Monday, September 30, 2013

Laporan Penelitian Kacang Hijau

Laporan Penelitian Kacang Hijau

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Tanaman merupakan BAGIAN Besar Bahasa Dari alam Yang ADA di bumi kitd inisial . Selain ITU keberadaan tanamann di bumi Suami sebagai PRODUSEN terbesarnya sangatlah Penting , KARENA besarbesaran merupakan Satu Kesatuan Bahasa Dari Rantai MAKANAN Yang terdapat Dalam, ekosistem . Ekosisitem terdiri Bahasa Dari teridiri Bahasa Dari doa Macam Komponen abiotik yaitu , Yang terdiri Bahasa Dari Tumbuhan , HEWAN , Dan manusia . Sedangkan Komponen abiotik ANTARA Lain : Udara , gas , angin, Cahaya , Matahari , Dan sebagainya . Antara Komponen biotik abiotik saling mempengaruhi Dan , misalnya , memerlukan Tumbuhan Cahaya Matahari untuk melakukan fotosintesis . HASIL fotosintesis di butuhkan Oleh makhluk Hidup Before . Oleh KARENA ITU , Kami mengadakan eksperimen untuk mengetahui apakah BENAR ADA pengaruh Cahaya Matahari terhadap pertumbuhan kacang Hijau .




B. TUJUAN

Adapun tujuan Kami melakukan penelitian inisial sebagai berikut :

1 . Kami ingin mengetahui , apakah BENAR ADA pengaruh Cahaya Matahari terhadap pertumbuhan kacang Hijau

2 . Kami Ingin mengetahui Dan mengkaji masalah pengaruh Cahaya Matahari

3 . Kami ingin mengetahui bagaimana Cahaya Matahari dapat mempengaruhi pertumbuhan Tanaman kacang Hijau .

C. MANFAAT PENELITIAN

MANFAAT Bahasa Dari penelitian inisial ANTARA Lain dapat mengetahui Efek Bahasa Dari sinar Matahari terhadap Tumbuhan , BAIK Efek positif maupun negatif .

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA




A. Ditempatkan Teori

Etiolasi = Fenomena Yang diperlihatkan Tumbuhan Yang Tumbuh Dalam,

Gelap , bercirikan Warna pucat , ruas Panjang - Panjang , Dan daun Kecil ( www.kamusilmiah.com ) .




2 . Sinar Matahari memang berguna * Bagi fotosintesis FUNDS Tumbuhan ,

namun Efek Lain Bahasa Dari sinar Matahari inisial adalah menekan pertumbuhan sel

Tumbuhan . Hal inisial menyebabkan Tumbuhan Yang diterpa Cahaya Matahari

Akan lebih Pendek daripada Tumbuhan Yang Tumbuh di TEMPAT Gelap . Peristiwa inisial disebut Artikel Baru etiolasi , yaitu pertumbuhan sel Tumbuhan

Yang Ulasan Sangat CEPAT di TEMPAT Gelap . ( id.answers.yahoo.com ) .




3 . Dampak Tanaman akibat etiolasi adalah Tanaman tidak dapat

melakukan proses penelaahan fotosintesis . Padahal proses imunisasi meliputi fotosintesis bertujuan

untuk menghasilkan karbohidrat Yang berperan Penting Dalam,

pembentukan klorofil . KARENA karbohidrat tidak terbentuk , daun pun Tanpa

klorofil sehingga daun tidak berwarna Hijau , melainkan kuning pucat .

Kondisi Gelap JUGA memacu Produksi hormon auksin . auksin adalah

hormon Tumbuh Yang BANYAK ditemukan di sel - sel meristem , seperti Ujung

Akar Dan Ujung batang . Oleh KARENA ITU Tanaman Akan lebih CEPAT Tumbuh

Dan Panen . HASIL penelitian FW Went, Ahli fisiologi Tumbuhan , FUNDS years

1928 menunjukkan Produksi auksin terhambat FUNDS Tanaman Yang sering

terkena sinar Matahari . Selain ITU , enzim riboflavin FUNDS Ujung batang menyerap sinar nila Bahasa Dari sinar Matahari . Sinar nila perusak enzim - enzim Yang membantu

pembentukkan asam indo asetat ( salat Satu JENIS auksin ) . Itulah

sebabnya , pertumbuhan Tanaman etiolasi Selalu lebih CEPAT , TAPI batang

tidak tegar KARENA BANYAK mengandung udara. Akibat tidak ADA sinar Matahari Maka organ perbanyakan FUNDS Tanaman lama - lama mengkerut Lalu mati KARENA tidak mendapat Sumber

MAKANAN . ( www.trubus - online.co.id ) .

B. Rumusan Masalah

Bagaimana pengaruh terhadap pertumbuhan Cahaya biji kacang Hijau ?




hipotesis

Cahaya berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah biji kacang Hijau . Pemberian Cahaya dapat menghambat pertumbuhan kecambah tetapi , daun Akan Berkembang BAIK Dan berwarna Hijau .

BAB III

Metodologi PENELITIAN




Waktu Penelitian

Jum'at , 20 Juli 2012 - Jumat , 27 Juli 2012 .




Alat Dan Bahan

Alat :

4 gelas plastik bekas mineral udara. ( 2 di TEMPAT Terang : di Dalam, KAMAR , 2 di TEMPAT Gelap : di Dalam, lemari )

Penggaris

Sendok Makan

Kertas

Alat tulis

label

Bahan :

20 butir kacang Hijau Artikel Baru ukuran Dan Warna Yang sama

4 gumpal Kapas Artikel Baru JENIS Dan Kendaraan bermotor sama ( 2 gram )

1 gelas air mineral ( untuk merendam biji kacang Hijau )

1 sendok Makan udara Anak sepengendali ( untuk penyiraman Satu Kali sehari )

10 ml air Anak sepengendali ( untuk membasahi Kapas )




Cara Koperasi Karyawan Bhakti Samudera

Rendam biji kacang Hijau Artikel Baru 1 gelas platik udara mineral selama 6 jam

Sediakan 4 gelas bekas mineral udara

Masukkan segumpal Kapas Yang telah dibasahi Artikel Baru 10 ml udara Anak sepengendali Ke Dalam, setiap gelas

Beri label A untuk 2 gelas Dan label B untuk 2 gelas Yang Lagi

Letakkan 5 butir biji kacang Hijau FUNDS setiap gelas . Untuk 2 gelas Yang berlabel A , biji diberi label Nomor 1-5 Dan 6-10 . Lakukan Hal Yang sama untuk gelas berlabel B.

Tempatkan gelas A di TEMPAT Terang Dan gelas B di TEMPAT Gelap

Sirami biji - biji nihil setiap Hari Artikel Baru 1 sendok Makan udara secara merata Anak sepengendali .

Amati Dan catat pertumbuhan ( pertambahan Panjang ) setiap Hari FUNDS waktu Yang sama .




BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN




A. HASIL PENGAMATAN ( Dalam, cm )

Gelas A ( Terang )

Hari Ke -

Biji kacang Hijau Ke -

Rata- rata

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10




1

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2

0.7

0.4

0.4

1,6

0.8

0,5

1,3

0.7

0.2

0.2

0,68

3

4

1,3

0,6

7,3

4,3

3

3,1

2,5

1

2

2,91

4

9,6

3,5

2,3

12,5

10

11,5

10,9

13,5

4,5

7,7

8,6

5

23

12

4,5

19,9

21

17,6

17

18,3

8

13,5

15,48

6

24

19,5

6,3

22

24,5

21

21,4

22,7

16,2

20

19,76

Rata- Rata pertumbuhan per Hari ( = Number Selisih Tinggi, kecambah dibagi 5 )

3,95




Gelas B ( Gelap )

Hari Ke -

Biji kacang Hijau Ke -

Rata- rata

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10




1

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

-

2

1,7

1,8

1

0.7

0.8

2,8

1,3

2,5

2,7

1,7

1,7

3

8,3

7,8

6,4

1

6

7,6

9,4

10,6

9,3

11,8

7,82

4

16,5

19,6

18,7

1,2

15,5

17,5

20,2

20,2

17,7

22

16,91

5

33

29,4

27

5,8

27,5

24,9

27,7

27,8

25,7

28.2

25,7

6

36

31,5

30

20,5

31,5

27,5

31

29,5

31

31

29,95

Rata- Rata pertumbuhan per Hari ( = Number Selisih Tinggi, kecambah dibagi 5 )

5,99







B. PEMBAHASAN

Cahaya memegang peranan Penting Dalam, proses penelaahan fisiologis Tanaman , terutama fotosintesis , respirasi , transpirasi Dan . Faktor Lingkungan ( Cahaya ) Ulasan Sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan kecambah / kacang Hijau inisial . Cahaya Yang selain berpengaruh terhadap proses penelaahan fotosintesis JUGA berpengaruh terhadap pertumbuhan setiap organ Dan keseluruhan Tumbuhan .

Dalam, keadaan Terang , batang memiliki auksin Yang : sedikit , KARENA auksin mengalami kerusakan Severe terkena Cahaya sehingga pertumbuhan Tumbuhan pun terhambat . Tetapi walaupun begitu , Tumbuhan Dalam, keadaan Terang memiliki BANYAK klorofil Dan Tumbuh Berkembang . Sedangkan Dalam, keadaan Gelap,batang memiliki BANYAK auksin sehingga Tumbuh lebih Panjang . Tetapi Dalam, keadaan Gelap Suami walaupun Tumbuh Artikel Baru lebih CEPAT daripada Yang terkena Cahaya , Tumbuhan menjadi pucat KARENA kekurangan klorofil , kurus , tidak Berkembang ( mengalami etiolasi ) , batang membengkok Ke arah Cahaya Dan berumur Pendek .

FUNDS pertumbuhan di TEMPAT Teduh , kacang Hijau memiliki bentuk yg hampir sama Artikel Baru di TEMPAT Terang , hanya ukuran batang , daun Dan Akar Yang berbeda . FUNDS TEMPAT Teduh Laju pertumbuhan sdikit lebih CEPAT dibandingkan di TEMPAT bercahaya KARENA hormon auksin lebih BANYAK dimiliki Oleh Tanaman di TEMPAT inisial dibandingkan ditempat Terang , sebab Tanaman ditempat inisial hanya : sedikit menerima Cahaya Matahari . Daunnya BACAKAN menguning Dan batangnya kurus .




BAB V

PENUTUP




A. KESIMPULAN

Cahaya digunakan untuk proses penelaahan Tanaman fotosintesis .

Tanaman Yang kurang Cahaya ( ditanam di wilayah Gelap ) batangnya lebih Panjang , Hal inisial KARENA Tanaman berusaha MENCARI Cahaya untuk keperluan fotosintesis .

Tanaman Yang CUKUP Cahaya terlihat lebih Sehat di Dan Segar .

Daun Tanaman - Tanaman Yang kurang Cahaya JAUH lebih Kecil Dan kusam kekuningan dibandingkan Artikel Baru Tanaman Yang CUKUP Cahaya . Daun Tanaman Yang CUKUP Cahaya lebih Lebar , Hijau Segar .

FUNDS Tanaman Yang berada di TEMPAT Yang Gelap hormon auksin BEKERJA lebih daripada Aktif Tanaman Yang terkena Cahaya , sehingga Tanaman Yang berada di TEMPAT Yang Gelap terjadi pemanjangan sel . Di TEMPAT Yang Terang hormon auksin mudah Rusak Oleh Intensitas Cahaya Yang Tinggi.

Di TEMPAT Yang Terang pertumbuhan Tanaman menjadi terhambat , Dan di TEMPAT Yang Gelap terjadi etolasi ( pemanjangan diujung melekuk ) .

Jadi , hormon mempercepat pertumbuhan batang Dan Cahaya menghambat pertumbuhan .


B. SARAN

Untuk Menanam Tanaman Yang BAIK Cahaya Matahari Ulasan Sangat di perlukan untuk pertumbuhan Yang optimal, meskipun pertumbuhan nya cendrung lambat KARENA terhambatnya pertumbuhan hormon auksin KARENA Yang bereaksi Artikel Baru Matahari , namun ITU * Semua untuk mendapatkan HASIL optimal. Oleh KARENA ITU Dalam, menananam Tanaman hendaknya perhatikan ASPEK - ASPEK Yang harus di penuhi Dalam, menananam Tanaman Yang BAIK seperti sianar Matahari Yang CUKUP .

sumber : http://benzemad.blogspot.com/2013/08/pengamatan-kacang-hijau-ditempat-terang.html

Thursday, September 26, 2013

Laporan Praktikum Kimia Iodometri

Laporan Praktikum Kimia Iodometri

Disusun oleh
Nama : LILIS WIDIAWATI
NIM : 1211704038
Kelas : Kimia 3/A
Tanggal praktikum : 05 Desember 2012


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SGD BANDUNG
2012





I. TUJUAN
1. Menentukan konsentrasi natrium triosulfat beserta rata-rata dan simpangannya
2. Menentukan konsentrasi tembaga dalam larutan dengan titrasi rediksi oksidasi


II. DASAR TEORI
Metode titrasi iodometri langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatularutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (iodometri) adalah berkenaandengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia (Bassett, 1994).
Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natriumthiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O. Larutantidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung, tetapi harus distandarisasidengan standar primer. Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama (Day& Underwood, 1981)
Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan bilangan oksidasi, sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi.Berarti proses oksidasi disertai hilangnya elektron sedangkan reduksi memperoleh elektron. Oksidator adalah senyawa di mana atom yang terkandung mengalami penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya pada reduktor, atom yang terkandung mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung bersama dan saling menkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator reduktor mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja (Khopkar, 2003).
Oksidator lebih jarang ditentukan dibandingkan reduktor. Namin demikian, oksidator dapat ditentukan dengan reduktor. Reduktor yang lazim dipakai untuk penentuan oksidator adalah kalium iodida, ion titanium(III), ion besi(II), dan ion vanadium(II). Cara titrasi redoks yang menggunakan larutan iodium sebagai pentiter disebut iodimetri, sedangkan yang menggunakan larutan iodida sebagai pentiter disebut iodometri (Rivai, 1995).
Metode titrasi iodometri langsung (kadang-kadang dinamakan iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod standar. Metode titrasi iodometri tak langsung (kadang-kadang dinamakan iodometri), adlaah berkenaan dengan titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia. Potensial reduksi normal dari sistem reversibel:
I2(solid) 2e 2I-
adalah 0,5345 volt. Persamaan di atas mengacu kepada suatu larutan air yang jenuh dengan adanya iod padat; reaksi sel setengah ini akan terjadi, misalnya, menjelang akhir titrasi iodida dengan suatu zat pengoksid seperti kalium permanganat, ketika konsentrasi ion iodida menjadi relatif rendah. Dekat permulaan, atau dalam kebanyakan titrasi iodometri, bila ion iodida terdapat dengan berlebih, terbentuklah ion tri-iodida:
I2(aq) + I- I3-
Karena iod mudah larut dalam larutan iodida. Reaksi sel setengah itu lebih baik ditulis sebagai:
I3- + 2e 3I-
Dan potensial reduksi standarnya adalah 0,5355 volt. Maka, iod atau ion tri-iodida merupakan zat pengoksid yang jauh lebih lemah ketimbang kalium permanganat, kalium dikromat, dan serium(IV) sulfat (Bassett, J. dkk., 1994).
Dalam kebanyakan titrasi langsung dengan iod (iodimetri), digunakan suatu larutan iod dalam kalium iodida, dan karena itu spesi reaktifnya adalh ion tri-iodida, I3-. Untuk tepatnya, semua persamaan yang melibatkan reaksi-reaksi iod seharusnya ditulis dengan I3- dan bukan dengan I2, misalnya:
I3- + 2S2O32- = 3I- + S4O62-
akan lebih akurat daripada:
I2 + 2S2O32- = 2I- + S4O62-
(Bassett, J. dkk., 1994).
Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri. Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut sebagai karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi. Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) kanji, karena warna biru tua dari kompleks kanji-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium. Kepekaan lebih besar dalam larutan yang sedikit asam daripada larutan netral dan lebih besar dengan adanya ion iodida (Underwood, 1986).


III. ALAT DAN BAHAN


Alat yang di gunakan :
Bahan yang digunakan :

Ø Buret
Ø Erlenmeyer
Ø Gelas ukur
Ø Pipet volum
Ø Pipet tetes
Ø Pemanas
Ø Larutan pati
Ø HNO3 6 M
Ø H2SO4 pekat
Ø H2SO4 3M
Ø H2PO4
Ø NH3 6 M
Ø KSCN
Ø Na2S2O3 0,1 M



IV. PROSEDUR KERJA
*Standarisasi Na2S2O4 0,1 M




Timbang 0,2 g copper foil







Dimasukan dalam Erlenmeyer 250 mL




Larutan Copper foil 0,2 g






Larutkan dengan 10 mL HNO3 6 M




Tambahkan H2SO4 10 mL





Diuapakan sampai asap putih




+ NH3 6M (warna biru gelap pertama)


Dinginkan ditambah 20 mL air didihkan







Cu(NH3)42+




+ H2SO4 3 M ( biru hilang )




+ 10 mL larutan KI
=
+ 2 mL H3PO4 pekat



Titrasi dan Na2S2O3 sampai warna kuning dari I2 hampir hilang




+ 2-3 mL larutan pati



Lakukan titrasi (biru)




+ 2 tetes KSCN






Titrasi biru hilang




Hitung [Na2S2O3] dan simpangannya



*penentuan tembaga dalam sampel




10 mL sampel




Dimasukan dalam erlenmeyer




+ 10 mL larutan KI
=




Titrasi dan Na2S2O3 sampai warna kuning dari I2 hampir hilang




+ 2-3 mL larutan pati



Lakukan titrasi (biru)




+ 2 tetes KSCN






Titrasi biru hilang




Tentukan [Cu2] simpangan



V. HASIL PENGAMATAN
*Bentuk fisik zat




Nama Zat
Pengamatan

Cu
HNO3 6 M
H2SO4 pekat
NH3 6 M
H2SO4 3M
H3PO4
KI
Na2S2O3
Larutan Na2S2O3
Larutan KI
CuSO4
Larutan CuSO4
Larutan amilum
Larutan KSCN
Logam berwarna kuning emas mengkilap
Larutan tidak berwarna
Larutan tidak berwarna
Larutan tidak berwarna
Larutan tidak berwarna
Larutan tidak berwarna
Serbuk berwarna putih
Bongkahan bening
Larutan tidak berwarna
Larutan tidak berwarna
Bongkahan berwarna biru
Bongkahan berwarna biru
Larutan tidak berwarna
Larutan tidak berwarna


*Standarisasi larutan Na2S2O3 0,1 M


Perlakuan
pengamatan

Copper foil 0,2 g
Dilarutkan dengan HNO3 dan dipanaskan


Tambahkan H2SO4


Tambahkan 20 mL air
Tambahkan NH3
Tambahkan H2SO4 3M
Tambahkan H3PO4 2 mL
Tambahkan KI 10%
Dititrasi dengan Na2S2O3
Tambahkan amilum
Tambahkan KSCN
Dititrasi dengan Na2S2O3
Lempeng berwarna emas mengkilap
Mula-mula sedikit larut lalu setelah dipanaskan lempeng larut sepenuhnya menjadi larutan biru jenuh


Timbul asap coklat, bau menyengat dan asap putih SO3, larutan menjadi biru toska
Larutan berwarna biru
Warna biru gelap
Warna biru hilang
Larutan menjadi panas
Larutan abu keunguan
Larutan menjadi coklat
Larutan coklat dan timbul warna kuning
Timbul larutan abu dan larutan coklat
Larutan menjadi putih susu



*Tabel penentuan sampel Cu


Perlakuan
Hasil

Sampel CuSO4 10 mL + KI
Larutan dititrasi dengan Na2S2O3
+ 2 mL larutan amilum
+ 2 tetes KSCN
Larutan dititrasi dengan Na2S2O3
Larutan warna kuning kunyit
Larutan berwarna kuning pudar
Larutan tidak berwarna biru
Larutan tidak berwarna
Larutan tidak berwarna

*table titrasi


Titrasi ke-
Volume awal (mL)
Volume akhir (mL)
Volume titrasi (mL)

KI
amilum
KSCN
0,70
22,70
36,60
22,70
36,60
37,80
22,00
13,90
1,20

Titrasi ke-
Volume awal (mL)
Volume akhir (mL)
Volume titrasi (mL)

1
0,70
14,20
13,50



VI. PERHITUNGAN
*perhitungan pembuatan Na2S2O3 0,1 M dalam 200 mL
M = X
0,05 M = X
gNa2S2O3= 3,16 gram dilarutkan dalam aquadest 200 mL
*perhitungan pembuatan HNO3 6M 200 mL
V1 . M1 = V2 . M2
VHNO3 . 12 M = 50 mL x 6 M
VHNO3 =
= 25 mL diencerkan dengan aquadest
Vaquadest = 50 mL – 25 mL = 25 mL
*pembuatan HN3 6M d



VII. PEMBAHASAN
Dalam titrasi iodometri, analit yang di pakai adalah oksidator yang dapat bereaksi dengan iodide untuk menghasilkan I2, I2 tersebut secara kualitatif dapat di titrasi dengan larutan tiosulfat. Maka titrasi iodometri dikategorikan sebagai titrasi kembali.
Iodide adalah reduktor lemah dan dengan mudah teroksidasi jika direaksikan dengan oksidator kuat. Iodide tidak di pakai titran karena kecepatan reaksi dan kurangnya jenis indicator untuk iodide. Oleh karena itu, dilakukan titrasi kembali. Senyawa KI ditambahkan berlebih pada larutan oksidator kuat, sehingga terbentuk I2, I2 yang terbentuk adalah eukivalen dengan jumlah oksidator yang akan ditentukan jumlah I2 ditentukan dengan menitrasi I2 dengan standar Na2S2O3 dengan indicator amilum. Perubahan warna dari biru tua kompleks amilum I2 sampai warna tepat hilan. Dalam menentukan Cu dalam sampel dilakukan dengan cara melarutkan sampel dengan cara melarutkan sampel dengan asam nitrat.
3Cu(s) + 8 HNO3 3Cu(NO3)2 + 2NO + 4H2O
Nitrat yang ada dihilangkan dengan asam sulfat dan dinetralkan kembali dengan penambahan NH3 dan diasamkan dengan H3PO4 . Cu(II) yang terbentuk direaksikan secara kualitatif (berlebih) dengan kalium iodide (KI).
Cu(NH3)42+ + 4I- 2CuI(g) + I2(aq)
Iodium yang terbentuk di titrasi dengan Na2S2O3 dan indicator amilum.
I2(aq) + 2S2O32- (aq) 2I- (aq) + S4O62-
Endapan CuI yang terbentuk dapat mengikut I2 yang akan terlepas pada titik akhir titrasi. Untuk itu, kalium thioksianat perlu ditambahkan untuk melepas I2 yang diperoleh oleh CuI.
CuI : I2 + SCN- CuI + SCN + I2
Natrium triosulfat harus di standarisasi terlebih dahulu dengan copper foil.
Pada saat penambahan HNO3 ini dilakukan untuk menghasilkan Cu(II), penambahan H2SO4 pekat pada saat pemanasan untuk di hilangkan oksida nitrogennya. Pada saat ini lah di hasilkan asap SO3 yang berwarna putih. Penambahan NH3 bertujuan untuk menetralkan larutan yang di asamkan dengan H3PO4 yang berfungsi sebagai larutan asam bereaksi dengan iodida. Kemudian ditambah KI yang menghasilkan kelarutan berwarna coklat agak tua menuju kuning sampai akhir lenyap. Pada saat penambahan KI, larutan harus segera dititrasi dengan Na2S2O3 karena I2 bersifat volatin yang menghasilkan larutan berwarna ungu yang sedikit pudar. Penambahan amilum kedalam larutan berwarna ungu yang sedikit pudar. Penambahan amilum kedalam larutan, berfungsi sebagai indicator yang akan mempertegas perubahan warna.
Pada penentuan tembaga dalam sampel, larutan Na2S2O3 bertindak sebagai titran analitnya yaitu larutan CuSO4 yang berwarna biru. Sampel yang yang berwarna biru ketika ditambahkan dengan KI, larutan menjadi coklat agak muda menuju kuning hingga lenyap menjadi keruh, kemudian di titrasi dengan Na2S2O3 menghasilkn larutan berwarna coklat kekuningan seharusnya setelah ditambahkan KI langsung di titrasi saat warna kuning larutan itu masih ada. Akan tetapi, ketika larutan kuningnya mulai hilang baru di tambahkan dengan KI. Reaksi :
2Cu2+ + 4I- 2CuI + I2
I2 + 2SO3 2- 2I- + S2O6 2-
Setelah itu barulah ditambahkan dengan indicator amilum 5% dan larutannya menjadi ungu kehitaman lalu di titrasi dengan Na2S2O3 menghasilkan larutan ungu tepat hilang dan menjadi tidak berwarna. sehar usnya pada saat I2 dengan amilum itu pada saat titrasi menghasilkan larutan berwarna biru, dengan reaksi :
I2+ + amilum 2I- + amilum
I2+ + amilum + 2S2O3 2- 2I- + amilum + S2O6 2-
Larutan kemudian ditambah dengan KSCN menghasilkan larutan yang tak berwarna dan di titrasi dengan Na2S2O3 sehingga diperoleh titik akhir titrasinya dan larutannya tetap tidak berwarna. Seharusnya setelah dititrasi berwarna biru yang menghilang.
2Cu2+ + 2I- + 2SCN- 2CuSCN + I2


VIII. KESIMPULAN 

Iodimetri merupakan analisis titrimetri yang secara langsung digunakan untuk zat reduktor atau natrium tiosulfat dengan menggunakan larutan iodin atau dengan penambahan larutan baku berlebihan. Pada praktikum didapat hasil standarisasi larutan Na2S2O3 yaitu 0,105 M. pada penentuan tembaga dalam sampel yaitu 0,358 M.

sumber : http://liliswidiawati.blogspot.com/2013/02/iodometri.html

Saturday, September 21, 2013

Laporan Praktikum Kimia Reaksi Redoks 1

Laporan Praktikum Kimia Reaksi Redoks 1


a. No. Percobaan : 1.2

b. Judul Percobaan : Reaksi Redoks 1

c. Tujuan Percobaan : Mempelajari beberapa reaksi redoks yang

berlangsung dalam suasana asam, basa, dan netral.

d. Landasan Teori :

Reaksi kimia adalah suatu reaksi antara senyawa kimia atau unsur kimia yang melibatkan perubahan struktur dari molekul, yang umumnya berkaitan dengan pembentukan dan pemutusan ikatan kimia.

Ciri – ciri reaksi kimia :

- Terbentuknya endapan

- Terbentuknya gas

- Terjadinya perubahan warna

- Terjadinya perubahan suhu atau temperatur


Redoks adalah reaksi kimia yang disertai perubahan bilangan oksidasi. Setiap reaksi redoks terdiri atas reaksi-reaksi reduksi dan reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi adalah reaksi kimia yang ditandai kenaikan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi reduksi adalah reaksi kimia yang ditandai penurunan bilangan bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi didefinisikan sebagai muatan yang dimiliki suatu atom jika seandainya elektron diberikan kepada atom yang lain yang keelektronegatifannya lebih besar. Jika kedua atom diberikan maka atom yang keelektronegatifannya lebih kecil lebih positif sedangkan atom yang keelektronegatifannya lebih besar memiliki bilangan oksidasi negatif.

Redoks sering dihubungkan dengan terjadinya perubahan warna lebih sering dari pada yang diamati dalam reaksi asam-basa. Reaksi redoks melibatkan pertukaran elektron dan selalu terjadi perubahan bilangan oksidasi dari dua atau lebih unsur dari reaksi kimia. Persamaan reaksi redoks agak lebih sulit ditulis dan dikembangkan dari persamaan reaksi biasa yang lainnya karena jumlah zat yang dipertukarkan dalam reaksi redoks sering kali lebih dari satu. Sama halnya dengan persamaan reaksi lain, persamaan reaksi redoks harus disetimbangkan dari segi muatan dan materi, penyeimbangan materi biasanya dapat dilakukan dengan mudah sedangkan penyeimbangan muatan agak sulit. Karena itu perhatian harus dicurahkan pada penyeimbangan muatan. Muatan berguna untuk menentukan faktor stoikiometri. Menurut batasan umum reaksi redoks adalah suatu proses serah terima elektron antara dua system redoks.



Oksidator dan Reduktor

Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa lain dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau agen oksidasi. Oksidator melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia "menerima" elektron, ia juga disebut sebagai penerima elektron. Oksidator bisanya adalah senyawa-senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi (seperti H2O2, MnO4−, CrO3, Cr2O72−, OsO4) atau senyawa-senyawa yang sangat elektronegatif, sehingga dapat mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa (misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan bromin).

Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mereduksi senyawa lain dikatakan sebagaireduktif dan dikenal sebagai reduktoratau agen reduksi. Reduktor melepaskan elektronnya ke senyawa lain, sehingga ia sendiri teroksidasi. Oleh karena ia "mendonorkan" elektronnya, ia juga disebut sebagai penderma elektron. Senyawa-senyawa yang berupa reduktor sangat bervariasi. Unsur-unsurlogamseperti Li, Na, Mg, Fe, Zn, dan Al dapat digunakan sebagai reduktor. Logam-logam ini akanmemberikan elektronnya dengan mudah. Reduktor jenus lainnya adalah reagen transfer hidrida, misalnya NaBH4 dan LiAlH4), reagen-reagen ini digunakan dengan luas dalamkimia organik, terutama dalam reduksi senyawa-senyawa karbonil menjadi alkohol. Metode reduksi lainnya yang juga berguna melibatkan gas hidrogen (H2) dengan katalis paladium, platinum, atau nikel, Reduksi katalitik ini utamanya digunakan pada reduksi ikatan rangkap dua ata tiga karbon-karbon.

Cara yang mudah untuk melihat proses redoks adalah, reduktor mentransfer elektronnya ke oksidator. Sehingga dalam reaksi, reduktor melepaskan elektron dan teroksidasi, dan oksidator mendapatkan elektron dan tereduksi. Pasangan oksidator dan reduktor yang terlibat dalam sebuah reaksi disebut sebagai pasangan redoks(http://id.wikipedia.org/wiki/Redoks).

Formaldehid

Formaldehid termasuk aldehida yang dibuat dengan mereaksikan uap alkohol dan udara dengan katalis tembaga yang dipanaskan. Aldehida merupakan senyawa turunan alkana yang mengandung gugus aldehida dengan rumus umum

Sifat-sifat aldehid : senyawa-senyawa aldehid dengan C atom rendah (1-5) larut dalam air, sedangkan yang memiliki jumlah atom C lebih besar dari 5 sukar larut dalam air.



e. Alat dan Bahan :


No

Alat dan Bahan

Ukuran/Satuan

Jumlah


1

Tabung rekasi dan rak

-

3/1


2

Pipet tetes

Panjang

8


3

Larutan KMnO4

0.1 M

5ml


4

Larutan Asam oksalat

0,1 M

5ml


5

Larutan formaldehid

5%

5ml


6

Larutan Na2S2O3

0,1 M

5ml


7

Larutan I2

0,1M

5ml


8

Larutan AgNO3

0,1 M

5ml


9

Larutan Amonia

1 M

5ml


10

Larutan H2SO4

4 M

5ml


11

Larutan Kanji

-

5ml


f. Prosedur Kerja :

1. Masukkan kira-kira 3 mL larutan asam oksalat 0,1 M ke dalam sebuah tabung reaksi, tambahkan kira-kira 3 mL asam sulfat 4 M. Kemudian tambahkan 1 tetes larutan KMNO4. Aduk campuran itu dengan menggunakan tabung. Tunggu sampai terjadi perubahan warna, kemudian tambahkan lagi 1 tetes larutan KMNO4. Lanjutkan sampai penetesan larutan KMNO4 sampai tidak terjadi lagi perubahan warna.

2. Masukkan kira-kira 3 mL larutan AGNO4 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Tetesi larutan itu dengan larutan NH3 1 M tetes demi tetes sampai endapan yang mula-mula terbentuk larut kembali. Kemudian tambahkan kira-kira 1 mL larutan formalin 5%. Aduk campuran dengan mengguncangkan tabung kemudian diamkan. Catat pengamatan anda.

3. Masukkan kira-kira 3 mL larutan Na2S2O3 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Tambahkan 2 tetes larutan kanji, kemudian tetesi dengan larutan Iodin tetes demi tetes hingga campuran berwarna biru-ungu. (Warna biru-ungu menunjukkan bahwa Na2S2O3 telah habis bereaksi).



g. Data Hasil Pengamatan dan Dokumentasi Foto :

1. Warna larutan H2C2O4 + Larutan H2SO4 : Kuning bening

Warna larutan KMNO4 : Ungu

Warna larutan H2C2O4 + H2SO4 setelah ditetesi larutan KMnO4 : pink bening



2. Warna AgNO3 : Bening

Warna larutan AgNO3 setelah ditetesi larutan NH3 : Bening

Warna larutan AgNO3 + larutan NH3 setelah dicampur dengan larutan formaldehida : perak



3. Warna larutan Na2S2O3 : bening

Warna larutan Na2S2O3 + larutan kanji setelah ditetesi dengan larutan I2 : Biru keunguan

Foto hasil Pengamatan

a

larutan Na2S2O3 + larutan kanji

setelah ditetesi dengan larutan I2

dilihat dari depan





b

larutan Na2S2O3 + larutan kanji

setelah ditetesi dengan larutan I2

dilihat dari samping



D

larutan H2C2O4 + H2SO4 setelah ditetesi larutan KMnO4





C

larutan AgNo3 + larutan NH3 setelah dicampur dengan larutan formaldehida


h. Analisa Hasil Pengamatan :

1. Tabung Pertama

Pada saat H2C2O4 dicampurkan dengan H2SO4 terjadi beberapa perubahan, yaitu perubahan warna dan perubahan suhu. Warna larutan tersebut menjadi kuning bening. Sedangkan suhu larutan menjadi lebih tinggi dibandingkan suhu larutan awal. Hal ini menandakan adanya pelepasan kalor ke lingkungan. Saat campuran kedua larutan tersebut ditambahkan KMnO4 yang berwarna ungu, warna larutan menjadi pink bening. Hal ini menunjukkan bahwa KMNO4 habis bereaksi. Reaksi pada tabung pertama ini berlangsung dalam suasana asam.

2. Tabung Kedua

Tabung kedua berisi campuran larutan AgNO3, larutan NH3, dan larutan formaldehida. Pada awalnya, larutan AgNO3 berwarna bening. Namun, setelah ditetesi larutan NH3 yang berwarna bening sampai endapan yang mulanya terbentuk menjadi larut, warnanya menjadi bening kembali. Setelah ditambahkan 5% formaldehid (merupakan senyawa Aldehid) dan diaduk menjadi satu dan didiamkan beberapa saat, akan muncul endapan cermin yang berwarna perak mengkilap pada dinding tabung, Hal ini disebabkan formaldehid mereduksi perak pereaksi.

3. Tabung Ketiga

Reaksi pada tabung ketiga berlangsung dalam suasana netral. Persamaan reaksi pada tabung ketiga dapat dituliskan sebagai berikut.

2 Na2S2O3 (aq) + I2 (aq) → Na2S4O6 (aq) + 2 NaI (aq)

Dalam tabung ketiga terisi Na2S2O3 yang warnanya bening. Tabungketiga yang berisi Na2S2O3 ditambahkan larutan kanji lalu warna campuran tersebut akan menjadi putih keruh. Setelah itu, campuran tersebut ditetesi Iodin sampai warnanya menjadi biru keunguan. Hal ini menandakan Na2S2O3 telah habis bereaksi.



i. Jawaban Pertanyaan dari Lembar Kerja :

1. Tuliskan persamaan reaksi setara untuk reaksi pada percobaan 1, 2, dan 3.

Jawab:

· Persamaan reaksi setara untuk reaksi percobaan 1

2 KMnO4 (aq) + 3 H2SO4 (aq) + 5 H2C2O3 (aq) → 2 MnSO4 (aq) + K2SO4 (aq) + 10CO2(g)

+1 +7 -2 +1+6 -2 +1 +6 -2 +1 +7 -2 +1 +6 -2 +4 -2





Reduksi : MnO4-­(aq) + 8H+(aq) + 5e → Mn2+(aq) + 4H2O(l) ║x 2

Oksidasi : C2O43-(aq) → 2CO2 (g) + 2e ║x 5

Reduksi : 2MnO4-­(aq) + 16H+(aq) + 10e → 2Mn2+(aq) + 8H2O(l)

Oksidasi : 5C2O43-(aq) → 10CO2 (g) + 10e

2MnO4-­(aq) + 5C2O43-(aq) + 16H+(aq) → 2Mn2+(aq) + 10CO2 (g) + 8H2O(l)

* reaksi berlangsung dalam suasana asam

Jadi, persamaan reaksi setara untuk reaksi percobaan 1: 2KMnO4 (aq) + 3 H2SO4 (aq) + 5 H2C2O3 (aq)→ 2 MnSO4 (aq) + K2SO4 (aq) + 10CO2(g) + 8H2O(l)



· Persamaan reaksi setara untuk reaksi percobaan 2

2Ag(NH3)2OH(aq) + HCOH(aq) → HCOOH(aq) + 2Ag(s) + NH3­(aq) + H2O(l)

+1 -3 +1 -2 +1 +1 0 +1 -2 +1 +3 -2 -2 +1 0 -3 +1 +1 -2





Reduksi : 2Ag+(aq) + 2e → 2Ag (s)

Oksidasi : HCHO(aq) + 2OH-(aq) → HCOOH(aq) + H2O(l) + 2e

2Ag+(aq) + HCHO(aq) + 2OH-(aq) → HCOOH(aq) + 2Ag (s)+ H2O(l)

4NH3 4NH3

2Ag(NH3)2OH(aq) + HCOH(aq) → HCOOH(aq) + 2Ag(s) + 4NH3­(aq) + H2O(l)

* reaksi berlangsung dalam suasana basa



· Persamaan reaksi setara untuk reaksi percobaan 3

2 Na2S2O3 (aq) + I2 (aq) → Na2S4O6 (aq) + 2 NaI (aq)






reduksi

+1 +2 -2 0 +1 -2 +1 -1







Oksidasi : 2S2O3-(aq) → S4O62-(aq) + 2e

Reduksi : I2 (aq) + 2e → 2I-­(aq)

2S2O3-(aq) + I2 (aq) → S4O62-(aq) + 2I-­(aq)

Jadi, persamaan reaksi setara untuk reaksi percobaan 3 :

2 Na2S2O3 (aq) + I2 (aq) → Na2S4O6 (aq) + 2 NaI (aq)

Dalam reaksi ini, tidak ada penambahan H+ maupun OH-, maka reaksi dalam keadaan netral.



2. Buatlah kesimpulan dari percobaan anda!

v Pada tabung pertama (Larutan H2C2O4 + larutan H2SO4 + larutan KMnO4)

2 KMnO4 (aq) + 3 H2SO4 (aq) + 5 H2C2O3 (aq) → 2 MnSO4 (aq) + K2SO4 (aq) + 10CO2 (g) 8H2O(l)

Dalam reaksi ini, dalam suasana asam. Pada suasana asam, ditambahkan molekul H2O pada ruas yang kekurangan Oksigen, di sisi lain ditambahkan H+ untuk menyetarakan jumlah +1 juga disetarakanjumlah elektronnya.



v Pada tabung kedua (larutan AgNO3 + larutan NH3 + larutan formaldehida)

Ag2O(s) + 4 NH3 (aq) + H2O(l) → 2 {Ag(NH3)2} OH(aq)

2Ag(NH3)2OH(aq) + HCOH(aq) → HCOOH(aq) + 2Ag(s) + 4NH3­(aq) + H2O(l)

2AgNO3(aq) + 2NH4OH(aq) → Ag2O(s) + H2O(l) + 2NH4NO3(aq)

Dalam reaksi ini, dalam suasana basa. Pada suasana basa, ditambahkan molekul H2O pada ruas yang kelebihan atom O. Sisi lain ditambahkan OH- untuk menyetarakan jumlah ditambahkan H+.



v Pada tabung ketiga (larutan Na2S2O3 + larutan kanji + larutan I2)

2 Na2S2O3 (aq) + I2 (aq) → Na2S4O6 (aq) + 2 NaI (aq)

Dalam reaksi ini, dalam suasana netral sehinggatidak perlu ditambahkan H+ atau OH-dan H2O.



j. Kesimpulan :

Dari percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :

1. Reaksi yang terjadi di dalam tabung pertama berlangsung dalam suasana asam. Pada suasana asam, ditambahkan molekul H2O pada ruas yang kekurangan Oksigen, di sisi lain ditambahkan H+ untuk menyetarakan jumlah +1 juga disetarakanjumlah elektronnya.

2. Reaksi pada tabung ketigas berlangsung dalam suasana basa. Pada suasana basa, ditambahkan molekul H2O pada ruas yang kelebihan atom O. Sisi lain ditambahkan OH- untuk menyetarakan jumlah ditambahkan H+.

3. Dalam reaksi ini, dalam suasana netral sehingga tidak perlu ditambahkan H+ atau OH-dan H2O.

sumber :

http://aatunhalu.wordpress.com/2008/12/06/laporan-praktikum/

http://id.wikipedia.org/wiki/Redoks

http://thikachacham.blogspot.com/2011/09/laporan-praktikum-mengenai-reaksi.html

Thursday, September 19, 2013

I have to my mind

I have to my mind
I have to my said
I'm get to the good everything. If wanna come to inpest to my place America, Europe, and everything Japanese and Asia. I'm ready for the derrrww, I wanna give to the fresh and glory to my people. It is Indonesia satu Karang Asih yang maju cerdas dan berakidah."

Laporan Praktikum Rangkaian Listrik

Laporan Praktikum Rangkaian Listrik


PRAKTIKUM RANGKAIAN LISTRIK
TUGAS LAPORAN RL-3



Nama : SLAMET PRANOTO
No. Pokok : 07224003





JURUSAN TEKNIK ELEKTRO S1
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT SAINTS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2010


LAPORAN PENDAHULUAN RL -3
KAPASITOR DAN INDUKTOR


I Apa yang saudara ketahui tentang:
1. Kapasitor adalah komponen elektronika yang bersifat mengalirkan arus AC dan menghambat arus DC yang didalamnya terdapat sepasang elektroda yang dipisahkan bahan insulator dan dapat menyimpan muatan listrik.
2. Induktor adalah komponen yang bersifat mengalirkan arus DC dan menahan arus AC juga berupa konduktor yang berupa lilitan.
3. Kapasitansi adalah kemampuan kapasitor untuk menyimpan energi listrik.
4. Induktansi merupakan suatu akibat dari muatn listrik yang mengalir melalui lilitan/ inductor sehingga menimbulkan medan magnet, karena adanya medan magnet maka akan timbul induksi magnet.
5. Resistansi adalah batas kemampuan suatu resistor untuk menahan atau menghambat muatan listrik
6. Impedansi adalah suatu harga yang menunjukan besaran antara tahanan rugi (nyata) dan tahanan imajiner didalam rangakian R,L,C
Z=R+JX J=√-X X=XL dan XC

II Jelaskan proses pengisian (charging) dan pelepasan (discharging) dari kapasitor, sertakan dengan gambar!
Jawab:
Proses pengisian bila polaritas positif kondensator dihubungkan dengan positif tegangan dan polaritas negative kondensator dihubungkan dengan negative tegangan maka kondensator akan mengalami pengisian yang memerlukan waktu. Kapasitor dihubungkan pararel dengan sumber tegangan. Proses pelepasan bisa dilakukan dengan menghubungkan singkat kedua kaki kondensator. Pada proses pelepasan juga memerlukan waktu (sumber tegangan).
(Gambar terlampir)



III Apa yang dimaksud dengan konstanta waktu (Time Constanta), berikan contoh perhitungan dan pemakaiannya!
Jawab:
Konstanta waktu adalah hambatan yang ada dalam kapasitor dikali dengan kapasitansinya.
Pemakaiannya: bila kondensator dihubungkan pararel dengan sumber tegangan DC maka muatan pada C tidak langsung terisi.
(t) = R . C (detik)

IV Apa yang saudara ketahui tentang Resonansi?
Jawab:
Resonansi adalah banyaknya frekuensi/getaran per detik. Resonansi dapat terjadi bila suatu rangkaian RLC terjadi suatu impedansi XL=XC dan dapat dihitung dengan rumus:

Didalam bentuk komponen resonansi dibagi 2 yaitu :
  1. Resonansi seri = Resonansi tegangan
  2. Resonansi pararel
V Tuliskan rumus Resonansi:
Bukti
EL = Ec ; iL = iC sehingga ∂ = R

maka: XL = Xc

ωL = ωC

VI Bagaimana bentuk gelombang keluaran dari sinyal sinusoidal dan persegi bila melalui :
a. Resistor ( R )
b. Kapasitor ( C )
c. Induktor ( L )


Persegi
Sinusoidal
Resistor ( R )


Kapasitor ( C )

Induktor ( L )













RL3
KAPASITOR DAN INDUKTOR


I. Maksud dan Tujuan Percobaan
1. Menyelidiki sifat-sifat dan konstanta waktu (time constant) pada inductor dan konduktor
2. Mempelajari karakteristik inductor dan capasitor dalam rangkaian arus
bolak-balik
3. Menyelidiki sifat-sifat dari keadaan resonansi

II. Alat-alat Percobaan
  1. Modul percobaan kapasitor dan inductor
  2. Generator fungsi
  3. Osiloskop
  4. Catu daya
  5. 2 buah Multi meter
  6. Kabel penghubung 12 buah
  7. Stopwatch

III. Teori singkat
  1. KAPASITOR

Kapasitor secara fisik merupakan sepasang konduktor atau elektroda yang ditengah-tengahnya dipisahkan oleh bahan dialektrik (insulator) dimana muatannya dapat disimpan (proses charging) dan dilepaskan (proses discharging) symbol dari kapasitor adalah :


Keluaran dari kapasitor adalah kapasitor yang didefenisikan sebagai perbandingan muatan Q dengan perbedaan tegangan Vab antara penghantar/elektrodanya.Secara matematis dapat ditulis dengan rumus:

Satuan dari kapasitansi adalah Farad (F), sedangkan konstanta waktu kapasitas;

(t) = R.C (detik)

Cara menghubungkan kapasitor adalah:
a. Dengan cara seri

C1 C2
Kapasintansi total:

b. Dengan cara pararel adalah :
Kapasitansi total = Cp = C1 = C2

Rangkaiaan kapasitif RC bila dialiri arus bolak-balik dengan gelombang sinusoidal, maka keluarannya akan menghasilkan bentuk gelombang sinusoidal pula dengan frekuensi yang sama.
Apabila ada dua buah gelombang sinusoidal mencapai harga puncak pada waktu yang bersamaan, maka kedua buah gelombang tersebut dikatakan sefase.Tetapi bila tidak dalam waktu yang bersamaan maka kedua buah gelombang tersebut berbeda fase sebesar O dengan satuan radian,secara matematis rumus persamaan dua gelombang diatas adalah :
dan

B. INDUKTOR
Induktor secara fisik terdiri dari bahan-bahan yang bersifat magnetic, sebagai inti dan dililit dengan penghantar, sehingga dapat menghasilkan proses induktansi. Bila lilitan dialiri oleh arus bolak-balik maka akan menghasilkan suatu medan magnet.Karena ada medan magnet maka akan timbul induksi medan magnetic berupa daya (emf) yang sifatnya berlawanan dengan medan magnet penyebabnya, secara matematis dapat dituliskan dengan rumus (emf) adalah :


Tanda negatif secaara fisik menunjukan bahwa (emf) yang ditimbulkan berlawanan arahnya dengan arus.

Cara menghubungkan Induktor:

a. Hubungan seri

L total: L1 + L2

b. Hubungan pararel
L total =

Satuan induktansi adalah henry (H).
Konstanta waktu induktif (detik).
Impedansi dalm rangkaiaan arus bolak-balik terdiri dari resistansi atau reaktansi atau gabungan antara keduanya
Reaktansi beban induktif :
Reaktansi beban kapasitif :

Perhitungan tegangan
Perhitungan tegangan dengan diagram phasor dapat dijabarkan sebagai berikut :
Vz = I . Z
Vx = I . X
Vr = I . R
Untuk Tegangan kapasitif Vc = I . Xc
Tegangan Induktif VL = I . XL
Seperti terlihat pada gambar dibawah ini,tegangan total V merupakan selisih antara tegangan VL dan Vc.

Di dalam diagram phasor telah dinyatakan bahwa :
Tegangan VL mendahului I (leading) sebesar 90o.
Sedangkan beda phase antara VL dan Vc adalah 180o.


RESONANSI
Resonansi terjadi bila didalam suatu rangkaian RLC terjadi impedansi XL = Xc. Dengan frekuensi resonansi dapat dihitung dengan mempergunakan rumus :

Pada saat resonansi, terjadi factor Q yang merupakan perbandingan antara tegangan induktor dengan tegangan masukan. Karena arus I yang mengalir sama maka secara matemati dapatdapt ditulis :
Faktor Q =

Pada saat: f1 > f0 atau f2 < f0, maka factor Q dipengaruhi oleh reaktansi Kapasitif, sehingga secara matematis dapat ditulis:


Dengan demikian secara garis lurus dapat dibuat gambaran dalam bentuk kurva adalah :

VL







fo
f1 BW f2


Untuk hubungan seri antara inductor dan kapasitor dapat kita buat diagram phasornya :



IL

IC





IR


IR


2IR









U

ntuk hubungan Paralel LC diagram fasornya :

IC


I

IL

V











IV. Jalannya percobaan
  1. Kapasitansi

  1. Buat rangkaian seperti gambar C1.1, atur suplai tegangan variabel arus sebesar 10 Volt.
  2. Naikkan posisi saklar, catat tegangan saat proses pengisian (charging) dalam selang waktu t = 0 detik sampai t = 60 detik (ditentukan asisten).
















Gambar C1.1

  1. Ubah posisi sakelar ke bawah, amati proses pembuangan (discharging) pada voltmeter catat besar tegangan yang terjadi dalam selang waktu t = 0 detik sampai t = 60 detik.





  1. Hubungan Seri dan Paralel Kapasitas

  1. Buat rangkaian seperti gambar C2.1.











Gambar C2.1

  1. Atur generator fungsi pada frekuensi 200 Hz dan amplitudo tegangan 5 volt-ptp, (bentuk gelombang persegi).


  1. Amati bentuk gelombang yang terjadi pada osiloskop dan gambarkan pada kertas milimeter blok, hitung konstanta waktunya.
  2. Ubah frekuensi generator menjadi 20 Hz, dengan mengunakan resistor 10 kΩ. Gambarkan bentuk gelombangnya pada milimeter blok, hitung konstanta waktunya.


  1. Induktansi

  1. Buat rangkaian seperti gambar C3.1.











Gambar C3.1

  1. Atur fungsi generator menjadi gelombang persegi 100 H, amplitudo 5 volt-ptp (probe Y1)
  2. Amati gelombang arus pada probe Y2.
  3. Gambarkan hasil pengamatan pada milimeter blok, dan hitung konstanta waktunya.


  1. Kapasitansi Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik.

  1. Buat rangkaian separti gambar C4.1.













Gambar C4.1



  1. Atur fungsi generator pada gelombang sinusoidal dengan frekuensi 400 Hz, Amplitudo keluaran harus tetap sebesar 5 volt-ptp.
  2. Catat besar arus yang terjadi (probe Y2), amati dan gambar bentuk gelombang arus (Y2) dan tegangan (Y1-ptp).
  3. Ulangi pengamatan untuk frekuensi 10 kHz,dengan tegangan keluaran diatur tetap 5 volt-ptp. Catat besar serta gambarkan bentuk gelombang arus dan tegangan.
  4. Atur kembali fungsi generator menjadi 400 Hz, lepaskan hubungan resistor 1 kΩ dan hubungkan dengan kapasitor 100 nF. Catat besar serta gambarkan bentuk gelombang arus dan tegangan.
Ulangi percobaan untuk frekuensi 4 kHz.












V. Tabel pengamatan
A. KAPASITANSI
Waktu (detik)
Beda Potensial Kapasitor
Pengisian
Pengosongan
0
0
10
5
4
9,0
10
6
8,0
20
8
4,0
25
8,8
1,8
30
9
1,0
40
9.2
0,6
50
9.4
0,5
60
9.4
0,4


B. KAPASITANSI DALAM RANGKAIAN ARUS BOLAK-BALIK














  1. INDUKTANSI
  1. f = 100 Hz ; V = 5 Vptp

  1. f = 100 Hz ; V = 5 Vptp
L = 1 H ; L = 700 mH Hubungan seri











  1. f = 100 Hz ; V = 5 Vptp
L = 1 H ; L = 700 mH Hubungan pararel



  1. KAPASITANSI DALAM RANGKAIAN ARUS BOLAK-BALIK
  1. f = 400 Hz ; V = 5 Vptp





  1. f = 10 KHz ; V = 5 Vptp
  1. f = 400 Hz ; R = 1 KΩ ; C = 100 nF
  1. f = 4 KHz ; R = 1 KΩ ; C = 100 nF


VI. Tugas laporan
A. Kapasitansi
1. Apa yang terjadi pada langkah 2 dan 3 pada percobaan kapasitor ini ? Mengapa demikian, beri penjelasan!
Jawab:
* Pada saat proses pengisian (charging), voltmeter mengalami kenaikan dimulai dari angka nol, kenaikan angka ini menunjukan besar nilai tegangan yang mungkin meningkat yang disebabkan kapasitor menyimpan muatan selama selang waktu / periode 0-60 detik. Karena proses menyimpan muatan ini, maka tegangan bertambah besar nilainya sebanding dengan besarnya muatan yang disimpan oleh kapasitor. Oleh karena itu voltmeter menunjukan besar angka yang berubah dan semakin meningkat besar nilai angkanya.

* Pada saat proses pelepasan (discharging), voltmeter mengalami penurunan angka dimulai dari 9,4 volt. Penurunan angka ini menunjukan besar nilai tegangan yag semakin kecil yang disebabkan kapasitor membuang atau melepaskan muatan listrik selama selang waktu periode 0-60 detik. Karena proses pelepasan muatan ini maka tegangan semakin kecil nilainya, yang sebanding dengan jumlah muatan yang tersimpan didalam kapasitor tersebut. Oleh karena itu voltmeter menunjukan angka yang berubah dan semakin kecil.

2. Gambarkan grafik pengisian dan pelepasan dari hasil percobaan ini, beri
penjelasan!
Jawab:
Grafik pengisian menunjukan kenaikan tegangan sehubungan dengan kapasitor yang menyimpan muatan listrik. Grafik garis linier yang semakin meningkat yang menunujukan naiknya nilai tegangan seiring kenikan periode waktu tersebut
Grafik penurunan atau pelepasan menunjukan penurunan garis sebagai akibat dari tegangan yang semakin menurun karena pelepasan muatan listrik oleh kapasitor sehingga tegangan semakin menurun untuk waktu yang semakin meningkat.
Jika kedua grafik ini digabungkan akan membentuk suatu grafik yang mempunyai interval pengisian dan pelepasan yang berulang-ulang yang merupakan ciri khas dan sifat kapasitor itu sendiri dalam menyimpan dan melepaskan muatan listrik.









  • Grafik Pengisian :
















  • Grafik Pembuangan













B. HUBUNGAN SERI PARALEL KAPASITANSI
3. Pada langkah 3 percobaan B, gambarkan bentuk gelombang pada kapasitor.
Jawab :
4. Hitung besar C dengan mempergunakan rumus , R = resistansi dari rangkaian. Bandingkan dengan harga kapasitor yang sebenarnya, beri kesimpulan.
Jawab :
Dari gambar hasil percobaan B langkah 4
R = 10 k = 10
Time/div = 5
Div = 5.8
= 29 detik
Ditanya : C
Penyelesaian : = RC
29 = 10.C
C = = 2.9 mF

5. a. Hitung dari langkah nomor 4
Jawab :
R = 10 k = 10
C = 2.9 mF = 2.9 x 10 F
Ditanya :
Penyelasaian : = RC
= 10. 2.9 x 10
= 2.9 detik

b. Hitung untuk seri dan parallel pada langkah nomor 5.
Jawab :
  • Seri :
R = 10 k = 10
C1 = 220 nF C2 = 100 nF
Ctotal = 68.75 nF = 68.75 x 10-9 F
= RC
= 10(68.75 x 10-9) = 0.6875 ms

  • Paralel :
R = 10 k = 10
C1 = 220 nF C2 = 100 nF
Ctotal = 320 nF = 320 x 10-9 F
= RC
= 10(320 x 10-9) = 3.2 ms


C. INDUKTANSI
6. Dari langkah nomor 4 tentukan -nya.
Jawab :
R = 1 k = 103
L = 700 mH = 0.7 H
= = = 0.7 ms



7. Hitung reaktansi induktif dari rangkaian seri dan parallel, bandingkan dengan hasil percobaan.
Jawab :
  • Seri :
L1 = 1 H L2 = 700 mH = 0.7 H
Ltotal = 1.7 H
f = 100 Hz
XL = 2fL
= 2 x 3.14 x 100 x 1.7
= 1067.6

  • Paralel :
L1 = 1 H L2 = 700 mH = 0.7 H
Ltotal = 0.41 H
f = 100 Hz
XL = 2fL
= 2 x 3.14 x 100 x 0.41 = 257.48

8. Pada langkah nomor 5 percobaan C, hitung .
Jawab :
  • Seri :
R = 1 k = 103
L1 = 1 H L2 = 700 mH = 0.7 H
Ltotal = 1.7 H
= = = 1.7 ms

  • Paralel :
R = 1 k = 103
L1 = 1 H L2 = 700 mH = 0.7 H
Ltotal = 0.41 H
= = = 0.41 ms

9. Apa akibatnya pada bila resistansi berkurang.
Jawab :
Jika resistansi semakin kecil maka nilai konstanta waktu semakin besar, begitu pula sebaliknya. Jika resistansi semakin besar maka nilai konstanta waktu semakin kecil.

D. Kapasitansi Dalam Rangkaian Arus Bolak-Balik
1. Berapa tegangan efektif (RMS) pada R = 1000 Ω dan berapa besar arus yang
mengalir.
Jawab:
Diketahui
R = 1000Ω
Vptp = 5Volt
Tentukan: - Vrms
    • I (arus)
Penyelesaian:
Vptp = 2Vmax
Vmax = 5/2 = 2,5
Vrms = =1,767 Volt

Vrms = Irms .R
Irms = = 1,767 mA
Imax = Irms . √2 = 1,767 . 10-3 . √2 . A = 2,5 mA

Jadi, didapat harga arus puncak positif Imax = 2,5 mA

2. Apakah amplitudo tegangan dan arus berubah bila frekuensi diubah-ubah? Beri penjelasan!
Jawab:
Amplitudo tegangan dan arus tidak akan berubah-ubah walaupun frekuensi diubah-ubah karena yang mempengaruhi besar kecilnya amplitudo tegangan dan arus adalah amplitude keluaran yang diberikan oleh fungsi generator, dalam percobaan ini diberikan amplitude keluaran yaitu 5Volt ptp. Sedangkan frekuensi hanya mempengaruhi periode waktu dari grafik yang ditampilkan dan tidak akan mempengaruhi amplitudo gelombang yang dihasilkan.

3. Berapa besar perbedaan dua buah phase antara dua buah gelombang yang muncul pada layar osiloskop
Jawab :
Perbedaan phase yang terjadi antara dua buah gelombang yang muncul pada osiloskop terjadi apabila dua buah gelombang sinusoidal mencapai harga puncak pada waktu yang bersamaan, maka kedua buah gelombang tersebut dikatakan sephase. Tetapi bila tidak dalam waktu yang bersamaan maka kedua buah gelombang tersebut berbeda phase sebesar ∂ dengan satuan radian, secara matematis dapat ditulis rumus persamaan kedua gelombang tersebut.


Perbedaan phase pada kedua gelombang arus dan tegangan pada saat frekuensi 400Hz adalah rad. Sedangkan pada kedua buah gelombang arus dan tegangan pada saat frekuensi 400Hz adalah rad.

4. Berapa beda phase antara gelombang tegangan dan arus dalam satuan
a.Derajat
b.Radian
Jawab:
Beda phase antara gelombang tegangan dan arus pada percobaan pertama adalah radian atau 90o.
Beda phase antara gelombang tegangan dan arus pada percobaan kedua adalah radian atau 45o.

5. Hitung reaktansi kapasitas dari C = 100 nF dengan frekuensi 400Hz dan 4000Hz. Serta bandingkan dengan hasil dari percobaan, beri penjelasan!
Jawab:
Diketahui
F1 = 400Hz
F2 = 4000Hz
C = 100 nF = 1 x 10-7 F
Ditanya
Xc1 = ?
Xc2 = ?
Penyelesaian:
Pada frekuensi 400Hz
Pada frekuensi 4000Hz

Besar reaktansi kapasitif pada saat frekuensi 400Hz memiliki nilai yang besar sehingga menghasilkan tegangan keluaran yang lebih kecil pada layar osiloskop. Bila dibandingkan dengan besar reaktansi kapasitif pada frekuensi 4000Hz yang memiliki nilai yang lebih besar bila dibandingkan dengan tegangan keluaran pada frekuensi 400Hz. Hal ini bisa dilihat dari grafik keluaran tegangan pada layar osiloskop yang memiliki tegangan ptp yang berbeda antara frekuensi 400Hz dengan frekuensi 4000Hz.

VII. Kesimpulan
Proses pengisian dan pelepasan pada kapasitor terjadi sebagai akibat muatan listrik yang disimpan dan dilepaskan oleh kapasitor,sehingga terjadi pertambahan nilai tegangan pada saat pengisian pada kapasitor tersebut selama selang waktu periodic tertntu dari 0s/d 60 detik.
Pada saat terjadi pelepasan muatan listirk terjadi pengurangan nilai tegangan yang dimulai angka 9.4 Volt. Pada saat percobaan kapasitansi dalam rangkaian arus bolak-balik frekuensi yang berubah-ubah tidak mempengaruhi amplitudo keluaran pada layer osiloskop,karena amplitude keluaran pada layer osiloskop dipengaruhi oleh amplitude tekanan yang telah diatur sebelumnya pada alat pungsi generator pada percobaan ini diberi tegangan sebesar 5 Voltptp.
Perbedaan phase terjadi bila dua buah gelombang arus dan tegangan tidak mencapai puncak secara bersamaan,besar phase ini bias dalam derajat ataupun dalam radian.Besar reaktansi kapasitif yang besar akan mengakibatkan tegangan keluaran yang kecil bila dibandingkan dengan reaktansi kapasitif yang menghasilkan tegangan keluaran yang besar.

sumber : http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCoQFjAA&url=http%3A%2F%2Fxa.yimg.com%2Fkq%2Fgroups%2F23885857%2F558104159%2Fname%2FRL3.doc&ei=aeM7UsSnCca4rgeUs4GgCg&usg=AFQjCNHMuTy4BWD47ZK4wzNT_Yimd1D05Q&sig2=uUk6j_h_mizs7dben0BK3Q&bvm=bv.52434380,d.bmk