Saturday, August 17, 2013

Jenis Jenis Menyimak

Jenis Jenis Menyimak

Menyimak ada berbagai macam jenis. Namun beberapa jenis tersebut dibedakan berdasarkan kriteria tertentu, yakni berdasarkan suber suara, berdasarkan bahan simak, dan berdasarkan pada titik pandang aktivitas menyimak

1) Berdasarkan Sumber Suara

Berdasarkan sumber suara yang disimak, dikenal dua jenis nama penyimak yaitu intrapersonal listening atau menyimak intrapribadi dan interpersonal listening atau menyimak antarpribadi.

Sumber suara yang disimak dapat berasal dari diri kita sendiri. Ini terjadi di saat kita menyendiri merenungkam nasib diri, menyesali perbuatan sendiri, atau berkata-kata dengan diri sendiri. Jenis menyimak yang seperti inilah yang disebut intrapersonal listening.

Sumber suara yang disimak dapat pula berasal dari luar diri penyimak. Menyimak yang seperti inilah yang paling banyak kita lakukan misalnya dalam percakapan, diskusi, seminar, dan sebagainya. Jenis menyimak yang seperti ini disebut interpersonal listening.

2) Berdasarkan Cara Penyimakan

Berdasarkan cara penyimakannya, menyimak dibagi menjadi dua ragam, yakni menyimak intensif dan menyimak ekstensif.


Menyimak intensif

Menyimak intensif adalah kegiatan menyimak dengan penuh perhatian, ketentuan dan ketelitian sehingga penyimak memahami secara mendalam. Dengan cara menyimak yang intensif, penyimak melakukan penyimakan dengan penuh perhatian, ketelitian, dan ketekunan, sehingga penyimak memahami secara luas bahan simakannya. Jenis menyimak seperti ini dibagi atas beberapa jenis, yaitu :


Menyimak kritis, bertujuan untuk memperoleh fakta yang diperlukan. Penyimak menilai gagasan, ide, informasi dari pembicara. Contoh: orang yang menghadiri seminar akan memberikan tanggapan terhadap isi seminar.


Menyimak introgatif, merupakan kegiatan menyimak yang menuntut konsentrasi dan selektivitas, pemusatan perhatian karena penyimak akan mengajukan pertanyaan setelah selesai menyimak. Contoh: seseorang yang diinterogasi oleh polisi karena telah melakukan kejahatan.


Menyimak penyelidikan, yakni sejenis menyimak dengan tujuan menemukan. Contoh: seorang yang masih diduga telah membunuh orang lain sedang diselidiki oleh polisi dengan mengutarakan beberapa pertanyaan yang harus di jawab. Maka polisi melakukan menyimak penyelidikan saat sang tersangka menjawab pertanyaannya.


Menyimak kreatif, mempunyai hubungan erat dengan imajinasi seseorang. Penyimak dapat menangkap makna yang terkandung dalam puisi dengan baik karena ia berimajinasi dan berapresiasi terhadap puisi itu.


Menyimak konsentratif, merupakan kegiatan untuk menelaah pembicaraan/hal yang disimaknya. Hal ini diperlukan konsentrasi penuh dari penyimak agar ide dari pembicara dapat diterima dengan baik. Contoh: saat mahasiswa melaksanakan tes toefl sesi listening, ia melakukan simak konsentratif agar dapat memahami maksud sang pembicara dengan tepat.


Menyimak selektif, yakni kegiatan menyimak yang dilakukan dengan menampung aspirasi dari penutur / pembicara dengan menyeleksi dan membandingkan hasil simakan dengan hal yang relevan. Contoh: menyimak acara televisi dan memilah-milah mana yang boleh ditonton oleh anak kecil dan mana yang dilarang.


Menyimak ekstensif

adalah proses menyimak yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti: menyimak radio, televisi, percakapan orang di pasar, pengumuman, dan sebagainya. Menyimak siperti ini sering pula diartikan sebagai kegiatan menyimak yang berhubungan dengan hal-hal yang umum dan bebas terhadap suatu bahasa. Dalam prosesnya di sekolah tidak perlu langsung di bawah bimbingan guru. Pelaksanaannya tidak terlalu dituntut untuk memahami isi bahan simakan. Bahan simakan perlu dipahami secara sepintas, umum, garis besarnya saja atau butir-butir yang penting saja. Jenis menyimak ekstensif dapat dibagi empat:


Menyimak sekunder, yakni sejenis mendengar secara kebetulan, maksudnya menyimak dilakukan sambil mengerjakan sesuatu.

Contoh : Ahmad sedang mencuci motor tanpa sadar ia mendengar Ibunya bercerita di teras dengan tetangganya.


Menyimak estetik, yakni penyimak duduk terpaku menikmati suatu pertunjukkan misalnya, lakon drama, cerita, puisi, baik secara langsung maupun melalui radio. Secara imajinatif penyimak ikut mengalami, merasakan karakter dari setiap pelaku.


Menyimak pasif, merupakan penyerapan suatu bahasa tanpa upaya sadar yang biasanya menandai upaya penyimak.

Contoh : Tukang Becak yang biasa mengantar turis secara tidak langsung pandai berkomunikasi menggunakan bahasa asing.


Menyimak sosial, berlangsung dalam situasi sosial, misalnya orang mengobrol, bercengkrama mengenai hal-hal menarik perhatian semua orang dan saling menyimak satu dengan yang lainnya, untuk merespon yang pantas, mengikuti bagian-bagian yang menarik dan memperlihatkan perhatian yang wajar terhadap apa yang dikemukakan atau dikatakan orang.

3) Berdasarkan Titik Pandang Aktivitas menyimak

Menyimak Berdasarkan pada titik pandang aktivitas penyimak dapat diklarifikasikan:


Kegiatan menyimak bertarap rendah

Kegiatan menyimak bertaraf rendah berupa penyimak baru sampai pada kegiatan memberikan dorongan, perhatian, dan menunjang pembicaraan. Biasanya aktivitas itu bersifat nonverbal seperti mengangguk-angguk, senyum, sikap tertib dan penuh perhatian atau melalui ucapan-ucapan pendek seperti benar, saya setuju, ya, ya dan sebagainya. Menyimak dalam taraf rendah ini dikenal dengan nama silent listening.

Contoh: siswa yang sedang mendengarkan penjelasan dari guru, yang hanya menunjukkan respon mengangguk, tersenyum, dan sebagainya.


Kegiatan menyimak bertaraf tinggi

Aktivitas menyimak yang bertaraf tinggi, penyimak sudah dapat mengutarakan kembali isi bahan simakan. Pengutaraan kembali isi bahan simakan menandakan bahwa penyimak sudah memahami isi bahan simakan. Jenis menyimak seperti ini disebut dengan nama active listening.

Contoh: setelah siswa menerima pembelajaran, secara bergantian siswa mengutarakan apa yang didapatnya pada hari itu.

4) Berdasarkan taraf hasil simakan

Berdasarkan taraf hasil simakan, terdpat beberapa ragam, antara lain:


Menyimak terpusat

Menyimak terpusat adlah menyimak suatu aba-aba atau perintah untuk mengetahui kapan harus ulai melaksanakan sesuatu yang diperintahkan.

Contoh: ketika belajar membuat kue, saya selalu mendengarkan intruksi dari ibu kapan saya harus memasukkan telur, kapan harus memengeluarkan adonan dari oven, dan sebagainya.


Menyimak untuk membandingkan

Penyimak menyimak pesan tersebut kemudian membandingkan isi pesan tersebut dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak yang relevan.

Contoh: kemarin sore, saya mendengarkan siaran berita yang memberitakan seorang siswa MAN yang kepergok membawa minuman kers ke sekolah. Setelah mendengar itu, saya kemudian membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan saya bahwa siswa MAN adalah siswa yang dikenal religi. Tapi hal ini berlawanan dengan berita yang saya dengarkan. Maka saya membandingkannya.


Menyimak organisasi materi

Yang dipentingkan oleh penyimak disini ialah mengetahui organisasi pikiran yang disampaikan pembaca, baik ide pokoknya maupun ide penunjangnya.

Contoh: saya mengikuti seminar proposal skripsi teman saya, berarti saya telah melakukan kegiatan menyimak organisasi materi karena saya tahu ide-ide yang disampaikannya.


Menyimak kritis

Menyimak kritis (critical listening) adalah sejenis kegiatan menyimak yang berupa untuk mencari kesalahan atau kekeliruan bahkan juga butir-butir yang baik dan berar dan ujaran seorang pembicara dengan alasan-alasan yang kuat yang kuat yang dapat diterima oleh akal sehat.

Contoh: ketika mangikuti seminar proposal skripsi, karena ada hal yang kurang bisa diterima dan dimengerti, maka saya meminta pada nara sumber untuk menjelaskan maksudnya.


Menyimak kreatif dan apresiatif

Menyimak kreatif (creative listening) adalah sejenis kegiatan dalam menyimak yang dapat mengakibatkan kesenangan rekonstruksi imajinatit para penyimak terhadap bunyi, penglihatan, gerakan, serta perasaan-perasaan kinestetik yang disarankan atau dirangsang oleh apa-apa yang disimaknya.

Contoh: suatu saat saya mendengarkan acara TV “hidup ini indah”. Setelah menyimak acara tersebut, saya jadi terinspirasi untuk menjadi seorang wirausaha sukses.

5) Berdasarkan tujuan menyimak

Ada enam macam ragam menyimak berdasarkan tujuan menyimak, yakni:


Menyimak sederhana

Menyimak sederhana terjadi dalam percakapan dengan teman atau percakapan melalui telepon.


Menyimak deskriminatif

Menyimak untuk membedakan suara atau perubahan suara.

Contoh: orang yang marah mengeluarkan nada suara yang berbeda dengan orang yang sedang bergembira.


Menyimak santai

Menyimak untuk tujuan kesenangan.

Contoh: menyimak film, drama, komedi, dan sebagainya.


Menyimak informatif

Menyimak untuk mencari informasi.

Contoh: menyimak siaran berita, menyimak pengumuman, dan sebagainya.


Menyimak literatur

Menyimak untuk mengorganisasikan gagasan.

Contoh: membahas hasil penemuan.


Menyimak kritis

Menyimak untuk menganalisis tujuan pembicara.

Contoh: dalam debat terbuka, ada dua pihak yang saling meminta kebenaran atas topik yang dibahas.

6) Berdasarkan tujuan khusus

Ada tujuh ragam menyimak berdasarkan tujuan khusus, yakni:


Menyimak untuk belajar

Melalui kegiatan menyimak seseorang mempelajari berbagai hal yang dibutuhkan. Contohnya: siswa yang menyimak penjelasan guru.


Menyimak untuk menghibur

Penyimak menyimak untuk menghibur dirinya. Contohnya: menyimak film, drama komedi, dan sebagainya.


Menyimak untuk menilai

Penyimak mendengarkan dan memahami isi simakan kemudian mengkaji, menguji, dan membandingkan dengan pengalaman dan pengetahuan penyimak. Contoh: menyimak fakta yang disiarkan di berita TV.


Menyimak apresiatif

Penyimak memahami, menghayati, mengapresiasi materi simakan. Contoh: menyimak pembacaan puisi, cerpen, drama, dsb.


Menyimak untuk mengomunikasikan ide dan perasaan

Penyimak memahami, merasakan gagasan, ide, dan perasaan pembicara. Contoh: orang yang sedang mendengarkan curahan hati sahabatnya.


Menyimak deskriminatif

Menyimak untuk membedakan suara atau bunyi. Contoh: perbedaan suara orang yang sedang bergembira dan orang yang sedang marah.


Menyimak pemecahan masalah

Penyimak mengikuti uraian pemecahan masalah secara kreatif dan analitis yang disampaikan oleh pembaca. Contoh: seorang psikolog yang mendengarkan keluhan pasiennya dan berusaha memberikan solusi terhadap masalah pasien tersebut.



Sumber

http://zoelfatas.blogspot.com/2009/01/ragam-menyimak.html

http://pramuka-achank.blogspot.com/2009/05/jenis-jenis-menyimak.html

http://affandy.ss.blog.plasa.com/2008/07/18/belajar-menyimak/

Strategi Metakognitif

Strategi Metakognitif


Apa itu Metakognitif?

Metacognitionis an important concept in cognitive theory. It consists of two basic processes occurring simultaneously, monitoring your progress as you learn, and making
changes and adapting your strategies if you perceive you are not doing so
well. (Winn, W. &Snyder, D., 1998) It’s about self-reflection, self-responsibility and
initiative, as well as goal setting and time management.

“Metacognitive skills includetaking conscious control of learning, planning and selecting strategies, monitoring the progress of learning, correcting errors, analyzing the
effectiveness of learning strategies, and changing learning behaviors and
strategies when necessary.” (Ridley, D.S.,Schutz, P.A., Glanz, R.S. & Weinstein, C.E., 1992)

Intinya, metakognitif adalah kesadaran berpikir tentang apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui. Dalam konteks pembelajaran, siswa mengetahui bagaimana untuk belajar, mengetahui kemampuan dan modalitas belajar yang dimiliki, dan mengetahui strategi belajar terbaik untuk belajar efektif.

Strategi Metakognitif untuk Kesuksesan Belajar

Untuk mendapatkan kesuksesan belajar yang luar biasa, guru harus melatih siswa untuk merancang apa yang hendak dipelajari, memantau kemajuan belajar siswa, dan menilai apa yang telah dipelajari. Ada 3 strategi metakognitif yang dapat dikembangkan untuk meraih kesuksesan belajar siswa, diantaranya:


Tahap proses sadar belajar, meliputi proses
untuk menetapkan tujuan belajar, mempertimbangkan sumber belajar yang akan dan dapat diakses (contoh: menggunakan buku teks, mencari buku sumber di perpustakaan, mengakses internet di lab. komputer, atau belajar di tempat sunyi), menentukan bagaimana kinerja terbaik siswa akan dievaluasi, mempertimbangkan tingkat motivasi belajar, menentukan tingkat kesulitan belajar siswa.

Tahap merencanakan belajar, meliputi proses memperkirakan waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas belajar, merencanakan waktu belajar dalam bentuk jadwal serta menentukan skala prioritas dalam belajar, mengorganisasikan materi pelajaran, mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk belajar dengan menggunakan berbagai strategi belajar (outlining, mind mapping, speed reading, dan strategi belajar lainnya).

Tahap monitoring dan refleksi belajar, meliputi proses merefleksikan proses belajar, memantau proses belajar melalui pertanyaan dan tes diri (self-testing, seperti mengajukan pertanyaan, apakah materi ini bermakna dan bermanfaat bagi saya?, bagaimana pengetahuan pada materi ini dapat saya kuasai?, mengapa saya mudah/sukar menguasai materi ini?), menjaga konsentrasi dan motivasi tinggi dalam belajar.

Dalam praktik mengajar di kelas, guru direkomendasikan untuk memberikan kesempatan luas kepada siswa untuk saling berdiskusi dan bertukar ide-pengalaman dalam belajar. Harapannya, setiap individu siswa dapat menilai kemampuan diri mereka masing-masing dalam belajar, setiap siswa dapat menentukan kesuksesan belajar dengan menggunakan gaya belajar mereka sendiri, dan yang paling penting, setiap siswa dapat belajar
efektif dengan memberdayakan modalitas belajar dirinya sendiri yang unik dan tak terbandingkan.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan, catat setiap pengalaman belajar yang siswa kerjakan. Siswa perlu dibiasakan membuat jurnal harian dari setiap pengalaman belajar yang dialaminya. Jurnal ini akan sangat membantu siswa dalam menterjemahkan setiap pikiran dan sikap mereka dalam berbagai bentuk (simbol, grafik, gambar, cerita), melihat kembali persepsi awal mereka tentang sesuatu dan membandingkannya dengan keputusan baru yang mereka buat, menjelaskan proses pemikiran mereka tentang strategi dan cara membuat keputusan dalam kegiatan pembelajaran, mereka akan mengenal pasti kelemahan dalam pilihan sikap yang diambil dan mengingat kembali kesulitan dan keberhasilan mereka dalam belajar.

Mengapa Strategi Metakognitif itu Penting?

Ketika siswa mampu merancang, memantau, dan merefleksikan proses belajar mereka secara sadar, pada hakikatnya, mereka akan menjadi lebih percaya diri dan lebih mandiri dalam belajar. Kemandirian belajar merupakan sebuah kepemilikan pribadi bagi siswa untuk meneruskan perjalanan panjang mereka dalam memenuhi kebutuhan intelektual
dan menemukan dunia informasi tak terbatas. Tugas pendidik adalah
menumbuhkembangkan kemampuan metakognitif seluruh siswa sebagai seorang
pembelajar, tanpa kecuali.

Aplikasi Strategi Metakognitif dalam Menghadapi Ujian
Sekolah (Sebuah Contoh Kasus)

Apa yang harus dilakukan siswa ketika mereka akan menghadapi ujian di
sekolahnya? Kecemasan berlebihan yang berujung pada pilihan sikap siswa untuk
melakukan tindakan tidak fair (mencontek) adalah masalah mendasar terkait refleksi
diri, inisiatif dan tanggung jawab diri, perencanaan target diri (goal setting), dan manajemen waktu.

Apa manfaat yang bisa saya dapatkan dari kegiatan ujian sekolah? Apa tujuan
saya mengikuti ujian di sekolah? Apakah hanya sekadar mengikuti ujian dan
mendapatkan nilai sekadarnya pula? Ataukah, saya punya motivasi untuk
mendapatkan nilai terbaik dari usaha terbaik yang dapat dilakukan? Jika jawaban
mendasar telah ditemukan siswa untuk merespon pertanyaan-pertanyaan tadi, maka
pada hakikatnya siswa sudah melakukan proses refleksi diri dan penentuan target
hasil belajar mereka. Inilah langkah awal yang baik untuk meraih keberhasilan
genilang dalam mengikuti ujian sekolah.

Ketika guru menentukan topik tertentu untuk diujikan, maka siswa bertanya
pada diri mereka terkait hal-hal, ”Pengetahuan mana yang telah dan belum saya
kuasai?; Mengapa saya tidak menguasai materi pada topik ini?; Bagaimana cara
saya menguasai topik materi ujian yang belum dikuasai?; Soal-soal seperti apa
yang mungkin akan guru saya ujikan nanti?” Dalam konteks ini, siswa sedang
mengalami proses untuk mengambil inisiatif dalam menilai pemahaman mereka
terhadap topik materi yang akan diujikan. Mereka berinisiatif untuk menyiapkan
diri dalam upaya merealisasikan pencapaian target yang telah mereka ikrarkan.

”Strategi belajar seperti apa yang harus saya pilih agar hasil ujiannya
dapat sesuai harapan?; Apakah saya lebih merasa enjoy belajar dengan
menggunakan teknik menghafal?; Saya merasa lebih dapat memahami materi dengan
cara mind-mapping, apakah cara mind-mapping cukup tepat untuk saya
gunakan pada saat ini dalam menghadapi ujian sekolah?” Pada situasi ini, siswa
memilih strategi belajar terbaik mereka untuk dapat mencapai target dalam
mengikuti ujian sekolah. Semakin tahu mereka akan modalitas belajar mereka,
semakin paham mereka terhadap konsekuensi-konsekuensi dari pilihan strategi
belajar yang mereka putuskan, maka peluang siswa untuk mendapatkan hasil ujian
sesuai harapan mereka akan semakin besar untuk dapat diwujudkan.

Manajemen waktu, masalah mendasar bagi semua orang, tak terkecuali bagi
seorang siswa yang akan menghadapi ujian sekolah. ”Berapa banyak waktu yang
harus saya luangkan untuk mempelajari lebih dalam topik materi yang hendak
diujikan?; Saya merasa lebih menikmati belajar antara jam 4 – 5 pagi, apakah
ini ’jam biologis belajar’ saya?”

Strategi metakognitif menyampaikan satu pesan khusus bagi siapa pun yang
ingin menjalani hidup secara efektif, bahwasanya kenyataan hidup yang terjadi
pada saat ini adalah akibat dari pilihan-pilihan hidup kita di masa lampau.
Hari ini kita jadi orang sukses, hari ini kita jadi orang gagal, bahkan hari
ini sekalipun kita jadi orang bingung dengan kelebihan dan kekurangan diri kita,
maka hal itu diakibatkan oleh lemahnya diri kita dalam merancang kehidupan
kita, memantau kualitas perkembangan kehidupan kita, menilai kesuksesan hidup
kita, serta mengubah sikap hidup kita jika perlu untuk mencapai level kualitas
hidup yang lebih baik. Inspirasi utama ini sebenarnya yang perlu ditanamkan
kepada siswa kita agar menjadi seorang pembelajar mandiri dan pemecah masalah
kehidupan yang handal.(Asep Sapa’at/Trainer Makmal Pendidikan)

Struktur Pidato Yang baik

Struktur Pidato Yang baik
  1. SALAM PEMBUKA
  2. PEMBUKA PIDATO
  3. PEMBAHASAN ISI PIDATO
  4. PENUTUP PIDATO
  5. SALAM PENUTUP


Mari kita bahas satu persatu struktur pidato di atas..
SALAM PEMBUKA PIDATO


Salam pembuka pidato seharusnya disesuaikan dengan audiens / hadirin. Jika para hadirin adalah orang Islam saja, alangkah baiknya jika salam pembuka harus menggunakan "Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarokaatuh."

Begitu juga jika hadirin adalah orang Kristen, Hindu, Budha, dan agama lainnya, salam pembuka mengikuti sapaan umum menurut agama masing-masing. Namun jika para hadirin adalah sekumpulan manusia yang berbeda-beda dengan agama yang berbeda beda, kita boleh saja mengucapkan salam pembuka dengan menyebutkan semua sapaan tiap-tiap agama, atau bisa juga diganti dengan "Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam" untuk mempermudah saja.

Umumnya, setelah kita mengucapkan salam pembuka, ada sapaan khusus kepada beberapa hadirin. Sapaan tersebut biasanya diurutkan kepada orang-orang tertentu dengan diawali sapaan kepada yang lebih tinggi derjatnya. Misalnya, "Yang terhormat Bpk Presiden, Yang terhormat Bpk Wakil Presiden, Yang terhormat Bpk Menteri.. " dan lain sebagainya.
PEMBUKA PIDATO


Setelah mengucapkan salam, struktur pidato kemudian dilanjutkan dengan mengutarakan "Pembuka Pidato". Pembuka pidato biasanya berisi Ucapan Puji Syukur kepada Tuhan serta menyebutkan sedikit tentang isi pidato.
PEMBAHASAN ISI PIDATO


Pembahasan isi pidato adalah penjabaran secara menyeluruh tentang tema pidato. Alangkah baiknya jika pembahasan ini bersifat ilmiah sehingga isi pidato bisa meyakinkan hadirin. Terlebih lagi jika isi pidato bisa membangkitkan dan menggugah semangat para hadirin. Jangan sampai isi pidato menjadi kurang menarik karena terkesan terlalu sering dibicarakan, cobalah membahas pidato yang belum pernah diungkapkan sebelumnya.
PENUTUP PIDATO


Penutup pidato umumnya terdiri atas dua bagian, yaitu : simpulan dan harapan. Penutup pidato yang baik haruslah mencakup kesimpulan. Simpulan bisa diungkapkan secara singkat, jelas dan padat atau bisa juga dilemparkan kepada hadirin untuk menyimpulkannya sendiri.

Setelah mengutarakan kesimpulan, penutup pidato juga biasa berisi harapan. Harapan yang diungkapkan haruslah hal-hal positif yang berhubungan dengan pidato.
SALAM PENUTUP


Struktur pidato paling akhir adalah salam penutup. Salam penutup pada umumnya diikuti dengan ucapan terima kasih, permintaan maaf, lalu diakhiri dengan salam penutup.

Metode Kata Lembaga, metode Global, dan metode SAS Bahasa Indonesia

1. Metode Kata Lembaga

Metode dalam mengajarkan membaca yang dimulai dengan cara mengupas kata menjadi suku kata dan suku kata dikupas lagi menjadi huruf. Pemakaian metode ini ada pada buku AKU CEPAT MEMBACA (ACM). Di buku tersebut, ada 6 kata lembaga yang digunakan untuk belajar membaca yaitu :
A DA RA JA
MA HA KA YA
KA TA WA NA
SA MA LA BA
A DA NA GA
PA PA BA CA Dari kata lembaga A DA RA JA akan dikupas menjadi A DA dan RA JA. Kemudian dikupas lagi menjadi A - DA - RA dan JA.

2. Metode Global 


metode global dalam pengajaran bahasa untuk mengajarkan membaca dan menulis permulaan dengan menyajikan satuan bahasa secara utuh dan menyuruh siswa mengenal dan menyalinnya secara keseluruhan, biasanya siswa lalu menghafalkan sehingga tidak dapat membaca dan menulis unsur yang baru
3. Metode SAS



Metode SAS Dalam Pembelajaran Bahasa indonesia , Dalam belajar membaca dan menulis permulaan ,klas 1 sekolah dasar
,guru dapat memilih berbagai macam metode, diantaranya adalah Metode SAS,banyak yang mengataaakan metode sas sulit di laksanakan , metode sas adalah abstrak , SAS adaalah Stuktur Analitik Sintetik , dalam bahasa Indonesia Struktur adaalah kalimat ,sedang dalam kalimat ada beberaapa kata dan dalam kata ada beberapa hurf, taapi perlu di ingat pada hakekatnya manusia membaca tidak membaca kalimat secara keseluruhan tapi membaaca kata perkata , jadi anak harus di beri pelaajaran membaca mengenal kata :dengan menggunakan Metode SAS, tadi dikatakan metode SAS adalah abstrak, agar metode SAS menjadi riil , nyata daaaan mudah dipahami oleh anak daan oleh siapa saja , maka dalam buku tek ,harus dilengkaapi :KOTAK PROGRAM METODE SAS DAN MODUL KARTU KATA , dan contoh sudah ada di blok terdahulu , contoh anak belajar membaca mengenal kata :anak belajar kata sepeda ,ssetelah belaajar dengan menggunakan Kotak Program Metode SAS , :sepeda, se-pe-da ....s - e - p - e - d - a di sintesa se-pe-da dan suku kata di sintesa laaagi menjadi sepeda , kalau udah laancar dan mengenal kata sepeda , di otak anak tersebut sudah terekam meskipun : speeda ...seepda ...spdeea ..spda ... speda , anak tetap akan membaca sepeda dengan demikian anak akan lebih cepat untuk belaajar membaca , perlu diingat dengan anak dapat membaca sedini mungkin ,maka anak tidak akan mengalami kesulitan -kesulitan terhadap bidang sstudi yang lain, membaca. bahasa adalah pintu gerbang ilmu pengetahuan , dengan membaca, dengan bahasa , manusia mampu membuka rahasia alam semesta ini Buku Belajar membaca dengan Metode SAS

Pengertian Pendekatan, Metode, dan Teknik

Pengertian Pendekatan, Metode, dan Teknik



1. PENDEKATAN

Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif (Sanjaya, 2008:127).




2. METODE

Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran.




3. TEKNIK

Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi.




4. MODEL

Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.Nah, berikut ini ulasan singkat tentang perbedaan istilah tersebut.




5. STRATEGI

Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (J.R. David dalam Sanjaya, 2008:126). Selanjutnya dijelaskan strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kemp dalam Sanjaya, 2008:126). Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang selalu sama. Dalam konteks pengajaran strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik dalam manifestasi aktivitas pengajaran (Ahmad Rohani, 2004 : 32). Sementara itu, Joyce dan Weil lebih senang memakai istilah model-model mengajar daripada menggunakan strategi pengajaran (Joyce dan Weil dalam Rohani, 2004:33.




Nana Sudjana menjelaskan bahwa strategi mengajar (pengajaran) adalah “taktik” yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran secara lebih efektif dan efisien (Nana Sudjana dalam Rohani, 2004:34). Jadi menurut Nana Sudjana, strategi mengajar/pengajaran ada pada pelaksanaan, sebagai tindakan nyata atau perbuatan guru itu sendiri pada saat mengajar berdasarkan pada rambu-rambu dalam satuan pelajaran. Berdasarkan pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain, strategi pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas daripada metode dan teknik. Artinya, metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran. Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung.

Faham Konstruktivisme

Faham Konstruktivisme

Pandangan Konstruktivisme Tentang Pembentukan Pengetahuan

Kontruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan merupakan hasil bentukan kognitif seseorang, hal ini sesuai dengan yang disampaikan Bruning (1995) bahwa : “ Knowledge is created, not simply acquired, and the engine that drive is the search for meaning” dan ini menegaskan bahwa konstruktivisme beredar dalam psikologi kognitif.

Melalui inderanya seseorang berinteraksi dengan objek dan lingkungannya untuk membangun pengetahuan. Pengetahuan dibentuk oleh struktur konsepsi seseorang sewaktu struktur tersebut digunakan untuk menghadapi pengalaman-pengalaman atau persoalan-persoalan yang berkaitan dengan konsepsi tersebut. Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh seseorang adalah hasil pengontruksian orang itu sendiri. Hal ini berarti konstruktivisme menolak kemungkinan transfer pengetahuan dari orang lain, karena setiap orang membangun pengetahuannya sendiri.

Konstruktivisme Piaget dan Vigotsky

v Konstruksi Piaget

Untuk memahami teori Piaget perlu dimengerti beberapa istilah baku yang digunakan untuk menjelaskan proses seseorang dalam membangun pengetahuan.


Skema dan Skemata

Skema adalah struktur mental atau kognitif seseorang. Skema digunakan untuk memproses dan mengidentifikasikan rangsangan yang dating dari luar. Skemata adalah hasil kesimpulan atau bentukan mental, konstruksi, hipotesis, seperti : intelek, kreativitas, kemampuan dan naluri.


Asimilasi

Asimilasi adalah proses kognitif: dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan persepesi, konsep ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.


Akomodasi

Jika dalam menghadapi rangsangan atau pengalaman baru seseorang tidak dapat mengasimilasi dengan skema yang telah dimiliki, maka seseorang akan mengakomodasi, yaitu membentuk skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau memodifikasi skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan tersebut


Ekuilibrasi

Dalam perkembangan intelek seseorang terdapat proses ekuilibrium, yaitu pengeturan diri secara mekanis untuk menyeimbangkan proses asimilasi dan proses akomodasi. Disekuilibrium adalah keadaan tidak seimbang antara asimilasi dengan akomodasi. Ekuilibrasi adalah proses dari disekuilibrium ke ekuilibrium.


Teori Adaptasi Intelek

Piaget berpendapat bahwa mengerti adalah suatu proses daptasi intelektual. Melalui proses tersebut pengalaman-pengalaman dan ide-ide baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui seseorang yang sedang belajar untuk membentuk struktur pengertian baru. Piaget membedakan empat taraf perkembangan kognitif seseorang, yaitu : (1). Taraf sensori motor, (2). Praoperasional, (3). Taraf operasional kongkrit dan (4). Taraf operasional formal.

v Kontriktivisme Vigotsky

Menurut Vigotsky dalam Paul Suparno (1997) belajar merupakan suatu perkembangan pengertian. Dialog dan komunikasi verbal dengan orang- orang dewasa, atau orang yang lebih mengetahui akan mengembangkan pengertian tersebut, ini berarti di dalam belajar selain diperlukan keaktifan siswa sangat diperlukan lingkungan social. Dengan demikian inti konstruktivisme Vogotsky dalah integrasi antara aspek internal dengan eksternal serta penekanannya pada lingkungan social pelajar.

Konsep yang berpengaruh pada teori Vegotsky adalah konsep tentang “daerah perkembangan proksimal” (Zone of Proximal). Development diartikan sebagai ambang bats kesiapan intelektual siswa yang belajar. Sedangkan konsep lain adalah konsep “intruksional scaffolding” yaitu pada awal pembelajaran guru memberikan sejumlah bantuan kepada siswa, selanjutnya secara bertahap bantuan tersebut dikurangi dan memberikan siswa kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar sehingga pada akhirnya siswa dapat menyelesaikan masalah secara mandiri.


Pendekatan Kooperatif

Pendekatan Kooperatif

Pendekatan pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru memanfaatkan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja bersama untuk mencapai sasaran belajar, dan memungkinkan siswa memaksimalkan proses belajar satu sama lain.

Mengapa diperlukan pendekatan pembelajaran kooperatif?

Perlunya pendekatan pembelajaran kooperatif didasarkan pada kenyataan-kenyataan sebagai berikut:

1. Siswa berbeda satu sama lain. Masing-masing memiliki latar belakang, pengalaman, gaya belajar (learning style), prestasi, dan keinginan/kehendak yang khas. Guru tidak boleh menganggap kelas sebagai kumpulan siswa yang seragam. Namun di lain pihak, guru juga tidak mungkin memperhatikan kekhasan siswa satu demi satu.
2. Belajar membutuhkan bermacam-macam konteks. Dengan bekerja bersama, tiap-tiap anggota kelompok memberi sumbangan sesuai dengan konteks yang dikenalnya masing-masing.
3. Belajar bukan hanya terjadi dalam diri seseorang secara individual tetapi lebih-lebih merupakan proses sosial antara individu dengan orang-orang lain.

4. Hubungan saling-bergantung secara sosial (social interdependence) di antara orang-orang yang berinteraksi mempengaruhi hasil interaksi di antara mereka..

5. Sebagai bagian dari kecakapan hidup (life skills), kecakapan interpersonal siswa perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran. Kerja bersama dalam kelompok kecil melatih kecakapan interpersonal dan sekaligus menjadi sarana pencapaian hasil belajar.

Bagaimana cara melaksanakan pendekatan pembelajaran kooperatif?

Pendekatan pembelajaran kooperatif dilaksanakan oleh guru dengan teknik-teknik antara lain sebagai berikut:

1. Teknik Sebaran Prestasi (Student Teams-Achievement Division / STAD):

Siswa berkelompok mengerjakan soal latihan dalam lembar kerja. Tiap kelompok terdiri dari 4 atau 5 orang, yang terdiri dari seorang berkemampuan rendah, seorang berkemampuan tinggi, dan sisanya berkemampuan sedang. Setelah semua kelompok selesai bekerja, guru memberi kunci jawaban soal dan meminta diminta memeriksa hasil kerja. Kemudian guru mengadakan ulangan/kuis.

2. Teknik Susun Gabung (Jigsaw):

Dalam kelompok, tiap-tiap siswa mempelajari satu bagian materi pelajaran dan kemudian menjelaskan bagian itu kepada semua anggota kelompok. Kemudian guru mengadakan ulangan/kuis.

3. Teknik Penyelidikan Berkelompok (Group Investigation):

Tiap-tiap kelompok mempelajari satu bagian materi pelajaran dan kemudian menjelaskan bagian itu kepada semua siswa di kelas.

4. Teknik Cari Pasangan:

Tiap siswa di kelas memperoleh 1 lembar kartu. Tiap kartu berisi 1 bagian materi pelajaran. Kemudian mereka harus mencari siswa-siswa pemegang kartu yang isinya berkaitan dengan isi kartunya. Para siswa yang isi kartunya berkaitan lalu berkelompok dan mendiskusikan keseluruhan materi.

5. Teknik Tukar Pasangan: Siswa berkelompok mengerjakan soal latihan dalam lembar kerja. Kemudian mereka berganti pasangan kelompok, dan mendiskusikan hasil kerja dari kelompok semula

Pendekatan Quantum Teaching

Pendekatan Quantum Teaching
 
Quantum adalah sebuah temuan yang telah menyelamatkan manusia dari bencana ultraviolet, Quantum training telah menyelamatkan manusia dari bencana ’ultrasekolah’ dan ’ultrabelajar’ Quantum pertama kali ditemukan oleh Max Planck pada akhir abad ke -19. Ia menemukan sebuah rumus fisika yang sahih yang dapat menanggulangi bencana ultraviolet. Sejak saat itu istilah Quantum digunakan pada banyak aspek kehidupan yang antara lain digunakan pada bidang pendidikan dan pembelajaran.
Di abad ke-20 ini orang ‘dipaksa’ belajar di ruang kelas yang disusun secara kaku dan terdiri dari meja dan kursi. Nilai dan Ijasah/Sertifikat menjadi ukuran keberhasilan yang pada akhirnya pembelajar merasa bahwa belajar dan sekolah merupakan beban. Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, ditemukan sebuah pendekatan pengajaran yang disebut dengan Quantum Teaching, Quantum Teaching bahkan menggugat cara mengajar yang selama ini dilakukan secara ‘turun temurun’. Quantum Teaching dikembangkan oleh seorang guru dalam pembelajaran. Quantum Teaching sendiri berawal dari sebuah upaya Dr. Georgi Lozanov, pendidik asal Bulgaria, yang bereksperimen dengan suggestology. Prinsipnya, sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil belajar.
Kata Quantum sendiri berarti interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Jadi Quantum Teaching menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dengan cara menggunakan unsur yang ada pada siswa dan lingkungan belajarnya melalui interaksi yang terjadi di dalam kelas.Bila metode ini diterapkan, maka guru akan lebih mencintai dan lebih berhasil dalam memberikan materi serta lebih dicintai anak didik karena guru mengoptimalkan berbagai metode.
Apalagi dalam Quantum Teaching ada istilah ‘bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan hantarlah dunia kita ke dunia mereka’. Hal ini menunjukkan, betapa pengajaran dengan Quantum Teaching tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa. Tetapi jauh dari itu, siswa juga diajarkan bagaimana menciptakan hubungan emosional yang baik dalam dan ketika belajar.
Persamaan Quantum Teaching ini diibaratkan mengikuti konsep Fisika Quantum yaitu:
E = mc2
E = Energi (antusiasme, efektivitas belajar-mengajar,semangat)
M = massa (semua individu yang terlibat, situasi, materi, fisik)
c = interaksi (hubungan yang tercipta di kelas)
Berdasarkan persamaan ini dapat dipahami, interaksi serta proses pembelajaran yang tercipta akan berpengaruh besar sekali terhadap efektivitas dan antusiasme belajar pada peserta didik.

Pendekatan Whole Language Bahasa Indonesia

Pendekatan Whole Language Bahasa Indonesia



Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Edelsky, 1991; Froese, 1990; Goodman, 1986; Weafer, 1992, dalam Santosa, 2004). Para ahli whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah (Rigg, 1991). Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. Pengajaran tentang penggunaan tanda baca, umpamanya, diajarkan sehubungan dengan pembelajaran keterampilan menulis. Demikian juga pembelajaran membaca dapat diajarkan bersamaan dengan pembelajaran berbicara, pembelajaran sastra dapat disajikan bersamaan dengan pembelajaran membaca dan menulis ataupun berbicara. Selain itu, dalam pendekatan whole language , pembelajaran bahasa dapat juga disajikan sekaligus dengan materi pelajaran lain, umpamanya bahasa-matematika, bahasa-IPS, bahasa-sains, bahasa-agama. Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ) (Robert dalam Santosa, 2004:2.3). Anak termotivasi untuk belajar jika mereka melihat bahwa yang dipelajarinya memang bermakna bagi mereka. Orang dewasa, dalam hal ini guru, berkewajiban untuk menyediakan lingkungan yang Metodologi Pembelajaran menunjang untuk siswa agar mereka dapat belajar dengan baik. Fungsi guru dalam kelas whole language berubah dari fungsi desiminator informasi menjadi fasilitator (Lamme & Hysmith, 1993).

Ciri-ciri Kelas Whole Language

Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language

a. Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakaan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku petunjuk dan berbagai barang cetak lainnya.

b. Siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara.

c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya.

d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru.

e. Siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Dalam hal ini interaksi guru adalah multiarah.

f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru tidak mengharapkan kesempurnaan, yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima.

g. Siswa mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri. Dari ketujuh ciri tersebut dapat terlihat bahwa siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas meyampaikan materi. Sebagai fasilitator guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.

Penilaian dalam Kelas Whole Language

Dalam kelas whole language guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan oleh siswa. Secara informal selama pembelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan siswa berdiskusi baik dalam kelompok maupun diskusi kelas. Ketika siswa bercakap-cakap dengan temannya atau dengan guru, penilaian juga dilakukan. Bahkan, guru juga memberikan penilaian saat siswa bermain selama waktu istirahat. Kemudian, penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi. Walaupun guru tidak terlihat membawa-bawa buku, guru menggunakan alat penilaian seperti lembar observasi dan catatan anekdot. Dengan kata lain, dalam kelas whole language guru memberikan penilaian pada siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selain penilaian informal, penilaian juga dilakukan dengan menggunakan portofolio. Portofolio adalah kumpulan hasil kerja selama kegiatan pembelajaran. Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.

Pendekatan Ketrampilan Proses Bahasa Indonesia

Pendekatan Keterampilan Proses Bahasa Indonesia

1. Pengertian Pendekatan Ketrampilan Proses


Keterampilan proses merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapa dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan tersebut” (Azhar, 1993: 7)

Sedangkan “menurut Conny (1990 : 23) pendekatan keterampilan proses adalah pengembangan sistem belajar yang mengefektifkan siswa (CBSA) dengan cara mengembangkan keterampilan memproses perolehan pengetahuan sehingga peserta didik akan menemukan, mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta menumbuhkan sikap dan nilai yang dituntut dalam tujuan pembelajaran khusus”.


Berdasarkan uraiaan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendekatan keterampilan proses adalah pendekatan belajar mengajar yang mengarah pada pengembangan kemampuan dasar berupa mental fisik, dan sosial untuk menemukan fakta dan konsep maupun pengembangan sikap dan nilai melalui proses belajar mengajar yang telah mengaktifkan siswa (CBSA) sehingga mampu menumbuhkan sejumlah keterampilan tertentu pada diri peserta didik.


Dimiyati (2002: 138) mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki oleh siswa adalah :


Pendekatan keterampilan proses memberikan kepada pengertian yang tepat tentang hakekat ilmu pengetahuan siswa dapat mengalami rangsangan ilmu pengetahuan dan dapat lebih baik mengerti fakta dan konsep ilmu pengetahuan


Mengajar dengan keterampilan proses berarti memberi kesempatan kepada siswa bekerja dengan ilmu pengetahuan tidak sekedar menceritakan atau mendengarkan cerita tentang ilmu pengetahuan.


Menggunakan keterampilan proses untuk mengajar ilmu pengetahuan membuat siswa belajar proses dan produk ilmu pengetahuan sekaligus.


Dari pembahasan tentang pengertian keterampilan proses (PKP) dapat diartikan bahwa pendekatan keterampilan proses dalam penerapannya secara langsung memberikan kesempatan siswa untuk secara nyata bertindak sebagai seorang ilmuan karena penerapan pendekatan keterampilan proses menekankan dalam memperoleh ilmu pengetahuan siswa hendaknya menanamkan sikap dan nilai sebagai seorang ilmuan.



2. Pentingnya Pendekatan Keterampilan Proses


Menurut Dimiyati, mengatakan bahwa pendekatan keterampilan proses (PKP) perlu diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar berdasarkan alasan-alasan sebagai berikut:


Percepatan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi


Pengalaman intelektual emosional dan fisik dibutuhkan agar didapatkan agar hasil belajar yang optimal


Penerapan sikap dan nilai sebagai pengabdi pencarian abadi kebenaran ini. (Dimiyati, 2002: 137)

Pembinaan dan pengembangan kreatifitas berarti mengaktifkan murid dalam kegiatan belajarnya. Untuk itu cara belajar siswa aktif (CBSA) yang mengembangkan keterampilan proses yang dimaksud dengan keterampilan di sini adalah kemampuan fisik dan mental yang mendasar sebagai penggerak kemampuan-kemampuan lain dalam individu.


Sedangkan Conny (1990 : 14). mengatakan bahwa ada beberapa alasan yang melandasi perlu diterapkan pendekatan keterampila proses (PKP) dalam kegiatan belajar mengajar yaitu:


Perkembangan ilmu pengetahuan berlangsung semakin cepat sehingga tak mungkin lagi para guru mengajarkan semua fakta dan konsep kepada siswa.


Para ahli psikologi umumnya berpendapat bahwa anak-anak muda memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika disertai dengan contoh-contoh kongkrit.


Penemuan ilmu pengetahuan tidak bersifat relatif benar seratus persen penemuannya bersifat relatif


Dalam proses belajar mengajar pengembangan konsep tidak dilepaskand ari pengembangan sikap dan nilai dalam diri anak didik.

3. Pola Pelaksanaan Pendekatan Keterampilan Proses (PKP)


Dalam pola pelaksanaan keterampilan proses, hendaknya guru harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


a. Asas pelaksanaan keterampilan proses


Menurut (Azhar, 1993) dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


Harus sesuai dan selalu berpedoman pada tujuan kurikuler, serta pembelajaran yang berupa TPU dan TPK.


Harus berpegang pada dasar pemikiran bahwa semua siswa mempunyai kemampuan (potensi) sesuai dengan kudratnya.


Harus memberi kesempatan, penghargaan dan movitasi kepada peserta didik untuk berpendapat, berfikir dan mengungkapkan perasaan dan pikiran.


Siswa pembinaan harus berdasarkan pengalaman belajar siswa.


Perlu mengupayakan agar pembina mengarah pada kemampuan siswa untuk mengola hasil temuannya.


Harus berpegang pada prinsip "Tut Wuri Handayani". Memperhatikan azas-azas tersebut, nampaknya yang menjadi titik perkenannya adalah siswa itu adalah siswa itu sendiri sebagai subyek didik dan juga guru dalam melaksanakan pendekatan keterampilan proses benar-benar memperkirakan perbedaan masing-masing siswa.


b. Bentuk dan pelaksanaan pendekatan keterampilan proses (PKP)


Untuk melaksanakan pendekatan keterampilan proses kepada peserta didik secara klasikal. Kelompok kecil ataupun individual. Maka kegiatan tersebut harus mengamati kepada pembangkitan kemampuan dan keterampilan mendasar baik mental, fisik maupun sosial (menurut Funk dalam Dimiyati, 1999). Adapun keterampilan yang mendasar dimaksud adalah :



a. Mengamati/observasi

Observasi atau pengamatan merupakan salah satu keterampilan ilmiah yang paling mendasar dalam proses dan memperoleh ilmu pengetahuan serta merupakan hal terpenting untuk mengembangkan keterampilan proses yang lain (Funk 1985 dalam Dimiyati, 1909 :142).


Kegiatan mengamati, menurut penulis dapat dilakukan dengan panca indera seperti melihat, mendengar, meraba, mencium dan mengecap. Hal ini sejalan dengan pendapat (Djamarah, 2000 :89). Bahwa "kegiatan mengamati dapat dilakukan peserta didik melalui kegiatan belajar, melihat, mendengar, meraba, mencicip dan mengumpulkan dan atau informasi.


Jadi kegiatan mengamati merupakan tingkatan paling rendah dalam pengembangan keterampilan dasar dari peserta didik, karena hanya sekedar pada penglihatan dengan panca indera. Pada dasarnya mengamati dan melihat merupakan dua hal yang berbeda walaupu sekilas mengandung pengertian yang sama. Melihat belum tentu mengamati, karena setiap hari mungkin peserta didik melihat beraneka ragam tanaman, hewan, benda-benda lain yang ada di sekitarnya, tetapi sekedar melihat tanpa mengamati bagaimana sebenarnya tanaman, hewan tersebut berkembang dari kecil hingga menjadi besar.





b. Mengklasifikasikan


Mengklasifikasikan merupakan keterampilan proses untuk memilih berbagai obyek peristiwa berdasarkan

sifat-sifat khsususnya. Sehingga didapatkan golongan atau kelompok sejenis dari obyek yang dimaksud, (Dimiyati, 1999 :142).


Untuk melakukan kegiatan mengkalasifikasik menurut Djamarah adalah "peserta didik dapat belajar melalui proses : mencari persamaan (menyamakan, mengkombinasikan, menggolongkan dan mengelompokkan( Djamarah, 2000 : 89).


Melalui keterampilan mengklasifikasi peserta didik diharapkan mampu membedakan, menggolongan segala sesuatu yang ada di sekitar mereka sehingga apa yang mereka lihat sehari-harii dapat menambah pengetahuan dasar mereka.





c. Mengkomunikasikan


Mengkomunikasikan dapat diartikan sebagai "menyampaikan dan memperoleh fakta, konsep dan prinsip ilmu pengetahua dalam bentuk suara, visual atau secara visual" (Dimiyati, 1993:143). Kegiatan mengkomunikasi dapat berkembanga dengan baik pada diri peserta didik apabila mereka melakukan aktivitas seperti : berdiskusi, mendeklamasikan, mendramatikan, bertanya, mengarang, memperagakan, mengekspresikan dan melaporkan dalam bentuk lisan, tulisan, gambar dan penampilan” (Djamarah, 2000).

Dari pernyataan di atas, dapat dikatakan bahwa mengkomunikasikan bukan berarti hanya melalui berbicara saja tetapi bisa juga dengan gambar, tulisan bahkan penampilan dan mungkin lebih baik dari pada berbicara.



d. Mengukur


Keterampilan mengukur sangat penting dilakukan agar peserta didik dapat mengobservasi dalam bentuk kuantitatif. Mengukur dapat diartikan "membandingkan yang diukur dengan satuan ukuran tertentu yang telah ditetapkan" (Dimiyati, 1999 : 144).


Adapun kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan mengukur peserta didik menurut Conny (1992 :21). Dapat dilakukan dengan cara mengembangkan sesuatu, karena pada dasarnya mengukur adalah membandingkan, misalnya saja siswa membandingkan luas kelas, volume balok, kecakapan mobil dan sebagainya.


Kegiatan pengukuran yang dilakukan peserta didik berbeda-beda tergantung dari tingkat sekolah mereka, karena semakin tinggi tingkat sekolahnya maka semakin berbeda kegiatan pengukuran yang dikerjakan.



e. Memprediksi


Memprediksi adalah "antisipasi atau perbuatan ramalan tentang sesuatu hal yang akan terjadi di waktu yang akan datang, berdasarkan perkiraan pada pola kecendrungan tertentu, atau hubungan antara fakta dan konsep dalam ilmu pengetahuan" (Dimiyati, 1999: 144).


Menurut (Djamarah, 2000) untuk mengembangkan keterampilan memprediksi dapat dilakukan oleh peserta didik melalui kegiatan belajar antisipasi yang berdasarkan pada kecendrungan/pola. Hubungan antara data, hubungan informasi. Hal ini dapat dilakukan misalnya memprediksi waktu tertibnya matahari yang telah diobservasi, memprediksikan waktu yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tertentu dengan menggunakan kendaraan dengan yang berkecepatan tertentu.


Pada prinsipnya memprediksi, observasi dan menarik kesimpulan merupakan tiga hal yang berbeda, hal tersebut dapat dibatasi sebagai berikut : "kegiatan yang dilakukan melalui panca indera dapat disebut dengan observasi dan menarik kesimpulan dapat diungkapkan dengan, mengapat hal itu bisa terjadi sedangkan kegiatan observasi yang telah dilakukan apa yang akan diharapkan".



f. Menyimpulkan


Menyimpulkan dapat diartikan sebagai "suatu keterampilan untuk memutuskan keadaan suatu. Objek atau peristiwa berdasarkan fakta, konsep dan prinsip yang diketahui (Dimiyati, 1999: 145).


Kegiatan yang menampakkan keterampilan menyimpulkan misalnya: berdasarkan pengamatan diketahui bahwa lilin mati setelah ditutup dengan gelas rapat-rapat. Peserta didik dapat menyimpulkan bahwa lilin bisa menyala apabila ada oksigen. Kegiatan menyimpulkan dalam kegiatan belajar mengajar dilakukan sebagai pengembangan keterampilan peserta didik yang dimulai dari kegiatan observasi lapangan tentang apa yang ada di alam ini.





c. Langkah-langkah melaksanakan keterampilan proses


Untuk dapat melaksanakan kegiatan keterampilan proses dalam pembelajaran guru harus melakuka langkah-langkah sebagai berikut:



1. Pendahuluan atau pemanasan


Tujuan dilakukan kegiatan ini adalah mengarahkan peserta didik pada pokok permasalahan agar mereka siap, baik mental emosional maupun fisik.


Kegiatan pendahuluan atau pemanasan tersebut berupa:


Pengulasan atau pengumpulan bahan yang pernah dialami peserta didik yang ada hubungannya dengan bahan yang akan diajarkan.


Kegiatan menggugah dan mengarahkan perhatian perserta didik dengan mengajukan pertanyaan, pendapat dan saran, menunjukkan gambar atau benda lain yang berhubungan dengan materi yang akan diberikan.

2. Pelaksanaan proses belajar megnajar atau bagian inti


Dalam kegiatan proses pembelajaran suatu materi, seperti yang dikemukakan di depan hendaknya selalu mengikutsertakan secara aktif akan dapat mengembangkan kemampuan proses berupa mengamati, mengklasifikasi, menginteraksikan, meramalkan, mengaplikasikan konsep, merencanakan dan melaksanakan penelitian serta mengkunikasikan hasil perolehannya yang pada dasarnya telah ada pada diri peserta didik.


Sedangkan menurut Djamarah (2002 :92) kegiatan-kegiatan yang tergolong dalam langkah-langkah proses belajar mengajar atau bagian inti yang bercirikan keterampilan proses, meliputi :


Menjelaskan bahan pelajaran yang diikuti peragakan, demonstrasi, gambar, modal, bangan yang sesuai dengan keperluan. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mengembangkan kemampuan mengamati dengan cepat, cermat dan tepat.


Merumuskan hasil pengamatan dengan merinci, mengelompokkan atau mengklasifikasikan materi pelajaran yang diserap dari kegiatan pengamatan terhadap bahan pelajaran tersebut.


Menafsirkan hasil pengelompokkan itu dengan menunjukkan sifat, hal dan peristiwa atau gejala yang terkandung pada tiap-tiap kelompok.


Meramalkan sebab akibat kejadian perihal atau peristiwa lain yang mungkin terjadi di waktu lain atau mendapat suatu perlakuan yang berbeda.


Menerapkan pengetahuan keterampilan sikap yang ditentukan atau diperoleh dari kegiatan sebelumnya pada keadaan atau peristiwa yang baru atau berbeda.


Merencanakan penelitian umpamanya mengadakan percobaan sehubungan dengan masalah yang belum terselesaikan.


Mengkomunikasikan hasil kegiatan pada orang lain dengan diskusi, ceramah mengarang dan lain-lain.


3. Penutup


Setelah melaksanakan proses belajar tersebut, hendaknya sebagai seorang pendidik untuk


Mengkaji ulang kegiatan yang telah dilaksanakan serta merumuskan hasil yang telah diperolehnya


Mengadakan tes akhir


Memberikan tugas-tugas lain

Pendekatan Terpadu Bahasa Indonesia

Pendekatan Terpadu Bahasa Indonesia

A. Pengertian Pendekatan Pembelajaran Terpadu

Beberapa pengertian dari pendekatan terpadu yang dikemukakan oleh beberapa orang pakar pendekatan pembelajaran terpadu diantaranya :

1. Menurut Cohen dan Manion (1992) dan Brand (1991), terdapat tiga kemungkinan variasi pendekatan pembelajaran terpadu yang berkenaan dengan pendidikan yang dilaksanakan dalam suasana pendidikan progresif yaitu:

a. Kurikulum terpadu (integrated curriculum) adalah kegiatan menata keterpaduan berbagai materi mata pelajaran melalui suatu tema lintas bidang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna sehingga batas antara berbagai bidang studi tidaklah ketat atau boleh dikatakan tidak ada.

b. Hari terpadu (integrated day) berupa perancangan kegiatan siswa dari sesuatu kelas pada hari tertentu untuk mempelajari atau mengerjakan berbagai kegiatan sesuai dengan minat mereka.

c. Pendekatan Pembelajaran terpadu (integrated learning) menunjuk pada kegiatan belajar yang terorganisasikan secara lebih terstruktur yang bertolak pada tema-tema tertentu atau pelajaran tertentu sebagai titik pusatnya (center core / center of interest).




2. Menurut Prabowo (2000 : 2), pendekatan pembelajaran terpadu adalah suatu proses pendekatan dengan melibatkan / mengkaitkan berbagai bidang studi.

Dan ada dua pengertian yang perlu dikemukakan untuk menghilangkan kerancuan dari pengertian pendekatan pembelajaran terpadu di atas, yaitu konsep pendekatan pembelajaran terpadu dan IPA terpadu.

Pendekatan pembelajaran terpadu adalah suatu pembelajaran yang mengintegrasikan/ mengkaitkan tema-tema yang over laping untuk dikemas menjadi satu tema besar kemudian dibahas dalam suatu pembelajaran. Pendekatan pembelajaran terpadu juga menekankan integrasi berbagai aktivitas untuk mengeksplorasi objek, topik, atau tema yang merupakan kejadian-kejadian, fakta, dan peristiwa yang otentik. Pelaksanaan pendekatan terpadu pada dasarnya agar kurikulum itu bermakna bagi peserta didik. Hal ini dimaksudkan agar bahan ajar tidak digunakan secara terpisah-pisah, tetapi merupakan suatu kesatuan bahan yang utuh dan cara belajar yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan peserta didik.

Model Pendekatan pembelajaran terpadu merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dapat diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan. Model Pendekatan pembelajaran terpadu pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik baik secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip secara holistik dan otentik. Melalui pendekatan terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, peserta didik terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara holistik, bermakna, otentik, dan aktif.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran terpadu ini diharapkan akan dapat memperbaiki kualitas pendidikan dasar, terutama untuk mencegah gejala penjejalan kurikulum dalam proses pembelajaran di sekolah. Dampak negatif dari penjejalan kurikulum akan berakibat buruk terhadap perkembangan anak. Hal tersebut terlihat dengan dituntutnya anak untuk mengerjakan berbagai tugas yang melebihi kapasitas dan kebutuhan mereka. Mereka kurang mendapat kesempatan untuk belajar, untuk membaca dan sebagainya. Disamping itu mereka akan kehilangan pengalaman pembelajaran alamiah langsung, pengalaman sensorik dari dunia mereka yang akan membentuk dasar kemampuan pembelajaran abstrak (Prabowo, 2000:3)

Menurut Forgarty (1991:4-5) menyatakan 10 model pembelajaran terpadu. Model-model itu adalah sebagai berikut:


a. Model Fragmented
Model ini adalah pembelajaran yang dilaksanakan secara terpisah yaitu hanya

terfokus pada satu disiplin mata pelajaran, misalnya, mata pelajaran Matematika,

IPA, IPS, Bahasa, dan sebagainya yang diajarkan secara terpisah.


b. Model Terhubung (connected)
Model keterhubungan adalah model pembelajaran terpadu yang secara sengaja

diusahakan untuk menghubungkan satu topik dengan topik yang lain dalam satu

bidang studi, misalnya, menghubungkan konsep dengan kosep menulis dalam mata

pelajaran Bahasa Indonesia.


c. Model Nested
Pembelajaran terpadu model nested adalah suatu model pembelajaran terpadu yang

kaya dengan rancangan oleh kemampuan guru.


d. Model Sequenced
Sequenced adalah model pembelajaran terpadu di mana pada saat guru

mengajarkan suatu mata pelajaran maka ia dapat menyusun kembali urutan topik

suatu mata pelajaran dan dimasukkannya topik mata pelajaran lain ke dalam urutan

pengajarannya itu, tentu saja dalam topik yang sama atau relevan. Pada intinya satu

mata pelajaran membawa serta pelajaran lain dan sebaliknya.


e. Model Shared
Shared adalah suatu model pembelajaran terpadu di mana pengembangan disiplin

ilmu yang memayungi kurikulum silang, contohnya, Matemaika dan IPA

disejajarkan sebagai ilmu pengetahuan. Kesusastraan dan Sejarah digabung pada

label kemanusiaan, seni, musik, menari dan drama di bawah payung kesenian yang

pokok, teknologi komputer dan industri rumah tangga sebagai kesenian yang perlu

dipraktikan.
f. Model Webed
Webed adalah model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan

tematik. Pendekatan ini pengembangannya dimulai dengan menentukan tema

tertentu misalnya, transportasi. Tema bisa ditetapkan dengan negosiasi antara guru

dengan siswa, tetapi dapat pula dengan cara diskusi sesama guru. Setelah tema

disepakati, kemudian dikembangkan sub-sub temanya dengan memperhatikan

kaitan dengan bidang-bidang studi lainnya. Dari sub-sub tema ini dikembangkan

aktivitas belajar yang dilakukan oleh siswa.


g. Model Threaded
Threaded adalah suatu model pendekatan seperti melihat melalui teropong di mana

titik pandang (focus) dapat mulai dari jarak terdekat dengan mata sampai titik

terjauh dari mata.
h. Model Integrated
Integrated adalah model pembelajaran yang menggunakan pendekatan antar bidang

studi. Model ini diusahakan dengan cara menggabungkan bidang studi dengan cara

menetapkan prioritas kurikuler dan menemukan keterampilan, konsep, prinsip, dan

sikap saling tumpang tindih di dalam beberapa bidang studi.
i. Model Immersed
Model ini dimaksudkan dengan menyaring dari seluruh isi kurikulum dengan

menggunakan suatu cara pandang tertentu. Misalnya, seseorang memadukan semua

data dari berbagai disiplin ilmu (mata pelajaran) kemudian menampilkannya

melalui sesuatu yang diminatinya dalam suatu ide.
j. Model Networked
Networked adalah model pembelajaran terpadu yang berhubungan dari sumber luar

sebagai masukan dan semuanya meningkatkan yang baru dan meluaskan ide-ide

atau mengembangkan ide-ide. Misalnya, seorang arsitek mengadaptasi teknologi

untuk mendesain network dengan teknik program dan meluaskan pengetahuan

dasar seperti dia telah mengerjakan secara tradisional dengan pendisain bagian

dalam ruangan









B. Ciri-ciri pendekatan pembelajaran terpadu.

Dalam pendekatan pembelajaran terpadu terdapat beberapa ciri-ciri, yaitu:

1. Berpusat pada anak (student centered).

2. Proses pembelajaran mengutamakan pemberian pengalaman langsung.

3. Pemisahan antar bidang studi tidak terlihat jelas




C. Kelebihan dan kekurangan pendekatan terpadu.

Ø Pendekatan pembelajaran terpadu memiliki beberapa kelebihan (Depdikbud, 1996) sebagai berikut :

1. Pengalaman dan kegiatan belajar anak relevan dengan tingkat perkembangannya.

2. Kegiatan yang dipilih sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

3. Kegiatan belajar bermakna bagi anak, sehingga hasilnya dapat bertahan lama.

4. Keterampilan berpikir anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.

5. Kegiatan belajar mengajar bersifat pragmatis sesuai dengan lingkungan anak.

6. Keterampilan sosial anak berkembang dalam proses pembelajaran terpadu.




Ø Pendekatan pembelajaran terpadu memiliki beberapa kekurangan, yaitu sebagai berikut:

1. Pendekatan terpadu menuntut diadakannya evaluasi tidak hanya pada produk, tetapi juga pada proses.

2. Evaluasi pembelajaran terpadu tidak hanya berorientasi pada dampak instruksional dari proses pembelajaran, tetapi juga pada proses dampak pengiring dari proses pembelajaran tersebut.

3. Penerapan pendekatan pembelajaran terpadu banyak menimbulkan masalah dan tugas guru menjadi semakin membengkak.

4. penyesuaian pola penerapan dan hasil pembelajaran terpadu dikaitkan dengan kurikulum yang sedang berlaku.

D. Langkah-langkah mempersiapan pendekatan pembelajaran terpadu

v Langkah-langkah dalam mempersiapkan pendekatan pembelajaran terpadu adalah:

1. Menganalisis Standar Isi. Dalam rangka implementasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta untuk memenuhi ketercapai pembelajaran, maka terlebih dahulu dilakukan analisis standar isi setiap mata pelajaran, kemudian dipilih materi pada standar isi mata pelajaran lain yang dapat berintegrasi dengan mata pelajaran tersebut. Dalam menganalisis standar isi dilakukan pemetaan kompetensi yang dapat dipadukan dari masing-masing Kompetensi Dasar dari mata pelajaran pada satu KMP.

2. Menyusun bahan ajar, yang mengacu kepada standar isi pendidikan kesetaraan yang telah dianalisis dan diramu dengan mengintegrasikan beberapa mata pelajaran yang memiliki tema yang sama/overlapping. Bahan ajar dapat berbentuk modul atau bahan belajar lainnya.

3. Merancang Pembelajaran Terpadu, yaitu membuat rencana pembelajaran secara tertulis sebagai pedoman operasional yang akan menjadi pedoman bagi tutor dalam melakukan kegiatan pembelajaran melalui pendekatan pembelajaran terpadu. Langkah-langkah yang ditempuh dalam membuat rencana pembelajaran terpadu tersebut adalah:

a. Menetapkan tema sentral pembelajaran yang akan berfungsi sebagai alat pengait pembelajaran.

b. Merumuskan kompetensi atau tujuan pembelajaran yang harus dicapai peserta didik.

c. Mengidentifikasi konsep-konsep yang memiliki sifat keterkaitan baik yang terdapat dalam intra maupun antar mata pelajaran yang akan diintegrasikan.




d. Merumuskan skenario pembelajaran yang akan dilakukan

e. Menetapkan alat evaluasi yang akan dilakukan.

4. Penerapan konsep. Pembelajaran terpadu sangat memperhatikan kebutuhan peserta didik sesuai dengan perkembangannya yang holistik dengan melibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran baik fisik maupun emosionalnya. Untuk itu aktivitas yang diberikan meliputi aktif mencari, menggali, dan menemukan konsep serta prinsip keilmuan yang holistik, bermakna, dan otentik sehingga peserta didik dapat menerapkan perolehan belajar untuk memecahkan masalah-masalah yang nyata di dalam kehidupan sehari-hari.

E. Prinsi-prinsip pendekatan pembelajaran terpadu

Dalam pendekatan terpadu terdapat beberapa Prinsip dasar pendekatan pembelajaran terpadu, yaitu:

1. Prinsip penggalian tema

Penggalian tema tersebut hendaknya memperhatikan beberapa persyaratan, yaitu:

a. Tema hendaknya tidak terlalu luas.

b. Tema harus bermakna.

c. Tema harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis.

d. Tema yang dikembangkan harus mewadahi sebagian besar minat anak.

2. Prinsip pengelolahan pembelajaran

Menurut Prabowo (2000),bahwa dalam pengelolahan pembelajaran hendaknya guru dapat berlaku sebagai:

a. Guru hendaknya jangan menjadi single actor yang mendominasi pembicaraan dalam proses belajar mengajar.

b. Memberi tanggung jawab individu dan kelompok harus jelas dalam setiap tugas yang menuntut adanya kerjasama kelompok.

c. Guru perlu mengakomodasi terhadap ide-ide yang terkadang sama sekali tidak terpikirkan dalam perencanaan.

3. Prinsip evaluasi

Untuk melaksanakan evaluasi dalam pembelajaran terpadu, maka diperlukan langkah-langkah positif, yaitu:

a. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan evaluasi diri (self evaluation/self assement).

b. Guru perlu mengajak para siswa untuk megevaluasi perolehan belajar yang telah dicapai berdasarkan kriteria keberhasilan pencapaian tujuan yang akan di capai.

4. Prinsip reaksi

F. Pentingnya pendekatan pembelajaran terpadu

Ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya pendekatan pembelajaran terpadu, yaitu:

1. Dunia anak adalah dunia nyata.

2. Proses pemahaman anak terhadap suatu konsep dalam suatu peristiwa/objek lebih terorganisir.

3. Pembelajaran akan lebih bermakna.

4. Memberi peluang siswa untuk mengembangkan kemampuan diri.

5. Memperkuat kemampuan yang diperoleh.

6. Efisiensi waktu.

Pendekatan Tujuan dan Struktural Bahasa Indonesia

Pendekatan Tujuan dan Struktural Bahasa Indonesia


Pendekatan adalah cara memulai sesuatu. Pendekatan dalam pembelajaran bahasa adalah seperangkat asumsi tentang hakikat bahasa, pengajaran bahasa dan proses belajar bahasa.

Pendekatan dalam pembelajaran bahasa antara lain:

1. Pendekatan Tujuan

Pendekatan tujuan ini dilandasi oleh pemikiran bahwa dalam setiap kegiatan belajar mengajar yang harus dipikirkan dan ditetapkan lebih dahulu adalah tujuan yang hendak dicapai. Dengan memperhatikan tujuan yang telah ditetapkan itu dapat ditentukan metode mana yang akan digunakan dan teknik pengajaran yang bagaimana yang diterapkan agar tujuan pembelajaran tersebut dapat dicapai. Jadi, proses belajar mengajar ditentukan oleh tujuan yang telah ditetapkan, untuk mencapai tujuan itu sendiri. Misalnya untuk pokok bahasan menulis, tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan ialah “Siswa mampu membuat karangan/cerita berdasarkan pengalaman atau informasi dari bacaan”. Dengan berdasar pada pendekatan tujuan, maka yang penting ialah tercapainya tujuan yakni siswa memiliki kemampuan mengarang.

Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan “cara belajar tuntas”. Dengan “cara belajar tuntas”, berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil, apabila sedikit-dikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penentuan keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif. Jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan betul minimal 75% dari soal yang diberikan guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.

2. Pendekatan Struktural

Pendekatan Struktural merupakan salah satu pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang dilandasi oleh asumsi yang menganggap bahasa sebagai kaidah. Atas dasar anggapan tersebut timbul pemikiran bahwa pembelajaran bahasa harus mengutamakan penguasaan kaidah-kaidah bahasa atau tata bahasa. Oleh sebab itu, pembelajaran bahasa perlu dititikberatkan pada pengetahuan tentang struktur bahasa yang tercakup dalam fonologi, mofologi, dan sintaksis. Dalam hal ini pengetahuan tentang pola-pola kalimat, pola kata, dan suku kata menjadi sangat penting. Dengan struktural, siswa akan menjadi cermat dalam menyusun kalimat, karena mereka memahami kaidah-kaidahnya.

3. Pendekatan Keterampilan Proses

Pendekatan keterampilan proses adalah suatu pengelolaan kegiatan belajar mengajar yang berfokus pada pelibatan siswa secara aktif dan kreatif dalam proses pemerolehan hasil belajar. Keterampilan proses meliputi keterampilan intelektual, keterampilan sosial, dan keterampilan fisik. Keterampilan proses berfungsi sebagai alat menemukan dan mengembangkan konsep.







Konsep yang telah ditemukan atau dikembangkan berfungsi pula sebagai penunjang keterampilan proses. Interaksi antara pengembangan keterampilan proses dengan pengembangan konsep dalam proses belajar mengajar menghasilkan sikap dan nilai dalam diri siswa. Tanda-tandanya terlihat pada diri siswa seperti teliti, kreatif, kritis, objektif, tenggang rasa, bertanggung jawab, jujur, terbuka, dapat bekerja sama, rajin, dan sebagainya.

Keterampilan proses dibangun sejumlah keterampilan-keterampilan. Karena itu pencapainnya atau pengembangannya dilaksanakan dalam setiap proses belajar mengajar dalam semua mata pelajaran. Setiap mata pelajaran mempunyai karakteristik sendiri. Karena itu dalam penjabaran keterampilan proses dapat berbeda pada setiap mata pelajaran.

Pendekatan ini merupakan pemberian/menumbuhkan kemampuan-kemampuan dasar untuk memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan yang meliputi beberapa kemampuan seperti:

a. Kemampuan mengamati

b. Kemampuan menghitung

c. Kemampuan mengukur

d. Kemampuan mengklasifikasi

e. Kemampuan menemukan hubungan

f. Kemampuan membuat prediksi

g. Kemampuan melaksanakan penelitian

h. Kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data

i. Kemampuan mengkomunikasikan hasil

Keterampilan proses berkaitan dengan kemampuan. Oleh karena itu penerapan keterampilan proses diletakkan dalam kompetensi dasar. Keterampilan proses juga dikenali pada instruksi yang disampaikan oleh guru kepada siswa untuk mengerjakan sesuatu.

Contoh:

Kompetensi Dasar: Siswa dapat menyusun sebuah pengumuman sebagai sarana menyampaikan informasi (keterampilan proses yang tersirat dalam kompetensi dasar adalah mengkomunikasikan)

4. Pendekatan Whole Language

Whole language adalah satu pendekatan pengajaran bahasa yang menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, tidak terpisah-pisah (Edelsky, 1991; Froese,1990; Goodman,1986; Weaver,1992). Whole language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran, dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajaran. Whole language dimulai dengan menumbuhkan lingkungan dimana bahasa diajarkan secara utuh dan keterampilan bahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) diajarkan secara terpadu.

Menurut Routman (1991) dan Froese (1991) ada delapan komponen:

1. Reading Aloud

Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya. Manfaat yang didapat dari reading aloud antara lain meningkatkan keterampilan menyimak,





memperkaya kosakata, membantu meningkatkan membaca pemahaman, dan menumbuhkan minat baca pada siswa.

2. Jurnal Writing

Melalui menulis jurnal, siswa dilatih untuk lancar mencurahkan gagasan dan menceritakan kejadian di sekitarnya, menggunakan bahasa dalam bentuk tulisan. Banyak manfaat yang diperoleh dari menulis jurnal antara lain:

a. Meningkatkan kemampuan menulis

b. Meningkatkan kemampuan membaca

c. Menumbuhkan keberanian menghadap risiko

d. Memberi kesempatan untuk membuat refleksi

e. Memvalidasi pengalaman dan perasaan pribadi

f. Memberikan tempat yang aman dan rahasia untuk menulis

g. Meningkatkan kemampuan berpikir

h. Meningkatkan kesadaran akan peraturan menulis

i. Menjadi alat evaluasi

j. Menjadi dokumen tertulis

3. Sustained Silent Reading

Sustained Silent Reading adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan siswa. Siswa dibiarkan untuk memilih bacaan yang sesuai dengan kemampuannya sehingga mereka dapat menyelesaikan bacaan tersebut. Oleh karena itu, guru sedapat mungkin menyediakan bahan bacaan yang menarik dari berbagai buku atau sumber sehingga memungkinkan siswa memilih materi bacaan. Pesan yang ingin disampaikan kepada siswa melalui kegiatan ini adalah:

a. Membaca adalah kegiatan penting yang menyenangkan

b. Membaca dapat dilakukan oleh siapapun

c. Membaca berarti kita berkomunikasi dengan pengarang buku tersebut

d. Siswa dapat membaca dan berkonsentrasi pada bacaannya dalam waktu yang cukup lama

e. Guru percaya bahwa siswa memahami apa yang mereka baca

f. Siswa dapat berbagi pengetahuan yang menarik dari materi yang dibacanya setelah kegiatan SSR berakhir

4. Shared Reading

Shared Reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa, dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya.

Ada beberapa cara melakukan kegiatan ini:

a. Guru membaca dan siswa mengikutinya (untuk kelas rendah)

b. Guru membaca dan siswa menyimak sambil melihat bacaan yang tertera pada buku

c. Siswa membaca bergiliran

Maksud kegiatan ini adalah:

a. Sambil melihat tulisan, siswa berkesempatan untuk memperhatikan guru membaca sebagai model







b. Memberikan kesempatan untuk memperlihatkan keterampilan membacanya

c. Siswa yang masih kurang terampil dalam membaca mendapat contoh membaca yang benar

5. Guided Reading

Guided reading disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam membaca terbimbing penekanannya bukan dalam cara membaca itu sendiri, tetapi lebih pada membaca pemahaman. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama.

6. Guided Writing

Guided Writing atau menulis terbimbing, peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaimana menulisnya dengan jelas, sistematis, dan menarik.

7. Independent Reading

Independent Reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berkesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. Membaca bebas

merupakan bagian integral dari whole language. Dalam independent reading, siswa bertanggung jawab terhadap bacaan yang dipilihnya sehingga peran guru pun berubah dari seorang pemrakarsa, model, dan pemberi tuntunan menjadi seorang pengamat, fasilitator, dam pemberi respons.

8. Independent Writing

Independent Writing atau menulis bebas bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, kebiasaan menulis, dan kemampuan berpikir kritis. Jenis menulis yang termasuk independent writing antara lain menulis jurnal dan menulis respons.

CIRI-CIRI KELAS WHOLE LANGUAGE

Ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language:

a. Kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan.

b. Siswa belajar melalui model atau contoh

c. Siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat kemampuannya

d. Siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran

e. Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran

f. Siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen

g. Siswa mendapat balikan (feedback) positif baik dari guru maupun temannya

PENILAIAN DALAM KELAS WHOLE LANGUAGE

Di dalam kelas whole language, guru senantiasa memperhatikan kegiatan yang dilakukan siswa. Secara informal selama pembbelajaran berlangsung guru memperhatikan siswa menulis, mendengarkan, berdiskusi baik dalam kelompok ataupun diskusi kelas. Penilaian juga berlangsung ketika siswa dan guru mengadakan konferensi, alat penilaiannya seperti observasi dan catatan anecdote. Selain penilaian informal, penilaian dilakukan dengan portofolio. Portofolio adalah kumpulan hasil kerja siswa selama kegiatan pembelajaran. Dengan portofolio perkembangan siswa dapat terlihat secara otentik.

5. Pendekatan Kontekstual

Hakikat pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata peserta didik dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pendekatan ini dilibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu: konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan asesmen autentik.

Johnson (dalam Nurhadi, 2004:13-14) mengungkapakan bahwa karakteristik pendekatan kontekstual memiliki delapan komponen utama yaitu:

a. Memiliki hubungan yang bermakna

b. Melakukan kegiatan yang signifikan

c. Belajar yang diatur sendiri

d. Bekerja sama

e. Berfikir kritis dan kreatif

f. Mengasuh dan memelihara pribadi peserta didik

g. Mencapai standar yang tinggi

h. Menggunakan penilaian autentik

Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas

Langkah-langkah penerapan kontekstual di kelas yaitu sebagai berikut:

a. Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan bertanya (komponen konstruktivisme)

b. Melaksanakan kegiatan menemukan sendiri untuk mencapai kompetensi yang diinginkan (komponen inkuiri)

c. Mengembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya (kompoonen bertanya)

d. Menciptakan masyarakat belajar, kerja kelompok (komponen masyarakat belajar)

e. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran (komponen pemodelan)

f. Melakukan refleksi di akhir pertemuan, agar peserta didik merasa bahwa hari ini mereka belajar sesuatu (komponen refleksi)

g. Melakukan penilaian yang autentik dari berbagai sumber dan cara (komponen asesmen autentik)

6. Pendekatan Komunikatif

Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang berlandaskan pada pemikiran bahwa kemampuan menggunakan bahasa dalam berkomunikasi merupakan tujuan yang harus dicapai dalam pembelajaran bahasa. Jadi pembelajaran yang komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan yang memadai untuk mengembangkan kebahasaan dan menunjukkan dalam kegiatan berbahasa baik kegiatan

produktif maupun reseptif sesuai dengan situasi nyata, bukan situasi buatan yang terlepas dari konteks.







Ciri-ciri pendekatan pembelajaran komunikatif:

Menurut Brumfit dan Finocchiaro ciri-ciri pendekatan komunikatif yaitu:

1. Makna merupakan hal yang terpenting

2. Percakapan harus berpusat di sekitar fungsi komunikatif dan tidak dihafalkan secara normal

3. Kontekstualisasi merupakan premis pertama

4. Belajar bahasa berarti belajar berkomunikasi

5. Komunikasi efektif dianjurkan

6. Latihan atau drill diperbolehkan

7. Ucapan yang dapat dipahami diutamakan

8. Setiap alat bantu peserta didik diterima dengan baik

9. Segala upaya untuk berkomunikasi dapat didorong sejak awal

10. Penggunaan bahasa secara bijaksana dapat diterima bila memang layak

11. Terjemaah digunakan jika diperlukan peserta didik

12. Membaca dan menulis dapat dimulai sejak awal

13. Sitem bahasa dipelajari melalui kegiatan berkomunikasi

14. Komunikasi komunikatif merupakan tujuan

15. Variasi linguistik merupakan konsep inti dalam materi dan metodologi

16. Urutan ditentukan berdasarkan pertimbangan isi, fungsi, atau makna untuk memperkuat

minat belajar

17. Guru mendorong peserta didik agar dapat bekerja sama dengan menggunakan bahasa itu

18. Bahasa diciptakan oleh peserta didik melalui mencoba dan mencoba

19. Kefasihan dan bahasa yang berterima merupakan tujuan utama

20. Peserta didik diharapkan dapat berinteraksi dengan orang lain melalui kelompok atau

pasangan, lisan dan tulis

21. Guru tidak bisa meramal bahasa apa yang akan digunakan peserta didiknya

22. Motivasi intrinsik akan timbul melalui minat terhadap hal-hal yang dikomunikasikan

Pendekatan Komunikatif Bahasa Indonesia

Pendekatan Komunikatif Bahasa Indonesia


Definisi Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif adalah pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang menekankan pada kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dalam situasi keseharian.
Beberapa pendapat tentang pendekatan komunikatif
1. Penguasaan secara naluri yang dipunyai seorang penutur asli untuk menggunakan dan memahami bahasa secara wajar dalam proses berkomunikasi atau berinteraksi dan dalam hubungannya dengan konteks sosial (Dell Hymes)
2. Pendekatan yang mengintegrasikan pengajaran fungsi-fungsi bahasa dan tata bahasa (Little Wood, 1981)
3. Pendekatan yang mendasarkan pandangannya terhadap penggunaan bahasa sehari-hari secara nyata (M. Soenardi Dwiwandono, 1996)
Dari pendapat-pendapat di atas tampaknya pendekatan komunikatif ingin ditekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dalam proses interaksi antarmanusia. Komunikasi di sini juga bisa berupa komunikasi lisan maupun tertulis.

Latar belakang munculnya pendekatan komunikatif
1. Ketidakpuasan akan beberapa teori bahasa: tradisional, struktural, dan mentalistik yang menekankan pembelajaran bahasa pada teori bahasa.
2. Adanya penekanan kurikulum dan kepentingan humaniora. Perubahan kurikulum saat itu masih tetap menekankan pada pemahaman teori-teori bahasa. Akibat dari kondisi ini, siswa secara teori mampu mengusai ilmu bahasa tetapi penggunaan bahasa dalam komunikasi masih kurang.
3. Muncul pendekatan komunikatif tahun 1980. Kemunculan pendekatan ini membawa angin segar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.

Ciri-ciri pendekatan Komunikatif
1. Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat
2. Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif, bukan ketepatan gramatikal
3. Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan murid dalam menemukan kaidah bahasa lewat kegiatan berbahasa
4. Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan berbahasa pembelajar
Pentingnya faktor afektif dalam belajar bahasa

Dengan pembelajaran komunikatif, siswa diharapkan mangusai kompetensi komunikatif. Karakteristik kompetensi Komunikatif
1. Bersifat dinamis. Kompetensi bahasa selalu berubah-ubah menuju ke arah kemajuan sesuai dengan kemajuan dan berkembangan bahasa.
2. Meliputi bahasa lisan dan tulis. Siswa dianggap memiliki kompetensi bahasa apabila mereka menguasai bahasa secara lisan dan tulisan baik dalam tataran reseptif maupun produktif.
3. Bersifat kontekstual sesuai dengan kondisi yang ada.
4. Meliputi kompetensi bahasa dan performansi bahasa
5. Bersifat relatif

Prosedur pembelajaran dengan menggunakan pendekatan komunikatif menurut (Finnachiaro & Brumfit, 1983)
1. Penyajian dialog singkat
2. Pelatihan lisan dialog yang disajikan
3. Penyajian tanya jawab
4. Penelaah dan pengkajian
5. Penarikan simpulan
6. Aktivitas interpretatif
7. Aktivitas produksi lisan
8. Pemberian tugas
9. Pelaksanaan evaluasi

Tuesday, August 13, 2013

Tari Sema / Whirling Dervishes



Tari Sema / Whirling Dervishes adalah Tarian berputar putar Sufi Yang Ulasan Sangat religius Bahasa Dari Timur Tengah. Tarian Suami merupakan Inspirasi Bahasa Dari Filosuf Dan Penyair Turki Yang Bernama Maulana Jalaluddin Rumi, dimana Humanitarian inisial bermakna bahwa Ditempatkan Bahasa Dari Kehidupan di Dunia Dan di bumi Suami adalah berputar.

Para Penari Terus berputar mengikuti alunan musik, dimana semakin lama, putaran ITU kian CEPAT Dan Panjang. Kostum tari Artikel Baru rok Lebar Yang mereka kenakan berkibar Indah. Meliuk seiring Artikel Baru derasnya putaran para darwis (Penari) ITU. Seolah mengalami ekstase, mereka Tampak menikmati putaran demi putaran Yang semakin kencang.

Ketika guru spiritual Maulana Jalaluddin Rumi Yang Bernama Syamsuddin Tabriz, meninggal Dunia, Rumi mengekspresikan kesedihan ITU Artikel Baru Humanitarian sema nihil. Ketika gurunya meninggal, Rumi Sadar bahwa manusia ITU fana. Bahasa Dari Humanitarian ITU, Rumi menemukan tujuan Hidup Yang Hakiki, yaitu MENCARI tuhan. Sejak itulah dia MULAI berputar, bahkan selama Tiga Hari Bisa Tiga malam saja. SAAT berputar, Rumi menanggalkan * Semua emosinya Serta * Semua rasa duniawi. Hanya Satu Yang dirasakannya, yaitu Kerinduan Dan kecintaan Yang Ulasan Sangat Besar FUNDS Sang Sang Pencipta.

Suami Humanitarian memerlukan fisik Yang KUAT, KARENA Bisa berputar-Putar sampai ber jam-jam. Kalau kitd berputar-Putar seperti ITU beberapa menit Saja, mungkin sudah pusing Kepala, bahkan Bisa menimbulkan Mual-Mual Dan mau muntah. Salut kepada mereka Yang Bisa melakukan tari nihil.

sumber : http://filsafat.kompasiana.com/2010/09/12/tarian-sema-whirling-dervishes-merupakan-tarian-sufi-dari-turki-255943.html