Monday, December 10, 2012

Biografi Voltaire

Biografi Voltaire











Indonesia merupakan negara yang sungguh sangat kaya. Selain kaya dalam sumber daya alam—yang seharusnya tidak perlu takut pada siapapun dan negara manapun kecuali Tuhan—tapi juga negara yang kaya akan kebudayaan, suku, bahkan aliran kepercayaan baik yang datang dari langit (berdasarkan wahyu dan nabi) maupun yang dari bumi (berdasarkan pemikiran dan pengalaman). Kekayaan yang sedemikianlah membuat Indonesia sangat rentan terjadi perselisihan atau konflik antar suku maupun agama.

Suku atau agama selalu menjadi kutub yang menjadi objek dalam perselisihan, ini disebabkan oleh karena suku dan agama memiliki rasa solideritas yang sangat tinggi. Apalagi ditambah dengan para tokoh masyarakat dan pemuka agama yang menjual kepentingan dan ayat-ayat suci dengan harga yang sangat murah. Dengan janji mendapat kehidupan yang lebih baik, syahid ataupun martir. Sehingga lahirlah sebuah fanatisme berlebihan terhadap suatu kumpulan atau kepercayaan yang mereka yakini. fanatisme yang berlebihan perlu dihindari dan percerdasan masyarakt perlu dilakukan. Supaya energi masyarakat bisa diberdayakan secara optimal bukan malah terserap secara tidak efektif pada masalah-masalah yang ditunggangi oleh sekelompok oknum yang tidak bertanggung jawab. Untuk itu ditengah keberagaman yang seperti ini perlu adanya disemainya bibit tolerasi yang dipupuk dengan baik oleh para tokoh masyarakat dan pemuka agama.

Voltaire dan Fanatisme : Ecrasons l’inflame
Di dunia ini terdapat banyak tokoh yang memiliki pemilkiran tentang kebebasan dan anti fanatisme, salah satunya adalah Voltaire.
Pada 21 November 1694 di Paris lahirlah seorang jabang bayi laki-laki yang sangat benci pada kefanatikan. Orang lebih mengenalnya bernama Voltaire. Voltaire sebenarnya adalah nama samaran, nama yang diberikan bapaknya ketika diseret keluar oleh bidan adalah François-Marie Arouet. Siapapun panggilanya, yang jelas dia tokoh terkemuka pembaru Perancis. Voltaire merupakan seorang penyair, penulis drama, penulis esai, penulis cerita pendek, ahli sejarah, dan filosof. Dia betul-betul juru bicaranya para pemikir bebas liberal.

Voltaire senantiasa punya kepercayaan teguh terhadap toleransi beragama. Tatkala usianya 60-an, terjadi sejumlah peristiwa yang mendirikan bulu roma perihal pengejaran dan pelabrakan terhadap orang-orang protestan di Prancis.

Tergugah dan marah besar, Voltaire mengabdikan dirinya ke dalam “jihad intelktuil” melawan fanatisme agama. Kesemua surat-suratnya senantiasa ditutup dengan kalimat “Ecrasez l’inflame” Atau menurut refensi lain “Ecrasons l’inflame”, yang diartikan, “Mari Kita Basmi Kefanatikan”.

Semboyan lain yang menjadi trademarknya adalah . Il faut cultiver notre jardin. Le travail éloigne de nous trois grands maux: le vice, l’ennui et le besoin (“Kita harus mengerjakan ladang kita: pekerjaan menjauhkan kita dari dosa, kebosanan, dan kemiskinan”). Semboyan itu menunjukkan bahwa penulis ini adalah juga seorang yang praktis. Sepanjang hidupnya ia selalu menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk membela korban ketidakadilan dan berusaha meningkatkan kesejahteraan orang di sekitarnya dengan bekerja secara konkret.

Selama hidupnya yang panjang, 84 tahun (1694-1778) Voltaire telah menghasilkan sejumlah besar karya, baik yang berbentuk karya filsafat (Essais sur les Moeurs, 1756,Lettres Philosophiques, 1734, Traités sur la tolérance, 1763, dll.), karya sejarah (Histoire de Charles XII, 1732, Le Siècle de Louis XIV, 1752) yang didasari atas penelitian dan dokumen otentik, sekitar 40 drama (antara lain Zaïre, 1732, Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète, 1753, Irène, 1778), kritik sastra, pamlet-pamlet yang berisi kritikan politik, 26 dongeng ilosois (Zadig, 1747, Candide, 1759, L’Ingénu, 1767), dan sekitar 20 ribuan surat pribadi yang berisi gagasan-gagasan tentang berbagai masalah aktual bahkan juga polemiknya dengan pengarang Jean-Jacques Rousseau.

Meskipun banyak karya tulisnya, yang lebih penting sebetulnya gagasan pokok yang dikemukan sepanjang hidupnya. Salah satu pendiriannya yang tergigih adalah mutlak menjamin kebebasan bicara dan kebebasan pers. Kalimat masyhur yang sering dihubungkan Voltaire adalah yang berbunyi “Je ne suis pas d’accord avec ce que vous dites, mais je me battrai jusqu’à la mort pour que vous ayez le droit de le dire” (“Saya tidak setuju dengan apa yang Anda katakan, tetapi saya akan berjuang sampai mati agar Anda tetap berhak mengatakannya.”)

Menurut Voltaire, pada dasarnya semua orang memuja “Sang Pencipta”, bukan makhluk atau benda yang diciptakan-Nya, maka semua malapetaka yang dipicu fanatisme agama adalah sesuatu yang tidak rasional dan bertentangan dengan akal sehat. Selain dalam esai-esai dan dramanya, deismenya diungkapkan dengan baik dan secara sederhana dalam dongeng-dongengnya, misalnya dalam Zadig ou La Destinée (judul terjemahan dalam bahasa Indonesia “Suratan Takdir”, 1747/1989, 136 hlm.)

“Di Babylonia ada perselisihan sengit yang telah berlangsung sejak seribu lima ratus tahun lamanya dan yang membagi kekaisaran menjadi dua sekte yang fanatik: yang pertama beranggapan bahwa orang hanya boleh masuk ke dalam kuil Mithra dengan kaki kiri, yang lain sangat membenci kebiasaan itu dan melangkah masuk ke dalam kuil dengan kaki kanan. [.....] Seluruh negeri memusatkan pandang pada kedua kaki Zadig (Perdana Menteri) dan seluruh kota resah dan menunggu dengan tidak sabar. Zadig masuk ke dalam kuil sambil melompat dan membuktikan dengan pidatonya yang fasih dan enak didengar bahwa Tuhan Penguasa Langit dan Bumi tidak pilih kasih, tidak memberikan penilaian lebih tinggi kepada kaki kiri daripada kepada kaki kanan [.....]“ (Hlm. 42-43)

Pada abad ke XVIII perkemabangan saintifik yang baru, serta perubahan yang sejalan dengan itu dalam filosfi sains, menghasilkan suatu abad yang kemudian dikenal dengan sebutan Abad Pencerahan, Abad Akal, Abad Kritik dan Abad Filsafat. Abad ini juga menciptakan anggapan bahwa akal manusia mampu memahami semua bisa dipahami dalam dunia yang bekerja dengan tertib, tanpa perlu campur tangan sihir maupun supernatural.

Seperti pemikir kunci lainnya selama Pencerahan Eropa, Voltaire menganggap dirinya seorang deis, mengekspresikan ide: “Apakah iman? Apakah untuk percaya bahwa yang jelas? Tidak Sangat jelas dalam pikiran saya bahwa ada yang perlu, yang kekal, tertinggi, dan cerdas. Ini bukan masalah iman, tetapi alasan. “

Karya sastra dijadikan “wadah” atau “tempat persembunyian” untuk menyampaikan sindiran atau kritikan tajam tentang Prancis dan orang Prancis. Pengarang mencari tempat yang jauh, tokoh tak dikenal, suasana asing, agar pembaca terkecoh dan tidak mencurigai tujuan sesungguhnya. Kritikan yang lebih terbuka terhadap pastor dan Gereja Katolik dapat dibaca dalam dongengnya L’Ingénu (judul Indonesia, Si Lugu, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, 1989).

Voltaire dan Islam : Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète
Jadi, pada abad ke XVIII, tepatnya pada tahun 1736, munculnya Le Fanatisme ou Mahomet le Prophète (LFMP) di Prancis yang masih sepenuhnya Katolik itu merupakan hal yang wajar saja. Penonjolan sisi negatif serta kritikan tentang Islam yang masa itu belum begitu dikenal merupakan tema yang banyak dibahas karya lain pada zaman itu, dan disambut dengan gembira oleh para penonton/pembaca yang Katolik. Islam merupakan bagian dari suatu “kerajaan antah berantah”, yang dengan wajar dijadikan “selubung” untuk menyembunyikan maksud yang sesungguhnya. Malahan, dengan cerdik dan juga “nakal”, Voltaire telah mengirimkan sebuah eksemplar bukunya kepada Paus Benoît XIV yang menerimanya dengan baik dan memberi pujian kepada penulisnya.

Kisah LFMP yang terjadi di Mekah pada tahun 630, mendapat inspirasi dari perjalanan Nabi Muhammad s.a.w. Yang kembali ke Mekah dari pengasingan di Medinah, dan perkawinannya dengan Zainab binti Jahsy bin Rayyab, mantan istri Zaid binti Haritsah, anak angkat Nabi (S.S. Al-Mubarakfuri 1997: 564). Dalam karya ciptaan Voltaire itu, selain Mahomet le Prophète, tokoh terpenting lainnya adalah: Zopire (salah satu pemimpin kaum Quraisy, dalam riwayat Nabi bernama Abu Sufyan), Séide (dalam kenyataan sebenarnya Zaid), dan Palmire (dalam kenyataan sebenarnya gabungan dua istri Nabi: Zainab yang istri Zaid dan Habibah, putri Abu Sufyan) (Vérain 2006). Penggabungan gambaran kedua perempuan itu menjadi satu dilakukan agar lebih cocok dengan jalan cerita.

Kisah sejati atau kisah yang didasari fakta sejarah itu diolah Voltaire sesuai dengan imajinasinya dan pakem drama Prancis masa itu lengkap dengan tema klise: Séide, anak angkat Mahomet yang mantan budak, diperintah oleh Mahomet untuk membunuh Zopire, kepala suku di Mekah. Séide yang fanatik dan patuh kepada ayah angkatnya serta mencintai Palmire pun pergi ke Mekah. Namun, kedua orang budak yang saling mencinta (Séide dan Palmire) itu ternyata adalah dua kakak beradik, sedangkan Zopire yang harus dibunuh oleh Séide (dengan imbalan boleh mengawini Palmire) ternyata ayah mereka sendiri.

Zopire baru diberi tahu pada menit terakhir bahwa kedua orang itu adalah anaknya yang hilang diculik semasa kecil. Séide juga diberi tahu pada saat terakhir tentang adik dan ayah yang sebenarnya serta kejahatan ayah angkatnya. Maka ia berusaha membunuh sang ayah angkat tetapi tidak berhasil karena terlanjur meninggal, sebab sebelumnya, tanpa setahunya, ia telah diracun oleh sang ayah angkat berhubung orang tua itu juga mencintai Palmire. Tinggallah Palmire yang menerima pernyataan cinta sang ayah angkat. Palmire menolak mentah-mentah dan bunuh diri. Sang tokoh utama merana kehilangan cinta sejati. Sungguh dramatis!

Yang dapat membuat umat Islam marah adalah gambaran bahwa betapa Séide, seorang pemuda baik-baik, atas perintah Mahomet, dibutakan oleh fanatisme dan bersedia membunuh Zopire yang bersikap baik terhadapnya, karena ia musuh agama Islam. Kefanatikan itu diperkuat dengan kesetiaannya kepada Mahomet dan keinginan untuk menikahi kekasihnya, Palmire.

Tokoh Mahomet digambarkan sebagai orang tua yang jahat, licik, fanatik, penuh nafsu birahi, dan memanfaatkan kesetiaan pengikutnya untuk kepentingan sendiri. Bahkan, tujuan dari semua intrik itu tak lain dari maksud Mahomet untuk mempersunting Palmire, tetapi cintanya tidak berbalas. Tetapi itu adalah bagian dari imajinasi Voltaire. Mungkin satu-satunya kritikan serius Voltaire terhadap Mahomet adalah karena ia menyebarkan agama dengan jalan perang dan, menurut yang diketahuinya sampai saat itu, memaksa kepada musuh yang kalah untuk “masuk Islam atau mati” : [...]Quiconque fait la guerre à son pays et ose le faire au nom de Dieu, n’est-il pas capable de les armes à la main…. Tous? [.....] Mahomet n’est ici autre chose que Tartuffe (“Barangsiapa memerangi negerinya sendiri serta berani melakukannya dengan mengatasnamakan Tuhan, bukankah ia akan mampu berbuat apa saja? [....] Mahomet di sini tidak lebih dari Tartuffe dengan senjata di tangan…”)

Mengenai kekejian itu, Voltaire telah menulis juga kepada Frédéric II: On pourra me reprocher que, donnant trop à mon zèle, je fais commettre dans cette pièce un crime à Mahomet, dont en effet il ne fut point coupable [....] (LFMP, hlm. 17) (“Mungkin saya akan dipersalahkan karena terlalu bersemangat, dalam drama itu saya membuat Mahomet melakukan kejahatan yang sebetulnya tidak pernah dilakukannya.”) Pengakuannya diperkuat lagi lebih jauh dengan
pernyataan: Je sais que Mahomet n’a pas tramé précisément l’espèce de trahison qui fait le sujet de cette tragédie. (“Saya tahu bahwa Mahomet tidak pernah melakukan jenis pengkhianatan yang merupakan tema tragedi itu”.)

Tulisan itu merupakan pengakuan Voltaire bahwa LFMP adalah karya fiksi. Apa yang terjadi dalam kisahnya hanyalah rekaan penulisnya belaka. Dan selain itu, pembaca dituntut memahami yang tersirat di balik yang tersurat. Seperti telah dikatakan di bagian terdahulu, LFMP telah dilarang dipertunjukkan setelah pertunjukan ketiga di Paris (1742), karena para pemuka agama Katolik sadar bahwa sebetulnya Gereja Katoliklah yang menjadi sasaran kritikan dalam drama itu, bukan agama Islam.

Kemudian, dalam rentang waktu lebih dari 200 tahun, masyarakat Prancis sudah mengalami perubahan besar. Islam sudah menjadi agama terbesar kedua di negeri itu. Sebetulnya pemanggungan LFMP pada abad ke-20 (1993) dan 21 (tahun 2005) merupakan anakronisme karena situasinya sudah lain. Islam yang bagi Voltaire merupakan “selubung” atau “tameng” atau “sesuatu yang jauh,” pada abad ini, setelah agama itu menjadi bagian masyarakat Prancis, berubah menjadi sasaran karena sudah tidak akurat lagi untuk dijadikan selubung.

Masuk akal apabila pertunjukan itu menimbulkan protes keras dari pihak Islam serta polemik berkepanjangan di dunia maya (internet). Judulnya yang gamblang saja sudah merupakan penghinaan bagi orang Islam, apalagi isinya yang menampilkan Nabi Muhammad secara konkret, yang merupakan suatu hal tabu bagi umat Islam, telah membuat orang Islam lebih berang lagi. Voltaire dicaci-maki, dihujat sebagai penghina Islam.

Perspektif dan sudut pandangnya tentang Islam pun berangsur-angsur berubah walaupun tetap ada yang positif dan negatif. Pendapat positif Voltaire tentang islam terlihat pada istilah yang dipakainya untuk menyebut golongan Islam: “Musulman” yang mengacu pada dogma “soumission” penyerahan diri’, dan bukan “Mahometans” yang mengacu semata-mata pada keanggotaan dalam suatu agama.

Pujian terhadap Islam dapat disimpulkan dalam salah satu pernyataannya dalam salah satu suratnya untuk Raja Frédéric II: “Perubahan terbesar yang pernah mengubah dunia adalah pembentukan agama Muhammad. Dalam waktu kurang dari satu abad, orang Islam telah menaklukkan wilayah lebih besar daripada kekaisar-an Romawi [.....] Pastilah ia orang besar yang istimewa, yang telah membina orang-orang besar lain. Tentulah ia seorang martir atau penakluk, tidak setengah-setengah. Ia selalu menang, dan semua kemenangannya direbut oleh pasukannya yang kecil dari tangan pasukan musuh yang besar. Ia adalah penakluk, ahli hukum, pemimpin, serta agama-wan, dan di mata orang biasa, ia memainkan sekaligus semua peranan terhebat yang mungkin dipegang orang di muka bumi ini.”

Voltaire sangat terkesan oleh monoteisme Islam yang lebih dekat dengan ideal ketuhanannya. Menurut pendapatnya deinisi Tuhan menurut Islam sangat agung “Tuhan yang Maha Esa, yang tidak berputra dan bukan putra siapa pun, dan tidak ada makhluk lain yang menyerupai-Nya”. Ia membantah gambaran yang telah diberikan para sejarawan Eropa dan para ilmuwan lain sebelumnya tentang Islam: “Tak ada agama lain yang memerintahkan zakat. Agama Islam adalah satu-satunya yang telah memasukkannya dalam suatu konsep hukum, positif dan tak dapat ditinggalkan. Al-Qur’an memerintahkan agar orang menyerahkan dua setengah persen penghasilannya, dalam bentuk uang ataupun bahan mentah. Larangan berjudi mungkin merupakan satu-satunya yang tidak ditemukan dalam agama mana pun juga. Semua hukum itu, termasuk poligami, ketat sekali. Doktrinnya yang sederhana menimbulkan hormat dan kepercayaan orang terhadap agama itu.”

Masa 1768-1772 merupakan periode terakhir dalam studi Voltaire tentang Islam. Walaupun tetap menganut deisme, ia sering membela agama Islam yang menurutnya bijak, ketat, dan manusiawi: bijak karena Tuhannya tidak mempunyai sekutu dan tidak merupakan misteri; ketat karena melarang berjudi, minum anggur dan minuman keras, serta memerintahkan sembahyang lima kali sehari. Manusiawi karena agama itu memerintahkan zakat, yang lebih wajib daripada berziarah ke Mekah. Ia juga melihat bahwa perempuan jauh lebih dilindungi dibanding pada zaman sebelumnya.

Pendapat Voltaire tentang Islam sampai akhir hayatnya tetap ambigu, artinya ada yang positif dan ada yang negatif. Walaupun sering membela Islam, ia tetap menganut deisme serta membenci kefanatikan dan dogma-dogma agama yang tidak masuk akal.

Dalam artikel tentang “fanatisme” dalam Dictionnaire Philosophique, Voltaire menulis:Lorsqu’une fois le fanatisme a gangrené un cerveau, la maladie est presque incurable (“Tatkala fanatisme telah membusukkan otak, penyakit itu tak akan dapat disembuhkan”). Gagasan itu mendorongnya melancarkan “pertempuran” politik dan ilosois melawan kemunaikan, kepicikan, atau fanatisme, serta memperjuangkan toleransi antaragama dan antarbangsa, tindakan rasional dan kesejahteraan manusia.

Sebelum meninggal, ia sempat berkata kepada sekretarisnya Je meurs en adorant Dieu, en aimant mes amis, en ne haissant pas mes ennemies, et en détestant la superstition (Saya mati sambil memuja Tuhan, menyayangi teman-teman, tanpa membenci musuh-musuh, tetapi sangat membenci takhayul [fanatisme]”).

0 comments:

Post a Comment