Tuesday, August 27, 2013

Hubungan Krisis Politik dengan Jatuhnya Orde Baru

Hubungan Krisis Politik dengan Jatuhnya Orde Baru



Era Orde baru Indonesia berlangsung selama 32 tahun (1966-1998) di bawah Presiden Suharto, dan berakhir dengan jatuhnya orde baru yang mana krisis multidimensional mencapai puncaknya . Dalam era orde baru, Indonesia tidak dapat mewujudkan kehidupan masyarakat yang demokratis, adil, dan terbuka.

Jatuhnya Orde Baru oleh gerakan reformasi sebenarnya adalah sebagai reaksi terhadap krisis multidimensional seperti krisis ekonomi, sosial, dan politik yang diakibatkan karena berbagai sebab yang kompleks, termasuk membengkaknya pemusatan kekuasaan eksekutif, tuntutan demokratisasi , hutang luar negeri, kredit perbankan yang tidak terkendali, merajalelanya korupsi-kolusi nepotisme (KKN), ekonomi biaya tinggi, konglomerasi. Selain itu terdapat semangat privatisasi, liberalisasi, ekonomi pasar, dan makin tingginya kesadaran akan hak asasi manusia.

Pada masa orde baru, kehidupan politik sangat represif. Yang ditandai dengan :


Setiap orang atau kelompok yang mengkritik kebijakan pemerintah dituduh sebagai tindakan subversive (menentang NKRI dan anti pancasila). Hal itulah yang kemudian menghasilkan wacana-wacana, kebijakan-kebijakan, dan praktek-praktek politik diskriminatif terhadap warga negara sehingga hak-hak asasi mereka terabaikan.


Pelaksanaan 5 paket UU politik yang melahirkan demokrasi semu. Juga Kebijakan pengkaplingan politik terhadap kelompok-kelompok masyarakat baik pada tataran simbolik maupun pragmatik, sebagai alat kontrol selain korporatisasi pada tataran kelembagaan.


Terjadinya KKN yang merajalela. Karena masyarakat tidak dapat sama sekali mengontrolnya, banyak pejabat orde baru yang terlibat di dalamnya. Selain itu, juga ada rekayasa dalam pemilu tahun 1997. Kedaulatan yang seharusnya berada di tangan rakyat malah berada di kelompok tertentu. Anggota MPR pun juga direkayasa, sehingga sebagian besar anggota MPR diangkat berdasar ikatan kekeluargaan (Nepotisme) . Hilanglah sebagian kepercayaan masyarakat pada masa itu.


Pelaksanaan Dwi-Fungsi ABRI (stabilisator dan dinamosator )yang memasung kebebasan setiap warga sipil untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.


Terciptanya pemusatan dan masa kekuasaan presiden yang tidak terbatas.

Pemerintahan orde dianggap sangat otoriter, tertutup dan sewenang wenang. Manakala struktur politik mulai merapuh atau mengalami krisis, juga deprivasi dalam masyarakat telah memuncak, terjadilah letupan-letupan sosial yang berdampak politik dan membawa keluar segala keburukan serta kebobrokan yang disimpannya. Yang kemudian disusul dengan tekanan demonstrasi dari mahasiswa dan para intelektual sampai jatuhnya masa Orde Baru pada tahun 1998.

Namun di samping semua kegagalan itu, pak Suharto adalah salah satu tokoh yang berjasa dalam penumpasa PKI dan antek anteknya. Dan para mahasiswa dan kelompok kelompok yang “didanai” untuk menjatuhkan pak Harto telah menggantinya dengan masa reformasi. Namun apakah yang didapat dari reformasi ?Justru demokrasi masa sekarang jauh dari yang diharapkan. Melahirkan oknum oknum yang semau gue. Pemerintahan Orde baru selama 32 tahun (1966-1998) di bawah Presiden Suharto juga telah membawa kemajuan ekonomi ekonomi yang luar biasa, sehingga Indonesia disebut sebagai salah satu bukti keajaiban Asia.







Sumber :

http://kavie-design.blogspot.com/2010/12/runtuhnya-orde-baru.html

https://www.facebook.com/komitepusatspbi/posts/502675699759874

Buku Platinum Sejarah

1 comments:

  1. Order baru berakhir dan era reformasi datang, semoga ke depan semua semakin baik, komentar juga ya ke blog saya www.goocap.com

    ReplyDelete