kebutuhan makanan tidak tercukupi, terkontaminasi air kotor sehingga akan tersebar penyakit, gatal-gatal, diare, mencret dll

Seorang ahli ekonomi maka akan melihat dari kontek aktivitas ekonominya, karena banjir, aktivitas untuk memenuhi kebutuhan ekonomi terganggu, sementara harta benda mereka untuk memenuhi kebutuhan ekonomi juga rusak, sehingga berapa kerugiannya dan apa akibatnya dilihat secara ekonomi
Seorang ahli geografi melihat fenomena tersebut dilihat dari kontek keruangannya yaitu, lokasi banjirnya, sebaran banjirnya, penyebab dan akibatnya dll

Pendekatan (approach) yang digunakan dalam kajian geografi terdiri atas 3 macam, yaitu analisis keruangan (spa­tial analysis), analisis ekologi (ecological analysis). danan analisis kompleks wilayah (regional complex analysis). Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan dalam geografi tidak membedakan antara elemen fisik dan nonfisik.
1. Pendekatan Keruangan.
Pendekatan keruangan adalah upaya dalam mengkaji rangkaian persamaan dari perbedaan fenomena geosfer dalam ruang. Di dalam pendekatan keruangan ini yang perlu diperhatikan adalah persebaran penggunaan ruang dan penyediaan ruang yang akan dimanfaatkan.Contoh penggunaan pendekatan keruangan adalah perencanaan pernbukaan lahan untuk daerah permukiman yang baru. Maka yang harus diperhatikan adalah segala aspek yang berkorelasi terhadap wilayah yang akan digunakan tersebut. Contohnya adalah morfologi, ini kaitannya dengan banjir, longsor, air tanah. Hal itu diperlukan karena keadaan fisik lokasi dapat mempengaruhi tingkat adaptasi manusia yang akan menempatinya,
Pendekatan keruangan juga merupakan ciri khas yang membedakan ilmu geografi dengan lainnya. Pendekatan ini dapat di tinjau dari 3 aspek yaitu:
Analisis pendekatan topik yaitu menghubungkan suatu kejadian dengan dengan tema-tema utama dalam permasalahan tersebut. Contoh pemanasan glokal adalah suatu fenomena geografi yang terjadi di seluruh ruang, gejala tersebut diakibatkan oleh kegiatan-kegiatan manusia yang menambah tingkat polutan dalam udara sehingga berpengaruh terhadap perubahan komposisi penyusun atmosfer.
Analisis dengan pendekatan aktivitas manusia yaitu mendeskripsikan aktivitas manusia dalam ruang. Kehidupan manusia dimanapun ruang dan tempatnya maka akan beradaptasi dan menyesuaikan dengan kondisi ruang. Pada ruangan pantai maka aktivitas manusia sebagai nelayan, tambak udang, garam atau industri berat.

Analisis pendekatan wilayah, yaitu bahwa persebaran fenomena geografi persebarannya tidak merata, sehingga setiap wilayah mwmiliki karakteristik, memiliki kelebihan dibandingkan dengan wilayah lain, sehingga pada wilayah yang berrbeda maka akan memiliki karakteristik yang berbeda pula.


2. Pendekatan Ekologi (Kelingkungan)

Pendekatan ekologi adalah upaya dalam mengkaji fenomena geosfer khususnya terhadap interaksi antara organisme hidup dan lingkungannya. termasuk dengan organisme hidup yang lain. Di dalam organisme hidup itu manusia merupakan satu komponen yang penting dalam prosesinteraksi, Oleh karena itu, muncul istilah ekologi manusia (hu­man ecology) yang mempelajari interaksi antar manusia serta antara manusia dan lingkungan. Aktivitas manusia dalam kaitannya dengan inetarksi dalm ruang terutama terhadap lingkungannya mengalami tahan-tahapan sebagai berikut
Tahapan yang sangat sederhana yaitu manusia tergantung terhadap alam (fisis Determinisme). Manusia belum memiliki kebudayaan yang cukup sehingga pemenuhan kebutuhan hidup manusia dipenuhi dari apa yang ada di alam dan lingkungannya (hanya sebagai pengguna alam). Sehingga pada saat alam tidak menyediakan kebutuhannya maka di akan pindah atau mungkin punah (kehidupan jaman purba)
Manusia dan alam saling mempengaruhi. Manusia memanfaatkan alam yang berlebihan dan tidak memperhatikan kemampuan alamnya, sehingga lingkungan alam rusak dan berakibat juga pengaruhnya terhadap manusia. Manusia sudah mampu mengurangi ketergantunggannya terhadap alam tapi manusia juga masih membutuhkan alam.
Contohnya. Para petani zaman dulu dalam waktu setahun hanya mampu bercocok tanam hany sekali, karena kebutuhan pengairan hanya mengandalkan dari musim hujan (tadah hujan), sementara jumlah penduduk semakin bertambah, kebutuhan terhadap pangan juga bertambah, maka manusia berupaya bagaimana agar kebutuhan irigasi untuk pengairan pertanian bisa sepanjang musim dan tahun, maka dibuatlah bendungan. Kemudian dengan bioteknologi juga sudah ditemukan varietas pada yang bagus dengan usia dan masa panen cukup pendek.
Manusia menguasai alam. Dengan berkembangnya ilmu, kemampuan, dan budayanya, manusia dapat memanfaatkan alam sebesar-besarnya. Contohnya dibuatnya mesin-mesin mengekploitasi alam yang sebesar-besarnya. Jika alam sudah tidak mampu lagi maka mesin -mesin digunakan untuk memproduksi bahan-bahan sintetis yang tidak bisa di buat alam. Â

3. Pendekatan komplek kewilayahan
Pendekatan komplek kewilayahan ini mengkaji bahwa fenomena geografi yang terjadi di setiap wilayah berbeda-beda, sehingga perbedaan ini membentuk karakteristik wilayah. Perbedaan inilah yang mengakibatkan adanya interaksi suatu wilayah dengan wilayah lain untuk saling memenuhi kebutuhannya. semakin tinggi perbedaannya maka interaksi dengan wilayah lainnya semakin tinggi

sumber : http://unknown-mboh.blogspot.com/2012/09/macam-macam-pendekatan-geografi.html

Thursday, October 24, 2013

Praktikum Kimia Sederhana



Praktikum Kimia Sederhana



1. CARA MEMBUAT BOM ASAP




Kali ini kita akan membahas bagaimana membuat smoke bomb. Berbeda dengan bomb yang digunakan kasus yang marak akhir-akhir ini, smoke bomb atau bom asap tidak berbahaya. Selain itu, smoke bomb juga dapat dengan mudah dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana di rumah kita. Ada dua jenis smoke bomb yang akan kita bahas dalam tulisan ini, yaitu klasik smoke bomb dan ultimate colour smoke bomb

Klasik smoke bomb

Klasik smoke bomb sangat mudah dibuat, namun hanya menghasilkan asap yang berwarna putih saja. Bahan utama pembuatan klasik smoke bomb adalah gula pasir dan potasium nitrat (merupakan pupuk tanaman, dapat dibeli di toko pupuk).

Cara 1 : cepat, namun agak sedikit kurang aman

Campurkan dua bagian gula dan tiga bagian potasium nitrat (misal 2 sendok makan gula dan 3 sendok makan potasium nitrat, terserah sebanyak apa yang dibuat namun usahakan 2 : 3) di pengorengan. Panaskan dengan api sedang (jangan terlalu besar ) sambil diaduk dengan sendok plastik. Pemanasan dan pengadukan dilakukan hingga gula dan potasium nitrat meleleh dan tercampur sempurna membentuk pasta kemudian jauhkan dari api. Dengan menggunakan sendok plastik sebagai cetakan, buat bulatan dengan adonan tersebut seperti saat membuat kue. taruh adonan di alumunium foil dan biarkan mengering.

Bawa smoke bomb yang telah dibuat ke lapangan terbuka. Dekatkan api kecil ke smoke bomb tersebut dan asap yang besar dan banyak akan muncul seperti yang ada di film dan game.

Cara 2 : sedikit lebih lama namun lebih aman

Cara berikut insya Allah lebih aman, namun sedikit lebih lama karena tidak menggunakan pemanasan saat mencampurkan gula dengan potasium nitrat. Campurkan dua bagian gula dan tiga bagian potasium nitrat (misal 2 sendok makan gula dan 3 sendok makan potasium nitrat, terserah sebanyak apa yang dibuat namun usahakan 2 : 3) di baskom plastik. Tambahkan sedikit air dan aduk (pake sendok plastik) hingga merata dan membentuk pasta. Selanjutnya taruh di atas alumunium foil dengan cara sama seperti cara 1. Biarkan 1 – 2 hari (tergantung suhu udara dan kelembaban) agar adonan yang telah dicetak mengering,

Smoke bomb siap digunakan seperti cara sebelumnya.

Ultimate colour smoke bomb

Jika klasik smoke bomb hanya menghasilkan warna putih maka ultimate smoke bomb dapat menghasilkan warna asap yang berwarna warni seperti pada game dan film. Prosedur pengerjaan sebenarnya sama dengan klasik, namun kita perlu menambahkan 2 – 3 sendok makan pewarna pakaian atau lukisan yang tahan air pada pasta campuran gula dan potasium nitrat. Tambahkan juga 1 sendok teh soda kue dan aduk hingga merata.

cara menggunakan smoke bomb ultimate sama seperti klasik smoke bomb

Selamat Mencoba ..!!!!!!!!!!

sumber : http://khabib06.wordpress.com/2011/06/22/smoke-bomb/

Jenis Jenis Narkoba dan Gambarnya

Jenis Jenis Narkoba dan Gambarnya



1 . Shabu / sabu sabu




JENIS Shabu JUGA dikenal sebagai es , ubas Dan methamphetamine .

Efeknya Untuk shabu - shabu biasanya hampir sama memberikan rasa Gembira , Yang sering terjadi orangutan Pakai shabu - shabu kalau mendengar musik kepalanya jadi goyang - goyang seperti orangutan berdzikir ,

Dampaknya , akibatnya , Dan bahayanya Yang ditimbulkan dapat mengalami urat Saraf , therapy terapi abnormal, gangguan Hati , ginjal , mudah bingung , senantiasa lapar Dan Susah tidur , mudah cemas Dan Marah .

2 . ekstasi


JENIS Suami JUGA dikenal sebagai sebagai inex , enak , cui iin , flash, Dolar, flipper , palu .

Sedangkan efeknya Yang Muncul adalah rasa cemas berlebihan , depresi , paranoid , Hilang sensitifitas , Akal Sehat di Dan kesadaran . Namun kematian Bisa terjadi Severe ADA gangguan pembuluh Darah Jantung Dan pecahnya pembuluh Darah otak .

Dampaknya , akibatnya , Dan bahayanya Yang ditimbulkan berupa kerusakan ginjal , Hati , otak , Kehilangan ingatan Dalam, Jangka waktu lama , menggigil , berkeringat , tidak mampu berpikir , melihat Dan menyelaraskan fungsi tubuh .


3 . Kokain



JENIS Kokain dikenal sebagai JUGA crack, daun koka , pasta koka .

Sedangkan efeknya adalah mudah Marah,depresi , cemas , gelisah Dan Kehilangan gairah untuk melakukan sesuatu . Prof Samsuridjal menuturkan untuk kokain belum BANYAK penggunanya , TAPI JUGA narkoba inisial Bisa merusak sel - sel otak .

Dampaknya , akibatnya , Dan bahayanya memicu Serangan Jantung , stroke , ginjal Gagal , therapy terapi agresif , gemetar berlebihan , pandangan Kabur Dan halusinasi .

4 . heroin


JENIS Heroin dikenal sebagai JUGA putih , memukul , sampah , serbuk putih , obat Dan ubat .

" Orang Yang Sedang sakaw heroin Suami Bisa Sakit Sekali , Muncul keringat Dingin , badan Terasa Dingin , kadang kasian Sekali kalau melihatnya . Severe sudah Pakai heroin Maka sakawnya Hilang , TAPI kalau pengaruhnya sudah Habis Maka sel - sel di otak Akan Minta Lagi Dan Timbul sakaw , jadi seperti Lingkaran Setan , " ujar Prof Samsuridjal menjelaskan efeknya kepada pengguna .

Dampaknya , akibatnya , Dan bahayanya Bisa menyebabkan detak Jantung Lemah , sesak napas , kerusakan paru - paru , ginjal , Hati , Sulit tidur , mata berair Hidung Dan , tremor , diare Dan muntah .

5 . Ganja



JENIS Ganja atau dikenal JUGA Artikel Baru istilah ganja , cimeng , Gelek atau Hasis inisial memiliki dampak berupa depresi Dan paranoid , gangguan PERSEPSI Dan berpikir , gangguan keseimbangan tubuh Dan Sulit konsentrasi . " Ganja dapat membuat orangutan merasa Segar , optimis , Dan terkadang jadi berlebihan rasa gembiranya , BANYAK Bicara Dan lebih Aktif . TAPI ITU biasanya terjadi SAAT baru Negara MULAI memakai ganja , kalau dosisnya sudah Tinggi, tidak seperti ITU Lagi efeknya , " .
6 . Morfin


Sepeti kitd Tahu JENIS Morfin Dalam, Dunia kedokteran sering dipakai sebagai Obat penahan rasa Sakit ataupun sebagai Bahan pembiusan KARENA BEKERJA Langsung FUNDS SISTEM Saraf Pusat . Efeknya Bahasa Dari Morfin adalah penurunan kesadaran , euforia , rasa kantuk , Lesu Dan penglihatan Kabur .

Umumnya Morfin menjadikan ketergantungan memucat Tinggi, dibandingkan Artikel Baru JENIS Yang Lain , Dan Pecandu Bahasa Dari Morfin inisial dilaporkan menderita insomnia yang Serta Mimpi buruk .

***********************************************

* Semua JENIS - JENIS narkoba ITU telah membuat Generasi Bangsa kitd menjadi Hancur Total , Satu - satunya Yang diuntungkan hanyalah para pengedar Saja . Blogbintang harap para pembaca sudah mengerti Akan pengertiannya , penjelasannyadan tentu Saja akibatnya atau efeknya atau bahayanya Artikel Baru di Bawah INFORMASI inisial . Semoga Artikel inisial membantu orangutan - orangutan Yang ingin terhindari Bahasa Dari penggunaan obat- Obat terlarang , KARENA bagaimanapun JUGA Severe sudah terkena Akan Sulit Sekali keluar Bahasa Dari siksaannya . Memang untuk sesaat kitd Akan mendapatkan kebahagian , TAPI ITU ya hanya sesaat Penghasilan kena pajak ITU sebagian Besar Hidup kitd hanya Dalam, penderitaan semata .

sumber : http://blogbintang.com/jenis-jenis-narkoba-dan-akibatnya

Saturday, October 19, 2013

Jenis Jenis Tanah Gambar dan Pengertiannya

Jenis Jenis Tanah Gambar dan Pengertiannya

1. TANAH PODZOL/ANDOSOL

Tanah yang terjadikarena rendahnyapengaruh dari luar dancurah hujantinggi.Sifatnya mudahbasah jika terkenaair,warnanya kuning dankuning kelabu.

2. TANAH LATERIT

Tanah yang terjasi karena suhu udara tinggi dan curah hujantinggi.Akibatnya berbagai mineral yang dibituhkan oleh tumbuh-tumbuhan larut dan meninggalkan sisa oksida besi danalumunium

3. TANAH HUMUS

Tanah hasil pelapukan tumbuh-tumbuhan (badan organik).Tanah humus sangat subur,cocok untuklahan pertanian, dan warnanyakehitaman.

4. TANAH VULKANIS

Tanah hasil pelapukanbahan padat dan bahancair yang dikeluarkanoleh gunung berapi. Tanah vulkanistergolong sangat subursehingga banyak daerahpertanian diusahakan didaerah vulkanis

5. TANAH PADAS
Jenis tanah yang padat. Hal ini disebabkan mineral di dalamnyadikeluarkan oleh air yang terdapat di lapisan tanah sebelahatasnya

6. TANAH ENDAPAN/ALUVIAL

Tanah yang terjadi akibat pengendapan batuan induk yang telahmengalami proses pelarutan dan pada umumnya merupakantanah yang subur

7. TANAH TERORESA

Tanah yang terbentuknya dari pelapukan batuan kapur. Tanah jenisini banyak terdapat didasar doliuna dan merupakan tanahpertanian yang subur di daerah kapur

8. TANAH MERGEL/MARBALIT

Tanah yang terbentuk daricampuran batuankapur,pasir,dan tanahliat.pembentukan tanahmargel dipengaruhi olehhujan yang tidak meratasepanjang tahun.

9. TANAH KAPUR/MEDITERAN

Tanah yang terjadi dari bahaninduk kapur (batu endapan)dan telah mengalamilaterisasi lemah.

10. TANAH PASIR/REGOSOL

Tanah hasil pelapukanbatuan beku dan sedimenyang tidakberstruktur.Tanah pasirkurang baik untukpertanian karena sedikitmengandung bahanorganik

11. TANAH GAMBUT

Tanah yang berasal dari bahanorganik yang selalutergenang air (rawa).Karenakekurangan unsur hara danperbedaan udara didalamnyatidak lancar maka prosespenghancuran tanah tidaksempurna

sumber : http://geoenviron.blogspot.com/2013/01/jenis-jenis-tanah.html

Definisi Antropologi Menurut Para Ahli

Definisi Antropologi Menurut Para Ahli

Berikut akan dijelaskan beberapa pengertian Antropologi yang dikemukakan oleh para ahli :

1. Berdasarkan etimologinya

Kata antropologi berasal dari kata yunani “Antropo” yang berarti manusia dan “logy” atau “logos” berarti ilmu yang mempelajari tentang manusia

2. Menurut Ralfh L Beals dan Harry Hoijen : 1954: 2

antropologi adalah ilmu yang mempelajarai manusia dan semua apa yang dikerjakannya.

3. Tulian Darwin

The origin of spicies” Antropologi fisik berkembang pesat dengan melakukan penelitian-penelitian terhadap asal mula dan perkembangan manusia. Manusia asalnya monyet, karena makhluk hidup mengalami evolusi.Antropologi ingin membuktikan dengan melakukan berbagai penelitian terhadap kera dan monyet di seluruh dunia.

4. Menurut orang awam

Membicarakan Antropologi hanyalah berfikir tentang fosil-fosil. Memang pemikiran yang demikian tidak selamanya salah karena mempelajari fosil merupakan suatu cabang penelitian Antropologi. Arkheologi pada dasarnya berbeda dengan Antropologi, di mana sesungguhnya arkheologi merupakan salah satu cabang Antropologi

5. William A. Haviland

Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.

6. David Hunter

Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.

7. Koentjaraningrat

Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

sumber : http://antropologiso.blogspot.com/2013/01/antropologi-menurut-para-ahli.html?showComment=1382169223343#c1465037086517449982

Sunday, October 13, 2013

Laporan Praktikum Identifikasi Kation Anion


1.1 Latar Belakang


Di dalam reaksi pengendapan banyak diterapkan analisis kuantitatif. Pada analisis tersebut, kation mula-mula dipisahkan berdasarkan perbedaan kelarutan senyawa. Kation yang larut terbentuk endapan serupa dengan kelarutan yang cukup berlainan dapat dipisahkan dengan pengendapan selektif yang dilakukan dengan pemilihan seksama dari konsentrasi anion yang diperlukan.

Analisis kuantitatif adalah suatu proses untuk mengetahui ada tidaknya unusr kation atau anion dalam suatu larutan. Contoh kation yaitu ion Al3+, H+, K+, sedangkan contoh anion yaitu SO4-2, NH4-, Cl-.


Identifikasi kation dan anion dilakukan agar kita dapat mengetahui jenis-jenis kation dan anion yang menyusun suatu serta mengamati apakah terjadi endapan atau tidak.

1.2 Tujuan


Melakukan identifikasi anion dan kation dalam suatu larutan dengan melihat pengamatan pada yang terbentuk, apakah terjadi atau tidak.




DASAR TEORI

Dua langkah utama dalam analisis adalah identifikasi dan estimasi komponen-komponen suatu senyawa. Langkah identifikasi dikenal sebagai analisis kualitatif,sedangkan langkah estimasinya adalah langkah kuantitatif. Analisis kualitatif dapat dikatakan lebih sederhana, sedangkan analisis kuantitatif agak lebih rumit. Analisiskualitatif bertujuan mengidentifikasi penyusun-penyusun suatu zat, campuran-campuranzat, atau larutan-larutan yang biasanya unsur-unsur penyusunnya bergabung antara yangsatu dengan yang lain. Sedangkan analisis kuantitatif bertujuan untuk menentukan banyaknya penyusun-penyusun suatu zat atau persenyawaan.Biasanya identifikasi zat dilakukan dengan penambahan zat lain yang susunannya telah diketahui, sehingga terjadi perubahan (reaksi kimia). Zat yang susunannya telah diketahui dan yang menyebabkan terjadinya reaksi disebut pereaksi(reagen).


Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan dua macam cara, yaitu reaksi keringdan reaksi basah. Cara kering biasanya digunakan pada zat padat, sedangkan cara basahdigunakan pada zat cair (larutan) yang kebanyakan menggunakan pelarut air. Carakering hanya menyediakan informasi yang diperlukan dan informasi tersebut bersifat jangka pendek. Sedangkan cara basah dapat digunakan untuk analisis makro,semimakro, dan mikro sehingga banyak keuntungan yang didapat, misalnya reaksiterjadi dengan cepat dan mudah dikerjakan. Perubahan yang terjadi pada cara basahadalah terjadinya endapan, perubahan warna larutan, dan timbulnya gas.Penambahan suatu elektrolit yang mengandung ion sejenis ke dalam larutan jenuh suatu garam akan menurunkan kelarutan garam tersebut karena konsentrasi ion bertambah dan kesetimbangan bergeser ke arah pembentukan garamnya.Untuk mempermudah dalam reaksi identifikasi kation-anion, maka digunakanmetode analisis kualitatif sistematik.metode ini merupakan pengklasifikasian kation-kation ke dalam 5 golongan.


Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan ini adalah sebagai berikut :


a. Golongan I, kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida encer.ion-ion golongan ini adalah Timbel, Merkurium (I)(raksa), dan perak.


b. Golongan II, kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida,tetapi membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asm mineral encer.ion-ion golongan ini adalah merkurium (II), tembaga, bismut, kadmium, arsenik (III), arsenik (V), stibium (III), stibium (V), timah (II), dan timah (III) (IV).


c. Golongan III, kation golongan ini tak bereaksi dengan asam klorida encer, ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana encer. Namun, kation ini membentuk endapan denag amonium sulfida dalam suasana netral atau amonikal. Kation –kation golngan ini adalah kobal (II), nikel (II),besi (II), besi (III), kromium (III), aluminium, zink dan mangan (II).


d. Golongan IV, kation golongan ini tak bereaksi dengan reagensia golongan I, II, dan III.kation – kation ini membentuk endapan dengan amonium karbonat dengan adanya amonuim klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam.Kation-kation golongan ini adalah: kalsium, stronsium, dan barium.


e. Golongan V, kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan reagensia – reagensia golongan sebelumnya, merupakan golongan yang terakhir, yang meliputi ion-ion magnesiun, natrium, kalium, amonium, litium, dan hidrogen.


Pereaksi yang paling umum dipakai untuk klasifikasi kation adalah asam klorida, hidrogen sulfida dan amonium karbonat.klasifikasi ini atas apakah suatu kation bereaksi dengan pereaksi-pereaksi ini dengan membentuk endapan atau tidak.jadi bisa dikatakan bahwa klasifikasi kation yang paling umum, atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida, dan karbonat dari kation tersebut(Vogel anorganik I ; 203-204 ) .Sedangkan anion dibagi dalam 3 golongan yang berdasarkan pada kelarutannya (Vogel anorganik II ; 316).


BAB III


METODOLOGI






3.1 Alat


Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :


Ø Tabung reaksi beserta raknya


Ø Pipet tetes


Ø Pembakar (spiritus)


3.2 Bahan


a. Bahan sampel kation


- Hg2+ - Ca2+


- Cu2+ - Ba2+


- Fe2+ - Mg2+


- Fe3+ - NH4+


- Zn2+ - Ag+


- Al3+ - Pb2+


b. Bahan pereaksi kation


- NaOH - K2CrO4


- KI - K.ferosianida


- NH4OH - Kromat encer


- KCNS - HCl


- K.ferisianida - HgCl2


- Asam asetat - Nesler


- Natrium Fosfat - KOH


- Amonium oksalat - Asam sulfat encer


- Kalium Kromat


a. Bahan sampel anion


- Cl- - CO32-


- Br- - PO43-


- I- - BO33-


- SO42- - CNS


- NO3- - S2O32-


b. Bahan pereaksi anion


- AgNO3 - Asam nitrat


- K.Peramangat - Klorofom


- Barium Klorida - Pb asetat


- Serbuk Ferrosulfat - Asam sulfat pekat


- Larutan difenilamin - perak nitrat


- Magnesium ulfat - Klorida encer


- HgCl2 - Amonium molidat


- Amonium klorida - Amonium hidriksida


- Metanol - HCl pekat


- FeCl3 - Cuprisulfat


- Iodium - barium klorida encer






3.3 Prosedur Kerja


A. Identifikasi Kation




No


Sampel


Pereaksi


Hasil Secara Teoritis



1


Hg2+


1. Ditambah larutan NaOH


2. Ditambah Larutan KI


Membentuk endapan kuning






Membentuk endapan merah yang larut dalam KI berlebih



2


Cu2+


1. Ditambah larutan NaOH


2. Ditambah Larutan KI


Membentuk endapan warna biru, jika dipanaskan terbentuk endapan berwarna hitam


Membentuk endapan putih



3


Fe2+


1. Ditambah larutan NaOH


Membentuk endapan hijau kotor



4


Zn2+


1. Ditambah larutan NaOH


Membentuk endapan putih yang larut dalam NaOH berlebih



5


Al3+


1. Ditambah larutan NaOH


Terbentuk endapan putih yang larut dalam NaOH berlebih



6


Ca2+


1. Ditambah larutan NaOH


Terbentuk endapan putih



7


Ba2+


1. Ditambah larutan NaOH


2. Ditambah larutan Natrium Karbonat


3. Ditambah asam sulfat encer


Terbentuk endapan putih






Membentuk endapan kuning larut dalam asam kuat encer


Membentuk endapan putih yang tidak larut dalam HCl/HNO3 encer



8


Mg2+


1. Ditambah larutan NaOH


Terbentuk endapan putih



9


NH4+


1. Ditambah larutan NaOH


Gas amonia yang terbentuk dapat dikenal baunya dan dapat membirukan kertas lakmus merah basah



10


Ag+


1. Ditambah larutan NaOH


2. Ditambah HCl encer






3. Dengan KI






4. Dengan kalium kromat


Akan terbentuk endapan coklat dari Ag2O yang sukar larut dalam NaOH berlebih


Terbentuk endapan putih yang mudah larut dalam ammonia encer


Terbentuk endapan Agl yang berwarna kuning yang mudah larut dalam larutan natrium thiosulfat


Akan terbentuk endapan merah AgCrO4 yang mudah larut dalam asam nitrat encer dan ammonia encer



11


Pb2+


1. Ditambah larutan NaOH encer


2. Ditambah HCl encer






3. Dengan asam sulfat encer


4. Dengan K2CrO4


Terbentuk endapan putih yang tidak larut dalam asam nitrat tapi larut dalam ammonia


Akan terbentuk endapan putih yang dapat larut dalam air panas, HCl pekat dan larutan ammonia asetat


Akan terbentuk endapan putih yang larut dalam larutan pekat ammonium asetat panas


Terbentuk endapan kuning







B. Identifikasi Anion







No


Sampel


Pereaksi


Hasil Secara Teoritis


Pengamatan



1


Cl-


1. Ditambah larutan AgNO3










2. Ditambah Larutan asam nitrat, KMnO4dan kloroform






Membentuk endapan putih yang tidak larut dalam asam nitrat tapi larut dalam amonia


Gas klor yang terbentuk tidak member warna pada lapisan kloroform

































2


I-


1. Ditambah larutan AgNO3






2. Ditambah Larutan asam nitrat, KMnO4dan kloroform


Membentuk endapan warna kuning muda yang tidak larut dalam amonia


Iodium yang terbentuk dalam kloroform dikocok, lapisan kloroform berwarna merah muda-ungu



3


SO42-


1. Ditambah larutan barium klorida










Membentuk endapan putih yang tidak larut dalam HCl



4


NO3-


1. Ditambah sedikit serbuk ferrosulfat kemudian hati-hati ditambah asam sulfat pekat


Pada bidang atas akan terbentuk cincin warna coklat



5


CO32-


1. Ditambah larutan perak nitrat










2. Ditambah larutan magnesium sulfat


3. Ditambah asam klorida encer






Terbentuk endapan putih yang akan berubah menjadi coklat






Membentuk endapan putih










Terbentuk gas CO2



6


PO43-


1. Ditambah larutan perak nitrat














2. Ditambah magnesium sulfat






Membentuk endapan berwarna kuning yang larut dalam asam nitrat dan dalam ammonia






Membentuk endapan putih



7


S2O32-


1. Ditambah larutan perak nitrat encer










2. Ditambah larutan iodium










3. Dengan larutan barium klorida encer










4. Ditambah larutan asam klorida










Terbentuk endapan putih yang segera berubah menjadi kehitaman






Warna iodium hilang














Terbentuk endapan putih (barium tiosulfat) yang mudah larut dalam HCl encer






Larutan berubah menjadi keruh kekuningan












BAB IV


ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN






4.1 Data Hasil Pengamatan


Identifikasi Kation




No


Sampel


Pereaksi


Hasil Pengamatan



1


Hg2+


1. Ditambah larutan NaOH


2. Ditambah Larutan KI


Tidak sesuai dengan hasil teoritis, endapan yang terbentuk berwarna merah bata bukan warna kuning.


Membentuk endapan berwarna orange, tidak sesuai dengan hasil teoritis.



2


Cu2+


1. Ditambah larutan NaOH






2. Ditambah Larutan KI


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa membentuk endapan warna biru, jika dipanaskan terbentuk endapan berwarna hitam


Membentuk endapan putih, sesuai dengan hasil teoritis.



3


Fe2+


1. Ditambah larutan NaOH


Membentuk endapan kuning bukan hijau kotor, jadi hasilnya tidak sesuai dengan hasil teoritis.



4


Zn2+


1. Ditambah larutan NaOH


Membentuk endapan putih keruh



5


Al3+


1. Ditambah larutan NaOH


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa terbentuk endapan putih



6


Ca2+


1. Ditambah larutan NaOH


Terbentuk endapan putih



7


Ba2+


1. Ditambah larutan NaOH


2. Ditambah larutan Natrium Karbonat


3. Ditambah asam sulfat encer


Terbentuk endapan putih, sesuai dengan hasil teoritis






Sesuai dengan hasil teoritis bahwa membentuk endapan kuning yang larut dalam asam kuat encer


Membentuk endapan putih



8


Mg2+


1. Ditambah larutan NaOH


Terbentuk endapan putih



9


NH4+


1. Ditambah larutan NaOH


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa dapat membirukan kertas lakmus merah basah



10


Ag+


1. Ditambah larutan NaOH


2. Ditambah HCl encer


3. Dengan KI






4. Dengan kalium kromat


Tidak sesuai dengan hasil teoritis, endapan yang terbentuk berwarna putih keruh bukan coklat.


Terbentuk endapan putih


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa terbentuk endapan Agl yang berwarna kuning


Akan terbentuk endapan merah



11


Pb2+


1. Ditambah larutan NaOH encer


2. Ditambah HCl encer






3. Dengan asam sulfat encer


4. Dengan K2CrO4


Terbentuk endapan putih






Sesuai dengan hasil teoritis bahwa akan terbentuk endapan putih


Akan terbentuk endapan putih






Terbentuk endapan kuning







Identifikasi Anion







No


Sampel


Pereaksi


Hasil Pengamatan



1


Cl-


1. Ditambah larutan AgNO3






2. Ditambah Larutan asam nitrat, KMnO4dan kloroform


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa membentuk endapan putih yang tidak larut dalam asam nitrat tapi larut dalam amonia


Endapan yang terbentuk berwarna ungu tetapi tidak memberi warna pada lapisan kloroform



2


I-


1. Ditambah larutan AgNO3


2. Ditambah Larutan asam nitrat, KMnO4dan kloroform


Membentuk endapan warna kuning muda yang tidak larut dalam ammonia, sesuai dengan hasil teoritis.


Tidak sesuai dengan hasil teoritis, lapisan kloroform berwarna coklat kekuningan bukan merah muda-ungu



3


SO42-


1. Ditambah larutan barium klorida


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa membentuk endapan putih yang tidak larut dalam HCl



4


NO3-


1. Ditambah sedikit serbuk ferrosulfat kemudian hati-hati ditambah asam sulfat pekat


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa pada bidang atas akan terbentuk cincin warna coklat



5


CO32-


1. Ditambah larutan perak nitrat


2. Ditambah larutan magnesium sulfat


3. Ditambah asam klorida encer


Terbentuk endapan putih yang akan berubah menjadi coklat


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa membentuk endapan putih


Larutan yang terbentuk berwarna putih, tidak mengetahui apakah terbentuk gas CO2 atau tidak



6


PO43-


1. Ditambah larutan perak nitrat


2. Ditambah magnesium sulfat


Membentuk endapan berwarna kuning yang larut dalam asam nitrat dan dalam ammonia


Sesuai dengan hasil teoritis bahwa membentuk endapan putih



7


S2O32-


1. Ditambah larutan perak nitrat encer


2. Ditambah larutan iodium


3. Dengan larutan barium klorida encer


4. Ditambah larutan asam klorida


Sesuai dengan hasil teoritis terbentuk endapan putih yang segera berubah menjadi kehitaman


Warna iodium hilang






Terbentuk endapan putih (barium tiosulfat) yang mudah larut dalam HCl encer






Tidak sesuai dengan hasil teoritis, Larutan berubah menjadi keruh keputihan bukan kekuningan












4.2 Analisis Data


Berdasarkan hasil pengamatan dari percobaan yang dilakukan dapat dianalisis ke dalam reaksi kimia sebagai berikut :


Identifikasi kation


1.



- Hg2+ + 2NaOH Hg(OH)2 + 2Na+






- Hg2+ + 2KI HgI2 + 2K+






2. - Cu2+ + 2NaOH Cu(OH)2 + 2Na+






- Cu2+ + 2KI CuI2 + 2K+






3. - Fe2+ + 2NaOH Fe(OH)2 + 2Na+






4. - Zn2+ + 2NaOH Zn(OH)2 + 2Na+






5. - Al3+ + 3NaOH Al(OH)3 + 3Na+






6. - Ca2+ + 2NaOH Ca(OH)2 + 2Na+






7. - Ba2+ + 2NaOH Ba(OH)2 + 2Na+






- Ba2+ + 2NaCO3 BaCO3 + 2Na+






- Ba2+ + H2SO4 Ba(SO4)2 + 2H+






8. - Mg2+ + 2NaOH Mg(OH)2 + 2Na+






9. - NH4+ + NaOH NH4OH + Na+






10. - Ag+ + NaOH AgOH + Na+






- Ag+ + HCl AgCl + H+






- Ag+ + KI AgI + K+


- Ag+ +






11. - Pb2+ + 2NaOH Pb(OH)2 + 2Na+






- Pb2+ + 2HCl PbCl2 + 2H+






- Pb2+ + H2SO4 Pb(SO4)2 + 2H+






- Pb2+ + K2CrO4 PbCrO4 + 2K+






Identifikasi anion


1.



- Cl- + AgNO3 AgCl + NO3-


-






2. - I- + AgNO3 AgI + NO3-


-






3. - SO42- + BaCl2 BaSO4 + 2Cl-


4. -






5. - CO32- + AgNO3 Ag2CO3 + 2NO3-






- CO32- + MgSO4 MgCO3 + SO4-






- CO32- + HCl H2CO3 + 2Cl-






6. - PO43- + AgNO3 Ag3PO4 + 3NO3-






- PO43- + MgSO4 MgPO4 + SO43-






7. - S2O32- + AgNO3 Ag2SO3 + NO3-


-






- S2O32- + BaCl2 Ba2S2O3 + 2Cl-






- S2O32- + HCl H2S2O3 + 2Cl-


















4.3 Pembahasan


Identifikasi Kation


1. Merkuri (Hg2+)


Menurut teori, setelah direaksikan dengan larutan alkali karbonat (Na2CO3), akanterbentuk endapan putih merkuro karbonat. Dari hasil percobaan didapat larutan berubahmenjadi agak keruh walau tidak terbentuk endapan. Reaksi yang terjadi adalah :






Hg2(NO3)2 + Na2CO3 Hg2CO3 + 2NaNO3


Jika larutan Hg2(NO3)2 direaksikan dengan larutan NaOH, akan terbentuk endapanhitam. Dari hasil percobaan tidak terjadi perubahan yang teramati. Larutan tetap jernihserta tidak ada endapan yang terbentuk. Hal ini dimungkinkan karena penambahan NaOH yang berlebih. Reaksi yang mungkin terjadi adalah :






Hg2+2 + 2OH- Hg2O + H2O


2. Kupri (Cu2+)


Jika ion Cu2+ direaksikan dengan larutan KOH, akan terbentuk endapan biru Cu(OH)2 yang jika dipanasi berubah menjadi hitam (CuO). Dari hasil percobaan, didapatiendapan biru yang berubah menjadi hitam saat dipanaskan. Reaksi yang terjadi adalah :






CuSO4 + 2KOH Cu(OH)2 + K2SO4






Cu(OH)2 dipanaskan CuO + H2O


Jika ion Cu2+ direaksikan dengan larutan KI, akan terbentuk endapan putih CuI2


denganwarna larutan agak kuning dikarenakan ada I2 yang dibebaskan. Dari hasil percobaandidapati warna larutan berubah dari biru muda menjadi kuning pucat dengan endapan putih. Reaksi yang terjadi adalah :






CuSO4 + 2KI CuI2 + K2SO4






2CuI2 2CuI + I2






atau 2CuSO4 + 4KI 2CuI + 2 K2SO4 + I2


3. Seng (Zn2+)


Jika ion Zn2+ direaksikan dengan larutan KOH, akan terbentuk endapan putih Zn(OH)2 yang larut dalam reagen berlebih. Dari hasil percobaan didapati larutan berubah dari bening menjadi agak keruh dengan sedikit endapan. Hal ini mungkin dikarenakankonsentrasi reagen yang kurang karena warna larutan sudah berwarna agak keruh yangmengindikasikan hasil kali ion-ionnya sudah lebih besar daripada harga Ksp-nya atau reagen yang berlebih sehingga endapan yang terbentuk larut kembali. Reaksi yangmungkin terjadi :






Zn2+ + 2OH Zn(OH)2


Dalam reagen berlebih terjadi reaksi :






Zn(OH)2 + 2OH- [ Zn(OH)4 ]2-


Jika ion Zn2+ direaksikan dengan larutan Na2SO4, akan terbentuk endapan tersier zink sulfat yang larut dalam amonia dan asam. Dari hasil percobaan didapati larutan tetap bening. Tidak ada perubahan yang dapat teramati. Ini mungkin dikarenakan kurangnyakonsentrasi reagen atau kesalahan dalam percobaan.


4. Alumunium (Al3+)


Jika ion Al3+ direaksikan dengan larutan NH3, akan terbentuk Al(OH)3 yang berupakoloid. Dari hasil percobaan tidak ada perubahan yang dapat teramati. Hal ini mungkindikarenakan kurangnya konsentrasi reagen atau pH yang kurang mendukung. Larutantetap jernih seperti semula. Reaksi yang mungkin terjadi adalah :






Al3+ + 3NH3 + 3H2O Al(OH)3 + 3NH4+


5. Kalsium (Ca2+)


Jika ion Ca2+ direaksikan dengan larutan (NH4)2CO3, akan terbentuk endapan CaCO3 yang jika dipanasi akan menjadi kristalin. Dari hasil percobaan didapati endapan putih.Setelah dipanaskan tidak terbentuk kristal. Ini mungkin dikarenakan pemanasan yang dilakukan kurang. Reaksi yang terjadi :






Ca2+ + SO32- CaCO3


6. Barium (Ba2+)


Jika ion Ba2+ direaksikan dengan larutan H2SO4 encer, akan terbentuk endapan putih BaSO4 . Dari hasil percobaan didapati endapan putih.






Ba2+ + SO42- BaSO4


7. Magnesium (Mg2+)


Jika ion Mg2+ direaksikan dengan larutan NaOH, akan terbentuk endapan putihMg(OH)2. Dari hasil percobaan didapati endapan putih. Reaksi yang terjadi adalah :






Mg2+ + 2OH- Mg(OH)2


8. Timbal (Pb2+)


Jika ion Pb2+ direaksikan dengan larutan HCl, akan terbentuk endapan yang berwarna putih. Dari hasil percobaan didapati endapan berwarna putih dengan larutan yang tidak berwarna/ bening. Endapan ini dapat terbentuk karena larutan sudah lewat jenuh,konsentrasi ion-ion PbCl2 sudah melebihi harga Ksp-nya (Ksp PbCl2 = 2,4 x 10-9).


Identifikasi anion


1. Klorida (Cl-)


Jika ion Cl- direaksikan dengan larutan AgNO3, akan terbentuk endapan putih AgCl yang larut dalam NH3. Dari hasil percobaan didapati endapan putih. Setelah ditambah NH3, endapan larut. Reaksi yang terjadi adalah :






Ag+ + Cl- AgCl


2. Iodida (I-)


Jika ion I- direaksikan dengan larutan AgNO3, akan terbentuk endapan kuning AgI. Ksp AgI = 0,9 x 10-16. Dari hasil percobaan didapati endapan putih-kuning. Reaksi yangterjadi adalah :






I- + AgNO3 AgI + NO3-


3. Sulfat (SO42-)


Jika ion SO42- direaksikan dengan larutan BaCl2, akan terbentuk endapan putih BaSO4. Dari hasil percobaan didapati endapan putih. Reaksinya :






SO42- + BaCl2 BaSO4 + 2Cl-


4. Tiosulfat (S2O32-)


Jika ion S2O32- direaksikan dengan larutan AgNO3, akan terbentuk endapan putih yang berubah menjadi kuning-coklat dan akhirnya hitam. Dari hasil percobaan didapatiendapan putih yang berubah menjadi kuning dan akhirnya coklat-hitam. Reaksinya :






S2O32- + AgNO3 Ag2SO3 + NO3-






4.3 Kesimpulan


Berdasarkan hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa :


1. Untuk identifikasi kation pada percobaan yang dilakukan terdapat 4 percobaan dari pengamatan yang tidak sesuai dengan hasil teoritis yang telah tersedia yaitu reaksi antara merkuri dengan natrium hidroksida,merkuri dengan KI,besi dengan natrium hidroksida dan perak dengan natrium hidroksida.


2. Untuk identifikasi anion pada percobaan yang dilakukan terdapat 2 percobaan dari pengamatan yang tidak sesuai dengan hasil teoritis yang telah tersedia yaitu reaksi antara iodida dengan asam nitrat dan tiosulfat dengan asam klorida.

sumber : http://anaistianah.blogspot.com/2013/03/laporan-praktikum-analitikidentifikasi_3.html